Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TALAK SETELAH AKAD

TALAK SETELAH AKAD

Impian Kinarsih untuk hidup bahagia selamanya hancur seketika saat Badai menjatuhkan talak tepat di malam akad nikah mereka. Status janda ini menjadi noda mendalam yang memicu dendam hingga doa pahitnya mendatangkan karma bagi sang mantan suami. Di tengah luka itu, muncul Rian, seorang playboy yang berusaha meluluhkan hati keras Kinarsih. Akankah kedamaian ditemukan, atau justru takdir membawa Kinarsih kembali rujuk dengan Badai dalam balutan penyesalan?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Paman ...."

Wak Yanto memberikan perhatian kepada suara yang sedang memanggilnya.

"Saya talak satu, Kinarsih Aninda," suara Badai pelan tapi pasti.

Terdengar oleh semua pasang telinga di sana. Semua terhenyak, tak ada yang bicara. Hening dan hampir menghilangkan kewarasanku. Apa yang barusan kudengar? Sepertinya telingaku sedang rusak.

"Anak setaaan!!!!!!" teriak Wak Yanto menghambur menyerang Badai.

Ia menendang brutal pada Badai yang sedang duduk. Tidak lebih dari dua jam yang lalu, laki-laki itu mengesahkanku sebagai istrinya. Sangat lancar sekali lidahnya menyucapkan kalimat syahadat lalu di iringi kalimat akad. Lalu sekarang dia mengucapkan kalimat talak. Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya?

Semua orang di sana dengan cepat menarik tubuh Wak Yanto agar menjauh dari Badai. Tubuh tuanya terhuyung jatuh. Kopiah tanda kemuliaannya jatuh begitu saja, terinjak oleh kerumunan yang mencegahnya berbuat lebih. Wak Yanto mengamuk tak terkendali.

"Lepas! Lepaskan! Jangan halangi aku untuk membunuh manusia iblis ini! Tak punya hati nurani, biadab!!!"

Wak Yanto berusaha melepaskan diri dari orang-orang yang memeganginya.

"Waaak!!!" teriakku menghampirinya.

Bahkan aku sampai terjatuh karena menginjak mukenahku sendiri. Aku langsung memeluknya dan mengusap dadanya yang terasa panas. Mungkin deritaku tak sebanding dengan rasa malu Wak Yanto. Aku ditalak setelah hitungan jam setelah disahkan. Andai telingaku ini pekak saja, itu lebih baik daripada mendengar ucapan kejam yang keluar dari mulut laki-laki yang seharusnya kupanggil suami.

"Minggir Arsih! Anak dajjal ini semakin menginjak-injak kehormatan keluarga ini. Dengan tulus kuserahkan keponakanku padamu, tanpa memberatkanmu sedikit pun tapi kalian anggap sampah!!!" teriak Wak Yanto menatap sekelilingnya.

Kemarahannya sungguh membuat siapa pun merinding. Tampak semua yang ada di sana hanya diam menyaksikan Wak Yanto terus mengumpat dan mengamuk. Wak Erni hanya meruncingkan matanya sinis menatap kami. Tak ada sedikit pun ia merasakan penderitaan suaminya apalagi kepedihanku.

"Maaf ya Yan, di sini Badai sudah memenuhi permintaanmu 'kan, menikahi Kinarsih," ketus ibunya Badai tanpa beban. Bahkan sekarang wajahnya terlihat lebih santai daripada saat aku akan dinikahi. Sungguh hitamnya hati manusia. 

"Lalu dengan seenaknya dia menceraikan keponakanku setelah akad dalam hitungan jam?! Kalian keterluan! Tak punya perasaan!"

Wak Yanto melempar Badai dengan air gelas mineral yang tersusun rapi di depannya. Melempari berkali-kali hingga air gelas mineral itu hampir habis. Beberapa pecah dan menyemburkan air hingga Badai basah kuyup.

"Kami tidak pernah menyangka juga Badai akan menceraikan Kinarsih. Itu sudah murni keputusannya. Kita 'kan tidak bisa memaksa anak kami mencintai Kinarsih," sambut ayah badai yang berkumis tebal itu.

"Kinarsih sedang meng---. Astagfirullah ya Allah ... astagfirullah ...."

Wak Yanto tersendat lalu terus berdzikir, mengelus dadanya. Sesekali ia memegangi perutnya. Pasti ia sangat merasa kepedihan yang mendalam.  Aku hanya bisa terus menangis di sampingnya.

Badai yang sedari tadi meringis kesakitan berusaha bangkit.

"Maafkan saya, Paman. Saya tidak bisa memaksa hati saya. Yang penting saya sudah menikahinya seperti keinginan Paman," ujar Badai takut berani, berlindung di balik punggung ayahnya. 

"Anjing! Tapi tidak begini caranya setan! Kamu semakin menginjak harga diri keluargaku dan kehormatan putriku!"

Seolah tak peduli, Badai menatapku. Aku menunjukkan air mataku padanya, mengharapkan hatinya iba padaku. Aku masih berharap dia meminta maaf, meski tidak padaku tapi pada pamannya. 

"Maafkan aku Kinarsih, aku tidak bisa terus mencintaimu," ucapnya parau.

"Tidak, Badai! Jangan ceraikan aku! Bagaimana dengan ...."

Aku tercekat, tak mampu meneruskan ucapanku. Hanya air mataku yang terus jatuh tanpa jeda hingga membuatku tersendat-sendat.

"Kita sampai di sini saja. Jangan cari aku lagi. Kamu bukan siapa-siapa bagiku," ujar Badai tanpa beban. Sekarang ia sedang melangkah keluar tanpa sekali pun sudi menoleh.

Aku langsung lemas. Tak ada tenagaku meski hanya sekedar menarik nafas. Ini hantaman yang sangat kuar biasa memporak-porandakkan hatiku. Melihat ayah dari janinku menjauh yang diikuti kedua orang tua dan saudaranya, jantungku seperti menyusut. Mereka sama sekali tidak menatapku apalagi menenangkanku. Aku mengerti sekarang, betapa busuknya keluarga itu.

Wak Yanto dibawa masuk ke dalam kamarnya. Ia dipapah oleh sahabat-sahabatnya yang ikut menyaksikan pernikahan yang mungkin hanya aku yang mengalaminya sepanjang sejarah hidup mereka. Dinikahi lalu diceraikan di waktu yang sama. Sungguh kemalangan apa lagi yang tidak aku rasakan?

"Masuklah ke kamarmu, Kinarsih. Kamu janda sekarang, jaga sikapmu," sinis istri pamanku meninggalkanku. Suaranya berlalu begitu saja. Aku bangkit dan berlari akan menyusul masuk ke dalam kamar Wak Yanto. Namun, perempuan kriting itu menepisku dengan sangat kasar.

"Wak, tolong. Arsih mau melihat keadaan Wak Yanto. Bantu Wak! Biarkan Arsih melihat kondisinya. Biasanya kalau dipijit telapak kakinya, Wak Yanto lebih baik."

"Heh! Sudah kau bawa kehinaan di keluarga ini, masih berani kamu sok peduli dengan keluarga ini! Kamu tahu, kamu itu pelaku yang telah sangat kejam mencoreng kehormatan keluarga ini Arsih! Minggir kamu! Bisa mati suamiku melihatmu sekarang!"

Tak peduli kepala dan bahuku terbentur dinding, aku benar-benar berusaha masuk namun dengan sangat tidak berperasaan, Wak Erni menjambakku lalu mendorongku dengan keras. Ya Allah, sudahlah sakit di hati ini tak berperi, ditambah pula dengan siksaan fisik dari wanita yang seharusnya bisa memberikan kasih sayang, setidaknya rasa kasihan.

"Pergi kamu, perempuan pembawa sial!"

Pintu itu berhasil ditutup dan tinggallah aku yang masih mematung, seolah malam ini seperti mimpi terburuk. Bagaimana bisa laki-laki yang kuyakin menjadi pelabuhan terakhirku memperlakukanku sekejam ini? Ini sangat kejam. Lebih baik dia tidak menikahiku daripada diangkat seperti ratu, dijanjikan harapan lalu dibuang tercampakkan seperti ini. 

"Badai ... mengapa kamu setega ini?" lirihku sendirian dalam gelapnya kamarku.

Aku merasa lebih nyaman tanpa penerangan. Amat pekat seperti kehidupanku yang tak bertuah. Yatim saat usia tujuh tahun dan hidup dalam kemiskinan bersama sosok ibu selama sepuluh tahun. Genap tujuh belas tahun, aku kehilangan ibuku untuk selamanya. Di usia yang dinantikan para remaja karena begitu manis namun bagiku adalah awal dari lengkapnya kesengsaraan hidupku. Lalu sejak menjadi yatim piatu, aku harus tinggal bersama uwakku, kakak laki-laki dari ayahku.

Hidup rupanya makin tidak bertuah karena di sini, aku tidak diterima oleh istri dan anaknya. Aku seperti menjadi alas kaki, benar-benar tidak dihargai. Menjadi pembantu rasanya lebih bernilai karena mereka tidak hanya memanfaatkan tenagaku, tapi juga mengoyak-ngoyak rasa percaya diriku sebagai manusia yang merdeka.

"Ibu ... Bapak ...!!!"

Aku terus memanggil kedua orang tuaku. Tangisku tak terhenti. Aku meraung, meratap dan memukul diriku sendiri. Beberapa kali kutemukan diriku tersadar seolah bangun dari tidurku. Lalu aku kembali mengingat aroma parfum yang kusukai, terakhir pergi meninggalkan kepingan hatiku yang remuk redam tak bersisa lagi. Aku terus menangis hingga aku tidak mengingat apa-apa lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Setelah Menikah
9.4
Bunga, wanita cantik dengan bayang-bayang masa lalu, dipertemukan dengan Rio Xen Zhin. Rio adalah CEO asal Jepang yang kaya, berwibawa, namun sangat dingin. Sosoknya sangat mirip dengan mendiang mantan tunangan Bunga yang telah tiada. Rio memutuskan untuk menikahi Bunga hanya demi membalas sebuah jasa. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, mampukah Bunga merelakan masa lalunya dan menghadapi kenyataan bersama pria yang memiliki wajah serupa?
Sampul Novel Ending Scene: Wanita Terakhir di Hati Presdir
8.6
Kirei Nakamoto bersedia menikahi River King Mountbatten, jutawan yang buta dan lumpuh, demi membalas dendam atas kehancuran keluarganya. Di sisi lain, River hidup dalam trauma setelah dikhianati kekasihnya dan berencana melawan ibu serta adik tirinya yang tamak. Meski awalnya hanya sekadar kerja sama demi tujuan masing-masing, luka yang sama justru menumbuhkan benih cinta di antara mereka. Akankah Kirei menjadi sosok wanita terakhir yang mampu menyembuhkan hati River?
Sampul Novel Maria
9.3
Kebodohan masa lalu menghancurkan seluruh harapan Maria. Setelah dikhianati kekasihnya, ia harus menghadapi penderitaan berat karena hamil di luar nikah tanpa tanggung jawab pria tersebut. Tragedi ini kian memilukan saat kedua orang tuanya wafat, tak kuasa menahan beban malu akibat cemoohan orang sekitar. Kini Maria terjebak dalam nestapa, berjuang sendirian di tengah hancurnya martabat keluarga yang telah hilang akibat kesalahan fatalnya.
Sampul Novel Menantu Bodoh
8.4
Novel modern Menantu Bodoh mengisahkan rahasia mendebarkan antara seorang ibu dan Jose, menantunya. Meski mulutnya menolak sentuhan Jose, reaksi tubuhnya justru tidak bisa berdusta saat menghadapi godaan tersebut. Di saat yang sama, suara tawa sang putri bersama sahabatnya terdengar jelas dari ruang tamu. Melakukan tindakan intim yang begitu berisiko tepat di dekat mereka justru memicu ketegangan dan gairah terlarang yang luar biasa bagi dirinya.
Sampul Novel Obsessed ( siapa kamu ? )
8.5
Alana terjebak dalam misteri kelam di apartemen mewahnya. Setiap malam, seorang pria misterius menyelinap masuk dan menyentuhnya saat ia terlelap, namun Alana hanya menganggap semua itu sebagai bunga tidur yang erotis. Sang penyusup yang obsesif itu bertekad untuk menandai setiap inci tubuh Alana dan mengurungnya hanya untuk dirinya sendiri. Di tengah ketidaktahuannya, Alana harus berhadapan dengan sosok gila yang siap mengklaim hidupnya secara utuh.
Sampul Novel Pembawa Dendam Masa Lalu
9.6
Rama menjalani profesi sebagai detektif demi menuntaskan misi pribadi, yakni mengungkap sosok di balik kematian adiknya yang tragis. Namun, fokusnya dalam mengejar sang pembunuh mulai goyah saat kehadiran Joana masuk ke dalam hidupnya. Di tengah penyelidikan misterius ini, perasaan baru yang muncul terhadap wanita itu justru mengalihkan konsentrasi Rama. Ia kini terjebak antara tuntutan balas dendam masa lalu dan ketertarikan romansa yang tak terduga.