Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Take Me Back to Switzerland

Take Me Back to Switzerland

Marsha telah lama berambisi menjadi dokter dan berjuang keras demi beasiswa luar negeri. Didukung orang terdekat, ia mendedikasikan seluruh waktunya untuk belajar demi masa depan. Namun, impian besar itu seketika runtuh saat Marsha menyadari dirinya hamil akibat kecerobohan dengan seseorang. Kini, ia terjebak dalam dilema besar untuk mengungkap rahasia tersebut. Mampukah ia menghadapi konsekuensi hidup yang berubah drastis dan menata kembali masa depannya yang hancur?
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Haris bergegas menuju parkiran motor. Ia sudah memberitahu kekasihnya untuk segera menuju ke parkiran motor jika kelasnya sudah bubar. Haris sudah menunggu Marsha selama sepuluh menit di parkiran motor. Namun, sedari tadi batang hidung milik perempuannya itu belum muncul juga. Haris bahkan sudah menelpon Marsha tiga kali tetapi tidak ada satu pun panggilan yang dijawab. 

Haris melihat Sadam, salah satu teman sekelas Marsha, sedang menuju ke parkiran motor. Ia lantas menanyakan keberadaan Marsha kepada Sadam karena pasti ia tahu ke mana Marsha pergi.

“Dam!” panggilnya.

Sadam mencari sumber suara yang baru saja memanggilnya. Ia kemudian segera menuju ke arah Haris, “Kenapa manggil, Ris?”

“Lo lihat Marsha tadi ke mana nggak?” tanya Haris to the point kepada Sadam.

“Kayaknya tadi Marsha sama Lia disuruh kumpul ke ruang OSIS, tapi gue juga nggak tau, Ris. Coba lo cek aja sendiri ke sana,” jelas Sadam. Kemudian Haris mengangguk.

“Okay. Thanks, ya, Dam.” Sadam membalas ucapan Haris dengan acungan jempol.

“Duluan, Ris.” Sadam kemudian meninggalkan Haris dan segera menuju ke parkiran di mana motornya berada. Setelah itu Haris segera pergi ke ruang OSIS untuk mencari Marsha.

Kini Haris tepat berada di depan ruang OSIS. Terdapat beberapa sepatu yang berjejer rapi di rak. Ia menilik satu per satu sepatu yang ada di sana dan menemukan sepatu milik Marsha, lebih tepatnya sepatu yang ia belikan untuk Marsha saat menginjak usia ke tujuh belas tahun.

Haris menunggu Marsha dengan duduk di bawah pohon dekat ruang OSIS. Ia membuka ponselnya dan sekali lagi memberikan pesan kepada Marsha. Sambil menunggu Marsha, Haris bermain dengan kucing yang ada di sekolah. Nama kucing itu adalah Miko. Semua warga SMA Antariksa pasti tahu siapa Miko. Kucing ras kampung yang merangkap menjadi penjaga sekolah layaknya preman. Miko biasanya selalu tidur siang di depan masjid atau ruang OSIS. Ketika lapar, ia akan pergi ke kantin untuk meminta makanan kepada para murid. Lebih tepatnya memalak para murid.

“Haris!” Marsha memanggil Haris yang tengah fokus bermain dengan Miko. Mendengar namanya dipanggil, Haris segera mendekati Marsha.

“Kok nggak bilang kalau ada rapat?” tanyanya.

“Maaf, ya, Ris. Tiba-tiba Bu Dian suruh aku sama Lia buat jadi perwakilan kelas study tour. Aku nggak sempet buka hp karena tadi sibuk nulis informasi buat study tour dua minggu lagi,” jelas Marsha kepada Haris. Marsha tahu pasti Haris sedikit kesal karena ia tidak memberikan kabar kepadanya.

Haris tersenyum dan mengangguk, “Iya, nggak apa-apa kok. Tadi aku juga telat keluar kelasnya.”

“Ya udah, yuk.” Haris menggenggam tangan Marsha dan mengajaknya menuju ke parkiran sekolah. Para murid yang berada di sana hanya bisa melihat dengan rasa iri dan ingin merasakan seperti mereka berdua. Apalagi Lia, ia sudah menjerit di dalam hati karena melihat sahabatnya yang sangat romantis ketika bersama kekasihnya.

“Gue duluan, ya, Li,” pamit Marsha kepada Lia dan temannya itu mengangguk.

Haris dan Marsha berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke parkiran. Biasanya Marsha risih jika tangannya digenggam saat sedang berada di sekolah oleh Haris. Namun, karena hari sudah lumayan sore dan para murid sudah pulang, ia pun menerima genggaman tangan Haris.

“Oh iya, katanya kamu mau cerita tentang saudara jauhmu, gimana?” Haris membuka obrolan sembari mereka berdua berjalan menuju parkiran motor.

Marsha mengangguk, “Iya, Ris. Jadi aku punya saudara dari Swiss. Mereka saudara dari ayahku, tepatnya kakak dari ayahku. Kata ibuku mereka jarang banget ke Indonesia. Pernah tapi cuma sekali itu pun waktu aku masih bayi, jadi aku nggak inget wajahnya. Mereka juga punya anak satu yang katanya seumuran juga sama aku, jadi aku nggak sabar mau ketemu sama mereka.” Marsha menjelaskan dengan wajah yang cerah. Terlihat sekali jika ia tidak sabar untuk bertemu dengan saudaranya. Hal itu membuat Haris tersenyum.

“Dia berarti sepupumu, kan? Laki-laki atau perempuan, Sha?” tanya Haris kemudian memberikan helm kepada Marsha ketika sudah sampai di depan motornya.

“Laki-laki, Ris. Kata ayahku namanya Peter. Kelihatan banget kan bulenya,” jawab Marsha sembari menerima helm dari Haris. Ia segera menaiki motor Haris karena hari sudah mulai sore. Sedangkan Haris hanya mengangguk membalas perkataan Marsha.

“Ini kita jadinya ke mana, Ris?” tanya Marsha.

“Makan-makan aja yuk di kafe. Biar nanti kamu pulangnya nggak kesorean, kan katanya nggak sabar mau ketemu sama Peter.” Marsha terkekeh kemudian mengangguk. Haris segera menjalankan motornya menuju kafe yang jaraknya tidak jauh dari sekolah.

Sesampainya di kafe, Haris dan Marsha segera memesan makanan dan minuman serta mencari tempat duduk yang kosong. Kebetulan sekali kafe yang mereka pilih lumayan sepi sehingga mereka dapat mengobrol dengan kondusif.

“Lanjutin cerita yang tadi, Sha,” ucap Haris lalu meneguk minumannya yang baru saja tiba.

“Baru segitu, Ris. Kan aku belum ketemu sama mereka. Besok deh aku ceritain lagi.” Marsha sibuk bermain dengan ponselnya. Ia baru menerima pesan dari teman sebangkunya, Lia, yang mengatakan bahwa akan ada siswa baru dari Australia. Temannya itu memang sangat gercep ketika ada berita baru di sekolah.

“Ris, udah tau belum kalau ada siswa baru dari Australia?” Marsha bertanya kepada Haris yang juga sibuk bermain dengan ponselnya, tepatnya sedang bermain game.

Haris mengangguk, “Tau lah, kan yang pertama kali kasih tau Putra. Kenapa emangnya?” ucapnya. Fyi, Putra adalah salah satu teman tongkrongan Haris, lebih tepatnya sahabat Haris. Jika Lia adalah teman Marsha yang sangat update, maka Putra adalah teman Haris yang sangat update juga.

“Kok bisa si Putra cepet banget taunya. Tau dari mana dia?” tanya Marsha kepo.

“Biasalah, dia kan telinganya ada di mana-mana. Gosip baru keluar aja dia langsung tau.” Haris heran dengan sahabat satunya ini. Telinga milik Putra bisa ada di mana-mana. Bagaimana tidak, gosip tentang salah satu teman kelasnya yang pacaran saja bisa langsung tersebar berkat telinga Putra. Atau bisa dibilang berkat telinga Putra yang suka menguping dan mulutnya yang sangat tidak bisa menjaga rahasia. Untungnya Putra masih berbaik hati kepada Haris untuk menjaga rahasia yang dimiliki sahabatnya itu.

“Aduh, kok hidupku jadi dikelilingi sama bule, ya. Nanti ketemu sama sepupu bule, besok ketemu sama siswa pindahan bule juga. Lama-lama aku ikutan jadi bule juga,” oceh Marsha. Haris hanya memutar bola matanya malas. Ia sudah terbiasa dengan tingkah Marsha yang satu ini.

“Udah makanannya dihabisin dulu, habis itu kita pulang. Langitnya udah mau gelap, nih,” ujar Haris dan Marsha mengangguk. Mereka berdua segera menghabiskan makanan dan minuman yang ada di meja sembari mengobrol hal-hal yang tidak penting.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Breaking Bad: Menikah dengan Iblis
7.8
Kebodohanku berujung fatal saat aku menikahi pria yang ternyata berhati iblis. Di tengah kondisi fisik yang kian melemah, aku mulai curiga bahwa suamiku sendiri sedang meracuniku secara perlahan. Kejanggalan terus muncul, mulai dari pelayan yang memata-matai hingga keraguan bahwa anakku adalah darah dagingku sendiri. Terjebak dalam penjara rumah tangga ini, aku bersumpah akan mengungkap semua rahasia gelapnya dan membalas dendam meski harus bertaruh nyawa.
Sampul Novel Godaan Wanita Kedua
8.1
Elisa tak pernah menduga bahwa niat baiknya menampung sang sahabat di rumah justru menghancurkan pernikahan lima tahunnya bersama Aries. Dunianya seketika runtuh saat mendengar pengakuan kehamilan dari wanita yang sangat ia percayai tersebut. Pengkhianatan kejam ini menempatkan Elisa pada pilihan sulit. Haruskah ia tetap bertahan dan menerima kehadiran madu dalam rumah tangganya, atau memilih pergi meninggalkan Aries demi mengejar kebahagiaan barunya?
Sampul Novel Istri Kedua Sang Billionaire
8.7
Hana terbangun dalam kondisi sangat terkejut saat menyadari ada sosok asing yang tidur di sisinya. Meskipun kesadarannya telah pulih sepenuhnya, ia merasa sangat bingung karena yakin dirinya belum pernah terikat dalam sebuah pernikahan. Kejadian tak terduga ini membuatnya mempertanyakan bagaimana orang asing tersebut bisa berada di ranjang yang sama dengannya. Sebuah misteri besar kini menghantui hidup Hana yang semula tenang dan sederhana.
Sampul Novel Keangkuhan dan Kesombongan
9.2
Berlatar Jawa abad ke-19, Anisa adalah gadis cerdas yang beradu prinsip dengan Raditya, pemuda kota yang angkuh. Awalnya Raditya meremehkan Anisa, sementara Anisa memandangnya sombong. Di tengah tekanan perjodohan keluarga dan perbedaan kelas sosial, benih cinta mulai tumbuh. Keduanya harus melawan ego dan tradisi demi menyatu. Kisah ini mengikuti perjuangan mereka melampaui prasangka demi menemukan cinta sejati yang tulus tanpa sekat kasta.
Sampul Novel Lorong Hitam Kenikmatan
7.9
Dalam keheningan malam, Haris dan Lidya terjebak dalam gairah yang membara tanpa sehelai benang pun. Di atas ranjang, Haris dengan antusias memberikan rangsangan intens yang membuat Lidya tak berdaya. Sentuhan lidah Haris pada area sensitifnya memicu sensasi luar biasa hingga Lidya mengalami orgasme hebat untuk kedua kalinya. Meski tubuhnya lemas, senyum kepuasan terpancar dari wajah Lidya. Haris pun merasa bangga telah memuaskan teman tapi mesranya tersebut.
Sampul Novel PAK DOSEN
8.7
Ayumi Larasati dan Reza Syahrial terjebak dalam pernikahan rahasia akibat perjodohan. Situasi menjadi rumit karena status mereka sebagai mahasiswa dan dosen di kampus yang sama. Ayumi terikat larangan orang tua untuk berpacaran, sementara Reza dihantui trauma masa lalu dalam hubungan asmara. Mereka harus menyembunyikan status suami istri dari publik demi menjaga profesionalitas. Akankah rahasia besar ini bertahan di tengah tekanan kehidupan kampus dan konflik pribadi mereka?