Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Takdir yang Sulit Ditempuh

Takdir yang Sulit Ditempuh

Kehadiranku dan ibuku dianggap sebagai perusak kebahagiaan keluarga kakak tiriku. Kebenciannya begitu mendalam, ditunjukkan lewat tatapan dingin dan ucapan kejam yang mengharapkan kematianku. Namun, setelah aku benar-benar tiada memenuhi keinginannya, penyesalan hebat justru melandanya. Dia menangis dan memohon agar aku kembali, meratapi keputusan masa lalu saat kami berpisah dan perlakuan kasarnya. Sayangnya, semua kasih sayang yang terlambat ini tidak lagi berarti bagi raga yang telah mati.
Bab
Bagikan

Bab 4

Angel tersenyum di tengah tangisnya, lalu menjawab, "Ya, tentu saja."

Maaf, aku telah berbohong padamu.

Dalam hati aku menyesali kata-kata bohongku.

Aku berbohong pada satu-satunya teman yang tahu bahwa waktuku tidak akan lama lagi.

Aku hanya punya waktu sebulan lagi paling lama.

Saat aku kembali ke kamarku dengan tubuh yang lelah, aku menemukan seseorang yang seharusnya tidak ada di sana.

Ruangan itu dipenuhi bau asap rokok yang menyengat.

Setelah hampir seharian tidak makan, aku langsung berlari ke kamar mandi, lalu muntah hebat.

Aku bahkan tidak mendengar langkah kaki Alvin.

Sambil setengah berlutut di lantai, aku menekan tombol penyiraman toilet. Namun, aku tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat.

"Apa kamu hamil? Kapan kamu diam-diam berkeliaran di belakangku? Apa kamu ingin membawa anak haram untuk mengambil warisan?"

Dia membalikkan tanganku, menekannya ke dinding, lalu membungkuk untuk menatap perutku dengan mata merah.

"Vina, kalau kamu masih ingin tinggal di rumah ini, minggu ini kamu harus menggugurkan anak itu! Kalau nggak, kamu dan ibumu bisa langsung angkat kaki dari sini bulan depan!"

Setelah mengucapkan itu, dia melepaskan tanganku dengan tatapan merendahkan, lalu melanjutkan, "Tubuhmu tinggal tulang saja. Aku nggak tahu siapa yang punya selera buruk seperti ini!"

Kepalaku masih terasa pusing akibat muntah. Butuh beberapa saat untuk aku bisa memahami apa yang dia katakan.

Jadi, Alvin mengira aku hamil hingga pergi ke departemen kebidanan di rumah sakit?

Bagaimana dengan dia sendiri?

Pria ini pasti merasa bahagia karena Ajeng memiliki buah cinta mereka.

Namun, perkataan Alvin membuatku tersadar betapa jelasnya tindakanku menggugurkan anak bertahun-tahun yang lalu.

Dia tidak pernah mencintaiku, apa lagi anak di dalam rahimku.

Seperti kata pepatah, mencintai seseorang juga berarti mencintai orang-orang di sekitarnya, begitu pula sebaliknya.

Membawa seorang anak yang tidak diinginkan ke dunia ini hanya akan menghadirkan penderitaan.

Aku mengusap perutku yang rata sambil berbisik dengan suara pelan.

"Maafkan aku, sayang. Enam tahun lalu, Ibu yang sudah berbuat salah."

"Kamu harus menjaga dirimu di jalan menuju akhirat. Ibu akan segera menyusulmu, jadi kamu nggak akan merasa kesepian lagi."

Aku berpegangan pada dinding untuk bangkit, melihat bekas darah yang baru saja aku muntahkan dengan sedikit kebingungan.

Apakah Alvin melihatnya?

Aku menekan tombol penyiraman toilet, menyeka darah di sudut mulutku, lalu perlahan melangkah keluar dari kamar mandi.

Namun, aku tidak menduga kalau Alvin ternyata masih ada di sana.

Dia berdiri diam di depan tempat tidurku sambil menatap foto kami berdua yang ada di meja samping tempat tidur. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Aku sadar bahwa aku mungkin melakukan sesuatu yang salah. Aku membuang foto itu ke tempat sampah dengan terburu-buru.

"Maaf, aku hanya .... Tapi aku sudah membuangnya, jadi jangan marah, oke?"

Aku takut pada wajah marah Alvin.

Amarahnya membuatnya tampak bukan lagi seperti pemuda yang pernah aku cintai.

"Bagus kalau sudah kamu buang. Aku khawatir nanti Ajeng akan cemburu saat dia tinggal di sini," kata Alvin.

"Apa maksudmu?"

Aku tertegun. Apa maksudnya Ajeng akan tinggal di sini?

Pria itu menjelaskan, "Ayahku belum memberitahumu? Setelah aku menikah, vila ini akan menjadi milikku. Tentang di mana kamu akan tinggal, itu semua tergantung suasana hatiku."

Dia tertawa dengan muram, sangat berbeda dari sosoknya yang ceria di siang hari.

"Oh ya, minggu depan adalah pesta pertunanganku. Jangan lupa untuk berdandan. Aku nggak mau orang-orang menertawakan Keluarga Setio karena memperlakukan anak tiri dengan buruk!"

Aku selalu melihat punggung Alvin, melihatnya pergi menjauh perlahan-lahan. Makin lama, dia makin jauh dariku.

Begitu suara pintu tertutup, aku buru-buru mengambil foto dari tempat sampah.

Kaca pelindung foto itu menusuk telapak tanganku, lalu darah segar pun mengalir deras.

Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya. Bahkan tidak sebanding dengan sakitnya serangan kanker hati.

Aku duduk di lantai sambil menggenggam erat foto itu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Accidentally Wedding
8.6
Fachmi heran mengapa matanya selalu tertuju pada Carissa, gadis SMK yang jauh dari kriterianya. Meski mengaku tak cinta, ia justru terhibur oleh kebencian gadis itu. Secara impulsif, Fachmi menawarkan pernikahan saat ayah Carissa mengeluhkan tingkah putrinya. Di sisi lain, Carissa yang baru tujuh belas tahun merasa hidupnya hancur. Ia terpaksa menikah muda dengan Fachmi, pria dewasa yang dicap hobi mempermainkan wanita. Akankah takdir ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Anak Milik CEO
8.8
Seorang wanita mendadak tegang saat bertemu kembali dengan Davero di dalam lift kantor. Pertemuan yang tak terduga itu berubah mencekam ketika sang CEO tampan memojokkannya ke dinding dengan tatapan tajam yang penuh dominasi. Meski sang wanita merasa ketakutan dan gugup, Davero dengan suara serak menegaskan bahwa ia tak akan membiarkannya pergi lagi. Sebuah klaim penuh ancaman pun terucap, menandai bahwa wanita itu kini adalah miliknya sepenuhnya secara mutlak.
Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas
8.2
Kehidupan rumah tangga yang seharusnya indah berubah menjadi penderitaan akibat lisan tajam ibu mertua. Tuduhan mandul dan penyesalan atas pernikahan terus dilontarkan, menambah beban pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Sang istri terus dipojokkan dan dituntut memberikan cucu dalam tekanan mental yang berat. Di tengah badai konflik dan sikap mertua yang semena-mena, ia kini berdiri di persimpangan jalan antara terus bertahan atau memilih menyerah.
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Alya terjebak dalam keputusasaan saat ibunya, Kartika, butuh biaya medis besar dan donor organ langka. Di tengah krisis ini, Niko, pengusaha kaya yang mendambakan anak, menawarkan kesepakatan menjadi ibu pengganti demi kesembuhan Kartika. Meski ragu, Alya setuju demi nyawa ibunya. Namun, benih cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, memicu dilema emosional. Saat rahasia besar terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Cinta Sejatinya
9.2
Lamaran pernikahan dari Dimas hancur seketika saat sebuah telepon dari Janet menginterupsi. Tanpa ragu, Dimas pergi meninggalkan kekasihnya demi menolong perempuan yang selalu membayangi hubungan mereka. Meski lelah dituduh terlalu cemburu oleh Dimas yang bersikeras bahwa Janet hanyalah masa lalu, sang protagonis akhirnya mengambil keputusan besar. Ia memilih meninggalkan hubungan tersebut dan menerima pinangan William Anderson, pria yang benar-benar menjadikannya sebagai cinta sejati.
Sampul Novel Cinta Semalam Sang CEO
8.8
Terjebak tantangan teman saat mabuk, Prakas menghabiskan malam bersama Miona, gadis yang terpaksa menjual diri demi utang ibunya. Setelah mengusir Miona, Prakas terkejut mendapati gadis itu adalah putri Pak Imam, sosok OB yang ia anggap ayah sendiri. Berniat menebus kesalahan, Prakas melunasi utang keluarga Miona dan memintanya berhenti dari dunia hitam. Namun, Miona yang terluka justru menolak belas kasihan itu dan bertekad membayar balik semuanya.