
TAKDIR CINTA SANG PRAJURIT
Bab 3
Zanna syok. Ia tak menyangka jika Adiyasa bakal ditugaskan ke luar Jawa. Hmm, Natuna? Itu sangat jauh dari Bandung. Yang ia tahu, Natuna sebuah pulau kecil yang masih minim fasilitas.
Akan sulit baginya nanti berkomunikasi dengan sang suami. Berita yang beredar, di sana sangat sulit sinyal. Tak jarang, masyarakat di sana harus naik gunung atau pohon demi mendapatkan sinyal.
"Mas, aku tahu komitmen saat menikah dengan seorang prajurit. Tetapi … kita baru menikah 3 bulan dan Natuna itu jauh sekali, sinyal pun masih sulit di sana. Apa komunikasi kita akan lancar kalau Mas tugas di sana? Aku enggak bisa jauh-jauh dari kamu, Mas," ujar Zanna dengan wajah sedih.
"Apa kamu enggak bisa menolaknya, Mas?"
"Sayang, seorang prajurit harus siap ditugaskan di mana pun. Andai bisa memilih, aku juga enggak mungkin meninggalkan kamu jauh-jauh." Adiyasa memeluk istrinya itu dan Zanna tak lagi mampu menahan air matanya.
Alisya menangis. Sesungguhnya ia tak siap jika harus menjalani LDR dengan jarak yang cukup jauh, ditambah sulitnya berkomunikasi nantinya. Namun, komitmen adalah komitmen. Sebagai istri seorang prajurit, ia harus siap jika ditinggal sang suami bertugas kemanapun.
"Kapan Mas berangkat?" tanya Zanna.
"Besok sore, Sayang. Kamu bisa kan mengantarku ke Halim?" tanya Adiyasa sambil mencium kening sang istri.
"Besok?"
Kini tak ada lagi kata yang keluar dari bibir Zanna. Netranya pun mengeluarkan bulir-bulir air mata. Tidak secepat ini yang ada dibenaknya. Zanna belum siap, tetapi ia dipaksa siap dengan segala resiko saat memutuskan menikah dengan seorang prajurit.
Zanna pun akhirnya berusaha tegar. Ia pun mengemaskan segala keperluan sang suami untuk keberangkatannya bertugas ke Natuna. Dengan berurai air mata, ia menyusun dengan rapi pakaian dan segala keperluan sang suami. Tak lupa, ia sisipkan foto pernjkahan mereka. Berharap, Adiyasa tetap setia di sana dan selalu mengingatnya.
Adiyasa yang melihat kegundahan sang istri berusaha meyakinkan semua akan baik-baik saja. Seperti janji seorang prajurit yang harus setia pada negara, ia pun akan memegang teguh janji pernikahannya bersama Zanna. Kesetiaan baginya adalah segalanya.
****
Pagi hari
Hari ini, akan menjadi yang terakhir Zanna sarapan bareng sang suami, Adiyasa. Sore nanti, sekitar jam 4, Adiyasa akan berangkat menuju Natuna. Hal yang tak pernah dipikirkan Zanna. Paling tidak, bukan saat ini di saat usia pernikahannya belum genap 6 bulan.
Saat sarapan
Mama Zanna yang mulai mempertanyakan kehadiran seorang cucu, semakin membenci tatkala ia tahu kalau menantunya itu akan bertugas ke Natuna.
"Apa ke Natuna?" ujar Mama memasang wajah kecut.
"Iya, Ma.Mas Adi ditugaskan ke sana. Sebagai seorang prajurit kan harus siap ditugaskan di mana pun," terang Zanna sambil menatap ke arah sang suami.
"Kamu setuju ditinggal, Zanna?"
"Aku harus siap Ma. Ini kan sudah menjadi komitmenku saat memutuskan menikah dengan seorang prajurit yang berbakti pada negaranya." Zanna pun memegang erat tangan sang suami.
Mama Zanna itu tak dapat mengelak lagi. Sang anak yang diharapkan dapat segera memberinya cucu justru merestui kepergian sang suami tugas ke luar pulau.
"Ya sudah. Semoga perjalananmu lancar, Di." Mama pun bangkit dan meninggalkan Adi dan Zanna di meja makan.
Mama pun masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Zanna tahu, kalau sang Mama kecewa karena mengingat ia merindukan tangis tawa anak bayi. Namun, ia bisa apa? Saat takdir berkata lain.
Adi yang merasa tak enak pun mencoba mengetuk pintu kamarnya untuk berpamitan. Lama diketuk, akhirnya Ibu mertuanya itu membuka pintu.
"Ma, Adi berangkat dulu ya. Adi titip Zanna sementara Adi bertugas. Kalau Mama butuh apapun, jangan sungkan telepon aku atau minta dengan Zanna. Pokoknya Mama happy aja di sini. Urusan rumah tangga, biar Zanna dan ART yang akan urus," pungkas Adi lalu mencium tangan Ibu mertuanya itu.
"Hati-hati, Nak. Kamu jangan khawatir, Mama dan Zanna akan baik-baik saja di sini. Kamu jaga diri baik-baik di kampung orang," ujar Mama mertua Adi dengan tersenyum.
"Ma, Zanna antar Mas Adi ke Halim dulu ya," ujar Zanna yang mencium tangan Mamanya untuk pamitan.
Adi dan Zanna akhirnya pergi dengan mobil Chevroletnya itu.
****
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam karena macetnya jalanan ibukota, mobil yang membawa Adi dan Zanna akhirnya sampai. Di Bandara milik negara itu, Adi bergabung bersama prajurit lainnya melakukan serangkaian proses acara sebelum akhirnya berpamitan dengan keluarga.
"Mas, kamu hati-hati di sana ya. Kalau sudah sampai, segera kabari aku," ujar Zanna memeluk erat sang suami.
"Kamu jaga diri di sini ya. Kalau tak terlalu penting, tetap tinggal di rumah selama aku tak di rumah ya, Sayang." Adi pun mencium kening sang istri, dan Zanna mencium tangan sang suami sebelum Adi akhirnya bergegas naik ke dalam pesawat yang akan membawanya ke Natuna. Sebuah pulau di ujung utara Indonesia.
****
Akhirnya Adiyasa sampai ditempat barunya. Pulau Natuna. Pulau dengan pemandangan yang indah, dengan hamparan laut yang bersih. Para wisatawan bahkan menyebutnya 'surga seafood'. Berbagai makanan laut dijual cukup murah dan segar tentunya. Ada beberapa makanan khas Natuna yang juga menjadi ciri khasnya, selain keramahan penduduknya.
Adiyasa pun menarik nafas panjang saat kakinya menjejaki tanah Natuna, 'Laut Sakti Rantau Bertuah'. Rombongan pun disambut hangat para anggota di sini. Disambut dengan tarian khas Melayu dan beragam makanan khas Natuna.
Adiyasa pun sangat menyukai keramahan para penduduk. Di sini, ia menemukan sesuatu yang berbeda. Bukan soal indahnya laut Natuna, bukan juga soal nikmatnya makanan khas Natuna. Ya … keramahan masyarakat sekitar. Sungguh memukau hatinya.
"Wow amazing."
Adi pun sempat berkeliling melihat pemandangan Pulau Natuna ini. Meski dengan fasilitas yang minim, ia memiliki sesuatu yang tak dimiliki daerah lain.
Keasyikan memandangi keindahan Natuna, membuat ia lupa mengabari Zanna yang pasti sudah cemas menunggu kabar darinya. Ah, semoga saja si mungil tak marah, karena telat mengabarinya.
"Assalamu'alaikum." Akhirnya panggilanku dijawab juga olehnya.
"Wa'alaikumsalam," jawabnya ketus di ujung telepon.
"Maaf, Sayang, aku baru bisa mengabarimu. Acara penyambutan baru saja usai," kelitku agar gadis mungilku itu mereda amarahnya.
"Beneran kamu enggak macam-macam kan di sana?" tanya Zanna di ujung telepon.
"Enggaklah, Sayang. Kamu udah makan?"
"Mana aku bisa makan, suamiku telat mengabariku. Malah sibuk …."
"Hahahaha …." Akupun tertawa mendengar ejekannya.
"Makanlah, Sayang, aku nggak mau kamu sakit. Nanti asam lambungmu naik."
"Baiklah, Sayang,"
"Let, makanan sudah siap. Mari kita makan sama-sama." Wanita bernama Henny itu memanggi Adi.
"Siapa dia?" tanya Zanna yang curiga.
"Oh, Henny. Dia masyarakat di sini, yang mengurusi acara penyambutan juga di sini, Sayang."
Sambungan pun terputus.
"Ya Allah, dia cemburu."
Berkali-kali Adiyasa mencoba menghubungi sang istri kembali tetapi tak digubrisnya.
Tiba-tiba
"Urus saja teman barumu di sana, pasti cantik!"
Bersambung …
Anda Mungkin Juga Suka





