
Takdir Cinta Berondong Tampan
Bab 2
Langkah tegap dengan sepatu hak tinggi yang kukenakan berjalan masuk ke arah restoran. Hari itu aku bertugas memeriksa kinerja karyawan di salah satu cabang restoran Korean Grill yang kumiliki. Aku masuk ke dalam setelah membuka pintu kaca. Melepas kaca mata hitam dan berjalan anggun bak istri-istri bos besar di drama korea yang kutonton.
"Ibu, selamat datang, mari, saya antar ke ruangan Ibu," ucap manager operasional restoran. Aku mengangguk sambil berjalan menuju ke lantai dua, melewati para tamu restoran yang tampak puas dengan makanan dan pelayanannya. Aku tersenyum ramah menyapa para tamu. Sudah kebiasaanku.
Tepat saat kedua mataku menatap meja yang hanya diisi satu orang itu, ia melirik dengan bibir gelas menempel di bibirnya. Lalu tersenyum sinis seperti meledek penampilanku. Meledek? Berani sekali dia. Aku terus melirik sinis ke arahnya hingga berhenti di pintu tepat di samping mejanya. Karyawanku mempersilakan aku masuk.
"Berikan segelas bir dingin ke meja yang di duduki lelaki kesepian itu. Ck, kasihan. Kedua matanya seperti tak pernah melihat wanita saja." ucapku yang dijawab anggukan manajer. Aku berjalan masuk dan menutup pintu. Setelahnya, aku tak tahu lagi juga tak mau tau tentang siapa pria itu.
***
Sore hari, aku menunggu mobil siap menjemput, supir memarkirkan tidak di depan restoran, sengaja begitu, bukan tanpa alasan, hanya saja aku tak suka mobil sedan mewah berwarna merah terang itu menyorot perhatian. Sungguh bukan diriku. Ponselku bergetar, nama Emi muncul. Ia suster serta pengasuh anakku, Raja.
"Ya, Emi, ada apa?" tanyaku sambil berjalan ke arah mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan.
"Ini Nyonya, Raja nangis terus, badannya panas," suara Emi terdengar panik.
"Bawa ke rumah sakit sekarang, saya tunggu di sana ya, Em."
"Baik Nyonya," pembicaraan terhenti. Aku masuk ke dalam mobil lalu menuju ke RSIA di daerah pusat Ibu kota. Supir segera menambah kecepatan, aku tak mau Emi dan Raja sampai lebih dulu. Aku meremas jemari, sejak semalam, sepulang kami bermain di Playground karena ajakan Kaisar yang cuti bekerja sehari itu, Raja sudah tak bersemangat. Sumeng, bahkan semalam ia beberapa kali menangis.
Mobil berhenti tepat di pintu lobi rumah sakit, segera ku melangkah ke meja pendaftaran lalu duduk di dekat pintu IGD. Tampak dari kejauhan Emi berlari sambil menggendong Raja. Wajahnya panik.
"Nyonya, Raja muntah tadi di mobil," ujarnya. Aku mengambil alih gendongan dari Emi ke pelukanku. Raja menangis saat merasakan bahwa aku, yang menggendong dan memeluknya, seolah mengadukan apa yang ia rasakan.
Raja nangis begitu keras, seperti menahan sakit. Aku lalu masuk ke IGD, membaringkan tubuh raja di atas brankar, ku hapus air matanya yang mengalir deras di wajahnya. Seorang perawat dan dokter datang, mereka memeriksa kondisi Raja dengan teliti. Aku langsung memintanya untuk melakukan serangkaian tes darah. Feeling ku mengatakan Raja terkena diare karena memang sudah beberapa kali buang air besar berbentuk cair.
Aku memangku Raja duduk di kursi, di saat perawat mengambil darah dari lengannya. Emi aku suruh kembali ke rumah, aku yakin kalau Raja harus dirawat untuk beberapa hari.
"Sayang ... ssshh… ssshh…" Aku menepuk bokong gempal Raja pelan, menenangkan dan memeluknya. Memberikan kenyamanan pada putra semata wayang ku itu.
IGD tiba-tiba ramai. Riuh seperti ada keributan. Teriakan demi teriakan pun terdengar. Seseorang menjadi korban kecelakaan, aku lemas jika mendengar itu. Tak bisa ku bayangkan lukanya seperti apa. Raja kembali histeris, ia terkejut. Aku berdiri dan menggendong sambil memeluknya membelakangi meja tempat dokter dan suster.
"Bahkan putramu sendiri tak nyaman di pelukan Ibunya." Suara yang asing, aku menoleh. Pria itu. Pria yang menatapku di restoran tadi siang. Aku menatap tajam dan dingin.
"Bukan urusan anda!" ucapku ketus. Ia tertawa sinis lalu mengangguk. Aku menatap kedua luka di lengan kiri dan celana jeans yang robek. "Kecelakaan!" tanyaku sambil mengarahkan dagu menunjuk ke luka-luka di tubuhnya.
"Ya, biasa. Laki-laki pasti pernah jatuh dari motor. Permisi." Ia melangkah pergi, aku kembali memeluk dan mengusap Raja. Baguslah dia mengganggu dengan komentarnya.
Satu jam berlalu, hasil tes sudah keluar juga suara suamiku terdengar memanggil. Ia menemukan kami. Wajahnya panik, ia mengecup pipi dan kening Raja berkali-kali yang tertidur setelah diberi obat dan dipasang infus di lengan kirinya.
"Apa kata dokter?" Kaisar bertanya tanpa menatapku, kedua matanya terpusat di wajah Raja.
"Muntaber, Emi lagi pulang ambil baju Raja dan aku, kamu nggak sibuk, Mas, kok bisa keluar kantor, masih jam setengah lima sore, 'kan?" Aku menatap ke wajah maskulin suamiku itu. Ia menoleh. Tersenyum. Biasanya memang ia akan susah keluar kantor, selalu ada saja halangannya. Lagi-lagi, baru tiga bulan belakang hal itu terjadi.
"Setelah aku urus kamar rawat Raja, aku ke kantor lagi, tadi aku tinggal gitu aja, lagi ada meeting sama bagian keuangan."
"Oh, yaudah." Aku lalu beranjak dan berjalan ke arahnya. Meraih pinggang dan memeluknya, Raja kembaliku baringkan ke brankar.
"Maaf, jadi bikin kamu tinggalin kerjaan," ucapku yang mendapat balasan usapan lembut di punggung dari tangannya.
"Ini urusan Raja. Aku bisa tinggali saat itu juga untuk urusan lainnya, kamu nanti stay di sini?" tanyanya.
"Iya. Aku booking kamar di hotel sebelah ya, kamu di hotel aja dulu selama aku sama Raja di sini," kata ku, namun, ia menggelengkan kepala.
"Aku di apartemen aja, biar dekat dari kantor juga," jawabnya. Lalu kami saling melempar senyum. Ia pamit menuju ke meja administrasi, mengecek apa kamar rawat putra kami sudah siap.
Tak lama, Raja terbangun, kali itu ia dalam gendongan Kaisar yang berjalan tegak menuju ke lift, tujuan kami lantai empat–kamar rawat Raja–Kaisar tak mau duduk di kursi roda bersama Raja. Aku berjalan di belakangnya, tersenyum bahagia karena ia tak lalai memperhatikan kami. Semenjak ada Raja, prioritas suamiku pun memang lebih terpusat ke penerusnya itu. Aku, tak masalah walau kadang suka terabaikan, aku terima.
Kamar bernuansa Dinosaurus itu membuat Raja menolehkan kepala beberapa kali. Ia menunjuk ke gambar salah satu Dinosaurus terbesar.
"Raja mau kamar di rumah ada Dinonya?" tanya Kaisar. Raja mengangguk.
"Oke. Nanti Papa hias, ya, sekarang, Raja bobo di sini dulu sama Mama, biar cepet sembuh. Papa kerja dulu, ya, nanti ke sini bawa Dino juga, deh." Mendengar itu, Raja mengangguk. Putra kami kembali diberi obat lain, tak lama kedua matanya kembali terpejam. Aku memeluk dan mengusap punggung suamiku. Ia menatap, "Jaga Raja ya, kabari aku. Maaf, kalau aku baru bisa sore atau malam ke sini. Kamu ngerti 'kan?" tanyanya, aku mengangguk. Sebenarnya aku tau, ada alasan lain yang Kaisar terus tutupi. Sabar, aku terus mengatakan itu pada hatiku.
Tak akan lama bangkai tertimbun tanpa bau. Kaisar berbohong, aku tahu. Suamiku itu tak menyadari, jika sejak kedatangannya, aku sudah melihat tanda merah di leher kanannya yang ia coba samarkan dengan kerah kemeja yang ia kancing hingga atas dan dasi yang ia kenakan seolah menahan supaya kerah kemejanya tak turun, untuk membuka tanda merah keunguan itu. Musang licik, akan terus ku selidiki siapa kamu?
Anda Mungkin Juga Suka





