
Takdir 2 Dimensi
Bab 2
"Tahu, Bun," sahutku dengan nada riang, dan tidak lupa dengan memeluk erat wanita paruh baya di sebelahku.
"Hari sudah mau malam, segera makan dan jangan lupa untuk mengerjakan tugas sekolahmu, agar tidak ada PR yang terlewat."
Bunda memang selalu mengingatkanku untuk disiplin setiap waktu, bahkan masalah tugas sekolah saja, beliau selalu menyempatkan diri untuk membantuku.
"Siap Bunda!" seruku sambil memberikannya hormat.
Aku melangkah ke kamar, duduk di meja belajar dan mengeluarkan semua buku yang ada di dalamnya.
Dengan semangat perjuangan, diriku mulai menyelesaikan semua tugas dari semua guru mata pelajaran dengan setenagah mengantuk.
"Hoammm, rasanya aku ingin segera tidur, tapi tugasku belum juga selesai."
Aku tak henti menguap, rasa kantukku seakan memaksaku untuk meninggalkan semua tugas yang masih menggunung.
"Ayolah, Can, sebentar lagi tugasmu akan selesai, kurang sepuluh soal lagi," ucapku dengan nada pelan, menyemangati diri sendiri.
Mataku sudah tidak lagi bisa diajak kerja sama, perlahan aku memejamkan mata karena lelah lebih mendominasi tubuhku, sedangkan otakku mulai bekerja untuk menyuruhku beristirahat.
Entah sudah berapa jam aku tertidur di meja belajar, aku terbangun dengan niat menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tadi.
Saat aku membuka buku, tampak sudah diisi semua, aku mengulang semua jawaban yang terisi dan semuanya benar.
juga.
"Loh, kok sudah terisi semua," ucapku dengan setengah kaget.
"Apa mungkin tadi Bunda yang masuk kamarku dan melihatku ketiduran, tapi 'kan biasanya kalau aku tidur, beliau bangunkan aku."
"Lalu siapa yang membantuku? Apa aku menulis dengan tidur."
Aku berpikir keras tengah malam, lalu si kucing yang aku temukan tadi mengeong dengan lucu.
"Eh, kamu lapar ya? Sebentar ya, aku ambil makanan untuk kita, aku juga lapar karena tadi malah langsung masuk kamar dan tidak makan malam dulu," ucapku pada kucing lucu yang memainkan tangannya di depanku.
Aku beranjak berdiri dan meninggalkan kucing itu seorang diri di dalam kamar.
Setelah aku mengisi piringku dengan makanan serta lauk, tidak lupa memberikan makanan kepada kucing yang belum sempat aku beri nama tadi.
"Ayo cing, dimakan makananmu."
Aku ikut duduk di depan si kucing dan makan dengan begitu lahap.
Selesai makan aku melihat kucing yang aku temukan itu sebenarnya termasuk kucing lucu dan merupakan kucing mahal, yang mungkin harganya setara dengan uang jajanku selama tiga bulan.
"Dari tadi aku manggil kamu cang cing terus, di telinga sangat gak enak ya."
Aku mengetuk daguku dengan jari, berpikir nama yang unik dan juga lucu.
"Oke kalau begitu aku memberi nama kamu sweet neko, karena kamu begitu manis dan juga lucu," ucapku sambil tersenyum senang.
"Kamu suka gak?" tanyaku pada hewan yang tidak menjawab pertanyaanku sama sekali.
"Meong."
Sweet Neko memberi respon kepadaku dengan mengeong.
"Ah, syukurlah. Makanan kamu juga sudah habis ya, nanti kamu bisa tidur di sebelah aku ya, tapi jangan berisik."
Lagi-lagi aku berbicara seorang diri dengan hewan berbulu dan juga lucu itu.
"Begini rasanya punya kucing, ada teman curhat meski hanya bisa menjawab ngeong saja."
Aku terkikik geli, mendengar ucapanku sendiri.
"Pantas saja tadi si anak orang kaya itu memanggilku orang gila, emang otakku sedikit geser karena kepentok cinta pemuda yang belum tahu nama dan asalnya," monologku seorang diri.
Tak berapa lama kilat terlihat begitu terang, aku kaget saat melihat petir yang menyala.
Aku segera berari ke atas ranjang, diriku menarik selimut dan segera memejamkan mata. Aku sangat takut dengan cahaya kilat. Sejak kejadian yang pernah terjadi kepadaku saat sepulang sekolah. Dengan jelas, kilat menyambar bumi di depan pandanganku.
Sejak saat itu aku takut akan kilat saat hujan.
Kini aku mengaratkan pegangan selimutku dengan rasa takut yang begitu tinggi.
"Bunda!" teriakku sekuat tenaga.
Entah kenapa hari ini rasanya begitu panjang, aku juga tidak melihat Bunda seperti hari-hari sebelumnya saat aku ketakutan dan berteriak kencang. Kali ini beliau bahkan tidak melihat keadaanku di kamar.
Badanku mulai menggigil, entah karena dalam keadaan takut atau karena kilat tadi. Pandanganku semakin memburam, samar-samar sosok pemuda tampan berdiri di sampingk ranjanku dengan pandangan yang tampak khawatir.
"Apa aku sedang bermimpi indah," racauku setengah sadar.
Entah sudah berapa jam aku tertidur, mentari pagi juga terlihat sudah semakin meninggi, tetesan air yang jatuh akibat hujan kemarin masih tersisa.
"Gawat! Aku terlambat sekolah, kenapa Bunda tidak membangunkanku?"
Belum sepenuhnya aku tersadar dengan suhu badanku yang tinggi, dengan langkah tergesa aku terjatuh dari ranjang dan mengakibatkan kakiku terantuk kaki nakas.
"Gedebuk."
Suara keras itu membuat Bunda dan Ayah tampak lari dan melihat keadaanku.
"Candy!" seru Bunda yang segera menolongku saat aku sudah tersungkur di lantai.
"Hati-hati, Sayang. Kamu mau kemana?"
"Mau ke sekolah, Bun. Sudah jam delapan, aku sudah terlambat," ucapku sambil terisak karena terlambat bangun.
"Bunda sudah membuatkan kamu surat izin tadi, lihat badan kamu tuh panas. Untung saja tadi malam kucing ini mengeong dari luar kamar Ayah dan bunda."
"Maksud Bunda, Sweet Neko?" tanyaku yang setengah tidak percaya.
Bunda mengangguk mengiyakan keterkejutanku.
"Maaf, bunda tidak tahu tadi malam hujan petir, bunda juga tidak dengar kamu panggil," sesal bunda dengan membelai suraiku yang kusut.
"Tidak apa, Bunda. Sweet Neko juga menjagaku tadi malam," gurauku agar suasana kembali menghangat.
"Kamu itu bisa saja. Nanti saat Ayah dan bunda kerja, jika perlu bantuan, panggil Bibi saja ya," pinta Bunda dengan nada lembut.
"Iya, Bunda."
"Mumpung buburnya masih hangat, segera dimakan ya, jangan lupa minum obatnya," kata Bunda sambil memberi nampan berisi bubur hangat dan segelas susu hangat beserta buah dan juga kue buatan Bundaku.
"Makanannya komplit pake banget ya, Bun," godaku kepada Bunda yang tersenyum manis menanggapi candaanku.
"Ya sudah dihabiskan dulu sarapannya, Bunda sama Ayah mau berangkat kerja."
Bunda segera pamit dan berangkat kerja bersama dengan Ayahku. Aku memakan sarapanku dengan hati senang, namun sesuatu mengusik diriku saat ingin menghabiskan semua makanan di nampan yang merupakan makanan favoritku.
"Meong."
Suara Sweet Neko membuatku tersadar, ada hewan imut dan lucu yang sejak kemarin mendampingiku saat gelap dalam hujan dan juga petir.
"Maaf bukan maksudku melupakanmu, tapi aku benar-benar lupa," kataku kepada kucing yang duduk dengan tatapan memelas.
"Imut banget sih tingkahmu."
Aku lantas memberikan sepotong roti yang merupakan sarapanku.
"Semoga kamu suka ya swett," ucapku sambil melihat kucing itu menikmati makanannya yang begitu terasa sangat enak.
"Bagaimana masakan Bundaku?" tanyaku kepada seekor kucing yang masih menjilati sisa kue yang aku berikan untuknya.
"Meong."
"Ah, kamu suka juga, syukurlah kalau kamu suka. Nanti aku minta Bunda buatin lagi ya," ucapku kepada Sweet Neko yang segera melompat ke arah selimutku.
"Kamu manja sekali sih, tapi kenapa aku merasa sangat nyaman ada kamu bersamaku ya."
Getar ponsel di atas nakas membuyarkan lamunanku.
Anda Mungkin Juga Suka





