Sampul Novel TAK MAU DIMADU

TAK MAU DIMADU

9.7 / 10.0
Dalam novel TAK MAU DIMADU, kebahagiaan lima tahun pernikahan hancur saat wanita dari masa lalu Ilham kembali. Menghadapi pengkhianatan ini, sang istri harus memilih antara bertahan atau melepaskan. Baca kisah romance novel ini di webnovel untuk melihat perjuangan melawan orang ketiga.
Ringkasan TAK MAU DIMADU
Lima tahun membina rumah tangga yang harmonis dan penuh cinta, kebahagiaan itu seketika hancur berkeping-keping. Kehadiran sosok wanita dari masa lalu Ilham mengubah segalanya, melenyapkan gairah hidup serta merusak pernikahan yang telah lama dijaga. Impian untuk menua bersama hingga maut memisahkan kini terancam sirna akibat pengkhianatan orang ketiga. Sanggupkah hubungan ini bertahan saat bayang masa lalu datang memporak-porandakan segalanya?
Baca Selengkapnya

TAK MAU DIMADU Bab 1

"Dek, Mas mau nikah lagi!" Aku yang tengah duduk di sofa ruang tamu seketika berdiri. Menatap bingung pria yang baru saja melewati pintu depan.

"Ap-apa, Mas?" tanyaku mencoba memastikan. Berharap apa yang baru saja melewati telingaku hanya sebuah kebohongan belaka.

"Mas mau nikah lagi! Titik!" ulangnya bagai petir yang menyambar tepat di ubun-ubunku. Wajah menegang, telinga pun rasanya berdengung mendengar perkataan suamiku yang mendadak.

Nikah lagi? Yang benar saja. Aku bukan wanita yang menentang poligami, silakan siapapun boleh melakukannya, tapi jangan suamiku. Aku nggak mau. Nggak akan pernah mau. Lebih baik pisah dari pada cintanya tak hanya terbagi untuk wanita lain.

"Kok, tiba-tiba? Kita nggak lagi berantem loh, Mas! Kita nggak ada masalah, rumah tangga kita adem ayem, kok!" kataku berapi-api. Sebelum-sebelumnya tidak ada pertanda apapun yang menjurus ke arah sana. Suamiku pun baik, hangat, dan penuh perhatian, seperti biasa. Kami … baik-baik saja. Setidaknya, itu menurutku.

"Pokoknya mas mau nikah lagi!" ulangnya bagai sembilu yang menusuk-nusuk telinga bahkan hati ini. Kurangku apa?

Apa … belum adanya keturunan di antara kami sebagai bibit masalahnya? Tapi, kenapa harus nikah lagi, sih? Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memiliki anak. Adopsi mungkin, itu jauh lebih baik ketimbang dipoligami.

"Gaji aja pas-pasan kok mau nambah lagi. Ini gimana, Mas? Pikir dong! Jangan mau enaknya aja!" Lahar amarah dalam dada kian membumbung.

"Itu bisa dipikir belakangan," katanya sambil bersedekap.

"Belakangan gimana? Perbaiki dulu sikapmu, agamamu, keuanganmu, setelah itu barulah memikirkan menambah istri! Jangan hanya memikirkan enaknya aja, Mas!"

Dia kira bakal enak memiliki dua istri. Kasur, dapur, sumur, bisa digilir seenaknya. Iya kalau adil, kalau condong sebelah, bisa-bisa yang didapat malah kebuntungan.

"Pokoknya, kamu harus siap dimadu!" Dia masih kukuh pada keputusannya. Bahkan, telunjuknya mengarah tepat ke wajahku. Pertama kalinya, pria yang kuhormati selama ini sebagai imam saat salat, kepala keluarga, dan kesabarannya yang patut menjadi teladan, bersikap tak sopan seperti ini.

Aku jadi penasaran, seperti apa wanita yang berhasil merubah sikap lelaki ini.

"Nggak!" tegasku. Dia punya keputusan, aku pun sama.

"Aku sudah bawa calon," ungkapnya semakin membuatku meradang.

"Sayang, ke sini Sayang." Kepalanya menoleh pada pintu.

Sayang? Panggilan yang biasanya membuatku melayang, kini disematkan juga pada si jalang? Benar-benar kurang ajar kamu mas.

Kuikuti arah pandang pria depanku. Terlihat wanita tinggi semampai muncul di sana. Kulitnya putih, bersih, mengkilap bak porselen. Badan lenggak-lenggoknya yang seperti gitar spanyol terpampang nyata karena dress pas badan yang dikenakannya.

"Aduhai." Satu kata itu yang tiba-tiba keluar dari mulutku. Sungguh, melihat siluetnya saja sudah seperti bidadari yang digambarkan di buku-buku dongeng. Aku yang wanita normal pun pasti jatuh hati pada bentuk indah itu.

"Bagaimana? Sempurna bukan?" ucap suamiku bangga. "pilihan siapa dulu, Ilham." Tangannya menepuk-nepuk dada. Begitu bangganya sampai menyebut namanya sendiri.

Mataku mengerjap, jemari pun mengusap-usap netra, wajah sosok bidadari di depan pintu terlihat samar, buram, nyaris tak terlihat.

"Anu, Mas, kok mukanya silau." Netraku memicing, mencoba memperjelas laju pandang. Tetap saja, wajah --yang kata suamiku-- sempurna itu tak terlihat sedikitpun. Mata, hidung, bahkan dagunya, putih. Hanya rambut dan leher ke bawah hingga ujung kaki yang terlihat jelas.

"Ngarang! Jelas-jelas cantik gitu, ya! Bilang aja kamu iri karena kalah jauh! Kamu itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dengannya! Dia langsing, kamu … meskipun bisa dibilang nggak gemuk, tapi pipi tembem dan badan berisimu cukup mengganggu mata," katanya tak pedulikan hatiku yang hancur berkeping-keping.

Bagaimana bisa, seorang suami terang-terangan membandingkan istrinya dengan wanita lain. Jahat kamu mas.

"Beneran! Nggak kelihatan itu mukanya, Mas." Aku masih mengusap-usap netra dengan keras. Bagaimana mungkin, mataku yang masih normal mendadak rabun begini?

"Halah! Susah emang ngadepin orang yang iri hati!" ucap suamiku sambil berjalan ke arah selingkuhannya itu.

"Mas! Mau kemana kamu, Mas." Aku berteriak. Namun, pria itu tetap maju tanpa menoleh sedikitpun padaku. Merangkul pinggang ramping kekasihnya, dan melangkah semakin jauh.

"Mas!" Aku masih berteriak. "Mas Ilham!" meraung pun tak ada arti. Sejoli itu sudah tak terlihat lagi.

Aku terduduk di lantai, menyembunyikan wajah yang di banjiri air mata di sela-sela lutut yang tertekuk. Aku tak kuat lagi untuk tidak menangis. Hatiku sakit, perih, luka yang suamiku torehkan begitu dalam hingga diri ini tak mampu menahannya.

"Mas Ilham …!"

***

"Dek, bangun." Badanku terus-terusan berguncang. Perlahan, netra yang tertutup mulai terbuka. Berat, perih, tapi aku harus mencobanya.

"Dek, bangun. Astaghfirullah. Nyebut, Dek," seru Mas Ilham. Samar-samar kulihat lelaki itu masih setia mengguncang-guncang tubuh ini. Mencoba membangunkanku dari tidur. Sesekali menampar pipi, penuh sayang loh agar cepat sadar.

"Astaghfirullah sakit, Mas. Teganya kamu menamparku!" Aku terbangun dengan berderai air mata. Tangan kanan mengusap-ngusap pipi yang kena tampar.

"Enggak usah drama, Dek, orang cuma pelan ya. Lagian, mimpi apa sih sampai nangis sesenggukan begitu? Manggil-manggil nama mas terus lagi," katanya sambil tertawa.

Semua ini gara-gara kamu tahu nggak! Jadi, itu hanya mimpi? Mas Ilham mau poligami, dan wanita itu juga cuma mimpi? Syukurlah jika begitu adanya.

Aku terduduk bersila di ranjang. "Oalah, Mas, aku mimpi kamu bawa calon madu ke rumah ini." Tanganku menepuk kening.

"Ya Allah, Dek, mimpimu itu mengada-ada. Kebanyakan nonton sinetron ikan terbang sih." Tawa suamiku semakin berderai. Tangannya terulur, menyeka air mata di pipiku.

Diri ini nggak gemuk kok, hanya sedikit berisi. Beratku lima puluh delapan kilo dengan tinggi badan seratus enam puluh, bukankah itu termasuk ideal?

"Kamu itu satu-satunya, Dek, disini." Mas Ilham menunjuk dadanya, tepat di jantung. Lah gombal lecek.

"Beneran ya, Mas?" Aku meremas tangannya yang masih berada di pipiku.

"Satu aja nggak habis-habis ya, menul-menul gini, aku ya nggak bakalan berpaling, Dek," kata Mas Ilham meninggalkan kecupan di keningku. Lalu turun ke hidung, turun lagi hingga bibir. Cukup lama dia bermain di sana. Aku pasrah dan berusaha mengimbanginya.

Suamiku ini, pandai sekali menenangkan hati yang gundah. Bagaimana mungkin suami yang begitu lembut memperlakukanku bakal tega berpaling, selingkuh, bahkan menikahi gundiknya itu. Nggak, itu nggak bakal terjadi. Semoga ….

"Ya sudah aku mau bobok lagi," ucapku saat tautan kami terlepas. Kembali merebahkan diri, lalu memiringkan badan membelakangi Mas Ilham.

"Loh, Dek, sudah bangun ini." Keningku berkerut dalam. Bangun? Astaga … kututup mulutku yang mengaga.

Aku berdeham lalu berkata, "Bangun, ya ditidurin lagi, Mas. Masih gelap gulita ini loh." Aku berpura-pura tak paham maksud terselubung suamiku itu.

"Ini yang bawah, Dek, ya elah gak peka banget," rengeknya terasa semakin mendekat. Bahkan, embusan napas hangatnya terasa di tengkuk leherku, merembet hingga ceruk leher.

"Nggak mau, Mas. Salah siapa mau poligami," kataku seraya menahan tawa.

"Itu kan cuma mimpi, Dek."

Aku tahu itu hanya bunga tidur, tapi rasanya seperti ada yang mengganjal dalam dada. Aku resah, kepikiran, tak tenang.

"Kenapa, Mas Ilham masuk mimpiku? bawa calon madu lagi." Aku masih enggan berbalik untuk sekedar menatapnya.

"Dek ... Dek," rengeknya semakin mendekatkan badan.

"Tidur, Mas." Aku memejamkan mata sambil terus cekikikan. Duh, menggemaskannya suamiku ini.

"Dek, nggak mau bobok ini."

Aku menghela napas. Menetralkan degup jantung yang kian menjadi-jadi. "Iya, iya." Aku menghadapnya sambil menunduk malu-malu.

Lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga, selama itu pula selalu tidur di ranjang yang sama, tak terhitung lagi sudah berapa kali kuserahkan raga ini untuknya, tapi setiap kali memulai aku masih saja merasa gugup, malu, dan jantung berdebar-debar. Selalu, seperti waktu pertama kali melakukannya.

Suamiku tersenyum, tangannya mulai memberikan sentuhan lembut nan memabukkan.

Bercampurnya pasangan halal malam ini, semoga Allah titipkan nyawa yang bersarang di rahimku. Janin yang akan kukandung selama sembilan lebih. Titipan yang amat-sangat kami nanti-nantikan.

Aku dan Mas Ilham sudah menikah selama lima tahun, dan belum juga memiliki keturunan. Padahal kami tidak ada kendala dalam kesuburan, semua hasil medis tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bagus semua, kata beberapa dokter yang pernah kami kunjungi. Metode kimia, herbal, bahkan sampai urut peranakan pun sudah pernah aku lakukan.

Memang belum rejekinya, mau berusaha seperti apapun kalau Allah belum menghendaki semua itu tidak akan terjadi. Aku yakin, Allah memiliki rencana tersembunyi untuk kami yang tak henti-hentinya berusaha.

Semoga, apa yang aku khawatirkan, hanya sebatas kekhawatiran saja, Mas. Semoga.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi TAK MAU DIMADU

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CAUGHT IN A BAD CHARACTER
9.1
Pasca kematian tragis, Juwita Chou terbangun sebagai Sallyana Fedelian, putri bangsawan antagonis yang ditakdirkan mati muda. Meski Sallyana asli dikenal bengis dan agresif, Juwita bertekad mengubah nasib demi bertahan hidup. Ia harus menghadapi kewaspadaan lima tokoh utama pria sambil merusak alur cerita orisinal. Namun, seiring berjalannya waktu, Juwita mulai menyadari adanya rahasia takdir kelam yang menghubungkan dirinya dengan sosok Sallyana yang asli.
Sampul Novel Dari Omega yang Ditolak menjadi Ratu Raja Alpha
9.3
Menjelang Upacara Ikatan Suci, pengkhianatan Raditya terungkap melalui pesan batin dari Eva, saudari angkatnya. Saat aku dipaksa berakting sebagai Omega yang patuh, Raditya terus berselingkuh dan orang tuanya mencuri hasil kerjaku demi Eva. Mereka menghinaku lemah, tak tahu bahwa aku adalah pewaris sah dari kawanan terkuat di benua ini. Kini, aku telah mengatur siaran global untuk mempermalukan mereka semua tepat di hari yang seharusnya menjadi pernikahan kami.
Sampul Novel Jerat CEO Tunangan Paksa
8.3
Pasca membalas pengkhianatan mantan kekasih, Melinda Arum tak sengaja bertemu Reyhan Azrael karena insiden salah masuk toilet. Reyhan, CEO ternama di Jakarta, menolong Melinda keluar dari masalah besar yang mengancamnya. Namun, bantuan tersebut menuntut imbalan berat: Melinda harus bersedia menjadi tunangannya. Terjepit antara rasa bimbang dan amarah, Melinda terpaksa masuk ke dalam hubungan penuh ketegangan, kebohongan, serta luka emosional yang mendalam.
Sampul Novel Pengantin Pengganti, Hati Pendendam
8.8
Upacara janji nikah yang seharusnya menjadi ajang kampanye Baskara berubah jadi pengkhianatan. Aku dibius dan melihatnya menikahi selingkuhannya di depan para elite. Setelah tujuh tahun pengorbananku membangun kariernya, dia justru menyebutku tidak berguna. Namun saat perceraian tiba, Baskara berpura-pura amnesia akibat kecelakaan dan memohon agar aku tidak pergi. Dia ingin bermain sandiwara, maka aku akan memastikan dialah yang hancur dalam permainan ini.
Sampul Novel Terlahir Kembali di Rahim Perundung
8.2
Kematian tragis akibat perundungan brutal justru membawa jiwa korban terlahir kembali ke dunia sebagai seorang bayi. Namun takdir begitu kejam; ibu kandung yang melahirkannya adalah pelaku perundungan yang dahulu merenggut nyawanya. Saat wanita itu memeluknya hangat dan menjulukinya anak baik, kebencian mendalam langsung membuncah. Alih-alih tunduk, sang bayi meronta, menangis histeris, dan mencoba menusuk mata ibunya. Sejak detik itu, misi balas dendam berdarah sang anak baik resmi dimulai.
Sampul Novel TULANG RUSUK
8.5
Ikuti perjalanan lima pria mapan yang tengah berjuang dalam misi pencarian pasangan hidup sejati mereka. Di tengah kemapanan yang telah diraih, mereka harus menghadapi berbagai lika-liku emosional demi menemukan sosok tulang rusuk yang selama ini dinantikan. Akankah setiap langkah dan usaha yang mereka tempuh akan berujung pada akhir bahagia yang mulus, atau justru rintangan tak terduga akan datang menguji kesungguhan cinta mereka?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan