Sampul Novel Sweet Mistake

Sweet Mistake

8.1 / 10.0
Kehidupan Valerie hancur total setelah malam kelam yang merenggut kesuciannya. Kini, ia terjebak dalam kendali Gio yang mengancam akan menyebarkan bukti pelecehan dirinya. Meski awalnya dipenuhi kebencian, benih cinta mulai tumbuh seiring perubahan sikap Gio. Sayangnya, ego membuat mereka sulit jujur. Gio pun harus menuntaskan rahasia berbahaya di masa lalunya demi melindungi nyawa Valerie agar mereka bisa bersatu tanpa ancaman maut yang mengintai.

Sweet Mistake Bab 1

Dan keajaiban itu datang ... Ia serupa kehangatan dalam bongkahan es.

Mencairkan kristal beku yang sempat membatu

Lalu bunga api memercik. Membakar tepian tepian kering yang meranggas

=*=

Seharusnya Stephen tidak dibiarkan menyetir mobil malam ini. Entah berapa banyak minuman beralkohol yang sudah masuk ke dalam perutnya. Dari tempat duduknya di belakang Stephen, Gio bisa merasakan napas Stephen yang beraroma minuman keras. Belum lagi jika dia bersendawa, pengharum mobil pun tak sanggup menyerap aroma busuk yang mengalir dari perutnya. Mobil berjalan semakin oleng. Gio berpegangan erat pada pintu mobil dengan mata terpejam. Dia tidak mau jika harus mengeluarkan isi perutnya di dalam mobil Stephen.

"Stop! Stop di depan!"

Stephen menghentikan mobil tiba-tiba. Pintu penumpang di samping Stephen membuka dan langsung saja Argus memuntahkan isi perutnya ke trotoar.

"Untung lu nggak jackpot di mobil gua. Kalo sampai kejadian bakal gua suruh lu nyuci mobil malam ini juga," kata Stephen sambil cekikikan.

Alkohol masih sangat mempengaruhinya. Dengan sempoyongan dia keluar dari mobil dan kencing di tengah jalan. Angin dingin menerpa kemaluannya dan seketika Stephen merasakan hasrat menjalari urat-urat di sekitar kemaluannya.

Dia menyapukan pandang ke kanan-kiri jalan. Suara-suara halus berbisik di telinganya. Membuat pandangannya terbalik dan sebuah kekuatan napsu menguasai Stephen dengan cepat.Menghilangkan kewarasannya. Menggelapkan pandangannya dan menyembulkan sebuah rasa yang ingin disalurkan dan dipenuhi.

Stephen menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Senyum miring tersungging dari bibirnya. Dia masuk ke dalam mobil dan menyulut rokoknya.

"Nunggu apaan, sih, Stev? Udah ayo jalan. Gua udah pengen rebah."

"Argus bener. Kepala gua udah puyeng banget, nih. Kalo kelamaan ntar gua bisa jackpot juga kayak Argus."

"Ah, tutup mulut lu pada. Sebentar lagi lu bakal berterima kasih ma gua. Sebentar lagi gua bakal ngasih sesuatu yang bisa ngilangin puyeng lu."

"Ngomong apa, sih, Stev? Udah ayo jalan!" Argus berusaha menepuk pundak Stephen, tapi pandangannya masih mengabur. Tepukannya meleset dan dia menepuk dashboard sebagai gantinya. Argus mengerang lalu membalikkan badan dan meringkuk menghadap pintu.

Stephen mengisap rokoknya sambil berusaha memandangi satu titik yang membuat sesak isi celananya. Dia sudah mematikan lampu dan mesin mobil sedari tadi. Dia membiarkan mobil berkamuflase dalam gelap. Hanya tinggal titik merah dari bara rokoknyalah yang menandakan ada kehidupan di sekitar mobil yang diam.

Asap rokok mengabur cepat ditelan udara malam. Stephen mematikan rokoknya dan duduk diam dalam kegelapan. Kedua temannya masih mengerang-erang halus. Stephen menyuruh mereka diam barang sejenak. Setelah tak ada lagi suara yang mengganggu, dia kembali fokus dan menunggu.

Di sebelahnya, Argus bergerak-gerak gelisah. Dia memandang pada Stephen yang memandang lurus ke depan. Rasa penasaran membuat Argus mengikuti arah pandang Stephen, seketika tenggorokannya tercekik dan dia memandang Stephen minta penjelasan. Stephen hanya menjawab dengan meletakkan telunjuk di bibirnya. Argus paham. Ini bukan pertama kali Stephen berulah. Mereka pernah melakukan ini sebelumnya dan dia tahu Stephen benar, tak lama lagi pening di kepala mereka akan hilang.

=*=

Mobil itu terlihat menepi. Lampunya menyala sebentar lalu mati. Val mendengar bunyi muntahan dikeluarkan paksa. Dari tempatnya berjalan, suara itu seharusnya tidak terdengar. Namun sepi yang menyerap semua bunyi di udara membuat bunyi menjijikkan itu tertangkap telinga Val dan dia ikut mual dibuatnya. Kendati jarak mereka cukup jauh, Val secara reflek menutup hidung dan mulutnya dengan sebelah tangan. Seolah aroma tak sedap bisa tercium olehnya.

Langkah Val hampir mendekati tempat mobil itu diparkir. Dia bisa menangkap titik merah terlihat sekilas dari balik kaca mobil yang gelap. Meski seperti tak ada kehidupan di sekitar mobil itu (mungkin orang-orangnya pingsan karena mabuk), Val yakin, seseorang sedang merokok dan seperti menunggu sesuatu karena mobil itu tak juga bergerak meski seseorang yang muntah-muntah telah lama masuk ke dalam mobil.

Bulu-bulu halus ditubuh Val semakin menegak. Perasaan tak enak semakin bergulung di perut dan dadanya. Rumahnya sudah mulai terlihat namun jalanan yang dia lalui terasa sangat panjang. Secepat apa pun dia melangkahkan kaki, rasanya seperti jalan di tempat. Bunyi kecipak air yang terinjak tapak kakinya membuatnya terkejut bukan kepalang.

Terlambat untuk menyadari jika pintu mobil di samping pengemudi terbuka cepat dan seorang pemuda berjalan ke arahnya dengan cepat juga. Langkahnya sedikit oleng. Dia pasti mabuk. Namun tatapan matanya seolah membekukan Val dan melemaskan otot-otot di kakinya. Dia tak sempat berteriak. Tangan pemuda itu terlampau cepat menutupi mulutnya yang menganga. Dengan satu tarikan, pemuda itu menyeret Val ke arah mobil. Tubuh Val meronta, mencoba melepaskan diri dari dekapan pemuda itu. Namun tenaganya kalah kuat. Pemuda mabuk yang berhasrat tinggi memiliki tenaga cadangan yang berkali lipat dari kondisi normal.

"Gio! Buka pintu! Buka brengsek!"

Dengan lututnya yang bebas, pemuda itu menggedor pintu di belakang kursi pengemudi. Pintu membuka perlahan. Pemuda itu menarik pintu semakin lebar dan mendorong Val ke dalam mobil hingga jatuh di pangkuan Gio.

"Bungkam mulutnya jangan sampai bersuara!"

"Pake apa?"

"Pake apa aja, terserah! Jangan sampai kita ketauan pokoknya!"

Gio segera membekap mulut Val dengan tangannya dan memeluk tubuh Val agar berhenti meronta. Hangat. Sama seperti Stephen, hasrat kelelakiannya timbul dengan cepat ketika tangannya menyentuh dada Val yang kenyal.

Stephen menyalakan mesin mobil dengan terburu-buru.

"Mau kita garap di mana?"

"Di mobil ajalah. Gue udah horny. Ni cewek kulitnya alus banget."

"Gila lu. Bisa kepergok orang lewat nanti. Gus! Lu ada ide? Jangan kejauhan. Gue juga udah nggak tahan ini!"

"Rumah kosong di depan aja. Berhenti deket semak-semak itu. Di dalam pasti ada tempat kering yang bisa kita pake."

"Udah cepetan. Ni cewe udah makin kuat aja geraknya. Gue kewalahan."

"Tahan bentar, Gi. Gus, lu bantu Gio pegangin tu cewek. Jangan sampai lepas!"

Stephen menghentikan mobil di dekat semak-semak di depan rumah kosong. Setelah mematikan mesin dan menyuruh Argus dan Gio menggotong Val, dia berlari mendahului mereka ke arah rumah kosong. Rasa yang seharusnya muncul ketika berada di dalam bayangan gelap, telah dikalahkan oleh napsu yang melebihi rasa takut itu sendiri.

Entah karena lapuk di makan waktu atau memang setan sedang mengambil alih jalan cerita, pintu rumah kosong itu tak memberi perlawanan berarti ketika Stephen mendorongnya. Dan di dalam ruangan, setelah matanya terbiasa dalam gelap, Stephen bisa melihat sebuah meja besar menempel pada salah satu dinding. Bau debu yang menyengat dan kayu lapuk kena air menguar dari sekitaran meja.

"Taro dia di sini. Kalian berdua pegangin dia. Gio tahan mulutnya jangan sampai bersuara. Gue duluan," kata Stephen sambil membuka risleting celananya.

Val semakin meronta kuat kendati tahu usahanya akan sia-sia. Gio membungkam mulut dan memegang salah satu tangannya. Sementara Argus duduk di atas meja sambil memegangi tangannya yang sebelah lagi. Bukan itu saja, tangan Argus yang lain menarik kaus dan bra-nya hingga ke leher, menampakkan buah dadanya yang bulat sempurna. Di bawah, dia merasa hawa dingin menerpa selangkangannya. Val memejamkan mata dan mulai menangis. Dia menyadari yang sedang terjadi dan berharap keajaiban segera datang. Ketika rasa sakit dan perih mengaduk-aduk sekitar pahanya, dia tahu, sesuatu yang berharga telah direnggut dan kini dia hanya perempuan yang sedang dihina.

Perlawanan Val mengendur. Lelah dan tak berdaya membuatnya menjadi sesosok manekin yang dingin. Bahkan ketika Argus ganti menungganginya, dia tak merasakan apa-apa lagi. Bibir Argus yang liar, hanya menderaskan air yang mengalir dari mata tanpa suara.

Val memejamkan mata. Membayangkan hal-hal indah dan menyenangkan yang bisa menghiburnya. Dia memaksa pikirannya berkata jika semua ini hanya mimpi buruk dan semua akan baik-baik saja jika dia membuka mata nanti. (*)

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Sweet Mistake

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Janda Bertemu Dengan Duda
8.1
Pasca kehilangan Rizal, Sonia pindah ke apartemen kecil bersama dua anaknya, Alif dan Hana, demi lari dari duka. Di sana, ia bertemu Yudha, seorang duda karismatik yang membesarkan putrinya, Mira, sendirian setelah tragedi serupa. Meski sama-sama terluka, pertemuan di lorong apartemen itu memicu percikan emosi. Kini, mereka harus memilih: tetap terbelenggu kenangan pahit masa lalu atau meruntuhkan dinding ketakutan demi menyambut cinta baru yang hadir di depan mata.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel Menaklukkan Duda Dingin
8.7
Amber Lim, sosialita cantik dengan reputasi buruk sebagai perusak hubungan, memutuskan untuk bertobat. Demi berguru pada desainer legendaris Adam Smith, ia nekat menembus musim dingin utara yang mematikan. Namun, Amber dirampok dan terdampar di hutan beku. Satu-satunya harapan hidupnya adalah pria misterius bernama Tuan Dingin. Duda yang membenci wanita ini dicap kanibal oleh warga sekitar. Akankah Amber mampu meluluhkan hatinya atau justru menjadi korban kebencian sang pria?
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Cyra Alesha, mahasiswi cantik berusia dua puluh tahun, harus berjuang di kota besar dengan bekerja paruh waktu. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat ia terjebak kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam itu tega menginjak harga diri Cyra dan menyeretnya ke dalam penderitaan. Meski disiksa oleh kekejaman sang pewaris tunggal, Cyra justru terjebak dalam pesonanya. Mampukah ia bertahan atau justru memilih berontak demi membebaskan diri?
Sampul Novel Satu Malam Bersama Calon Besan
8.5
Pasca lama menjanda, Mira melakukan kekeliruan fatal akibat pengaruh alkohol saat merayakan ulang tahun. Ia menghabiskan malam yang penuh gairah dengan Rendi, lalu pergi begitu saja tanpa melihat wajah pria tersebut. Mira berupaya melupakan momen intim itu, namun segalanya berubah saat ia bertemu calon besannya. Ternyata, ayah dari calon menantunya adalah Rendi. Kini mereka terjebak antara menghapus memori tersebut atau justru lanjut berselingkuh di belakang anak mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan