
SWEET ESCAPE
Bab 2
Tian segera menurunkan dirinya, terlihat khawatir dengan luka milik Ayuna.
Namun Ayuna memilih diam, hingga membuat Tian merasa jenggah sendiri.
"Siapa yang memukulmu hingga seperti ini?" teriak pria itu frustasi melihat luka yang ada pada tubuh siswinya itu.
Akhirnya air mata dan sesak yang Ayuna tahan sedari tadi tumpah juga, gadis itu menangis keras. Menumpahkan segera rasa sesak yang menghujam jantungnya.
Melihat rapuhnya gadis di hadapannya kini tak kuasa bagi Tian untuk tidak memeluknya. Pria itu mengucapkan maaf berkali-kali, merasa menyesal dan bodoh atas tindakannya yang tak bisa dikontrol itu.
Malam ini, untuk pertama kalinya Ayuna mencurahkan segala kepedihan hati dan hidupnya. Bagaimana perjalanan hidupnya hingga harus keluar masuk kelab malam. Bagaimana dirinya menahan rasa sesak ketika tak memiliki teman ataupun menahan hinaan yang selalu ia terima dari teman-temannya.
"Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal memperlakukanmu seperti tadi," ujar Tian yang terlihat malu sekaligus menyesal atas tindakannya beberapa saat lalu.
Ia tak menyangka jika beban hidup siswinya itu sekeras ini. Tian benar-benar merutuki kebodohannya yang hanya mengedepankan emosinya tanpa ingin mendengar penjelasan dari Ayuna.
Ayuna menggeleng pelan, penampilan wanita itu sudah jauh lebih baik. Ia memakai kemeja milik Tian karena seragamnya yang sobek.
"Tidak apa-apa, Pak Tian. Lagipula yang kau katakan juga tak sepenuhnya salah. Aku memang seorang pelacur," ucap Ayuna sembari mencoba tersenyum. Menerima nasibnya jika ia harus bekerja di kelab malam milik ayah tirinya sendiri. Menjadi pelacur di sana untuk mendapatkan uang dan biaya rumah sakit ibunya yang sedang sakit.
Tian menggeleng cepat. Tidak setuju dengan ucapan gadis itu.
"Tidak! Kau hanya tak punya pilihan," ucap Tian. "Mengapa kau tak melaporkan ayah tirimu itu ke kantor polisi?" ujar Tian sekali lagi ketika mengingat bagaimana jahatnya ayah Ayuna. Menjadikan anak sendiri sebagai pelacur, ingin sekali Tian marah saat ini.
Ayuna tertawa kecil.
"Lalu bagaimana dengan pengobatan ibuku, Pak? Aku sudah bekerja paruh waktu namun biaya rumah sakit ibuku yang semakin mahal. Hanya dengan bekerja bersama ayah tiriku, aku bisa membayar biaya pengobatan ibu."
Bibir Tian mengatup rapat, matanya hanya bisa menatap Ayuna dan segala beban yang harus gadis itu terima pada usianya yang baru 18 tahun itu.
"Jangan memasang wajah iba seperti itu, Pak. Rasanya tak nyaman sekali karena orang-orang selalu memandangku rendah dan jijik," ujar Ayuna sembari terkekeh pelan.
Gadis muda itu pun mulai mengambil seragamnya dan memasukkan ke dalam tas miliknya.
"Aku harus ke rumah sakit menemani ibuku, Pak. Besok ibu harus menjalani kemoterapi, aku harus segera membayar pengobatannya," ujar Ayuna.
"Mau ku antar?" Ujar Tian menawarkan diri.
Ayuna menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa-.." Ucapan Ayuna terhenti ketika ia tak menemukan sesuatu yang paling penting di dalam tasnya.
"Ada apa Ayuna?" ujar Tian yang melihat keresahan di wajah bulat milik Ayuna.
"Uangku hilang, Pak!" pekik Ayuna yang mencari di mana uang bayarannya hari ini. Namun ternyata nihil. Gadis itu begitu panik, membongkar semua isi tasnya namun tak ada hasil. Uang itu hilang entah ke mana. Mungkin terjatuh saat Tian menariknya di depan kelab tadi.
"Benar-benar tidak ada?" tanya Tian memastikan.
Ayuna menggeleng lagi. "Aku harus pergi Pak, aku harus kembali ke kelab untuk mencari pelanggan baru!" ucap gadis itu sembari melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen milik Tian.
Mata Tian terbelak mendengarnya.
"Tunggu!" pekik Tian di saat Ayuna ingin membuka pintu kamarnya.
Ayuna menoleh, "Ada apa, Pak?"
"Aku bisa memberimu uang itu," ujar Tian.
Mata Ayuna memicing. "Pak Tian menyuruhku menghutang?" tanyanya.
Tian menggeleng cepat. "Tidak bukan seperti itu!"
Pria itu tampak mengigit bibirnya, sedikit ragu untuk mengucapkan keinginannya.
"Kau tidak perlu bekerja memuaskan pria, Ayuna. Aku bisa memberimu uang untuk pengobatan ibumu," ujar Tian pada akhirnya.
Berbalas sebuah gelenggan kembali, lantas Ayuna berujar, "Terimakasih atas tawarannya Pak, tapi aku tidak bisa menerima pemberian seseorang secara cuma-cuma."
"Kalau begitu biarkan aku yang menjadi pelangganmu malam ini," sahut Tian dengan cepat.
"Pak!" pekik Ayuna yang begitu terkejut dengan ucapan gila gurunya ini malam ini.
Tian mendekatkan tubuhnya, meraih salah satu tangan indah milik Ayuna. Membawanya menuju ke bagian selatannya yang terasa sesak saat ini.
"Hanya dengan berciuman dan menyentuhmu sedikit saja kau sudah membangunnya Ayuna. Kau ingin menyiksaku yang sudah terangsang seperti ini?" ujar Tian yang sebenarnya sedari tadi menahan mati-matian efek luar biasa yang di berikan gadis itu padanya.
Jantung Ayuna kembali berdegup kencang, ia merasakannya. Sesuatu yang keras dan tegang di balik celana kain milik Sebastian.
"T-Tapi aku hanya bisa-.."
"Tidak masalah. Meskipun hanya sekedar blow job, aku akan membayarmu dua kali lipat dari bayaranmu biasanya," ujar Tian sembari menatap pada gadis itu.
~~~~
Kini Tian tengah menikmati apa yang siswinya itu berikan. Sebuah service yang mampu membuatnya melayang. Ini adalah pertamakali bagi Tian merasakan nikmat yang tiada tara, merasakan bagaimana hormon androgennya mencapai puncak dengan cepat. Bahkan permainan Ayuna jauh dari kata lihai dan justru terkesan kaku daripada wanita jalang selalu berusaha memuaskannya.
Kenikmatan yang Tian dapat malam ini melupakan fakta jika ponselnya bergetar sejak tadi. Hingga sebuah pesan muncul di notifikasi layar ponselnya.
'Maafkan keegoisanku tadi, Pi. Aku akan pulang besok. Kita berbaikan ya? Ngomong-ngomong aku sangat merindukan menghabiskan malam panas bersamamu, suamiku.'
Isi pesan yang diterima oleh Sebastian Winata.
Anda Mungkin Juga Suka





