
SWEET ESCAPE
Bab 3
Tak ada wanita yang mau dicap sebagai murahan, meskipun ia adalah seorang jalang sekalipun. Termasuk seorang gadis muda yang kini tengah berada dalam dekapan hangat lengan kekar seorang pria tampan yang berstatus sebagai gurunya sendiri. Bahkan nafas pria itu terdengar terengah-engah dicerukan lehernya saat ini.
Jika semesta tak memberikan beban hidup seberat ini padanya, Ayuna tidak akan pernah mau mengambil jalan tengah yang terlihat hina seperti ini. Menyerahkan mahkotanya pada gurunya sendiri. Ck, takdir gila macam apa yang ia jalani saat ini?
Berawal dari pernikahan sang ibu dengan seorang pria. Kehidupan Ayuna rasanya mulai jungkir balik. Dulu, yang awalnya ia sama sekali tak merasa kesulitan dalam meminta apapun, kini berubah sejak 3 tahun terakhir. Sang ayah tiri nyatanya telah membohongi ibunya. Menjual butik milik sang ibu demi membangun sebuah kelab malam.
Ayuna tidak menyalahkan sang ibu karena salah memilih pria. Namun, Ayuna lebih menyalahkan takdir yang tak ada manis-manisnya sama sekali kepada dirinya. Mengapa Sang Pencipta sepertinya suka sekali melihat ia sengsara?
Bagaimana tidak, setelah mendapatkan uang dari menjual butik milik sang ibu. Ayah tirinya melupakan mereka. Ibunya harus kembali berjuang sendiri untuk bertahan hidup seadanya. Hingga 2 tahun yang lalu, Ayuna menemukan sang ibu pingsan di dapur dan mendapatkan vonis jika sang ibu menginap kanker paru-paru.
Mencoba pekerjaan paruh waktu, namun hasilnya sama sekali tak bisa membantunya. Ia baru 16 tahun saat itu, banyak lowongan pekerjaan yang menolaknya karena terlalu muda. Hingga Ayuna memberanikan diri mendatangi sang ayah tiri. Awalnya cacian dan makian yang ia terima. Namun Ayuna tak menyerah, hingga sang ayah tiri menawarkan hal gila padanya. Bekerja layaknya seorang jalang.
Bisa dikatakan beruntung atau tidak, karena Ayuna hanya boleh melayani pelanggan dengan batasan tertentu saja. Ia tidak pernah melayani pelanggan sampai ke inti.
Namun, melakukan hal seperti itu juga tak mudah terlebih lagi ia sama sekali tidak tahu. Menonton film blue saja ia tak pernah.
Seringkali Ayuna mendapatkan paksaan untuk melakukan hal lebih. Bahkan ada beberapa pelanggan yang memukulnya atau bahkan menendangnya jika ia tak mau.
Pada akhirnya mahkota milik Ayuna hilang juga. Semenjak malam itu, malam di mana ia tertangkap basah oleh sang guru. Kegilaan kedua dalam hidupnya di mulai.
Bagaimana ia tergiur dengan ucapan Tian setelah ia memuaskan pria itu.
'Mulai saat ini, kau tidak perlu bekerja lagi di kelab malam milik ayah tirimu. Aku yang akan membiayai seluruh kebutuhan hidupmu. Asal kau bersamaku.'
Awalnya Ayuna berpikir jika Sang Pencipta sedang baik padanya dan ia akan diadopsi. Namun kenyataannya ia hanya dijadikan pelarian oleh pria itu. Pelarian sebagai pemenuh kebutuhan biologisnya. Bahkan status Ayuna juga berubah saat ini, dari wanita jalang menjadi wanita simpanan. Atau orang-orang biasa menyebutnya sebagai pelakor.
~~~~~
Setelah saling terdiam masing-masing untuk mengistirahatkan diri dari kegiatan menguras tenaga mereka beberapa waktu yang lalu. Akhirnya suara berat itu kembali terdengar.
"Ku masuki sekali lagi ya? Akan aku bayar lebih," ujar Tian sembari menatap penuh harap pada gadis yang ada di sampingnya ini.
Entah sihir apa yang pria itu berikan padanya, Ayuna hanya menganggukkan kepala. Memberi lampu hijau pada sang guru untuk kembali mencari kenikmatan pada kegiatan mereka.
Mungkin orang-orang menyebutnya tolol dan bodoh. Namun, jika boleh jujur. Ayuna sangat menyukai bagaimana otot bisep, perut kotak, dan paha keras milik pria itu berada di atasnya.
Katakan saja jika Ayuna sudah gila. Karena sangat menyukai bagaimana pria itu mengerang nikmat di atasnya.
Bahkan pelukan hangat yang selalu pria itu berikan rasanya membuatnya tenang dan ia merasa dilindungi meskipun Ayuna sangat sadar jika apa yang ia lakukan adalah kesalahan besar.
Yang awalnya hanya sekedar coba-coba sekarang berubah menjadi sebuah rutinitas yang bahkan tak bisa Ayuna hitung sudah ke berapa kalinya ia dan Tian berbagi peluh seperti ini.
~~~~~
Ronde kedua setelah pulang sekolah pun akhirnya selesai juga satu jam yang lalu. Pria yang berusia 7 tahun di atasnya itu terlihat sexy dengan rambut basah serta tubuh tegapnya yang hanya dibalut handuk melingkar di pinggangnya.
"Pak Tian, ingin ke mana?" ujar Ayuna ketika melihat Tian baru saja keluar dari kamar mandi. Sedangkan Ayuna, ia masih bergulung bersama selimut tebalnya.
Tian tersenyum sejenak ketika mendapati sang gadis sudah bangun dan kini sedang menatapnya. Ia berjalan mendekat ke arah gadis yang sudah 7 bulan ini menjadi tempatnya memuaskan hasrat dan menghilang penat. Bahkan Tian sudah tidak pernah bermain dengan jalang manapun setelah ia bersama dengan Ayuna.
Pria berahang tegas itu menundukkan kepalanya, mengecup bibir Ayuna sekilas lalu mengusap lembut pipi tembam gadis itu.
"Kau sudah bangun?" ujarnya sembari tersenyum simpul.
Ayuna hanya menganggukkan kepalanya. "Ingin ke mana?" Ujar gadis bergigi kelinci itu sekali lagi.
"Aku harus ke bandara. Sarah pulang malam pulang ini," ujar Tian dengan sorot mata yang tersimpan kerinduan di sana. Tentu saja, mana ada suami yang tidak rindu dengan istrinya sendiri.
Entah mengapa mendapat jawaban dari Tian kali ini membuat Ayuna menekuk wajahnya. Muncul rasa tidak rela di ulu hatinya, padahal ini bukan pertama kalinya Tian mengatakan akan menjemput sang istri.
Melihat perubahan pada wajah Ayuna, lantas Tian pun menangkup ke dua pipi bulat itu.
"Hey, jangan menekuk wajahmu seperti itu." Balas Tian jadi merasa bersalah.
Sedangkan gadis dihadapannya itu hanya membalas dengan senyum tipisnya. "Aku kira Pak Tian akan menginap malam ini."
Tian terkekeh pelan, mengecup bibir milik gadis manis yang sudah menjadi bagian dari dirinya itu cukup lama.
"Aku juga rindu istriku, babygirl." Ujar Tian setelah melepaskan ciuman itu.
Ayuna hanya terdiam di tempatnya, memperhatikan bagaimana sang guru tengah bersiap dengan pakaiannya. Satu kalimat Tian yang seakan menamparnya, jika dirinya hanya pelarian pria itu. Hanya tempat pria itu singgah, bukan tempatnya untuk menetap.
Tian sudah rapi dengan pakaian formalnya. Menghampiri Ayuna sejenak dan mengecup kening gadis yang masih saja diam itu.
"Aku pulang dulu ya. Jangan kemana-mana dan jangan lupa kerjakan PR-mu." Ujar pria itu yang kemudian langsung keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari gadis yang sedari tadi mencoba mati-matian rasa sesak yang seharusnya tak boleh ada dalam hatinya.
Tak lama setelahnya, ponsel Ayuna berbunyi. Muncul sebuah notifikasi di akun m-banking miliknya jika ada uang masuk ke dalam rekeningnya. Pria itu benar-benar membuktikan ucapannya, membayarnya lebih. Dan bahkan jauh lebih banyak dari apa yang ayah tirinya berikan dulu. Kini ia tak kesulitan membayar perawatan sang ibu. Tak kesulitan dalam mencari makan hingga biaya sekolahnya. Bahkan Tian memberikan akses apartemen mewah milik pria itu pada dirinya.
Ayuna mengusap wajahnya dan tersenyum miris pada dirinya sendiri, perasaan yang seharusnya tak boleh ada kini seakan mengusai seluruh akal warasnya. Tujuh bulan bersama dan nyaris menghabiskan waktu bersama di setiap malam nyatanya sudah menimbulkan benih-benih rasa ingin memiliki lebih dari seorang Ayuna.
Anda Mungkin Juga Suka





