
Sudah Nakal Dari Sononya
Bab 2
Bonang serba salah, ingin mengusir dia tak tega, kalau-kalau Patricia ini benaran anaknya, dan si Rio ini cucunya. Tapi masa iya…? Pikirnya masih sangsi, benar-benar bingung.
Tiba-tiba si bocil Rio nyelonong sudah masuk ke kamar pribadinya.
“Heeeh bocil, ini kamarku, jangan sembarangan masuk!” Bonang buru-buru mengusir Rio, sebab kamarnya masih berantakan setelah perang lokal dengan mahasiswinya tadi dan belum dia rapikan.
Bonang mengangkat tubuh kecil Rio. “Ingat ya, nggak boleh sembarangan masuk kamarku.”
Bonang sengaja pasang wajah marah, hingga Rio kaget dan terdiam dari tempatnya berdiri.
Bonang tentu saja tak ingin si bocil terlebih Patricai tahu, kalau kamar ini baru saja jadi ajang bercinta dengan mahasiswinya.
Apalagi air kenikmatannya masih membasahi kasurnya, usai bercinta tadi. Senakal-nakalnya Bonang, dia masih punya rasa malu yang tinggi.
“Huhhh kamar apa tempat sampah sih, berantakan sekali, kakek joroookkk” sungut si bocil, lalu melenggang cuek dari depan kamar ini.
“Kakek gundulmu!” balas Bonang tak mau kalah.
“Rambutku lebat weeeee,” si bocil juga tak mau kalah, hingga Bonang melotot.
“Rio, itu kamar kakek, nggak boleh sembarangan masuk, kita di sini saja,” Patricia menengahi, lalu masuk ke kamar satunya. Rio pun patuh dan mengangguk.
Begitu lampu kamar di nyalakan, Patricia geleng-geleng kepala, kamar ini mirip gudang, buku-buku berhamburan, bau apek lagi.
“Rio, ayo bantu mama kita bersihkan kamar ini!” tanpa buang waktu Patricia mulai sibuk rapi kamar ini, sekaligus lap lantai nya.
Mereka berdua tak pedulikan Bonang yang masuk ke kamarnya dengan kebingungan yang melanda batinnya.
Bonang yang masih syok dan tak percaya pengakuan Patricia.
Tapi membiarkan saja ulah anak beranak ini. Dia masuk ke kamarnya dan tak peduli aktivitas keduanya ini.
Bolak-balik dia di kasurnya sendiri, lalu Bonang duduk termenung di tepi ranjangnya. Di tangannya foto perempuan muda dan dirinya, hingga membuat dia ingat masalalu.
“Mona…kok bisa hamil yaa, padahal saat itu aku dan dia masih sama-sama muda, baru 14 tahun dan baru juga mau naik ke kelas 3 SMP.
Ingatan Bonang pun melayang ke tahun 18 tahun silam, kala dia masih kelas 2 berseragam biru putih. Dia punya dua sahabat yang sama koplaknya, Unir dan Boho.
Mereka bertiga terkenal anak badung, tapi bukan badung suka berkelahi. Tapi badungnya suka intipin orang pacaran, apalagi kalau ada yang baru menikah.
Ketiga sahabat ini akan sibuk atur siasat untuk mencari jalan ngintip malam pertama pasangan penganten itu.
Akibatnya mereka hapal sekali bagaimana lucunya pasangan penganten yang tak pengalaman, atau ada pasangan yang salah satunya janda atau duda.
Kadang mereka hampir tak bisa menahan tawa, saat mendengar percakapan pasangan penganten yang sama-sama tak pengalaman.
Seperti pasangan penganten yang saat ini mereka intip.
“Lubangnya mana neng, kok susah masuknya,” terdengar suara di penganten pria. Lalu si penganten pria ini ambil senter dan menyenter perabotan istrinya.
Terbelalaklah mata trio badung ini saat melihat perabotan wanita itu. Apalagi saat si penganten pria yang belum pengalaman ini masih menyenter sambil coba memasukan belalainya.
Napas ketiga remaja tanggung langsung berpacu dengan nafas penganten yang terus berusaha memasukan bendanya, tapi tak bisa masuk-masuk.
Saking konsentrasinya ngintip, Unir tak sengaja ke injak kaki Boho. “Aduhhh!”
“Heehh siapa itu?” si panganten pria kaget dan membentak.
“Miauwwww…kucingggggg!” terdengar Unir bersuara mirip kucing.
“Bangsat ada yang ngintip, awas ku penggal leher kalian!” bentak si penganten pria lagi, lalu dia bangkit dari tubuh istrinya dan bergegas keluar kamar, saking terburu-burunya dia lupa kalau masih telanjang bulat.
Trio badung ini pun lintang pukang kabur secepatnya.
Jauh di ujung desa, di sebuah pondok persawahan, dengan hanya di terangi bulan yang bersinar terang, trio badung ini sakit perut tertawa mengingat kejadian barusan.
“Huhh kamu ini Unir, andai tak kamu injak kakiku, pemandangan belah duren asoy banget kita tonton sampai kelar!” sungut Boho.
“Iya nih, si Unir ini, ganggu saja, kenapa sih kamu sampai injak kaki Boho,” Bonang ikut menyalahkan Unir.
“Habisnya aku tak tahan, gatal banget di gigit nyamuk!” Unir tak mau di salahkan.
Ketiganya akhirnya tertawa sepuasnya. Puas bercanda ria, mereka pun pulang ke rumah masing-masing dan di sebuah tikungan jalan desa, ketiganya berpisah. Karena rumah mereka tak berdekatan.
Begitulah, walaupun badung, Bonang, Unir dan Boho punya otak encer, mereka juga terkenal 3 sahabat yang gantian juara kelas.
Bonang jago bahasa Inggris, Unir jago matematika dan Boho jago sejarah, dia bahkan bercita-cita ingin jadi wakil rakyat.
Hingga suatu hari, menjadi hari paling di ingat Bonang.
Rumah ortu bersebelahan dengan rumah yang disewakan pemiliknya pada pasangan suami istri yang baru menikah.
Tapi wanitanya seorang janda tanpa anak, dan suaminya seorang sopir mobil kanvas sebuah perusahaan rokok.
Bonang dapat kabar, kalau si janda bertubuh semok ini jadi bini simpanan si Om Kanvas, begitu biasa Bonang memanggilnya.
Bonang tentu saja tak berani ngintip pasangan itu, walaupun Uhir dan Boho bilang sangat penasaran.
Bonang takut kenakalannya ketahuan ortunya.
Bonang paling takut dengan ayahnya, yang suka ringan tangan menghajarnya, kalau dia ketahuan nakal.
Walaupun aslinya, ayahnya sangat menyayanginya dan selalu memanjakan Bonang.
Semuanya berubah, saat ibunya minta Bonang antarkan kue buat si tetangga itu, adiknya sedang bermain, sehingga Bonang lah yang disuruh.
“Tok..tok!” Bonang mengetuk pelan pintu rumah yang terbuat dari beton ini. “Tunggu,” terdengar sahutan dari dalam rumah.
Pintu pun terbuka, Bonang melotot melihat si istri Om Kanvas ini hanya pake handukan. Dadanya yang besar seakan mau meledak di dalam lilitan handuk putih ini.
“Eeehh kamu Bonang, masuk, kamu bawa apa?” sapa wanita ini ramah dan mempersilahkan Bonang masuk.
“I-ini tante, ibu bikin kue, katanya buat tante!” sampai gagap Bonang menjawab.
“Ih baiknya ibu kamu, taruh ke dapur aja Nang, tante mau berganti baju dulu, tadi abis mandi!”
Bonang pun menahan air liurnya melihat kemontokan si tante ini, namun entah nasibnya lagi mujur atau apa.
Pintu kamar si tante ini malah terbuka, dan melotot lagilah Bonang melihat si tante ini terlihat melepas handuknya dan pantat bohaynya nampak jelas, walaupun ada lemak-lemaknya dikit.
Si tante ini berbalik dan dia kaget bukan main melihat Bonang mematung di depan kamarnya menatap dia.
“Waduhhh…kamu masih di sini.”
Dia pun dengan santai memasang handuk lagi, si tante ini malah tersenyum kecil melihat kelakuan Bonang, karena dia pikir Bonang ini masih anak-anak.
“Ma-maaf tante,” Bonang pun pulang tergesa-gesa, pemandangan aduhai ini membuat Bonang terngiang-ngiang.
Gara-gara itulah malamnya dia mimpi basah dan inilah masa aqil balig Bonang datang, masa peralihan dari anak-anak ke remaja tiba.
Tapi, sejak saat itu juga, Bonang jadi sering curi pandang pada si tante ini, yang tetap bersikap biasa-biasa saja padanya.
Hingga kejadian luar biasa bagi remaja tanggung ini terjadi…!
**
Lanjut ya ke bagian 3..!
Anda Mungkin Juga Suka





