
Sudah Nakal Dari Sononya
Bab 3
Seminggu setelah kejadian itu, kedua orang tua dan adiknya pergi ke kota, untuk jenguk neneknya yang sakit, orang tua kandung ayahnya.
“Bonang, jaga rumah, pulang sekolah jangan main kemana-mana.” Ayahnya berpesan dan Bonang, tentu saja tak berani membantah.
Setelah itu, dengan berbonceng motor bertiga, ortu dan adiknya yang masih berusia 6 tahun pun berangkat ke kota.
Ortunya tak bilang berapa hari, tapi Bonang melihat mereka bawa tas, yang artinya akan nginap di rumah neneknya.
Ortu Bonang sempat melambai pada Om Kanvas yang hari ini datang kelonin istrinya.
Sekilas Bonang melihat pintu rumah itu di tutup, Bonang pun sudah bisa membayangkan pasti keduanya lepas kangen.
“Duhh sayang siang hari, kalau malam asoy kalee ngintip,” batin Bonang seorang sendiri di kamarnya, membayangkan ulah suami istri tersebut.
Bonang masih tak lupa kejadian beberapa hari yang lalu, saat melihat istri si Om Kanvas yang polos di depan hidungnya.
Rumah ortu Bonang dan rumah pasangan suami istri hanya berjarak 20 meteran. Terhalang lahan kosong yang di tanami pemiliknya dengan pohong pisang dan rambutan.
Jelang senja, Bonang melihat mobil si Om Kanvas jalan lagi, kedua suami istri itu terlihat saling peluk dan berciuman di teras.
Karena ini desa dan relatif sepi, keduanya tak sungkan saling mengecup di bibir, tapi si Bonang melihat jelas adegan itu.
Karena dia sedang berada di halaman perbaiki rantai sepeda mini beauty jadul-nya, yang sehari-hari dia gunakan untuk sekolah.
Tettt….si om kanvas menklakson saat lewat di depan rumah Bonang, Bonang pun membalas sambil melambai.
“Bonang mampir dulu?” Bonang yang bermaksud mau warung jalan kaki beli mie instan buat makan malam kaget, kala di panggil si tante ini saat lewat di depan rumahnya.
“Iya Tante Melly, ada apa?” Bonang pun mampir.
“Tolong gantikan bola lampu di kamar mandi tante iya, nih uangnya, belikan sekalian. Kan kamu mau ke warung ya?” tanya si Tante Melly, Bonang langsung mengangguk.
“Iya deh, ini uangnya!”
Bonang mengangguk sambil menerima uang selembar 50 ribuan.
Usai dari warung, Bonang langsung ke rumah Tante Melly dan ditunjukan bola lampu yang harus di ganti.
Tanpa kesulitan berarti, apalagi tubuh Bonang rada jangkung, walaupun belum genap 14 tahunan, cukup di bantu kursi, lampu pun sukses terpasang di kamar mandi ini.
Pikiran Bonang menjelajah lagi, saat melihat CD dan kutang si Tante Melly ini tergantung di balik pintu.
Mata Bonang liar dikit melihat-lihat.
“Aman si tante agaknya lagi di kamar,” pikir Bonang.
Bonang pelan-pelan menarik celana dalam itu dan menciumi. Aroma khas milik wanita pun tercium, bahkan seperti ada bercak mengering.
“Sudah selesai Nang…eh…hayoo ngapain, kenapa kamu cium CD tante, nakal banget sih kamu!” mata Tante Melly langsung melotot melihat kelakuan remaja tanggung ini.
Bonang pucat pias, tak mengira Tante Melly tiba-tiba masuk ke toilet dan memergoki ‘kinerja’ memalukannya.
“S-sudah t-tante…!” Bonang yang kepergok lalu buru-buru mau permisi.
“Eeits tunggu dulu….!” Bonang makin ketakutan, takut di marahi, juga takut kelakuannya di laporkan pada ortunya.
Apalagi Tante Melly yang supel ini selama ini sangat akrab dengan ibunya.
Tante Melly malah tersenyum manis.
“Nakal kamu yaa…minggu lalu lihat body tante, sekarang malah ciumin CD tante, kamu berapa sih usia, udah mimpi basah belum?” pancing si tante agak genit.
Tante Melly sengaja berdiri di depan pintu kamar mandi ini, hingga Bonang tak bisa keluar, tangannya gemetaran sambil pegang CD hitam milik Tante Melly ini.
“S-sudah basah…eh mimpi basah, b-bulan depan 14 t-tahun tante!” Bonang benar-benar tak berkutik.
“Hemm…udah dewasa donk, udah bisa bikin betelor perempuan!” Tante Melly tertawa kecil.
Tiba-tiba Bonang makin bak patung, saat Tante Melly tanpa di duga meremas perabotannya.
Bukan hanya meremas, bahkan membuka celananya sekali sentak. Celana pendeknya yang terbuat dari karet bagian pinggangnya langsung melorot sebatas lutut.
Sialnya, Bonang terbiasa tak pakai CD, akibatnya perabotannya yang mengkerut dan terlihat kecil terpampang jelas.
“Woww…kasian si dede mengkerut gitu, sini tante bangunin, kamu diam saja ya. Ssstt…ingat! Nggak boleh cerita ke siapa-siapa, ini rahasia, janji?”
“J-janji t-tante!” sahut Bonang cepat, sambil tergagap.
Otak-nya mulai berpikir, wuih rejeki nomplok nih, pikir Bonang, kesenangan sekaligus makin gugup.
“Sumpah?” desak Tante Melly lagi.
“S-sumpah tante!” lagi-lagi Bonang cepat menyahut.
Tante Melly tertawa kecil dan wanita inipun jongkok.
Dan melongo lah Bonang, saat melihat Tante Melly tanpa ragu berlakon bak lagi melumat es krim.
Kepala Tante Melly terlihat maju mundur dan hanya hitungan detik, belalai Bonang langsung tegak bak tugu monas.
“Woww…lumayan ternyata, kamu ini 3 tahunan lagi tante yakin bisa ngalahin milik suamiku hehe!” Tante Melly kesenangan bukan main dan meneruskan aktivitasnya.
Tak lama, Bonang tersentak kaget, rasa ingin kencing tak mampu di tahan, dan dia kaget, semua air ‘seni’ nya di lahap sampai habis Tante Melly.
Tubuh Bonang bergoyang-goyang, bak tak ada tenaga lagi. “Hihi kasian, perjakanya ilang di mulut Tante, sini tante tuntun, kamu istirahat dulu di kamar yaa!”
Apesnya saat jalan di tuntun, tak sengaja tangan Bonang menyentuh bukit kembar si tante. Karena tingginya hampir sama dengan Tante Melly. Makin gemetaran Bonang jadinya.
Bonang pun tanpa ragu merebahkan diri di kasur empuk ini. Harum dan lembut di rasakannya.
“Minum madu dan telor ini, agar tenagamu joss lagi. Ingat yaa, yang tadi jadi rahasia kita, awas kalau berani cerita ke siapapun. Kalau kamu jaga rahasia, tante kasih yang lebih aseek lagi!”
“B-benarkah Tante…yang aseek?” tanya Bonang polos, setelah habiskan madu dan telor ini. Sambil duduk dan menatap wajah tante Melly.
“Benar banget, tadi kan kamu berani cium-cium CD tante, mau nggak cium benda yang di tutup CD itu?”
“M-mau banget tante sekarang aja yuks!!” Bonang tak sabaran, Tante Melly tertawa geli.
“Husss ni anak nge-gas ajee, ortu kamu kapan pulangnya?”
Bonang pun ceritakan kalau ortunya ke kota, jenguk neneknya yang sakit. Dia juga bilang, kemungkinan ortunya nginap selama beberapa hari sampai neneknya sembuh.
“Bagus…sekarang gini, karena ini udah senja, kamu pulang, kunci rumah. Lalu nyalakan lampu di luar dan di dalam, seolah kamu ada di rumah. Lalu kamu ke sini pukul 8 malam. Tapi jangan lewat depan, lewat pintu belakang yaa, nanti pintunya tak tante kunci, liat-liat jangan sampai ada tetangga lain yang lihat, paham!”
Remaja tanggung ini dengan wajah berbinar mengangguk paham.
Tante Melly mencubit hidung mancung Bonang. Gemes lihat wajah Bonang yang sudah terlihat ketampanannya walaupun masih remaja tanggung.
Bonang pun segera pulang, pengalaman hari ini dan nanti malam bakal merasakan aroma asli isi celana si tante telah merusak otak Bonang.
Tak sabaran dia menunggu pukul 8 malam…!
**
Lanjut ya ke bagian 4
Anda Mungkin Juga Suka





