Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Menghamili Sahabatku

Suamiku Menghamili Sahabatku

Terdesak kebutuhan ekonomi, Kara setuju membantu Nadia untuk menggagalkan rencana pernikahan ayahnya, Ryan. Nadia ingin ayahnya batal menikahi wanita materialistis, sementara Kara sangat membutuhkan uang. Namun, kesepakatan yang awalnya murni demi keuntungan ini berubah rumit saat Kara mulai jatuh cinta pada Ryan. Hubungan yang semula hanya sandiwara kini mengancam persahabatan mereka. Kara terjebak di antara ambisi, cinta sejati, dan risiko pengkhianatan besar.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kara menatap langit senja dari jendela sempit apartemennya. Sinar oranye kemerahan menembus celah-celah gorden lusuh, menyinari wajahnya yang letih. Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, penuh dengan perjuangan. Pekerjaan paruh waktunya di kafe tidak cukup untuk menutupi tagihan bulanan, apalagi kebutuhan sehari-hari. Dompetnya tipis, dan kantong-kantongnya kosong. Namun, yang paling menyakitkan adalah rasa putus asa yang terus menghantuinya; rasa bahwa hidup ini seolah-olah menolak memberinya jalan keluar.

Di atas meja, tergeletak secarik kertas yang baru saja diterimanya dari sahabatnya, Nadia. Pesan itu sederhana tapi penuh maksud: "Aku punya rencana, tapi aku butuh kamu. Bisa nggak kamu bantu aku?" Kara menghela napas panjang. Sejujurnya, dia tahu rencana Nadia tidak akan sederhana. Tapi saat melihat angka-angka di rekeningnya yang terus menipis, pilihan itu seolah-olah tidak ada.

Nadia, sahabatnya sejak kecil, selalu punya rencana-selalu percaya bahwa ada cara untuk menyelesaikan masalah, meskipun caranya terkadang kontroversial. Kali ini, rencananya lebih berani daripada sebelumnya. Nadia ingin menjaga keluarganya tetap utuh. Ayahnya, Ryan, yang sudah bercerai dari ibu Nadia bertahun-tahun lalu, hendak menikah lagi dengan seorang wanita muda yang dikenal matrealistis, penuh ambisi, dan-katanya-tidak benar-benar mencintai Ryan.

"Dia harus dihentikan sebelum terlambat," kata Nadia saat mereka bertemu di sebuah kafe yang ramai beberapa hari lalu. Matanya bersinar dengan tekad yang sama seperti ketika mereka masih remaja, berencana "menyelamatkan" dunia mereka sendiri dari ketidakadilan kecil.

Kara menunduk saat Nadia menyodorkan tawaran itu: membantu memikat Ryan, mendekatinya, dan membuatnya ragu terhadap calon istrinya. Imbalannya? Uang yang cukup besar untuk menutup semua hutang Kara dan memberinya sedikit kebebasan dari kehidupan yang serba kekurangan.

Awalnya, Kara menolak. Bagaimana mungkin dia tega bermain dengan hati seseorang, apalagi ayah sahabatnya sendiri? Tapi, saat pulang dan melihat tagihan listrik yang menumpuk, telepon yang terus berdering tanpa jawaban, dan perutnya yang lapar, tawaran itu mulai terdengar... masuk akal.

"Aku nggak punya pilihan lain, Nadia," gumam Kara pada dirinya sendiri di malam itu. "Ini... satu-satunya cara."

Keesokan harinya, Kara bertemu Ryan di sebuah taman kota, tempat Nadia sengaja memilih agar suasana lebih santai. Ryan, pria paruh baya yang tampan dengan aura tenang dan penuh wibawa, sedang duduk di bangku sambil membaca koran. Rambutnya sedikit beruban di pelipis, wajahnya tegas namun lembut. Kara merasa jantungnya berdegup kencang saat pertama kali melihatnya dari dekat.

"Pak Ryan?" Kara memulai dengan suara sedikit gemetar.

Ryan menoleh, menatapnya dengan mata cokelat hangat. "Ya, kamu siapa?" tanyanya ramah tapi waspada.

Kara mengulurkan tangan, mencoba tersenyum sehangat mungkin. "Nama saya Kara. Saya... teman Nadia."

Senyuman tipis muncul di wajah Ryan. "Oh, Nadia. Aku dengar tentangmu. Duduklah."

Kara duduk, berusaha menenangkan pikirannya. Setiap kata yang ia ucapkan kini penuh dengan maksud tersembunyi, tapi dia harus terlihat alami, tak menimbulkan kecurigaan. Mereka berbicara tentang hal-hal ringan-cuaca, taman, bahkan kopi yang baru dibeli Kara di kafe terdekat. Namun, di balik kata-kata itu, Kara berusaha memahami Ryan: apa yang membuatnya tersenyum, apa yang membuatnya marah, apa yang paling ia hargai dalam hidup. Semua ini bagian dari rencana Nadia.

Hari-hari berikutnya, Kara sering berada di dekat Ryan, baik secara kebetulan maupun sengaja, menyapanya di kafe, menemani saat dia berolahraga, atau sekadar berbincang di taman. Setiap interaksi kecil diperhitungkan, setiap senyum atau tawa dimanfaatkan untuk membangun kedekatan. Kara mulai merasakan sesuatu yang aneh-bukan hanya rasa bersalah karena bermain-main dengan hati Ryan, tapi juga perasaan hangat yang mulai muncul di dalam dirinya sendiri.

Sementara itu, Nadia terus memantau dari jauh. Kadang-kadang telepon Kara berbunyi, dan di ujung sana terdengar suara sahabatnya yang tegas: "Ingat tujuan kita, Kara. Jangan terjebak. Fokus pada rencana."

Namun, fokus itu semakin sulit dijaga. Kara melihat sisi lain Ryan-lembut, perhatian, bahkan humoris. Cara dia tertawa ketika melihat anak-anak bermain di taman, atau cara dia memperhatikan orang-orang di sekitarnya dengan penuh kepedulian, membuat Kara merasa terpesona. Hal-hal yang seharusnya hanya strategi kini mulai membuat hatinya terjerat.

Suatu sore, ketika hujan gerimis turun, Kara berteduh di bawah atap sebuah kafe kecil bersama Ryan. Suara tetesan hujan membentuk irama yang menenangkan, sementara percakapan mereka semakin pribadi. Ryan bercerita tentang masa lalunya, tentang perceraian yang menyakitkan, tentang rasa sepi yang ia rasakan meski dikelilingi orang. Kara mendengarkan dengan penuh empati, tapi hatinya berdebar kencang karena setiap kata yang keluar dari mulut Ryan menembus pertahanan dirinya sendiri.

"Aku selalu berpikir... cinta itu harus sederhana," kata Ryan dengan suara rendah, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi hidup ini... kadang terlalu rumit."

Kara tersenyum, hatinya menjerit dalam diam. Ia tahu kata-kata Ryan itu bisa saja digunakan sebagai alat dalam rencananya, tapi rasanya mustahil untuk berpura-pura acuh saat melihat kesedihan yang tulus di mata pria itu.

Malam itu, Kara pulang dengan pikiran yang kacau. Di satu sisi, ada rasa bersalah yang mendalam karena merencanakan manipulasi. Di sisi lain, ada rasa tak terduga yang tumbuh: kekaguman, kehangatan, bahkan... ketertarikan.

Hari demi hari, rencana Nadia berjalan. Ryan mulai menunjukkan tanda-tanda keraguannya terhadap calon istrinya. Ia lebih sering menelepon Kara, bertanya pendapatnya, bahkan meminta saran tentang hal-hal pribadi. Kara merasa berada di posisi yang berbahaya. Setiap senyum Ryan, setiap perhatian yang ia berikan, semakin menjerat hati Kara, membuatnya sulit kembali ke kenyataan bahwa ini hanyalah permainan.

Di sisi lain, Nadia mulai merasakan kegelisahan yang sama. Ia tahu Kara mulai berubah; dia bisa merasakan ketidakstabilan sahabatnya melalui pesan-pesan singkat yang tidak seperti biasanya. Suatu malam, Nadia mengirim pesan pendek: "Kara... jangan sampai ini merusak semuanya. Aku butuh kamu fokus. Jangan biarkan hati mengambil alih."

Kara menatap layar telepon, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini peringatan terakhir dari Nadia, tapi rasanya mustahil. Hatinya sudah terlalu terlibat.

Pertemuan berikutnya dengan Ryan terjadi di rumahnya. Ryan mengundang Kara untuk membantu memilih buku-buku yang akan diberikan kepada seorang anak yatim piatu yang dekat dengannya. Saat berada di ruang tamu yang luas, Kara menyadari sesuatu: kedekatan mereka sudah melampaui sekadar "strategi". Sentuhan tangan mereka saat menyerahkan buku terasa begitu nyata. Tatapan mata mereka saling bertemu lebih lama dari yang seharusnya. Hati Kara berdetak cepat.

"Kara... aku senang kamu ada di sini," kata Ryan tiba-tiba, suaranya lembut namun penuh makna.

Kara tersenyum tipis, berusaha menutupi perasaan yang mulai sulit ia kendalikan. "Aku juga... senang bisa membantu."

Namun, saat itulah Kara sadar: rencana yang awalnya tampak sederhana, kini telah berubah. Simbiosis mutualisme antara dirinya dan Nadia tidak lagi jelas. Perasaan yang seharusnya tertahan kini mulai menuntut perhatian. Persahabatan dan rencana Nadia berada di ambang kehancuran. Dan yang paling menakutkan, hati Kara sendiri sudah terjerat dalam permainan berbahaya yang bahkan ia tidak tahu bagaimana akhirnya.

Di luar jendela, hujan mulai reda, meninggalkan aroma tanah basah dan ketenangan yang palsu. Di dalam hati Kara, badai baru justru mulai terbentuk. Sebuah badai yang akan menguji batasan moral, persahabatan, dan cinta-sebuah badai yang mungkin akan menghancurkan semuanya jika tidak dijinakkan dengan hati-hati.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Boneka Suami, Kebenaran Pahit Terkuak
8.4
Pasca membela diri dari pelecehan ayah mertuanya hingga koma, istri malang ini mendapati suaminya, Rangga, berpura-pura menjadi pelindung. Namun, sebuah pesan rahasia mengungkap fakta keji bahwa ia hanyalah umpan dalam rencana warisan asuransi. Rangga sengaja membiarkan ayahnya menyerang sang istri demi menyingkirkan orang tuanya tanpa mengotori tangan sendiri. Kini, api dendam membara; sang istri bersumpah akan merebut segalanya dan menjebloskan Rangga ke penjara.
Sampul Novel Cinta Terlarang, Murka Sang Wali
9.3
Sepuluh tahun mencintai waliku, Bima Wijaya, berakhir tragis saat aku menyatakan perasaan di usia delapan belas. Alih-alih balasan cinta, dia justru murka dan merobek lukisan berhargaku. Keadaan kian perih ketika dia membawa Clara, tunangannya, ke rumah. Bima yang dulu melindungi kini menjadi sumber luka terdalam. Demi menyembuhkan hati yang hancur, aku memutuskan pergi ke Jakarta untuk tinggal bersama Ayah dan memulai hidup baru di Universitas Indonesia.
Sampul Novel I LOVE U HOT PAPA
8.1
Edelweiss Hana kini terjebak dalam pusaran pesona mendebarkan milik Reigan Finley Alfarez, pria yang merupakan ayah angkatnya sendiri. Meski telah berupaya keras mengendalikan gejolak di hati, api asmara yang membara justru kian sulit dipadamkan. Akhirnya, Hana tak lagi sanggup memendam hasrat terlarang yang selama ini menyiksa batinnya. Akankah Reigan ikut terhanyut dalam api gairah yang sama, atau justru menolak perasaan Hana yang begitu membara?
Sampul Novel Is This Love?
8.7
Farrel Aditama Effendi dikenal sebagai pria kaya yang gemar bersenang-senang, berbeda jauh dari Fachmi, kembarannya yang kaku. Karena obsesi memiliki sang kakak, Farrel bertekad menggagalkan pertunangan Fachmi dengan seorang wanita lembut. Namun, rencana sabotase ini berbalik saat Farrel justru jatuh cinta pada wanita tersebut saat menyamar menjadi Fachmi. Kini, ia terjebak dalam dilema besar jika rahasia tentang identitas aslinya terbongkar.
Sampul Novel Meniti Ulang di Usia Senja
9.6
Saat membersihkan rumah di hari ulang tahun pernikahan, seorang istri tidak sengaja menemukan album foto rahasia milik suaminya. Di dalamnya terpampang bukti menyakitkan: selama dua puluh tahun, dari usia 40 hingga 60 tahun, suaminya rutin mengambil foto pernikahan dengan cinta sejatinya, lengkap dengan tulisan 'Cinta abadi selamanya.' Menyadari pengorbanannya mengurus rumah, anak, hingga cucu ternyata sia-sia, ia bertekad untuk berbalik arah dan memulai lembaran hidup baru.
Sampul Novel Pengasuh Putraku Ternyata Ibu Kandungnya
8.2
Demi kesembuhan ibunya, Aera Jung Jun terpaksa menjadi ibu pengganti bagi putra Myung Dae Hyun saat baru berusia tujuh belas tahun. Keputusan berat ini diambilnya atas desakan Tuan Besar Hyun yang menjanjikan biaya pengobatan. Empat tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Aera melamar sebagai pengasuh anak di kediaman Dae Hyun. Tanpa disadari, bocah yang ia rawat adalah darah dagingnya sendiri. Akankah rahasia masa lalu ini terungkap di tengah romansa mereka?