
Suamiku Memilih Selingkuhannya
Bab 2
Dua garis merah di test pack itu adalah tanda tanya terbesar dalam hidup Kirana. Bukan hanya sekadar tanda akan datangnya sebuah kehidupan, tapi juga simbol dari pilihan-pilihan sulit yang kini harus ia ambil. Ia memegangnya erat, jantungnya berdegak kencang, antara takut dan takjub. Dalam hitungan detik, seluruh dunianya seolah bergeser, fokusnya bukan lagi pada kehancuran rumah tangganya, melainkan pada titik kecil di dalam rahimnya yang kini menggenggam masa depannya.
"Hamil..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Kata itu terasa begitu asing sekaligus sangat nyata.
Kirana duduk di lantai kamar mandi yang dingin, napasnya tersengal. Air mata yang beberapa hari ini tumpah karena Arya, kini bercampur dengan air mata haru dan ketakutan akan hal yang sama sekali baru. Bagaimana ini bisa terjadi? Di tengah semua kekacauan ini, sebuah keajaiban datang, seolah ingin mengingatkannya bahwa hidup terus berjalan, dan ada hal-hal yang lebih besar dari sekadar patah hati.
Pikiran pertama yang muncul adalah Arya. Haruskah ia memberitahu lelaki itu? Hati kecilnya menjerit "tidak". Luka pengkhianatan masih terlalu basah, terlalu perih. Ia tidak ingin kehamilannya menjadi alasan bagi Arya untuk "kembali" atau "bertanggung jawab" hanya karena kewajiban. Kirana ingin cinta yang tulus, bukan cinta yang dipaksa oleh keadaan. Apalagi, ia juga belum tahu seberapa serius Arya dengan niatnya memutuskan hubungan dengan Zia. Ia tidak ingin bayinya lahir ke dalam keluarga yang penuh kebohongan dan keraguan.
"Aku akan menghadapinya sendiri," putus Kirana dalam hati. Sebuah tekad yang membara, meskipun ia tahu ini akan menjadi jalan yang sangat terjal.
Langkah pertama yang Kirana ambil adalah mencari informasi. Ia menghabiskan berjam-jam di internet, membaca artikel tentang kehamilan, nutrisi, dan tentu saja, risiko kehamilan bagi penderita anemia kronis dan tekanan darah rendah. Semua informasi itu hanya menambah kecemasannya. Beberapa artikel bahkan secara gamblang menyebutkan risiko keguguran, kelahiran prematur, hingga pendarahan hebat yang bisa mengancam nyawa ibu.
"Risiko kematian," bisiknya lagi, merinding.
Namun, setiap kali rasa takut itu datang, ia akan meletakkan tangannya di perutnya, seolah ingin melindungi janin di dalamnya. Ada ikatan yang kuat yang mulai terbentuk, sebuah naluri keibuan yang muncul begitu saja. Ia tidak bisa membayangkan menyerah. Tidak setelah ia tahu ada kehidupan di sana.
Keesokan harinya, dengan hati-hati dan sembunyi-sembunyi, Kirana menghubungi teman baiknya, Lisa, yang bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta. Lisa adalah satu-satunya orang yang ia percayai saat ini.
"Lis, bisa ketemu sebentar? Ada yang mau aku tanyakan," Kirana berusaha membuat suaranya senormal mungkin di telepon.
"Tentu saja! Kok tumben? Ada apa, Ran? Kamu kedengaran nggak enak badan," sahut Lisa, suaranya ceria seperti biasa.
Mereka janjian di sebuah kafe yang agak jauh dari rumah Kirana. Kirana memakai kacamata hitam dan topi, seolah sedang menyamar. Ia tidak ingin ada yang melihatnya, apalagi Arya.
Saat bertemu Lisa, Kirana tidak basa-basi. Ia langsung menyerahkan test pack di tangannya. Raut wajah Lisa langsung berubah dari ceria menjadi kaget dan prihatin.
"Kirana... ini serius?" Lisa bertanya, matanya membesar.
Kirana mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Aku hamil, Lis."
Lisa langsung memeluknya erat. "Ya ampun, Ran. Kok bisa... Kamu sudah bilang Arya?"
Kirana menggeleng. "Belum. Dan aku nggak tahu apa aku harus bilang dia sekarang. Kamu tahu kan, masalah kami?"
Lisa menghela napas. "Aku tahu, Ran. Aku turut prihatin." Ia melepaskan pelukannya, menatap Kirana. "Lalu, kamu mau bagaimana? Kamu kan ada riwayat anemia sama tensi rendah. Ini bisa jadi kehamilan berisiko, Ran."
"Itu yang aku takutkan, Lis," suara Kirana bergetar. "Aku sudah baca-baca, dan rasanya menakutkan sekali. Tapi aku... aku nggak bisa. Aku mau anak ini, Lis."
Lisa menggenggam tangan Kirana. "Aku mengerti, Ran. Aku akan bantu kamu. Kita cari dokter kandungan terbaik. Kita akan pantau terus kondisi kamu. Tapi kamu harus janji, kamu harus sangat hati-hati."
"Terima kasih, Lis," Kirana merasa sedikit lega. Setidaknya, ia tidak sendirian.
Dengan bantuan Lisa, Kirana berhasil mendapatkan jadwal konsultasi dengan dokter kandungan terkemuka, dr. Citra, yang sangat direkomendasikan. Ia sengaja mencari waktu yang Arya tidak ada di rumah, atau saat Arya sedang berada di luar kota. Setiap janji temu, ia akan berpamitan pada Arya dengan alasan yang berbeda-beda: bertemu teman, les yoga, atau sekadar pergi ke mal. Arya, yang masih sibuk dengan pekerjaannya dan mungkin juga dengan pergulatan batinnya sendiri, tidak terlalu mencurigai.
Kunjungan pertama ke dokter kandungan adalah momen yang campur aduk bagi Kirana. Senang melihat janinnya di layar USG, titik kecil yang berdenyut, tapi juga takut mendengar penjelasan dokter.
"Kondisi awal kehamilan Anda baik-baik saja, Bu Kirana," dr. Citra berkata lembut, menunjuk layar. "Janinnya sehat. Tapi memang, dengan riwayat anemia dan hipotensi kronis, kehamilan ini akan memerlukan pengawasan ekstra. Anda akan lebih rentan terhadap kelelahan, pusing, dan mungkin anemia yang lebih parah. Kita harus memastikan asupan nutrisi Anda terpenuhi dengan baik, dan kita akan pantau tekanan darah Anda secara ketat."
"Apa ada risiko yang lebih serius, Dok?" Kirana memberanikan diri bertanya.
Dr. Citra mengangguk pelan. "Setiap kehamilan memiliki risiko, Bu Kirana. Untuk kasus Anda, risikonya sedikit lebih tinggi. Ada kemungkinan pendarahan, kelahiran prematur, atau komplikasi lain. Tapi jangan khawatir berlebihan. Dengan penanganan yang tepat dan kepatuhan Anda pada saran dokter, kita bisa meminimalkan risiko tersebut."
Meskipun dokter berusaha menenangkan, kata "risiko" dan "komplikasi" terus terngiang di telinga Kirana. Ia tahu ia harus berjuang lebih keras. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk bayinya.
Minggu-minggu berikutnya adalah perjuangan bagi Kirana. Mual di pagi hari menjadi lebih intens, terkadang hingga siang hari. Ia sering merasa pusing dan sangat mudah lelah. Ia harus pandai menyembunyikan semua gejala ini dari Arya. Ia akan berpura-pura baik-baik saja, bahkan ketika ia merasa ingin muntah di tempat. Ia sering makan di kamar, beralasan tidak enak badan, padahal ia hanya tidak ingin Arya melihat porsi makannya yang berubah atau jenis makanan yang ia pilih.
Arya, yang masih bergumul dengan perasaannya sendiri, mencoba untuk "ada" untuk Kirana, meskipun dengan cara yang canggung. Ia terkadang membawakan Kirana sarapan, atau menemaninya menonton televisi di malam hari. Ia masih terus meminta maaf, masih terus mengatakan bahwa ia ingin memperbaiki semuanya.
"Kirana, aku sudah tidak bertemu Zia lagi," kata Arya suatu malam, saat mereka duduk di ruang keluarga. "Aku serius, aku ingin kita kembali seperti dulu."
Kirana menatapnya. Ada keraguan di mata Arya, sebuah keraguan yang tidak bisa ia tutupi. Kirana tahu, Arya mungkin mencoba, tapi ia tidak yakin apakah Arya benar-benar sudah melepaskan Zia sepenuhnya dari hatinya. Dan Kirana, di sisi lain, tidak ingin bayinya tumbuh dalam keluarga yang dibangun di atas keraguan.
"Aku butuh waktu, Arya," Kirana hanya bisa mengatakan itu lagi.
Ia tahu, menyimpan rahasia kehamilan ini sangat memberatkan. Ada kalanya ia ingin berteriak pada Arya, memberitahu segalanya, agar lelaki itu tahu betapa besar pengorbanan yang sedang ia lakukan. Tapi ia menahannya. Ia ingin semua ini berlalu dulu, ia ingin Arya benar-benar membuktikan dirinya, bukan karena paksaan. Atau, ia ingin Arya pergi sepenuhnya, sehingga ia bisa memulai hidup baru bersama bayinya, tanpa bayang-bayang pengkhianatan.
Lisa menjadi pilar utama bagi Kirana. Setiap kali Kirana merasa lelah, sedih, atau takut, Lisa selalu ada. Ia membantu Kirana mengatur jadwal dokter, memastikan Kirana mengonsumsi suplemen yang diresepkan, dan menjadi pendengar setia saat Kirana mencurahkan segala isi hatinya.
"Kamu kuat, Ran," Lisa selalu berkata. "Kamu pasti bisa."
Kehamilan Kirana memasuki trimester kedua. Perutnya mulai sedikit membesar, meskipun ia masih berhasil menyembunyikannya dengan memakai pakaian longgar. Mualnya mulai berkurang, tapi kelelahan masih menjadi teman setianya. Ia sering tertidur di sofa, dan Arya akan menyelimutinya tanpa bertanya banyak.
Pada salah satu kontrol rutin, dr. Citra menyampaikan kabar baik. "Bayi Anda sehat, Bu Kirana. Berat badannya bagus, detak jantungnya stabil."
Kirana tersenyum, hatinya menghangat. Ia merasa ada ikatan yang semakin kuat dengan janinnya. Ia sudah mulai berbicara dengan bayinya di dalam perut, menceritakan tentang harapan-harapannya, tentang bagaimana ia akan mencintai bayi ini sepenuh hati.
Namun, di tengah kelegaan itu, dr. Citra juga memberikan peringatan. "Kita harus sangat hati-hati dengan kenaikan tekanan darah Anda, Bu Kirana. Akhir-akhir ini, tensi Anda cenderung sedikit meningkat, meskipun masih dalam batas normal. Kita tidak ingin sampai preeklampsia. Jadi, hindari stres, istirahat yang cukup, dan terus jaga pola makan sehat."
Preeklampsia. Kata itu terdengar menakutkan. Kirana tahu, stres adalah salah satu faktor utamanya. Dan bagaimana mungkin ia tidak stres dengan kondisi rumah tangganya saat ini?
Suatu pagi, Kirana terbangun dengan pusing yang luar biasa. Ia mencoba bangkit, tapi kakinya lemas dan pandangannya kabur. Ia merasa mual, tapi kali ini bukan mual biasa. Arya tidak ada di rumah, ia sudah berangkat ke kantor. Kirana mencoba meraih ponselnya, tapi tangannya gemetar.
Ia mencoba menghubungi Lisa, tapi ponselnya kehabisan baterai. Panik mulai menyerang. Ia merangkak ke dapur, mengambil segelas air, dan mencoba menenangkan diri. Namun, pusingnya semakin menjadi.
"Astaga..." bisiknya, merasa sangat ketakutan. Ia takut sesuatu terjadi pada bayinya.
Ia memaksa dirinya untuk beranjak, dan mencoba menghubungi taksi online. Dengan sisa-sisa tenaga, ia berhasil memesan. Ia bahkan tidak sempat berganti baju, hanya meraih dompet dan kunci.
Sesampainya di rumah sakit, ia langsung dilarikan ke IGD. Ia menjelaskan bahwa ia sedang hamil, dan pusingnya tidak tertahankan. Dokter jaga segera melakukan pemeriksaan awal.
"Tekanan darah Anda cukup tinggi, Bu," kata dokter jaga, raut wajahnya serius. "Anda harus dirawat inap untuk observasi lebih lanjut."
Kirana mengangguk lemah. Ia tidak punya pilihan.
Saat ia sedang menunggu di ruang rawat, Lisa datang tergopoh-gopoh. "Kirana! Astaga, aku panik waktu kamu nggak bisa dihubungi. Kamu kenapa?"
Kirana menjelaskan apa yang terjadi. Lisa langsung memeluknya erat. "Syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa. Untung kamu cepat ke sini."
"Jangan bilang Arya, Lis," Kirana berbisik, memohon.
Lisa mengangguk. "Aku tahu. Tapi sampai kapan, Ran? Ini makin berisiko buat kamu."
"Sampai aku siap, Lis," jawab Kirana, suaranya lemah.
Selama dua hari di rumah sakit, Kirana terus diawasi. Tekanan darahnya berangsur normal, dan ia mendapatkan istirahat yang cukup. Ia mengarang cerita untuk Arya bahwa ia sedang ada acara keluarga di luar kota, sehingga tidak bisa dihubungi. Arya, yang tampaknya mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Kirana, tidak terlalu mendesak.
Namun, kejadian ini semakin menyadarkan Kirana betapa rapuhnya kondisi dirinya dan bayinya. Ia tidak bisa terus-menerus menyembunyikan ini. Tapi di sisi lain, ia juga belum siap menghadapi reaksi Arya.
Pulang dari rumah sakit, Kirana memutuskan untuk melakukan sesuatu yang radikal. Ia ingin punya tempat perlindungan, sebuah tempat di mana ia dan bayinya bisa merasa aman. Diam-diam, ia mulai mencari apartemen kecil yang bisa ia seewa. Ia juga mulai mengirimkan lamaran kerja secara lebih intens, kali ini untuk pekerjaan yang bisa ia lakukan dari rumah, atau yang memiliki jam kerja fleksibel. Ia harus mandiri. Ia harus siap jika sewaktu-waktu ia memutuskan untuk benar-benar berpisah dari Arya.
Arya sendiri, setelah kejadian telepon dengan Zia, memang terlihat berusaha. Ia pulang lebih awal, sesekali mengajak Kirana makan malam di luar, atau sekadar menonton film bersama. Ia mencoba mengembalikan kehangatan yang dulu sempat ada. Namun, ada dinding tak terlihat yang sudah dibangun Kirana di sekeliling hatinya. Dinding yang terbuat dari luka dan keraguan.
Suatu malam, saat mereka sedang makan malam, Arya tiba-tiba berkata, "Kirana, aku tahu aku sudah melukai hatimu. Aku minta maaf. Aku sudah memutus semua kontak dengan Zia. Aku bersumpah. Aku sungguh ingin membangun kembali rumah tangga kita."
Kirana menatapnya, mencari kejujuran di mata Arya. Ia melihat sedikit bayangan penyesalan di sana, tapi juga sebuah kelelahan. Apakah Arya benar-benar sudah melepaskan Zia? Atau ia hanya lelah dengan persembunyian ini?
"Bagaimana aku bisa percaya padamu, Arya?" Kirana bertanya, suaranya pelan. "Kepercayaan itu butuh waktu untuk dibangun, dan butuh sekejap untuk dihancurkan."
Arya menghela napas. "Aku tahu. Aku akan membuktikannya. Aku akan melakukan apa pun."
Malam itu, Kirana kembali tidur di kamar tamu. Perutnya mulai membesar dengan jelas sekarang, dan ia harus lebih berhati-hati saat bergerak. Ia masih belum siap. Ia ingin memastikan bahwa keputusan Arya untuk memilihnya adalah murni, bukan karena ia hamil. Ia ingin sebuah kejelasan yang mutlak.
Ia berpikir keras tentang masa depan. Sendirian dengan bayi ini, di tengah kondisi kesehatannya yang rentan. Mampukah ia? Ada rasa takut yang besar, tapi juga ada dorongan yang tak kalah besar untuk melindungi dan membesarkan bayinya.
"Aku akan memberitahunya, tapi tidak sekarang," bisik Kirana pada dirinya sendiri, meraba perutnya. "Aku akan memberitahunya saat aku benar-benar siap, saat aku tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya."
Pikirannya melayang pada kehidupan Arya. Arya tampaknya masih sibuk dengan pekerjaannya, masih sering bepergian untuk bisnis. Ia tidak tahu apa-apa tentang perubahan besar yang terjadi pada Kirana. Ia tidak tahu bahwa ada sebuah nyawa yang tumbuh di dalam rahim istrinya, nyawa yang sebentar lagi akan mengubah hidup mereka berdua, selamanya.
Kirana merasa sendirian dalam pertempuran ini. Pertempuran melawan rasa sakit hati, melawan ketakutan akan komplikasi kehamilan, dan melawan ketidakpastian masa depan. Tapi setiap kali ia merasa ingin menyerah, ia akan merasakan gerakan kecil di dalam perutnya, tendangan lembut yang mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian. Ada seseorang yang lebih lemah darinya, yang sangat membutuhkan perlindungannya. Dan untuk itu, ia akan berjuang mati-matian.
Arya, di sisi lain, mulai merasa aneh dengan Kirana. Kirana semakin tertutup, seringkali menghabiskan waktu sendirian. Ia sering merasa lelah, dan ada sesuatu yang berbeda dari aura Kirana. Namun, Arya terlalu sibuk dengan pekerjaan dan pergulatan batinnya sendiri untuk terlalu memikirkannya. Ia masih berusaha meyakinkan Kirana bahwa ia sudah berubah, bahwa ia sudah meninggalkan Zia.
Ia kadang merindukan kehangatan Kirana yang dulu, senyum tulusnya, atau candaannya. Ia tahu ia telah merusak semuanya. Tapi ia tidak tahu seberapa parah kerusakan itu. Ia tidak tahu bahwa Kirana kini tengah berjuang untuk dua nyawa, sendirian, tanpa sepengetahuannya. Ia tidak tahu bahwa keputusannya untuk meninggalkan rumah dan memilih bersama kekasihnya telah membawa Kirana ke ambang batas. Dan ia tidak tahu, bahwa rahasia itu, yang sengaja Kirana sembunyikan demi ketenangan lahir dan batinnya, akan meledak pada waktu yang paling tidak terduga.
Anda Mungkin Juga Suka





