
Suamiku Mantan Playboy
Bab 2
"GILA lo, ya?! Ke mana aja lo semalam, ha? Gue sama Damn sampai keliling ballroom cuma buat nyariin anak ilang kayak lo doang!"
Riri hanya bisa memutar bola matanya setelah mendengar suara dari orang di seberang telepon sana. Namanya Nayla, dia baru menikah kemarin dengan kekasih dudanya—yang jujur saja masih terlalu tampan untuk seukuran duda beranak satu sepertinya.
"Gue cuma jalan-jalan biasa, terus pulang, dan lupa pamitan sama kalian," ucapnya dipenuhi kebohongan yang luar biasa menyakinkan.
Bagaimanapun juga, dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada seniornya itu. Jika semalam, dia bicara dengan pria tampan yang entah siapa namanya —bahkan jujur saja, Riri juga tidak ingat bagaimana rupanya— lalu entah bagaimana ceritanya, ia dan pria itu bisa sampai di sebuah kamar dan hampir bercinta.
Hampir ... nyaris.
Jika dia tidak mengingat keinginannya untuk menjadi perawan tua, mungkin semalam ia benar-benar telah melepaskan segelnya pada pria tak dikenal itu.
"Yakin? Tapi, kok, lo nggak ada ngehubungin gue atau Damn, sih?" tanya Nayla yang terlihat sekali jika dia masih curiga.
"Gue lupa, sampai rumah langsung tidur, kayak biasanya, lah!"
"Lo ini, ya! Sekali aja penyakit pikun dadakan lo itu nggak kumat kalau lagi sama gue, gimana? Gue hampir lapor polisi gara-gara lo ngilang nggak ada pamitan kayak gitu, tahu!" sembur Nayla.
"Iya, maaf! Namanya juga orang lupa, mau bagaimana lagi? Ponsel gue juga entah keselip di mana semalam, baru aja ketemu tadi." Riri memamerkan cengiran andalannya yang tak bisa dilihat Nayla, tapi ia yakin, seniornya itu pasti tahu kalau Riri sedang nyengir sekarang.
"Nggak usah nyengir-nyengir nggak jelas sendirian. Udah mirip orang gila lo, tahu?"
"Kagak peduli, tuh!" jawab Riri santai sembari mengangkat bahunya tanpa beban. "Oh, ya, gimana malam pertamanya? Sukses besar? Cerita dong, cerita! Gue mau bikin novel dengan kisah nyata percintaan kalian berdua!"
"Idih, ogah banget cerita ke cewek mesum kayak lo! Lo cobain sendiri sana! Nyari cowok, ajak pacaran, terus ajakin nikah, jangan lupa ajakin bikin anak juga!" Nayla tergelak.
"No way! Nanti rencana gue jadi perawan tua bakal dipertanyakan sama bokap dan nyokap." Riri menolaknya dengan cepat.
"Anjir, ini anak kok nggak ada berubah-berubahnya dari dulu, ya?"
Riri nyengir lagi. Tidak merasa berdosa sama sekali. Selama ini, dia memang dikenal sebagai wanita aneh, tapi ia tidak pernah peduli. Baginya, semua orang takkan mengerti nikmatnya dunia yang selama ini berada di dalam kepalanya.
Yep, dia seorang penulis. Bukan novelis berbakat yang karyanya laris manis hingga dapat mendali segala macam. Dia hanya penulis tidak jelas yang sedikit beruntung hingga karyanya berhasil masuk beberapa toko buku atau hanya tersedia secara online.
Dia menulis banyak sekali judul yang tidak satu pun populer, tapi semua judul bukunya cukup laku dijual. Hingga penghasilannya cukup dapat membantu biaya hidupnya selama kuliah. Walaupun Riri memang berasal dari keluarga kaya, tapi dia tidak suka meminta uang dari orang tuanya.
Selama ini dia memang sengaja memisahkan uangnya dari uang pemberian keluarganya. Dia benar-benar menggunakan uangnya sendiri untuk membiayai hidupnya, walaupun itu berarti dia akan menjalani hidup serba kekurangan.
Menurutnya, dia melakukan hal seperti ini sebagau bentuk latihan, seandainya orang tuanya jatuh bangkrut atau nanti pas dia disepak dari daftar kartu keluarga, karena tidak mau nikah juga. Dia masih bisa hidup sederhana tanpa harus menangis darah, karena tidak bisa membeli apa yang dia suka.
"Terus, semalam gimana? Dia perkasa, nggak? Si Abang Duda Ganteng lo itu?" goda Riri.
Dia sengaja mengorek informasi seperti itu dari Nayla untuk dia tulis. Walaupun tidak diizinkan, dia pasti akan tetap menulisnya. Ohh ... tentu saja, tanpa sepengetahuan Nayla!
"Pertanyaan lo bikin gue curiga." Nayla sengaja menggantung kata-katanya.
"Iya, curiga kalau lo kenal baik siapa gue!" Riri tergelak tanpa dosa. "Gue jelas-jelas lagi bayangin Abang Duda Ganteng itu lagi lepas baju. Ugh … terus ahhh … dia pasti seksi sekali, kan, Kak?"
"RIRI! JANGAN MACAM-MACAM LO, YA! Cari pacar sendiri sana, jangan bayangin suami orang kayak gini!"
"Dih, pelit! Cuma bayangin doang aja nggak boleh."
"Iya, kagaklah! Istri mana yang mau suaminya dijadiin imajinasi liar sama cewek lain, ha?!"
"Kakak pasti mau, tuh, kalo dibujuk!"
Riri bisa mendengar Nayla menggerutu di seberang telepon dan ia langsung terkikik mendengarnya.
"Ri, gue lagi serius, ya? Lo beneran nggak ada rencana buat nikah apa gimana?"
Riri terdiam cukup lama, agak berpikir sebentar, sebelum menjawab pertanyaan Nayla. "Ada, cuma males cari pasangannya."
"Terus, kalau ada yang mau ngelamar, lo mau, nggak?"
"Hm …." Riri berpikir lagi, sebelum menjawab, "Lihat dulu yang lamar kayak gimana? Kalau ganteng plus mapan kayak Abang Duda Ganteng lo, sih, gue nggak bakal nolak," godanya yang langsung mengundang umpatan dari seberang sana.
"Kampret lo!"
***
Lagi-lagi mimpi terkutuk itu mendatanginya.
Raffa mengumpat berulang kali sembari mengacak-acak rambutnya frustrasi. Dia tidak berniat memimpikan kejadian malam itu lagi dan lagi, tapi seperti kaset lama yang sudah rusak parah, mimpi itu terus-menerus mendatanginya setiap hari dengan intensitas sentuhan yang semakin tinggi dan membuatnya bangun dalam keadaan bergairah.
"Sial!"
Raffa mendesah kasar. Jika saja tadi ia membawa pulang salah seorang teman wanita miliknya, mungkin situasi seperti ini tidak akan terlalu menyesakkan untuknya.
Masalahnya, sejak kejadian malam itu, dia sama sekali tidak bernafsu dengan wanita mana pun selain wanita yang tidak sengaja ia temui di pesta pernikahan sepupunya itu.
"Sialan, gue perlu nikah kalau kayak gini ceritanya!"
Dengan langkah gontai dia keluar dari kamarnya. Selama beberapa hari terakhir, dia menjadi baby sitter keponakannya Evan, lantaran Ethan dan Nayla ingin menghabiskan waktu berdua.
Tentu saja, mereka mau menghabiskan waktu berdua, karena sebagai pengantin baru mereka memang memerlukannya. Belum lagi, si Bocah Es Batu itu terang-terangan bilang minta adik bayi.
Hebat sekali, sampai bocah sekecil itu sudah bisa mengompori kedua orang tuanya sendiri untuk membuatkannya adik.
"Om Raffa baru bangun?" Pertanyaan itu sontak saja langsung membuat Raffa mendelik.
Baru bangun? Memangnya sekarang jam berapa?
Melihat Evan yang sudah berpakaian rapi dan tidak sendirian di meja makan langsung membuat dahi pria itu mengernyit. Dia menoleh ke arah jam dinding dan seketika itu pula matanya melotot.
"Anjir, udah pagi?"
"Lo kira ini masih tengah malam?" Nayla tersenyum sinis sembari mengambilkan nasi untuk Evan, sebelum mengambilkan nasi untuk Ethan. "Lo emang cuma penumpang sementara, tapi lo wajib ikut sarapan juga. Sini, makan! Jangan sampai lo ngadu kalau nggak pernah gue kasih makan selama tinggal di rumah gue."
Raffa mendengkus pelan. Mau mengadu pada siapa juga? Memangnya dia bocah seumuran Evan yang masih suka mengadu pada oarng tuanya jika terjadi apa-apa? Dia sudah tua kali, dia tidak mungkin mengadukan hal konyol seperti itu.
Ethan melirik sekilas sebelum berkata, "Abis mimpi buruk lagi?"
Raffa menghela napas berat. Hanya Ethan yang ia beri tahu sedikit tentang mimpi buruknya akhir-akhir ini. "Iya, kayak kemarin dan kemarinnya lagi."
"Perlu ke psikiater?"
Tawaran Ethan langsung membuat Raffa menggeleng tegas. Astaga, dia tidak akan pergi ke psikiater mana pun! Apalagi alasannya karena ada seorang wanita yang telah menolak pesonanya mentah-mentah dan merusak harga dirinya hingga parah.
Sori aja, ya, gue masih punya harga diri!
"Om Raffa sakit?" tanya Evan begitu Raffa duduk di kursi yang ada di sampingnya.
"Enggak, kamu makan aja yang banyak, jangan banyak omong kalau nggak mau tersedak."
Evan tidak bertanya lagi dan Raffa mulai menyantap makanannya dengan santai. Dia tidak terlalu lapar, jujur saja, mimpi itu selain membuatnya terangsang juga membuat perutnya terasa kenyang.
Ethan telah selesai makan lebih dulu, seperti biasa, sepupunya itu makan dengan lahap disusul putranya yang benar-benar seperti kopian dari ayahnya.
"Tante tadi nelepon, kamu disuruh pulang malam ini. Beliau mau ngenalin kamu sama wanita pilihannya." Ethan tiba-tiba bicara setelah dia selesai meminum air putihnya.
"Ck! Lagi?" Raffa berdecak, dia menatap Ethan dengan tatapan tidak suka. "Gue udah bilang berapa kali, sih, kalau gue nggak suka dijodohin!"
Ethan mengangkat bahunya tak acuh. "Kalau kamu memang nggak suka, bawa salah satu pacarmu pulang dan kenalkan pada mereka."
Raffa mendelik ke arah sepupunya. "Enak aja, gue nggak mau nikah sama mereka, tahu!"
"Kalau sama Riza mau?" Nayla ikut campur dengan membawa-bawa nama wanita yang sejak sebulan yang lalu dekat dengannya.
Raffa ganti mendelik ke arah wanita itu. "Lo mau gue ngerebut dia dari pacarnya?"
"Kenapa enggak coba? Masih pacar juga, belum nikah, masih bisa jadi milik bersama. Kalau lo emang suka ya berjuang dong buat dapatin dia, bukannya malah mundur teratur dan jadi pengecut kayak gini!"
Raffa mendengkus. "Sori, ya, gue alergi berjuang demi tujuan yang nggak pasti."
"Om Raffa sukanya yang pasti, tapi pacarnya suka gonta-ganti. Om ternyata plin-plan, ya? Harusnya Om setia sama satu wanita aja, kayak Daddy gitu misalnya."
Ethan berdeham saat bocah kecil di bawah umur itu ikut campur dalam pembicaraan mereka. Nayla yang mendengar ucapan putra sambungnya tampak puas. Ternyata, Evan berdiri di pihaknya untuk membantu menyudutkan Raffa yang jujur saja, belum kapok-kapok juga sampai sekarang.
Dia sempat dengar kabar kalau Raffa mendekati Riza, salah satu pekerjanya yang cantik dan manis di restoran. Dia tahu juga kalau Riza sudah punya pacar, tapi perempuan itu tetap meladeni Raffa dan membuat pria itu baper karenanya.
Ketika tahu Riza sudah punya pacar, Raffa malah mundur, padahal dari sudut pandang Nayla, dia bisa melihat jika Riza benar-benar serius menyukai seorang Raffa si Playboy Tengil dan Mesum itu.
"Evan mau berangkat sekarang atau nanti?" tanya Ethan setelah mereka terdiam cukup lama.
"Sekarang, Dad, ayo berangkat!"
Ketika dua orang itu telah pergi, Nayla kembali bicara, "Riza kayaknya kangen sama lo, coba hubungi dia lagi siang ini. Oh iya ... lo bisa ngambilin album foto pernikahan gue minggu lalu di studio fotonya, nggak?"
"Gue? Kenapa nggak lo aja atau minta dipaketin gimana gitu? Gue sibuk banget tahu!"
"Mereka juga lagi sibuk, nggak bisa nganterin. Mau minta dipaketin, tapi nggak bisa. Ada beberapa barang yang emang rawan rusak kalo dipaketin. Gue mau ngambil sendiri, tapi Damn mau cuti, cuma ada Nando sama gue yang ngehandle dapur. Kalau gue pergi, lo bisa bayangin apa yang bakal terjadi sama restoran gue nantinya, kan? Lo juga biasanya suka keluar kantor nggak jelas tujuannya. Kenapa nggak sekalia aja keluar buat ambilin album foto pernikahan gue."
Raffa mendengkus. "Oke, oke, gue yang pergi."
"Oh, ya, jam dua belas siang, ya, ntar sekalian bareng sama Riza."
"Anjir!" Raffa melotot, tapi Nayla tak peduli karena dia segera berlalu dari sana. "Gue, kan, sengaja lagi ngehindarin dia. Astaga ... lo nggak tahu gimana rasanya jadi orang ketiga, sih, Nay, nyesek banget tahu," gerutunya.
Anda Mungkin Juga Suka





