
Suamiku Mantan Playboy
Bab 3
BISA dibilang, Riri hampir tidak pernah kemari. Walaupun setiap tahun ia pulang dan menghubungi kakak tingkatnya itu, tapi ia tidak pernah mendatangi restoran ini. Ini kedatangan perdananya setelah ia benar-benar pulang empat bulan yang lalu.
Dulu mereka memang dekat, tapi kedekatan mereka tergolong biasa saja. Dia memang adik tingkat Nayla, tapi mereka beda jurusan, beda jam kuliah juga, dan setelah setahun mereka pun berada di belahan dunia yang berbeda. Riri masih harus melanjutkan kuliahnya di benua Amerika, sedangkan Nayla pulang ke Indonesia.
Selama ini, mereka berhubungan lewat email atau telepon ketika Riri pulang. Dan hanya begitu, tanpa bertemu, karena Riri lebih suka mengurung diri di kamar. Selain jarang keluar, dia juga malas aktif di media sosial seperti yang sedang trend sekarang.
Dia memang memiliki akun, tapi hanya sebatas itu. Riri jarang menggunakannya selain untuk branding sebagai penulis yang masih hidup dan bisa menghibur pembaca-pembacanya.
Riri masuk ke restoran dan mengambil tempat duduk di tengah-tengah. Tatapannya terarah ke arah pintu dapur yang tertutup rapat, ketika seorang pelayan mendatanginya. Pria itu tersenyum ramah padanya, Riri membalas senyum itu dengan senyuman manis.
"Mau pesan apa, Mbak?" tanya pria itu sopan. Wajahnya tidak terlalu tampan, tapi keramahannya membuat Riri terkesan.
Sayangnya, perempuan itu tidak berminat untuk pacaran, apalagi pacaran dengan seorang pelayan. Selain karena dia tidak punya keinginan untuk menikah, juga karena seorang pelayan belum memiliki masa depan. Riri maunya pacaran dengan orang yang punya masa depan, minimal sudah mapan, dan gaji bulanannya tidak pas-pasan.
Bukan karena dia matre, sama sekali tidak. Dia melakukan hal seperti itu untuk berjaga-jaga. Seandainya dirinya telah nyaman dan akhirnya berani untuk menjatuhkan pilihan. Dia tidak mau mendadak kecewa, karena harus berjuang mati-matian dari awal bersama pasangannya.
Riri tersenyum sopan. "Saya pesannya nanti dulu Mas, boleh?"
"Boleh, Mbak." Pria itu mengangguk, masih dengan senyum ramah yang menghiasi wajahnya.
Mungkin dia berpikir bisa memikat Riri dengan senyuman ramahnya itu? Ceh, jangan berharap lebih! Riri tidak mudah terpengaruh oleh pesona cowok ganteng dari belahan dunia mana pun.
"Oh, iya, Kak Nayla-nya ada di sini, nggak?"
Dengan dahi mengerut, pria itu menjawab, "Ada, Mbak."
"Tolong dipanggilin, bisa?" pintanya dengan sopan, tak lupa senyum manis yang kemudian dibalas dengan anggukan.
Riri melihat-lihat sekitar restoran itu yang masih sepi pengunjung. Memang belum waktunya jam makan siang, jadi ia bisa memakluminya. Restoran ini memang menargetkan para pekerja kantor yang gedungnya berada tak jauh dari sini.
Riri memeperhatikan interior restoran ini yang menarik minatnya. Desain-desain cantik dan elegan, ditambah beberapa tanaman yang menghias setiap meja, membuat kesan indah, rapi, dan fresh secara bersamaan. Nayla sengaja menggunakan desain seperti ini, guna meredam sedikit stres yang mungkin dialami para pekerja kantoran yang menjadi pelanggan tetap restorannya.
Tanpa sadar, Riri menghabiskan banyak waktu untuk melihat-lihat saja. Dia melirik bagian pelayan. Ada beberapa pelayan yang kini saling berbincang akrab, tak terkecuali pelayan yang tadi menanyainya.
Riri mengernyitkan dahi, melihat jam dinding, kemudian kembali menatap pelayan itu lagi.
Gue dicuekin, nih, ceritanya?
Ia menatap pelayan itu sekali lagi, tapi tatapannya terhenti pada seorang pelayan wanita yang kini menatapnya dengan berani. Dari tatapannya, ada sekelumit rasa kesal dan benci yang menguar hingga membuat Riri bergidik ngeri.
Siapa sih itu orang? batinnya bertanya, tapi ia tak bisa menemukan jawabannya.
Penyakit lupa pada wajah orang yang hanya sekali dua kali ditemuinya tanpa kesan berarti, membuat ia gagal mengenali nama banyak orang yang berlalu di sekitarnya. Bahkan di saat yang sangat dibutuhkan seperti sekarang, dia tidak bisa menemukan siapa nama yang tepat untuk pelayan wanita yang kini kembali berbincang dengan rekan-rekan kerjanya.
Namun, tidak seperti saat menatapnya. Wanita itu kini terlihat manis, layaknya seorang perempuan lemah dan pemalu pada umumnya. Seperti sosok malaikat manis berwujud manusia.
Riri mengernyitkan dahi. Selama ini, dia yakin tidak pernah punya musuh. Dia selalu berusaha menghindari masalah, dia juga menghindari keramaian, dia bahkan jarang berteman.
Dengan sifat nyentriknya itu, dia bahkan ragu ada yang mau berteman dengannya alih-alih menatapnya jijik dan penuh keheranan. Walaupun pada kenyataannya, dia memiliki segelintir teman dan salah satunya pemilik restoran ini, Nayla.
Riri menatap wanita itu sekali lagi, sebelum mengendikkan bahu tak acuh. "Kalau emang gue pernah bikin salah sama dia, gue pasti bakal ingat, kan, ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Riri kemudian menoleh ke arah pintu dapur yang tiba-tiba saja terbuka. Damian keluar dengan pakaian casual yang membuat Riri menyipirkan matanya, sebelum melambaikan tangan bak orang gila.
"Dami!" teriaknya yang sukses membuat semua orang di dalam restoran itu langsung menoleh ke arahnya.
Damian menoleh, terlonjak kaget saat melihat Riri berada di sana, lalu kepalanya menggeleng lemah. Damian melangkah mendekati Riri dan duduk di kursi yang berhadapan dengan wanita itu.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Damian, nada suaranya terdengar tidak bersahabat sama seperti biasa.
"Kangen sama Kak Nayla." Sebelah tangannya terangkat, menutupi sisi mulutnya kemudian berbisik, "Gue mau nanya, dia udah isi apa belum?"
"Dasar setan!" umpat Damian sembari melotot tajam. "Kalau lo mau nanya masalah kayak gitu, kenapa malah duduk nggak jelas di sini? Kenapa nggak nyuruh pelayan manggilin Nayla langsung biar masalah lo di sini cepet selesai, ha?"
Riri cemberut, diomeli Damian memang bukan kali pertama, tapi tetap saja rasanya menyebalkan. Jemari tangannya menunjuk ke arah jejeran pelayan yang langsung syok saat Riri menunjuk mereka.
"Noh, lihat! Gue udah minta sama mereka, tapi gue malah dikacangin kayak patung lilin nggak berguna di sini. Mereka nggak tahu apa, gue itu Aryiella Garcia, calon novelis terkenal Indonesia. Mereka malah ngacangin gue kayak gue bukan siapa-siapa."
"Emang sekarang lo siapa?" Damian mendengkus kasar, sambil memutar bola matanya bosan.
Riri nyengir kuda dan hal itu membuat Damian menghela napasnya kasar. Kepala pria itu menoleh ke arah jejeran pelayan yang kini melirik mereka takut-takut, tapi satu ekspresi aneh ia temukan di antara mereka dan hal itu membuat Damian mengambil kesimpulannya sendiri.
"Langsung masuk aja ke dapur, Nayla lagi sibuk nugas, jangan diganggu yang aneh-aneh!"
"Siap, Bos!" Riri memandangi damian sekali lagi. "Terus, lo kenapa nggak bantuin Kak Nayla kalau dia lagi sibuk?"
"Gue mau keluar," balas Damian, sudah berdiri, tapi Riri juga ikut berdiri.
"Bilang aja mau pergi kencan, ceh! Gue masuk, ya, makasih izinnya!" teriak wanita itu yang langsung melesat menuju pintu dapur, meninggalkan Damian yang langsung diabaikan begitu saja di sana.
Padahal, niatnya ingin meninggalkan Riri lebih dulu. Kenyataannya, dia yang duluan ditinggalin di situ.
***
"KAK NAYLA!" teriak Riri disusul pelukan erat yang membuat Nayla merasa sesak napas, padahal wanita itu sedang menjawab panggilan Raffa yang menjemput anaknya di seberang sana.
Semua koki yang ada di dapur dibuat menoleh, Nando yang memang tahu jika ada manusia sejenis Riri pun langsung menyeletuk, "Heh, Nayla bisa mati kehabisan napas itu!"
"Eh, iya?" Riri melonggarkan pelukannya dan Nayla bisa menghela napas lega.
Ditatapnya adik tingkatnya itu dengan pelototan tajam. "Tahan dulu omongan lo, gue lagi ngomong di telepon."
Riri cemberut, tangannya bersedekap dada, dengan kepala membuang muka. Nando yang melihat kelakuan Riri hanya bisa nyengir kuda, sedang Nayla melanjutkan panggilannya yang sempat tertunda.
"Lo bawa Evan ke sini aja. Gue emang sibuk, tapi gue masih bisa ngurus dia sambil ngawasin dapur. Oh, ya, sekalian aja ambil album fotonya sekarang, kalau lo mau sibuk-sibukan. Riza juga lagi nggak ada kerjaan di luar."
Riri mengernyitkan dahi. Evan akan kemari? Evan, bocah berusia lima setengah tahun dengan ekspresi datar yang menurut Riri sangat menggemaskan. Dia ikhlas jadi babby sitter anak itu kalau Nayla mengizinkannya.
"Good, gue tungguin lo di sini. Bawa anak gue-nya hati-hati! Inget, kalau sampai kenapa-kenapa sama Evan, elo gue cincang ntar malam!"
Nayla memutus sambungan telepon dan menatap Riri yang kini sedang memasang ekspresi ceria. "Kenapa ke sini dan nyariin gue sampai mau bunuh gue segala?"
"Astaga, yang tadi enggak sengaja." Riri nyengir kuda. "Evan mau ke sini, Kak?"
"Iya, dia biasanya di sini. Nanti mungkin main sendiri. Gue lagi sibuk, Ri, sibuk banget. Damian izin, belum lagi resto bakal rame-ramenya nanti!"
"Di luar masih sepi, tuh!"
"Kan nanti, sayangku!"
"Iya, iya, ya udah, si Evan biar main sama gue aja entar, ya? Gini-gini juga, gue pengin rasain gimana rasanya punya anak."
Nando yang sejak tadi menyimak ikut bicara, "Kalau mau punya anak, ya, bikin anak aja sana!"
"Enak aja mulut lo kalau ngomong, Om!" Riri meleletkan lidahnya pada Nando yang tertawa terbahak-bahak.
Nayla tersenyum miring. "Nan, mana mungkin Riri bisa punya anak kalau dia lepas perawan aja kagak mau!"
"Idih, emang apa enaknya lepas perawan? Enakan juga jadi perawan tua, single selamanya, nggak perlu ngurus rumah tangga, nggak ada yang bakal ngelarang macam-macam dan bisa ngelakuin apa aja. Termasuk bisa gebetin semua cowok tampan yang ada di dunia ini tanpa ada satu pun yang marah—"
"Ehem!"
Dehaman itu membuat Riri menoleh. Seorang pria dewasa dengan kemeja putih panjang yang dilipat sampai lengan, dasi bergaris-garis merah hitam, dan celana bahan berwarna hitam. Di sebelahnya ada bocah laki-laki yang kini berlari menghampiri Nayla dan memeluk kaki kakak tingkatnya itu dengan erat.
Tanpa sadar, senyum di bibirnya merekah. Dia menarik tangan bocah itu hingga berhadapan dengannya yang sudah duduk bertumpu di atas lantai, lalu berkata, "Hai Ganteng, masih ingat sama Tante, nggak?"
Evan memiringkan kepala dan dengan polosnya dia bertanya, "Siapa, ya?"
Riri cemberut. Nayla menahan tawa. Nando sudah terbahak di tempatnya.
"Evan jahat, dih, masa Tante udah dilupain gitu aja!" rajuknya sambil membuang muka.
"Tante ngambekan, kayak anak kecil. Jangan ngambek dong, Tante, nanti Evan nangis, lho!" bujuk Evan sembari menarik kepala Riri agar kembali menatap wajahnya.
Sedangkan Raffa hanya menatap interaksi mereka berdua dengan tatap penasaran. Wanita di hadapan Evan membuatnya teringat akan seseorang, tapi ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas.
Pakaian santai dengan kaus pendek, gelang rajut di tangan kiri, celana jin hitam panjang, dan rambut lurus sepunggung berwarna hitam membuat keningnya berkerut.
Penampilannya biasa saja, tapi kenapa gue ngerasa kayak nggak asing sama dia, ya?
"Tumben cepet banget?" Pertanyaan itu membuat Raffa menatap Nayla.
"Gue ada rapat bentar lagi."
"Ya udah, sana pergi!"
Raffa berdecak kesal. Dia langsung diusir tanpa dikasih makan atau minum dulu. Padahal dia yang menjemput Evan dan mengantarnya kemari dengan selamat.
Raffa melangkah pergi, tapi ia kembali menoleh ke belakang dan melihat wanita yang tampak tak asing dalam ingatannya itu.
Apa gue pernah ketemu sama dia, ya? Tapi di mana ... kenapa dia juga kayak nggak pernah ketemu gue sebelumnya?
Anda Mungkin Juga Suka





