
SUAMIKU MANTAN PACAR, PACARNYA MANTANKU
Bab 3
Sudah dua bulan lebih Talitta menetap di kota kembang Bandung, keadaan hatinya cepat membaik, lebih cepat dari dugaannya, mungkin karena kota ini memiliki beberapa tempat yang bisa menjadi healing terbaik, juga pertemuan dengan Birly, Sera dan Hasya pun sangat mempengaruhi Talitta.
Perkuliahan Talitta pun sudah berjalan 1 bulan lebih, takdir begitu baik, karena ia selalu Bersama Birly, Sera dan Hasya yang kebetulan mengambil jurusan yang sama dengannya.
Saat ini Talitta, Birly, Sera dan Hasya sedang on the way pulang, tadinya mereka berniat nonton dulu di bioskop, namun Talitta mendapatkan kabar bahwa kedua orang tuanya sedang dalam perjalanan menuju rumah tantenya yang menjadi tempat tinggal Talitta, Sontak mereka pun mengundur jadwal nonton mereka menjadi minggu depan.
" Makasih ya udah anter, Sorry gara- gara aku kalian gak jadi nonton !" ucap Talitta menyesal.
" Gak apalah, santai bisa minggu depan kok !" ucap Sera yang di angguki Hasya dan Birly.
" Ya udah kita balik ya, bye Litta !" ucap Birly membuat Talita berdadah pada mereka.
Talitta pun masuk kedalam rumah, dan benar saja ada mobil sang ayah juga sang tante di sana, Talita setengah berlari memasuki rumah .
" Sore, Bunda, Ayah, Tante Jihan, Om Wastu !" ucap Talita senang menatap mereka hadir disana, Talitta berhambur memeluk dan menyalami mereka satu persatu.
" Kangen banget !" ucap Talitta senang.
" Haha iya sayang , Bunda juga kangen banget sama kamu , gimana kabar kamu ?" tanya Devia bunda Talita.
" Baik Bunda hehe !" jawab Talitta sambil bergelayut manja memeluk sang bunda.
" Betah disini Tal ?" tanya om Wastu.
" Betah banget Om, disini lebih asik dari Jakarta !" jawab Talitta antusias.
" Hahah, syukurlah kalau begitu !" ucap Om Wastu.
Kemudian mereka melanjutkan pembicaraan mereka melepas rasa rindu mereka, begitu pun dengan Gensa dan kedua orangtuanya. mereka pun makan malam bersama dan menonton tv bersama sambil bercanda diselingi tawa.
" Tal, ada hal yang ingin Kami sampaikan pada Kamu !" ucap Gibran sang ayah .membuat Talita menatap sang ayah .
" Hal apa, Ayah ?" tanya Talitta.
" Ayah akan menjelaskan, Tapi Talitta janji nggak boleh marah dan nggak boleh potong penjelasan Ayah sebelum Ayah selesai bicara!" ucap Sang ayah sangat lembut pada Talitta.
Gensa menatap kepo pada mereka , ia memilih menyimak seperti yang dilakukan mama papa nya.
" Ayah dan Bunda tahu penyebab kamu memilih pindah ke Bandung, karena kekasih kamu Yuda kan ?" tanya sang Ayah membuat Talitta kaget namun tetap mengangguk.
" Kami khawatir saat mendengar kabar itu nak, khawatir Kamu sedih, terluka, yang paling Kami khawatirkan, Kami takut Kamu dirusak oleh seorang Pria macam Yuda, Sebab itu Kami memutuskan satu keputusan yang menurut Kami baik untuk Kamu, Nak, !" ucap sang Ayah serius membuat Talita was-was.
“Jangan-jangan Ayah mau aku ikut mereka lagi? oh tidak, aku sudah nyaman di Bandung,” ucap Talita dalam hatinya.
" Kami berniat menjodohkan Kamu dengan Pria pilihan Kami !" ucap sang ayah bagai petir di siang bolong bagi Talita , begitupun Gensa yang melotot kaget mendengar kabar itu.
" Hah ?" respon Talitta.
" Iya sayang, Kami mendengar kabar Kamu di sakiti lelaki brengsek , takut jika kamu akan bertemu lagi Pria brengsek lainnya , untuk itu kedua orang tuamu sebulan lalu mengajak Kami berunding, akhirnya Kami temukan Pria yang pas untuk kamu Ta," ucap Om Wastu.
" Mau ya sayang , nurut sama Kami, agar kami tidak khawatir disana !" mohon sang Bunda membuat Talita berpikir dengan wajah yang masih shock.
" Tapi Talitta masih muda lho!" ucap Talitta ingin menolak.
" Sudah lebih dari 17 Tahun sayang !" ucap tante Jihan.
" Memang siapa Pria nya ?" Tanya Gensa bukan Talitta.
" Besok kita akan bertemu dengan Pria tersebut dan keluarga nya, mau ya Tal ?" Mohon sang Bunda menggenggam tangan Talitta.
“ Tapi Bunda, Talita baru 19 tahun loh,” ucap Talita kembali memberikan penolakan halus.
“ Ya nggak apa-apa, daripada pacaran kan? capek hati, mending nikah, halal seru loh pacaran abis nikah, Om Wisnu sama Tante juga dulu dijodohkan,” ucap tante Jihan membuat Talita melirik sang tante dengan wajah bingung.
" Ya udah, terserah Ayah dan Bunda saja, Talitta ikuti saja mau kalian !" ucap Talita pasrah membuat mereka semua bahagia mendengar jawaban Talita, namun Gensa justru menatap Talita iba.
Malamnya Talita merenungkan nasibnya, ia berfikir kenapa bisa Takdirnya tiba-tiba menjadi seperti ini, dijodohkan di usia 19 tahun,bukankah gadis seusianya seharusnya masih harus dibebaskan, lalu kenapa dia harus diikat dan terikat dalam sebuah pernikahan, ia pun khawatir apakah benar calon suaminya adalah pria baik, jujur saja Talita masih trauma untuk menjalin sebuah hubungan apalagi pernikahan.
Keesokan harinya , jam 11 siang Talita sedang dalam perjalanan menuju sebuah Restoran yang menjadi tempat pertemuan dengan calon suaminya, Talitta pun sudah didandani cantik oleh sang tante, Talita mengenakan Dress selutut model sabrina berwarna Salem, sangat cocok di kulit Talitta yang putih bersih.
Setibanya di restoran tersebut Talitta menyerngit saat melihat orang yang ia kenal, matanya memicing memastikan , dan langkah kedua orang tua Talita terhenti di meja yang diisi oleh orang tersebut.
" Hallo, maaf kami telat !" ucap bunda Devia sambil memeluk Wanita yang mungkin seumuran dengan bunda Devia.
" Enggak kok, kami baru 15 menit yang lalu sampai disini," ucap Nikita wanita yang Devia peluk.
" Lancar Dev penerbangan kalian kemarin?" tanya Ayah Talitta pada Devan yang merupakan suami dari Nikita.
" Alhamdulilah lancar !" jawab Devan.
" Hay Talitta, masih ingat Om dan Tante gak?" Tanya Nikita pada Talita, Talita mengingat mereka sambil menyalami mereka.
" Hahah lupa dia kayanya !" ucap Ayah Talitta.
" Ini Tante Nikita sama Om Devan !" ucap bunda Devia mencoba mengingatkan Talitta.
" Oh iya, maaf saya lupa !" ucap Talita canggung.
" Nah kenalin ini anak sulung Tante, namanya Davaro !" ucap Nikita senang.
" Nah Davaro ini Tal ...!"
" Talita Prameswari Hadiarga !" ucap Davaro.
" Lho, Kamu sudah tahu nama Talita ?" tanya Devan sang ayah.
" Udah kenal, dia teman nya Birly, adiknya Bara !" ucap Davaro datar membuat Talita menunduk canggung.
" Wohaha, Jadi udah kenal, ya udah, gak susah kalau gini ya !" ucap Nikita senang menatap Devia yang sedang tersenyum juga kepada Nikita.
" Nah, Varo, Talita ini wanita yang mama jodohkan sama Kamu !" ucap Nikita membuat atensi Talita beralih padanya.
" Iya sayang, Pria yang Kami jodohkan dengan Kamu ini, Davaro !" ucap bunda Devia membuat Talita melotot kaget.
" Hah ?" Talita shock mendengarnya.
" Kenapa? nggak ada penolakan ya, kalian udah kenal lho, jadi gak susah kan buat pendekatan !" ucap Nikita cemberut.
" Siapa yang nolak, Mah ?" tanya Varo datar pada sang mama, sedangkan Talita masih terdiam shock di tempat.
" Jadi kapan fix nya?" tanya Devan pada Gibran, membuat Gibran menatap sang istri.
" Saya sudah membuat undangan, 3 minggu lagi tepatnya tanggal 28 mei, !" ucap Devia.
" Oke siap, kalau soal Catering udah ?" tanya Nikita.
" Nah itu belum, yang sudah ready dekorasi, rias dan tempat udah Ready, tinggal catering saja !" ucap Devia membuat Talita menyerngit dengan wajah kagetnya.
" Ya sudah besok kita cari bareng ya cateringnya, masalah baju Habis ini kita le butik Adik ku ya,fitting !" ucap Nikita di angguki Devia.
" Varo, senin kamu urus surat-surat ke KUA ya, minta bantu rt setempat !" ucap Devan ayah Davaro.
" Iya Pah !" jawab Davaro singkat , matanya melirik Talita yang masih mencerna semuanya.
" Tanggal 28 mei ada apa Bunda ?" Tanya Talita.
" Pernikahan kalian Sayang !" ucap Devia sambil membelai rambut Talita sayang.
" Kok cepat banget ?" protes Talita dengan wajah melongo kaget.
" Lebih cepat kan lebih baik cantik !" ucap Nikita sambil menoel dagu Talita
“Seolah kalian mempersiapkannya sudah dari lama, sebelum bicara sama Talita? gimana kalau Talita nggak mau? kok malah udah sampai mencari tempat dan dekorasi rias segala?” tanya Talita agak kesal.
“Mau nolak juga, tetap akan kami nikahkan kamu,” ucap sang bunda membuat Talita melongo menatap sang bunda, membuat Nikita terkekeh geli menatap Devia.
Talitta menatap Davaro meminta pertolongan dia untuk setidaknya menolak atau mengundur, gila saja sebulan kurang lagi status Abg nya berubah menjadi seorang istri, namun Davaro hanya menatap datar Talita membuat Talita mendengus kesal .
“Patung dasar,” umpat Talita dalam hatinya.
Kemudian mereka setelah kesepakatan tanggal selesai, saat ini mereka menuju butik adik Nikita untuk fitting baju pernikahan, Talita dipaksa ikut mobil Davaro oleh sang bunda membuat Talitta mau tak mau ikut dengan Davaro, di perjalanan pun Talitta hanya diam begitu juga Davaro. Akhirnya Talitta yang jengah pun bersuara.
" Kenapa Mas Varo gak nolak perjodohan ini?" tanya Talita ketus.
" Ya kenapa nggak kamu aja yang nolak?" tanya Davaro balik membuat Talita kesal.
" Yaa susah, orang tua saya maksa keukeuh , Mas Varo saja yang batalin !" ucap Talita memaksa.
" Tidak bisa, kamu pikir setelah saya gagal bersama Elsa, kedua orang tua saya bakal percaya saya lagi?" tanya Davaro membuat Talitta terdiam bingung.
“Ya bukan urusan saya lah,” ucap Talita kesal, namun Vatro diam tak menanggapi ucapan Talita.
" Terus harus gimana!" pasrah Talitta.
" Turutin mau mereka !" ucap Varo santai.
" Dan terima saya sebagai suami kamu !" gumam Varo dalam hatinya.
"Ya tapi, aku msih muda buat nikah cepet-cepet ," kesal Talitta
"Berapa usia kamu?" tanya Varo sambil fokus menyetir.
"19 tahun, masih pitik tau nggak" jawab Talita ketus membuat Varo kaget.
"Astaga Varo lupa kalau Talita seusia Birly," Varo bermonolog dalam hatinya
Namun sesaat kemudian Varo tak mau memusingkan masalah usia Talitta, yang penting Talitta cantik dan bukan wanita semacam Elsa.
“Nah pikir, Mas Varo berapa usianya? pasti udah lebih dari 25, mikir aja deh, ngapain coba nikah sama bocah,” ucap Talita.
“Aku jajannya banyak, bakal bangkrut kalau nikah sama aku,” ucap Talita pada Varo.
“Oh ya? sebanyak apa? kita lihat saja nanti,” ucap Varo kalem membuat Talita menatapnya kesal.
“Batalin buruan,” ucap Talita setengah berteriak.
“Tidak akan,”
Anda Mungkin Juga Suka





