Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Karakter Game

Suamiku Karakter Game

Arabella adalah gadis dua puluh tahun yang belum pernah merasakan cinta selain dari simulasi gim. Kehidupannya yang membosankan berubah total saat karakter pria favoritnya tiba-tiba muncul di dunia nyata dengan fisik sempurna. Ara terkejut ketika pria itu memanggilnya istri. Ia bimbang apakah ini halusinasi akibat kesepian atau keajaiban. Kini, ia hanya berharap sosok tersebut tetap tinggal dan tidak meninggalkannya kembali ke dunia fiksi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tanpa pikir panjang, Ara berlari menuju gerbang sekolah. Tangannya gemetar saat ia berusaha menutup pagar sekolah dengan tergesa-gesa, berharap itu cukup untuk menghentikan para zombie yang mengejarnya. Suara derit pagar yang tertutup terdengar memekakkan telinga, tapi itu tidak menenangkan hatinya.

Napasnya terputus-putus, dan tubuhnya bergetar karena ketegangan. Namun, ketakutannya semakin memuncak ketika ia melihat apa yang terjadi di balik pagar.

Para zombie, meskipun tampak tanpa akal, mulai menunjukkan tekad yang luar biasa. Mereka saling tumpuk, memanjat tubuh satu sama lain, berlomba-lomba menjadi yang pertama melewati pagar.

"Mereka ini dibilang bodoh, tapi pintar!" gumam Ara dengan wajah penuh kekhawatiran.

Tanpa membuang waktu lagi, ia melanjutkan larinya ke dalam gedung sekolah. Suara langkah kakinya menggema di koridor yang sunyi. Ara membuka pintu salah satu kelas dan segera menutupnya rapat-rapat. Jendela kelas juga ia kunci dengan tangan yang gemetar.

Setelah memastikan semuanya tertutup, Ara terduduk lemas di salah satu meja kelas. Tangannya memegang kepalanya yang terasa berat, dan air mata mulai mengalir tanpa ia sadari.

"Ini salahku ... semua ini salahku!" gumamnya lirih, suara penuh dengan rasa penyesalan. "Andai saja aku tidak pernah mengatakan hal itu ...."

Air matanya semakin deras. Di luar, suara geraman dan dentuman terus terdengar, seperti dunia perlahan-lahan runtuh di sekitarnya. Ara merasa terjebak dalam mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri.

Prang!

Suara kaca pecah memenuhi ruangan, memecahkan kesunyian yang tersisa. zombie-zombie itu menghancurkan jendela dengan cara membenturkan kepala mereka ke kaca, menciptakan pemandangan yang semakin mencekam.

Ara, yang sempat terduduk lemas, kini bangkit dengan cepat. Panik, ia meraih sebuah kursi yang terdekat dan melemparkannya ke arah zombie yang mulai merangsek masuk. Kursi itu menghantam salah satu dari mereka, membuatnya terjatuh. Tapi jumlah mereka terlalu banyak-Ara tahu ini bukan tempat yang aman lagi.

"Aku harus pergi!" pikirnya dengan napas yang memburu.

Ara berlari keluar dari kelas, melesat melewati koridor yang kini terasa seperti labirin tanpa akhir. Kakinya melangkah naik, menaiki tangga satu per satu, sementara suara geraman dan langkah-langkah berat zombie terus membuntutinya.

Saat tiba di depan pintu menuju atap sekolah, Ara tanpa ragu membukanya. Ia melangkah keluar ke udara siang yang sejuk, lalu segera mengunci pintu dari luar. Dengan tubuh yang gemetar, ia bersandar pada pintu, menahannya sekuat tenaga.

Pandangan Ara menyapu atap sekolah yang luas. Tak ada tempat untuk bersembunyi, hanya langit cerah dan angin yang sejuk menerpa kulitnya. Hatinya dipenuhi kebingungan dan ketakutan.

"Kenapa sekolah ini begitu sepi, tapi pintu-pintu dan pagar tidak terkunci? Bahkan kuncinya masih tergantung di gagang pintu ...," pikirnya, mencoba memahami situasi yang tidak masuk akal ini.

Brak!

Brak! Brak!

Zombie-zombie itu mulai menghantam pintu, mencoba memaksa masuk. Getaran dari hantaman mereka terasa hingga ke punggung Ara yang menahan pintu. Napasnya makin cepat, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

"Tolong ... berhenti ...," bisiknya pelan, seperti doa yang tidak akan didengar.

Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Tekanan di balik pintu semakin besar, hingga akhirnya ....

Brak!

Pintu itu terbuka paksa. Tubuh Ara terempas ke lantai, terdorong oleh kekuatan gerombolan zombie yang berhasil masuk. Dengan mata terbelalak, ia menatap ke arah gerombolan makhluk mengerikan itu yang kini memenuhi atap, langkah mereka mendekat tanpa ampun.

Ara berlari dengan napas memburu hingga mencapai ujung atap sekolah. Langkah kakinya terhenti mendadak saat ia menyadari bahwa tidak ada lagi tempat untuk lari. Di depannya, hanya ada jurang menuju tanah yang dipenuhi zombie yang bergerombol menunggunya di bawah, mulut mereka menganga seolah siap menyambut tubuhnya.

Panik, Ara menoleh ke sekeliling, mencari sesuatu-apa saja-yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Matanya tertuju pada kakinya, lalu sandal hitam yang selama ini menemaninya menarik perhatian.

Dengan tekad yang tersisa, ia melepaskan sandal dari kakinya dan melemparkannya dengan keras ke arah zombie terdekat. Sandal itu menghantam kepala salah satu zombie, membuat makhluk itu tersentak dan mundur sedikit.

"Setidaknya berguna juga," gumam Ara dengan sarkas, meski hatinya berdebar kencang.

Kemudian, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di atap-sebatang pipa plastik panjang. Ia segera meraih pipa itu dengan tangan gemetar, menggenggamnya erat-erat seperti senjata terakhir di dunia yang sudah hancur ini.

Dengan langkah mundur yang mantap, Ara mengayunkan pipa itu ke arah zombie pertama yang mendekat.

"Kyaaa!" teriaknya sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Pipa itu mengenai kepala zombie dengan keras, membuat makhluk itu terhuyung ke belakang.

Semakin banyak zombie yang mendekat, semakin liar gerakannya. Ara memutar pipa itu seperti tongkat baseball, mengayunkannya dengan kecepatan yang mencengangkan. Suara pukulan terdengar berulang kali, menandai perjuangan gadis itu melawan gerombolan tanpa henti.

"Kalian pikir aku akan menyerah semudah itu?! Tidak semudah itu, dasar makhluk menjijikkan!" serunya, penuh amarah yang bercampur ketakutan.

Gerakannya yang spontan namun lincah membuatnya tampak seperti seorang ahli pedang yang sedang bertarung di medan perang, menghabisi musuh satu per satu. Setiap ayunan pipa itu adalah perlawanan terakhir dari seorang gadis yang menolak menyerah pada nasib.

Namun, meskipun ia bertahan, jumlah zombie yang terus bertambah mulai membuat napasnya terengah-engah. Ara tahu, waktunya tidak banyak.

Sementara itu, gerombolan zombie terus merangsek maju, semakin mendekat ke arah Ara. Desakan demi desakan membuat gadis itu perlahan mundur, langkah kakinya terhenti setiap beberapa detik untuk mengayunkan pipa yang ia genggam. Napasnya semakin berat, dan rasa panik kian mencengkeram hatinya.

Namun, tanpa ia sadari, langkahnya membawa dirinya semakin dekat ke tepi atap.

"Kyaaaaa!"

Teriakan Ara menggema di udara saat ia kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terjatuh dari tepi atap. Seketika, dunia seolah melambat.

Tubuhnya tertarik gravitasi, meluncur bebas menuju tanah. Angin siang menerpa tubuhnya dengan kencang, membuat rambut panjangnya berkibar liar di udara. Matanya terpejam rapat, dan seluruh hidupnya seakan berputar dalam benaknya.

"Apa ini akhirnya? Ini ... akhir hidupku?" pikir Ara dengan perasaan bercampur aduk.

Hatinya dipenuhi penyesalan, ketakutan, dan kepasrahan. Jatuh dari ketinggian bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan akan menjadi akhir dari segalanya. Ia ingin menangis, tapi air matanya terasa terjebak di sudut mata, tertahan oleh rasa syok yang membekukan tubuhnya.

Sementara itu, suara geraman zombie dari atas terasa semakin jauh, digantikan oleh desiran angin yang seolah menjadi lantunan lagu perpisahan bagi dirinya.

Dalam detik-detik yang terasa seperti selamanya, Ara hanya bisa menunggu-menunggu akhir yang tak terhindarkan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FHN" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FHN
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antagonist Girl
8.2
Arlan memenuhi setiap sudut apartemennya dengan foto seorang wanita demi menjaga ingatan agar tidak pudar barang sejenak pun. Tindakan ini bukan sekadar obsesi, melainkan bentuk ketakutan mendalam akan kehilangan memori tentang sosok tersebut. Sementara itu, Vellice hadir sebagai manusia dari dimensi berbeda yang justru sangat menikmati perannya sebagai antagonis. Kisah ini mengikuti ikatan unik mereka di tengah benturan dunia modern dan fantasi.
Sampul Novel Gue Bukan P*****
9.0
Dana terjebak dalam dilema moral yang berat akibat tuntutan sistem aneh yang mengikatnya. Ia sangat murka dan mengutuk perintah sistem yang menargetkan seorang gadis di bawah umur untuk misi tertentu. Meski merasa sangat muak dan menolak keras tuduhan sebagai pedofil, Dana merasa tidak berdaya untuk melawan otoritas sistem tersebut. Sambil meratapi nasibnya yang tragis, ia terpaksa mengikuti alur permainan gila ini tanpa bisa mengelak sedikit pun.
Sampul Novel Hati Alpha yang Terlambat
7.9
Vanessa Price rela mengorbankan sumsum tulangnya demi Timothy Oliver, tanpa menyadari itu hanyalah bagian dari 100 rencana balas dendam kejam sang pria. Selama empat tahun, Timothy menyiksa Vanessa demi membela ibu tirinya, Bryanna. Namun, penyesalan mendalam baru datang saat Timothy menemukan jasad Vanessa beserta tes kehamilan di reruntuhan tambang. Kini, Vanessa bangkit untuk melawan balik segala tipu daya cinta yang telah menghancurkan hidup dan kariernya.
Sampul Novel Kebohongan Sang Alfa, Pemberontakan Sang Omega
8.4
Kebahagiaan Omega ini hancur saat memergoki Alpha Baskara bersama wanita lain dan seorang putra rahasia. Ternyata, pernikahan mereka hanyalah alat politik yang dirancang oleh Baskara dan orang tua angkatnya. Meski dikhianati dan disebut pajangan, ia tetap tenang saat Baskara berpura-pura rindu. Di balik amarah yang membeku, ia menyiapkan pembalasan. Sebuah kristal berisi rahasia busuk mereka akan segera mengungkap kebenaran di tengah pesta akbar.
Sampul Novel Kekasih Dari Dunia Lain
9.0
Pasca putus dari Kevin, Vania yang putus asa nyaris mengakhiri hidupnya di jembatan. Namun, Rangga hadir menyelamatkannya dan langsung menyatakan cinta. Meski bahagia, Vania tak tahu bahwa Rangga sebenarnya adalah hantu yang menyembunyikan identitas aslinya. Rahasia ini terbongkar saat Viola mengungkap kebenaran di rumahnya. Kini Vania terjebak dalam dilema besar. Sanggupkah ia bertahan dengan kekasih beda dunia, ataukah ada pria lain yang hadir menggantikannya?
Sampul Novel Ksatria Naga Phoenix
8.3
Ramalan kuno di Benua Arkandaria memperingatkan kemunculan Naga Langit yang akan membawa kiamat. Hanya Ksatria Naga Phoenix yang mampu menghentikannya, namun sosok sakti ini hanya dianggap dongeng. Zhu Fei, putra Panglima Zhu Lei, diramalkan menjadi ksatria pertama tersebut. Di usia lima tahun, ia harus menjalani latihan berat di Pulau Pek Long demi memenuhi takdirnya. Akankah ia berhasil mencegah kehancuran dunia atau ramalan itu tetap menjadi legenda?