Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Detektif Berdarah Dingin

Suamiku Detektif Berdarah Dingin

Seorang detektif terjebak dalam skenario kasus rekayasa yang ternyata merupakan ujian dari wanita misterius. Ia diberikan misi khusus untuk mendekati dan menikahi seorang gadis muda. Targetnya bukan orang biasa, melainkan putri tidak sah dari pria terkaya di negeri ini. Sang detektif kini harus berjuang menaklukkan hati gadis tersebut demi menuntaskan tugas rahasianya di tengah konspirasi besar yang menyelimuti identitas sang pewaris takhta.
Bab
Bagikan

Bab 2

Fajar menyingsing, menandai datangnya hari baru di rumah besar yang tak terawat di pinggir kota. Matahari perlahan-lahan muncul di balik hamparan pepohonan, cahayanya menyelinap melalui celah-celah jendela yang tak terawat, menyoroti sosok Carly yang tengah duduk di sofa kulit yang usang.

Wajahnya tampak pucat dan matanya sembap dari malam yang dihabiskan untuk menangis. Rambut coklat panjangnya tampak berantakan dan kasur di lantai atas tak tersentuh, memberi tanda bahwa dia tidak tidur semalam.

Bel rumah tiba-tiba berdentang, memecahkan kesunyian yang tampak seperti pembungkusan rapat di sekeliling Carly. Kedengarannya luar biasa keras di rumah besar dan sepi itu, membuat Carly langsung terlonjak dari sofa, dan detak jantungnya seketika melonjak.

Belum pernah ada tamu yang datang ke rumah itu sejak Carly tinggal sendiri, membuatnya merasa was-was. Pikirannya langsung terpaku pada pesan telepon semalam, apakah ini calon suaminya yang dipilihkan?

Tanpa berpikir panjang, dia meraih pemukul baseball yang ada di dekat pintu - satu-satunya alat pertahanan yang dia miliki. Dia membuka pintu dengan hati-hati, pemukul baseball tertahan di belakang punggungnya.

Dan berdiri di depan pintu adalah seorang pria. Dia tampak agak kaget melihat Carly, tapi sebelum dia bisa berkata apa-apa, Carly sudah mengayunkan pemukul baseball itu.

Dengan refleks yang cepat, pria itu langsung menangkap pemukul baseball, memandang Carly dengan ekspresi terkejut tapi tenang. "Whoa, easy there!" katanya, suaranya mendalam dan tenang.

Carly menatapnya, napasnya terengah-engah, mata birunya memancarkan ketakutan dan keberanian. Pria itu, Ray, memperkenalkan dirinya dengan tenang, meredam ketegangan yang ada di udara.

Dan begitulah pertemuan pertama mereka. Tidak ada yang romantis atau manis, hanya ada ketegangan dan kebingungan. Tapi mungkin itulah yang membuat pertemuan ini spesial. Ray, detektif berdarah dingin, dan Carly, anak tak diinginkan dari seorang pengusaha kaya, akhirnya bertemu. Dan dengan itu, babak baru dalam hidup mereka dimulai.

"Dari mana kamu datang? Dan siapa kamu?" tanya Carly, sambil mengendalikan napasnya yang masih terengah-engah.

Ray melepaskan pegangan di pemukul baseball, mengibas tangannya dengan ekspresi santai. "Saya Ray," jawabnya dengan suara yang tenang. "Saya baru saja pindah ke kota ini dan sedang mencari tempat tinggal sementara."

Carly memandangnya dengan curiga, tetapi ada sesuatu tentang Ray yang membuatnya merasa... aman. Dia memandang Carly dengan tatapan tenang dan tulus, membuatnya merasa seperti dia bukan ancaman.

"Oh... jadi kamu bukan pria yang akan menjadi suamiku?" tanya Carly dengan nada setengah bercanda, setengah serius.

Ray tertawa pelan, melihat Carly dengan ekspresi terhibur. "Tidak, kecuali kamu menawarkan diri, tentu saja," sahutnya dengan nada bercanda.

Carly memandangnya dengan tak percaya, sebelum akhirnya tertawa. Itu adalah tawa pertama yang dia keluarkan dalam waktu yang lama, dan itu terasa baik. Ada sesuatu tentang Ray, dengan sikap santainya dan humor kasarnya, yang membuatnya merasa sedikit lebih baik tentang situasinya.

"Mungkin saya akan mempertimbangkannya," balas Carly, masih tertawa. "Tapi hanya jika kamu bisa membuktikan bahwa kamu bukan pria yang akan menculik dan menjualku."

Ray meliriknya, sebelum tertawa. "Deal," katanya, memegang tangan Carly dan berjabat tangan. "Saya berjanji, saya bukan tipe penculik."

"Dengan kata lain," kata Carly, menggigit bibir bawahnya, "kamu mau tinggal di sini secara gratis?"

Ray mengangkat bahu, tersenyum manis. "Saya pikir kita bisa membuat perjanjian," jawabnya dengan suara datar. "Saya bisa membantu merawat rumah, atau mungkin... memasak?"

Ekspresi Carly berubah, matanya membesar sedikit. "Memasak?" ulangnya, dengan sedikit harapan dalam suaranya.

Ray tertawa, mengangguk. "Ya, memasak. Saya cukup pandai di dapur," jawabnya, senyuman mengejek bermain di bibirnya. "Jika kamu membiarkan saya tinggal di sini, saya akan memasak setiap hari untukmu. Bagaimana?"

Carly menimbang-nimbang pilihan itu, tampak berpikir keras. Kemudian, dia mengangguk, tersenyum tipis. "Deal," katanya, merentangkan tangannya.

Ray meraih tangan itu, berjabat tangan dengan Carly. "Deal," sahutnya, senyuman puas terpampang di wajahnya.

Dan dengan demikian, negosiasi itu berakhir. Ray, dengan mulut manis dan keahlian memasaknya, berhasil merayu Carly untuk membiarkannya tinggal. Ia harus memasak setiap hari, sebuah tugas yang tampaknya tidak mengganggunya. Dan Carly, yang tampaknya berharap sedikit kebahagiaan dan rasa normalitas dalam hidupnya, tampak puas dengan perjanjian itu.

Mungkin, baru pertama kali dalam hidupnya, Carly merasa ada sesuatu yang bisa dinantikan. Sesuatu yang lain selain kekecewaan dan kesedihan. Sesuatu yang berbau seperti makanan buatan Ray.

"Deal," kata Ray, menggenggam tangan Carly dengan erat.

Namun, sebelum mereka benar-benar melepaskan tangan, Carly menambahkan, "Oh, dan satu hal lagi, Ray. Tak perlu terlalu formal. 'Aku' dan 'kamu' sudah cukup."

Ray tampak terkejut sejenak, tapi kemudian dia tersenyum dan mengangguk, "Baiklah, Carly. Aku setuju."

Dan dengan itu, mereka akhirnya melepaskan tangan. Perasaan Carly campur aduk; ada rasa lega, namun juga ada kecemasan. Namun, di atas semua itu, ada kebahagiaan yang muncul, sebuah sentuhan hangat yang menggema di hatinya. Ia tak perlu lagi merasa kesepian di rumah besar itu. Sekarang, ada seseorang lain yang akan berbagi ruang dan waktu dengannya.

"Terima kasih, Ray," ucap Carly, wajahnya terasa hangat. "Aku rasa, aku sudah tak sanggup berlama-lama tinggal sendiri di rumah ini."

Ray menatap Carly dengan tatapan yang lembut dan pengertian. "Aku paham, Carly," sahutnya. "Kita akan melewatinya bersama, ya?"

Carly mengangguk, tersenyum. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi ia yakin bahwa selama Ray bersamanya, semuanya akan baik-baik saja.

***

Ray melangkah masuk ke dalam rumah, melihat sekelilingnya. Dinding-dinding yang kusam dan debu tebal di mana-mana, perabotan yang berantakan dan tak terawat, lampu yang redup. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar.

"Sepertinya kamu butuh lebih dari sekadar koki, Carly," kata Ray dengan nada sarkastik, menunjuk ke sekitar ruangan dengan ekspresi sinis. "Mungkin kamu butuh seorang pelayan, atau bahkan desainer interior?"

Carly hanya mendengus, menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa malu dan sedikit terpukul. Namun, setelah beberapa saat, dia mengangkat wajahnya dan membalas sarkasme Ray dengan yang sama.

"Setidaknya aku punya rumah, Ray," balas Carly, suaranya penuh nada sinis. "Berbeda dengan pria dewasa yang mencari kos-kosan di pinggir kota."

Ray tampak terkejut sejenak, sebelum akhirnya tertawa. "Touche, Carly," sahutnya, tersenyum mengakui kekalahan.

Mungkin, di balik debu dan kekacauan, ada sesuatu yang mulai berkembang di antara mereka: sebuah dinamika yang penuh dengan sarkasme, humor, dan kenyamanan. Sesuatu yang membuat rumah yang sebelumnya terasa sunyi dan dingin, perlahan-lahan menjadi hangat dan hidup.

Ray, dengan mata detektifnya, memeriksa setiap inci rumah itu. Setiap sudut, setiap celah, setiap perabotan, setiap benda dalam ruangan itu. Semuanya dia ingat, semuanya dia catat dalam pikirannya. Memahami lingkungan baru adalah bagian dari nalurinya, sebuah refleks yang diajarkan oleh tahun-tahun dalam pekerjaannya sebagai detektif.

Namun, ketika dia sedang sibuk memetakan interior rumah dalam pikirannya, suara Carly membuyarkan konsentrasinya. "Kau tahu, Ray," ucap Carly dengan nada bercanda, "gaya mu itu, cara kamu memeriksa sekitar... membuatmu terlihat seperti pembunuh bayaran."

Ray berhenti, menatap Carly dengan ekspresi terkejut. Ia tak menyangka Carly akan mengatakan sesuatu seperti itu. Bukan kata-katanya, melainkan intuisinya, ketajamannya. Gadis ini, Carly, lebih peka dari yang dia pikirkan.

"Wow, Carly," kata Ray, tersenyum tipis. "Kamu benar-benar memperhatikanku, ya?"

Carly tampak gugup sejenak, pipinya memerah, namun kemudian dia tertawa. "Yah, haruskan aku khawatir?"

Ray tersenyum, menggelengkan kepala. "Tidak sama sekali. Tapi aku harus hati-hati, tampaknya aku tidak bisa menyembunyikan apapun dari kamu, Carly."

Mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang baru. Mungkin, di balik penampilan Ray yang dingin dan detektif, dan Carly yang tampak lemah dan murung, mereka berdua memiliki lebih banyak kemiripan daripada yang mereka pikirkan. Dan mungkin, hanya mungkin, ini adalah awal dari sesuatu yang indah.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Babu Kumal VS CEO Kutub Utara
8.4
Terryn dikirim ibunya untuk tinggal bersama sahabat lamanya, Ibu Imelda. Meski dididik menjadi wanita berpendidikan, Terryn justru diperlakukan bak pembantu oleh Deva, putra bungsu Imelda yang dingin dan angkuh. Konflik memuncak hingga sebuah peristiwa besar memaksa mereka menikah atas keinginan Imelda. Terryn yang mencintai Deva harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya tetap tak acuh. Namun, saat Deva mulai luluh, Terryn justru pergi menjauh darinya.
Sampul Novel contract merriage with the ceo
9.0
Faza terkejut saat Demian, CEO muda yang baru saja resmi menjadi suaminya, langsung menyodorkan surat perjanjian di hari pertama pernikahan mereka. Demian menegaskan bahwa hubungan ini hanyalah formalitas demi kepentingan keluarga. Dengan ketus, ia menyatakan sudah memiliki kekasih dan melarang Faza berharap lebih. Tanpa ruang untuk membantah, Faza terjebak dalam pernikahan kontrak yang dingin tanpa cinta. Akankah hubungan tanpa kontak ini bertahan?
Sampul Novel Crossing Love
9.6
Miya Tamama adalah gadis polos yang menyimpan trauma masa kecil hingga dunianya kehilangan warna. Di tengah hidup yang kelabu, muncul Tamama Kunai, putra konglomerat sekaligus investor di sekolahnya yang memberi warna baru di hati Miya. Meski mendapat kasih sayang dari kakaknya, dokter Koko Tamama, ternyata ada pria lain yang juga mengamati Miya secara rahasia. Akankah cinta sang pewaris mampu menyembuhkan luka lama dan mengubah takdir hidup Miya selamanya?
Sampul Novel GAIRAH LIAR IBU TIRIKU
9.7
Meghan Crafson adalah mantan model dewasa yang tetap menawan di usia kepala tiga. Meski hidup bergelimang harta setelah menikahi miliarder New York, ia merasa hampa karena suaminya yang jauh lebih tua tak mampu memuaskannya. Situasi berubah saat Hardin, putra tiri yang tampan dan atletis, datang ke rumah mereka. Terpikat pesona Hardin, Meghan mulai melancarkan godaan terlarang. Hardin pun terjebak dalam dilema antara moralitas dan gairah liar yang ditawarkan sang ibu tiri.
Sampul Novel Hasrat Kakak Tiri
9.6
Bryan Alexander, CEO playboy yang berkuasa, telah menghabiskan dua belas tahun di New York demi melupakan Deanisa Melody, adik tirinya yang menjadi obsesi terbesarnya. Namun, takdir justru mempertemukan mereka kembali saat Nisa ditunjuk menjadi asisten pribadinya. Bryan yang masih terjerat perasaan mendalam kini memperingatkan Nisa untuk menjaga sikap di kantor. Di tengah batasan profesional, mampukah Bryan menahan hasratnya pada gadis yang tetap menjadi candu baginya?
Sampul Novel Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya
9.8
Dikhianati oleh Devan dan Siska, aku bertekad membalas dendam dengan mendekati Raditya, atasan Devan yang kaya. Menggunakan identitas Anya, aku menyamar jadi pengasuh putri kecilnya, Kirana. Rencanaku berjalan lancar hingga kehangatan keluarga ini mulai meluluhkan hatiku. Sosok Raditya yang penyayang dan keceriaan Kirana membuat niat jahatku goyah. Di tengah kemewahan rumah itu, kebencianku perlahan sirna dan berganti menjadi perasaan cinta yang tak terduga.