
Suamiku Detektif Berdarah Dingin
Bab 3
Melihat Carly, Ray tidak bisa menolak untuk merasa sedikit prihatin. Gadis itu tampak kurus, bahkan dalam lapisan sweaternya yang tebal. "Kamu lapar, Carly?" tanyanya, pandangannya penuh kekhawatiran.
Carly mengangguk, ekspresinya agak malu. "Ya, aku jarang makan sebenarnya," jawabnya, lalu menambahkan, "Aku biasanya hanya belanja sekali sebulan, dan aku takut memesan makanan secara online."
Ray merasa perasaannya terguncang. Ini bukan tentang misinya atau uang yang dijanjikan. Ini tentang Carly, gadis yang tampak sangat rapuh dan terasing dalam rumah mewahnya yang besar dan kosong.
Dia membuka lemari es dan melihat beberapa bahan makanan yang telah kadaluarsa. Dia membuangnya, kemudian berbalik ke Carly. "Bagaimana kalau aku masak untuk kita berdua, Carly?" tawarnya, seraya mengangkat sebelah alis.
Carly tampak terkejut sejenak, sebelum akhirnya tersenyum lembut dan mengangguk. "Itu terdengar bagus, Ray," jawabnya.
Sambil memotong sayuran untuk makan malam mereka, Ray melirik Carly yang sedang duduk di sisi lain meja dapur. "Bagaimana dengan keluargamu, Carly?" tanyanya.
Carly menatapnya sejenak, sebelum akhirnya mengangguk dan mulai bercerita. Ray terkejut, mengingat Carly tampak begitu tertutup sebelumnya, namun kali ini dia membuka diri, menceritakan keluarganya, hubungannya dengan mereka, bagaimana dia selalu merasa seperti anak luar dalam keluarga sendiri.
Ray tertawa pelan, lalu bertanya, "Kau tidak khawatir, Carly, bahwa aku mungkin seseorang yang mencoba mengumpulkan informasi tentang keluargamu?"
Carly hanya menggeleng, senyuman di wajahnya memudar sedikit. "Aku tidak peduli, Ray," jawabnya, "Aku tidak benar-benar menyayangi keluargaku sendiri."
Carly lalu menceritakan bagaimana dia selalu sendirian, bagaimana dia tidak memiliki teman, dan bagaimana dia selalu diawasi dan dibatasi karena dia adalah aib bagi keluarganya. Mendengar ini, Ray merasa hatinya bergetar. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya hidup seperti itu.
Cahaya lembut lampu dapur jatuh pada wajah Carly dan Ray, menciptakan bayangan halus di ruang makan yang sepi. Aroma hangat sayuran dan rempah-rempah mengisi udara, memberikan kehangatan yang mendalam pada suasana.
Ray menatap Carly yang sedang menikmati masakannya dengan lahap. "Kamu seperti orang yang belum makan berminggu-minggu," sindir Ray, matanya memandang Carly dengan ekspresi lucu.
Carly meliriknya, lalu kembali fokus pada piringnya. "Kalau kamu bisa memasak dengan lebih baik, mungkin aku tidak perlu makan seperti ini," jawab Carly dengan nada sarkastik, meskipun ia tampak sangat menikmati hidangannya.
"Ah, jadi masakanku tidak enak, ya?" Ray pura-pura tersinggung, lalu meraih piring Carly dengan ekspresi ceria.
Melihat piringnya hampir diambil, Carly tampak panik. "Eh, bukan itu maksudku!" Dia memegang erat piringnya, merah padam menatap Ray. "Masakanmu enak, oke?"
Sebuah senyuman tipis menghiasi wajah Ray. Mereka berdua tertawa, terbawa suasana yang menghangat di dapur rumah Carly. Dan di antara canda tawa dan sindiran, sesuatu yang lebih hangat mulai mekar.
***
Mereka berdiri di depan pintu kamar kosong. Kamar yang akan menjadi tempat Ray tinggal selama misinya. Ray mengintip ke dalam, dan sepasang alisnya naik melihat keadaan kamar.
"Kamu yakin ini kamar dan bukan lokasi kapal pecah?" Ray berkomentar sambil menunjuk ke seluruh kamar yang tampak berantakan dan debu tebal menyelimuti furnitur.
Carly hanya mengejek, "Setidaknya kapal pecah memiliki sejarah. Kamarmu ini seolah-olah ditinggalkan oleh zaman."
Mereka berdua tertawa, dan Carly mengambil gulungan selotip dari sakunya. Dengan tegas, dia menarik garis lurus di lantai, membatasi bagian kamar yang boleh dan tidak boleh dilangkahi oleh Ray.
"Ray," dia memandang Ray tajam, "ini batasannya. Kamu tak boleh melintasi garis ini."
Ray melihat garis itu, mengangguk penuh pengertian. Dia tersenyum, mengedipkan mata pada Carly. "Dijamin, Carly. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak merusak 'lokasi kapal pecah' mu ini."
Mengikuti pandangan Ray yang memandang seluruh ruangan, Carly tersenyum sinis. "Kalau kamu begitu bermasalah dengan keadaan ini, bagaimana kalau kamu saja yang membersihkan?" Carly balas sindir.
Ray tertawa pelan, kemudian menunjuk ke belahan garis yang dibuat Carly tadi. "Ah, tapi bagaimana aku bisa membersihkan sisi kamar ini kalau aku tak diizinkan melintasi garis ini?" Ray memasang ekspresi tak berdosa, matanya berbinar nakal.
Carly mendengus, menatap Ray dengan ekspresi campur aduk antara jengah dan terhibur. "Baiklah, khusus untuk membersihkan, kamu boleh melintasi garis itu. Tapi hanya itu," tegas Carly, menunjuk jari telunjuknya ke arah Ray.
Ray menanggapi dengan mengangguk, sebuah senyum kemenangan menghiasi wajahnya. "Deal."
Mengenakan sarung tangan lateks dan baju kerja, Ray mulai membersihkan ruangan itu dengan bersemangat. Debu-debu menari-nari di udara seiring gerakan kuas yang ia pegang, membuat Carly yang memperhatikannya dari jauh semakin berdecak.
"Carly, menurutku, ini tidak adil," Ray memulai, menatap Carly dengan senyum sarkastik. "Bagaimana bisa orang yang tinggal di tempat seperti ini masih tampak secantik kamu?"
Carly menatap Ray, matanya melebar sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk mengejek. "Mungkin karena aku tidak memilih untuk menjadi detektif seadanya yang terpaksa membersihkan rumah orang lain."
Ray tertawa keras, melemparkan lap kain ke arah Carly yang dengan sigap menangkapnya. "Tangkap, Carly. Tangkap."
Mereka berdua tersenyum, suasana hari itu terasa lebih ringan. Di antara sindiran dan ejekan, ada sebuah interaksi yang mulai tumbuh, membuat hubungan antara mereka berdua menjadi lebih dari sekadar tuan rumah dan penghuni.
"Tunggu, kamu bisa memasak coq au vin?" tanya Carly, matanya membulat menatap Ray. "Dan bagaimana dengan bouillabaisse? Atau mungkin soupe à l'oignon?"
Ray menyeringai, memegang sikat pembersih yang baru saja ia masukkan ke dalam air sabun. "Tentu saja, Carly. Aku bisa memasak semua masakan itu, dan lebih banyak lagi. Escoffier itu seperti guru bagiku."
Carly tersenyum tipis, tangannya bermain dengan pinggiran gaun sutra tipis yang ia kenakan. "Baiklah, Chef Ray. Saya ingin melihat sejauh mana kemampuanmu dalam memasak."
"Deal," jawab Ray, melipat lengan baju kerjanya, seakan bersiap untuk tantangan. "Tapi jangan salahkan aku jika kau jatuh cinta padaku setelah mencicipi masakanku."
Carly tertawa terbahak-bahak, suara tawanya yang merdu bergema di dalam rumah. "Aku takkan jatuh cinta hanya karena masakanmu, Ray. Tapi kita lihat nanti." Dia berbalik dan berjalan pergi, namun tidak sebelum melempar pandangan menantang pada Ray.
Ray tersenyum sendiri, matanya mengikuti gerak langkah Carly yang mulai menjauh. Tantangan ini, seolah menjadi bumbu tambahan dalam petualangan baru yang baru saja dimulai.
Carly berdiri dengan tangan terlipat di dada, melirik Ray dengan ekspresi penuh keraguan. "Masakan Italia, Ray?" tanyanya, suaranya sinis namun isinya adalah rasa penasaran. "Kamu bisa memasak spaghetti alla carbonara? Fettuccine Alfredo, mungkin? Atau risotto?"
Ray menghentikan pekerjaannya, menoleh pada Carly, dan mengangguk mantap. "Kamu lupa menyebutkan ossobuco, tagliatelle alla Bolognese, dan tentu saja, pizza Margherita, Carly," jawabnya, sambil melanjutkan pekerjaannya.
Carly tampak terkejut sejenak, lalu wajahnya berubah menjadi penasaran. "Kamu bisa membuat pizza sendiri? Dari awal hingga akhir?" tanyanya, menunjukkan sedikit kekaguman dalam suaranya.
Ray mengangkat bahu, seolah-olah itu adalah hal yang biasa baginya. "Tentu, membuat pizza itu seperti bermain di taman bagi seorang detektif seperti aku. Kamu ingin mencoba?"
Carly tersenyum miring, memberi Ray pandangan penasaran dan penuh tantangan. "Bukti itu lebih berharga daripada kata-kata kosong, Ray," sahutnya, "Aku tunggu malam nanti, pizza buatanmu."
Ray menanggapi dengan senyum simpul, "Deal, Carly. Tapi jangan salahkan aku jika kau jatuh cinta pada pizza buatanku."
Dengan perlahan, Carly pergi, meninggalkan Ray dengan tantangan barunya. Namun, ada semacam kehangatan dan harapan yang mulai muncul di hati Ray, seolah-olah dia mulai menemukan petualangan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Ray tersenyum tipis, melirik Carly yang berdiri dengan tangan terlipat dan ekspresi sinis di wajahnya. "Jadi menurutmu aku harus berhenti mengejar penjahat dan mulai mengejar resep masakan, Carly?" tanyanya dengan nada bermain.
Carly mengangkat bahu, ekspresi wajahnya tetap tidak berubah. "Tidak ada yang salah dengan itu, Ray. Setidaknya kamu bisa menggunakan bakatmu untuk sesuatu yang lebih baik," jawabnya dengan nada setengah bercanda.
Ray tertawa ringan, mendengar cara Carly berbicara. "Siapa tahu, Carly. Mungkin suatu hari nanti aku akan mempertimbangkan saranmu," kata Ray dengan nada gurau, melanjutkan pekerjaan membersihkan rumah.
Sementara itu, Carly menatap Ray dengan pandangan yang berbeda, seolah-olah dia mulai melihat Ray bukan hanya sebagai pembantu, tetapi juga sebagai teman, dan mungkin lebih dari itu.
Anda Mungkin Juga Suka





