
Suami Yang Tersakiti, Istri Yang Egois
Bab 3
Setelah keheningan canggung yang mengikuti pertengkaran, Tuan Jackson akhirnya beranjak dari kursinya. Ia kembali menjadi sosok Tuan Jackson yang penuh wibawa, wajahnya kini terlihat lebih tenang, meskipun Yuna tahu, kekacauan di hatinya masih belum mereda. Jackson menatap Lily, yang kini sudah menyeka air matanya dan kembali menjadi anak yang ceria. Namun, Yuna tahu, keceriaan itu hanyalah topeng. Bekas air mata yang mengering di pipi Lily adalah bukti bahwa hati anak itu telah terluka.
"Lily, sayang, kita berangkat ke sekolah sekarang, ya?" Jackson berujar lembut. Ia mengulurkan tangannya. Lily menerima uluran tangan itu dengan senang hati, menggandeng tangan ayahnya erat-erat. Jackson berjongkok sejenak, mengecup kening putrinya. "Belajar yang rajin, Nak. Nanti Ayah jemput."
"Aku akan belajar yang rajin, Yah. Tapi, Ayah janji, kan, Ayah dan mommy tidak akan bertengkar lagi?" tanya Lily, matanya yang besar dan bulat menatap ayahnya dengan penuh harap.
Jackson menghela napas, ia mengusap rambut Lily yang keriting. "Ayah tidak bisa janji, sayang... tapi Ayah akan berusaha. Ayah janji akan berusaha."
Lily mengangguk mengerti, ia memeluk ayahnya erat. "Aku sayang Ayah."
"Ayah juga sayang kamu, Lily." Jackson membalas pelukan putrinya.
Yuna hanya bisa menatap, hati kecilnya terenyuh melihat kasih sayang antara ayah dan anak itu. Ia tahu, Jackson dan Lily adalah dua orang yang saling mencintai. Dan ia juga tahu, kasih sayang itu terkadang tidak cukup untuk menenangkan badai yang sedang terjadi di antara mereka.
Jackson dan Lily berjalan keluar. Yuna sudah menunggu di depan mansion, di samping mobil hitam yang mengkilap. Seorang supir sudah menunggu di samping pintu, ia membukakan pintu mobil untuk Yuna dan Lily.
Jackson menghampiri Yuna. Matanya menatap Yuna dengan penuh keseriusan. "Yuna, saya percayakan Lily pada kamu," kata Jackson, suaranya pelan dan penuh penekanan. "Tolong jaga Lily. Tolong pastikan dia bahagia. Saya... saya sangat percaya pada kamu."
Yuna terkejut, ia tak menyangka Tuan Jackson akan berbicara dengannya dengan begitu tulus. Ia menunduk, lalu mengangguk. "Tentu, Tuan. Saya akan jaga Nona Lily dengan baik."
Jackson tersenyum tipis, senyum yang nyaris tak terlihat. "Terima kasih, Yuna."
Yuna menggandeng tangan Lily, dan mereka berdua masuk ke dalam mobil. Jackson hanya bisa menatap mereka, sampai mobil itu menjauh dari pandangannya.
Di dalam mobil, Lily bersandar di bahu Yuna. Yuna memeluk Lily, mengusap punggung anak itu dengan lembut. "Lily baik-baik saja, kan?" tanya Yuna pelan.
Lily mengangguk. "Aku baik-baik saja, Kak Yuna."
"Lily anak yang hebat," puji Yuna. "Lily anak yang kuat."
Lily tersenyum, ia mengangkat kepalanya. "Aku sayang Kak Yuna," ucapnya tulus.
Yuna membalas senyumnya. "Kakak juga sayang Lily."
Yuna memandang keluar jendela, melihat pemandangan jalanan yang padat. Di sana, ia melihat berbagai macam orang. Ada yang berjalan tergesa-gesa, ada yang sedang tertawa, ada yang sedang makan di warung pinggir jalan. Yuna menyadari, hidup memang penuh dengan berbagai macam cerita. Ada yang bahagia, ada yang sedih. Ada yang penuh tawa, ada yang penuh air mata. Dan ia, hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang sedang berjuang untuk hidup.
Di antara semua cerita itu, Yuna menemukan satu persamaan. Bahwa tidak peduli seberapa kaya atau miskinnya seseorang, tidak peduli seberapa tampan atau cantiknya seseorang, mereka semua memiliki masalah. Tuan Jackson memiliki semua yang ia inginkan, namun ia tidak bisa mendapatkan keharmonisan dalam keluarganya. Bella memiliki karier yang sukses, namun ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya. Dan Lily, ia memiliki segalanya, namun ia tidak bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.
Yuna berpikir, ia jauh lebih beruntung dari mereka. Ia memang tidak memiliki banyak uang, namun ia memiliki keluarga yang harmonis. Ia tidak memiliki mobil mewah atau rumah besar, namun ia memiliki cinta dan kasih sayang dari orang tuanya. Dan itu, jauh lebih berharga dari apapun.
Mobil itu terus melaju, meninggalkan kemegahan Mansion Jackson di belakang mereka. Yuna menoleh ke belakang, menatap Lily yang kini sudah tertidur pulas di bahunya. Ia tersenyum. Tugasnya sekarang adalah menjaga Lily, memastikan anak ini tidak pernah merasa kesepian, bahkan jika orang tuanya sedang bertengkar. Yuna akan menjadi jembatan antara Lily dan dunia yang penuh dengan kekacauan. Ia akan menjadi pelindung bagi anak itu. Yuna berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah menyerah. Ia akan bekerja keras, mengumpulkan uang untuk melunasi hutang orang tuanya. Dan ia juga akan membuat Lily bahagia. Karena bagi Yuna, senyum Lily adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Anda Mungkin Juga Suka





