
Suami Yang Tersakiti, Istri Yang Egois
Bab 2
Suara dentuman pintu yang membanting itu masih menggema, meninggalkan keheningan yang memekakkan telinga. Yuna menunduk, fokusnya kembali pada Lily yang kini tak lagi menyentuh makanannya. Sendok kecil di tangannya terasa berat, dan Yuna bisa merasakan getaran dari tubuh mungil anak itu. Lily tak menangis, namun matanya sudah berkaca-kaca, memancarkan kesedihan yang tak terperi. Yuna mengulurkan tangannya, mengusap pelan punggung Lily. Sentuhannya lembut, menenangkan, seperti yang biasa ia rasakan saat ibunya menenangkannya di masa kecil. Lily balas menggenggam tangan Yuna, cengkeramannya erat, seolah mencari perlindungan dari badai yang baru saja berlalu di depannya.
"Lily..." suara Jackson bergetar, ia mencoba memanggil putrinya.
Lily tak bergeming, ia masih menunduk. Bahunya bergetar, dan tak lama kemudian, tangisan pilu pecah dari bibir mungilnya. Tangisan yang penuh ketakutan dan keputusasaan, membuat hati Yuna terasa perih. Jackson beranjak dari kursinya, berjalan mendekat, dan berjongkok di hadapan Lily. Yuna bergeser, memberikan ruang bagi Jackson untuk berinteraksi dengan anaknya.
"Lily, sayang... kenapa nangis?" tanya Jackson, suaranya sangat lembut, penuh dengan penyesalan.
Lily mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan mata merah dan basah. "Ayah... kenapa Ayah selalu bertengkar dengan mommy?" Suara kecilnya pecah, menyuarakan pertanyaan yang sudah lama ia simpan. "Aku takut... aku takut kalau Ayah sama mommy pisah."
Jackson menarik napas dalam, merasakan sesak di dadanya. Ia ingin berteriak, menjelaskan bahwa ini semua salah Bella. Namun, ia tidak bisa. Ia tidak bisa membuat putrinya semakin bingung dan menyalahkan salah satu dari mereka. Ia hanya bisa menatap mata Lily yang polos dan ketakutan, lalu memeluknya erat. "Maafin Ayah, sayang... maafkan Ayah..." bisik Jackson di telinga putrinya.
"Aku mau kayak teman-temanku, Yah," Lily melanjutkan, isaknya kini berubah menjadi tangisan yang lebih keras. "Mereka punya keluarga yang harmonis... mereka bisa main sama mommy dan ayahnya setiap hari... aku juga mau kayak gitu, Yah..."
Kata-kata Lily menusuk jantung Jackson, meninggalkan luka yang menganga lebar. Ia tahu, Lily benar. Putrinya sudah terlalu sering menyaksikan pertengkaran mereka. Ia sudah terlalu sering merasa kesepian, ditinggal ibunya yang selalu pergi, dan ayahnya yang sibuk bekerja. Jackson merasakan air matanya sendiri menetes, membasahi rambut Lily. Ia adalah seorang ayah yang gagal, seorang suami yang gagal.
"Maafkan Ayah, sayang..." Jackson berulang kali meminta maaf, tak peduli apakah Lily akan mendengarnya atau tidak. "Ayah janji... Ayah akan coba... Ayah akan perbaiki semuanya..."
Yuna hanya bisa mendengarkan. Ia tak pernah merasakan kehangatan seperti itu. Keluarganya memang tak kaya, tapi ia tahu bahwa orang tuanya selalu berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya bahagia. Mereka tidak pernah bertengkar di depannya. Ayahnya selalu bekerja keras di ladang, ibunya selalu menunggu dengan senyum di depan pintu. Bagi Yuna, keluarga harmonis bukanlah sesuatu yang aneh. Tapi, di keluarga Jackson, itu adalah sebuah kemewahan yang tak bisa dibeli.
Jackson melepaskan pelukannya, menangkup wajah Lily. Ia mengusap air mata Lily dengan ibu jarinya, lalu mencium kening putrinya. "Sekarang, makan sarapannya, ya? Nanti kita telat ke sekolah."
Lily mengangguk, lalu menoleh ke arah Yuna. "Kak Yuna... Kakak tidak sedih, kan?"
Yuna tersenyum, senyum tulus yang menenangkan. "Tidak, Lily. Kakak baik-baik saja." Ia mengambil sendok, menyuapi Lily dengan hati-hati. "Sekarang makan, ya? Nanti kita main ayunan."
Jackson menatap Yuna. Ada rasa terima kasih yang mendalam di matanya. Ia menyadari betapa beruntungnya ia memiliki Yuna. Yuna tidak hanya bekerja, ia juga memberikan kenyamanan dan kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh Jackson dan Bella. Yuna adalah sosok yang tulus, ia memberikan perhatian yang tak bisa Jackson bayar dengan uang. Jackson menyadari, ia terlalu sering mementingkan pekerjaannya dan mengabaikan keluarganya. Ia tahu, ia harus melakukan sesuatu.
Setelah Lily selesai makan, Yuna membantunya mengenakan tas ranselnya. "Lily, Kakak tunggu di depan, ya?" ujar Yuna. Lily mengangguk. Yuna berjalan keluar, meninggalkan ayah dan anak itu.
Di luar, ia berdiri di depan mobil yang akan mengantar Lily. Yuna menoleh ke belakang, melihat Jackson dan Lily berpelukan. Jackson membisikkan sesuatu di telinga Lily, membuat anak itu tersenyum. Yuna tahu, Lily akan baik-baik saja. Jackson akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat putrinya bahagia. Yuna tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Bella akan kembali? Apakah pertengkaran mereka akan berlanjut? Yuna tidak tahu. Ia hanya bisa berdoa, agar keluarga ini bisa kembali harmonis.
Namun, Yuna tahu, hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada saat-saat di mana kita harus menghadapi kenyataan pahit. Kenyataan bahwa keluarga bisa hancur, bahkan jika mereka memiliki segalanya. Yuna juga tahu, bahwa ia harus tetap tegar, apapun yang terjadi. Ia memiliki tujuan, dan ia tidak boleh menyerah. Ia harus melunasi hutang orang tuanya. Ia harus kembali ke kampung halamannya dengan kepala tegak. Ia harus membuktikan pada dirinya sendiri, bahwa ia bisa melakukan apapun. Dan, ia juga akan membantu Lily. Ia akan menjadi teman, kakak, dan sosok yang akan selalu ada untuk Lily. Ia akan memberikan Lily kehangatan yang tidak bisa ia dapatkan dari orang tuanya. Yuna tahu, itulah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Ia tidak bisa memperbaiki hubungan Jackson dan Bella, tapi ia bisa membuat Lily bahagia. Dan itu, adalah tujuan utama Yuna.
Anda Mungkin Juga Suka





