
Suami Tampan Tidak Menghasilkan Keturunan
Bab 3
Mobil listrik Tesla Pinto bertatap muka dengan Essence Darmawangsa Apartment. Lalu, mendekati salah satu menara. Pinto dan Caca Yunita berpijak di unit apartemen Caca Yunita beberapa menit sesudahnya.
Baru saja Pinto duduk di sofa ruang tamu. Namun, perintah Caca Yunita telah siap menubruknya.
“Kamu jelasin pernyataan kamu sekarang!”
“Nanti dulu, Ca,” sergah Pinto. “Saya haus. Ingin minum.”
Caca Yunita segera melangkah ke dapur. Dia mengambil dua botol air berkarbonasi, kaleng yang berisi roti, dan plastik yang berisi keripik pedas. Tangannya menyerahkan salah satu botol kepada Pinto.
Pinto menerimanya dan meneguknya. Kesegaran menjalari kerongkongannya.
Setelah kedahagaannya lenyap, Pinto berkata, “Penyebab saya tidak tegas adalah status yang melekat pada diri saya. Status yang melekat pada diri saya menghambat kemajuan hubungan saya dan kamu. Saya nggak mampu melawannya.”
“Jadi, kamu anggap status kamu lebih tinggi ketimbang status aku? Level kamu beda sama level aku? Iya, gitu?” tembak Caca Yunita beruntun.
Pinto meletakkan botol yang ada di genggaman di atas meja. “Level saya dan kamu sama. Yang nggak sama adalah dampak dari status kamu dan dampak dari status aku. Dampak dari status kamu relatif kecil. Sementara dampak dari status saya relatif besar,” jawabnya. “Saya harap, kamu memaklumi masalah ini,” dia mengimbuhkan.
Pinto mengatakannya karena cuma kalangan tertentu yang memahami statusnya. Orang-orang awam sulit memahami penalaran statusnya. Logika mereka cenderung berseberangan dengan penalaran statusnya. Ketika Pinto ingin terbebas dari belenggu statusnya, mereka malah mengidamkan status Pinto.
Menurut Pinto, penalaran statusnya mungkin juga sulit diterima oleh Caca Yunita. Bilamana kemungkinan tersebut benar, Caca Yunita tidak akan menuding statusnya sebagai penyebab. Caca Yunita justru akan menganggap Pinto sebagai pembuat dalih. Pinto bisa memperoleh julukan “penghindar komitmen”.
“Aku nggak bisa maklumin, Mas.”
“Kok kamu nggak bisa memaklumi?”
“Omongan kamu nggak logis.”
“Kamu boleh bilang omongan saya nggak logis. Yang jelas, saya jujur.”
Dalam sanubarinya, Pinto menyayangkan pernyataan Caca Yunita. Pernyataan Caca Yunita menodai harapan Pinto. Andai mengetahui kondisi yang sebenarnya, Caca Yunita akan membinasakan nada ketusnya. Bahkan kedua tangannya akan mendekap erat raga Pinto. Sayang seribu sayang, dugaan Caca Yunita berlebihan.
“Kamu pasti bo’ong. Aku nggak percaya sama kamu,” tutur Caca Yunita yakin. Dia lantas menceplos, “Rakyat aja nggak percaya sama kamu!”
Gelak Pinto berdesakan keluar. Sindiran Caca Yunita terdengar jenaka di kupingnya.
“Andaikata saya berbohong, apakah kamu masih menuntut ketegasan saya?” Pinto menyodorkan pertanyaan serius.
Caca Yunita berpikir agak lama. Otaknya bekerja untuk penemuan kalimat yang cocok. “Kebohongan kamu malah nunjukin kalo kamu nggak tegas. Kamu mestinya malu sama diri kamu sendiri.”
“Ucapan kamu nggak menjawab pertanyaan saya,” secepat kilat Pinto membalas. “Tolong jawab pertanyaan saya. Biar saya tahu apa yang ada pikiran kamu,” mohonnya dengan penuh penekanan.
“O-ke. Aku ja-wab,” balas Caca Yunita terbata. “Aku tetep nuntut ketegasan kamu. Soalnya ketegasan kamu penting buat cinta aku. Tanpa ketegasan kamu, cinta aku kehilangan arah,” bebernya dibarengi pembuangan pandangan ke arah lain.
Terkaan Pinto jitu. Perempuan yang berada di hadapannya memang memendam suatu rasa. Mungkin saja, pemendaman rasa itu berlangsung sejak lama. Rasa itu membesar seiring perputaran waktu. Dan sekarang, jiwa Caca Yunita gagal menahannya.
Sejatinya, Pinto membebaskan segala rasa Caca Yunita. Hatinya membuka beribu kemauan Caca Yunita. Namun, Caca Yunita mesti memahami keterbatasan Pinto. Meski menggenggam status eksklusif, Pinto bukan manusia yang bebas bertindak. Kendala kadang merintangi upayanya.
Anda Mungkin Juga Suka





