Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami pura-pura

Suami pura-pura

Adinda merasa terdesak saat Alan tiba-tiba mengaku sebagai suaminya demi menyenangkan Nenek Laila. Meski Alan beralasan ingin membalas kebaikan sang nenek, Adinda cemas jika kebohongan mereka terbongkar. Perdebatan sengit pun pecah karena Adinda enggan terjebak dalam sandiwara pernikahan ini. Namun, saat Adinda menyatakan keberatannya, Alan justru memberikan pertanyaan yang mematikan langkahnya: apakah ia ingin menjadi istrinya yang sesungguhnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Adinda makan dengan begitu lahap, karena sudah tidak bisa ditahan lagi rasa lapar yang menyerangnya. Suasana warung makan cukup ramai, apalagi oleh pasangan yang sengaja datang hanya untuk makan siang. Memang tidak bisa dipungkiri jika makanan di sana terasa menggoyang lidah siapa saja yang melahapnya. Setiap bahan makanan bersatu padu bersama dengan bumbu yang dibalutkan menjadi persatuan yang melezatkan.

“Ini minumnya Neng,” ujar Ibu Penjual sambil meletakkan minuman dingin tepat di depan Adinda.

“Terima kasih, Bu.”

“Iya sama-sama. Oiya, pacarnya tidak dibawa?”

Ibu Penjual selalu saja menanyakan hal itu. Bukan hanya dia, tetapi semua orang. Membuat kepala Adinda terasa pusing, dan menjadi beban tersendiri. Tetapi Adinda tidak terlalu menonjolkan, umurnya memang sudah cukup untuk memiliki pasangan hanya saja ia yang belum siap mengarungi bahtera rumah tangga.

“Lagi pergi, Bu.” Adinda menjawab asal.

“Pergi ke mana? Kenapa tidak menemani?”

“Pergi jalan-jalan.”

“Dengan siapa?” Ibu Penjual tampak antusias.

“Dengan kekasihnya.”

Ibu Penjual menyernyitkan dahinya bingung sambil menggaruk kepalanya walau tidak gatal, “Kekasihnya? Kenapa bisa begitu?”

“Iya, ‘kan jodoh aku lagi dijagain sama wanita lain, Bu.”

Mendengar hal itu membuatnya tertawa. Adinda menanggapi dengan senyum tipis. Itu adalah jawaban andalan yang selalu saja Adinda lontarkan jika ada yang bertanya seperti itu. Karena banyak pengujung membuat Ibu Penjual harus segera kembali ke pekerjaannya. Sementara Adinda kembali melahap sisa makanan yang masih ada di atas piring. Sekarang perutnya sudah terasa kenyang, dan tidak terasa perih lagi. Saat ini Adinda bisa berpikir dengan tenang.

Saat ia hendak pergi, tiba-tiba seorang pria datang langsung duduk di tempat Adinda berada. Awalnya ia tidak menanggapi, tetapi pria itu membuat Adinda menghentikan niatnya untuk pergi.

“Ibu, maaf ini piring kotor tolong disingkirkan saja,” teriak pria itu.

“Ya anda saja yang duduk di tempat lain,” sahut Adinda.

Pria itu menoleh dan menatap intens, “Terserah saya, mau duduk di mana saja.”

Ternyata pria itu adalah Alan. Tetapi ia tidak mengenakan jas, melainkan baju biasa berwarna abu-abu. Memang Alan lebih nyaman berpenampilan seperti ini, karena menurutnya memakai jas hanya akan membatasi geraknya.

“Sombong sekali,” gerutu Adinda.

Alan diam saja tidak menjawab apa-apa.

Kemudian Ibu Penjual datang dan membersihkan semuanya. Adinda masih berdiri tepat di samping Alan. Karena ada sesuatu yang ia lupakan. Dahinya mengkerut, dan mata yang menyidik berusaha untuk mengingat kejadian yang telah ia lewati. Tampilan yang tidak masuk dalam kriteria pria yang diinginkan oleh Adinda, jauh dari standar yang telah ia tetapkan untuk calon pasangannya. Setelah beberapa saat mengingat, akhirnya Adinda ingat akan sesuatu. Alan adalah pria yang kemarin hampir tertabrak oleh mobil miliknya.

“Kau itu pria yang kemarin hampir menabrak mobil saya.” Adinda meninggikan suaranya.

“Menabrak? Bukannya anda yang akan menabrak tubuh saya.”

Wajah Alan yang tidak berekspresi membuat Adinda gemas serta kesal, “Ya, kau itu menyebrang tidak lihat kanan dan kiri.”

“Tapi anda juga sudah melajukan mobil terlalu kencang.”

Adinda melipat kedua tangannya tepat di dada. Perseteruan mereka berlanjut, Adinda tidak mau kalah. Dan menganggap kalau Alan itu salah, begitupun dengan Alan yang tak berhenti membela dirinya. Dan beranggapan kalau semua itu adalah salah dari Adinda. Mendengar ada keributan, segara Ibu Penjual menghampiri dan merelainya.

“Sudah, apa kalian tidak malu dilihat oleh orang?” ucap Ibu Penjual.

Adinda menengok ke kiri dan ke kanan. Rupanya benar apa yang dikatakan oleh Ibu Penjual. Semua pasang mata sedang menyaksikan perdebatan mereka.

“Bukannya meminta maaf malah menyalahkan saya,” lanjut Adinda.

Ia kemudian pergi begitu saja, meninggalkan Alan dan Ibu Penjual yang masih saling diam. Adinda pergi dengan hati yang kesal, ia tidak berhenti bergerutu di dalam hatinya. Sedangkan Alan acuh, dan tidak memperdulikan hal itu lagi.

“Maaf, ya, Mas. Dia memang begitu, jutek. Tapi aslinya baik, dan lembut.” Ibu Penjual merasa tidak enak hati, karena ia tahu kalau Alan adalah anak dari pemilik perusahaan besar.

“Tidak masalah, Bu. Dia saja yang begitu.”

“Sekali lagi saya meminta maaf, tapi dia selalu baik terhadap saya, Mas.”

Alan menjawab dengan deheman. Lalu melanjutkan makan siangnya. Sementara di kejauhan, Adinda menutup pintu mobil dengan sangat kencang. Perasaannya hancur seketika hanya karena berdebat dengan pria yang sama sekali tidak ia kenal. Adinda meraih ponselnya, sudah ada banyak pesan dari ayahnya.

Adinda membuka pesan yang isinya memerintahkan agar ia pulang ke rumah. Karena sebentar lagi, Adinda akan dijodohkan dengan pria pilihan sang ayah. Mood Adinda semakin tidak karuan.

“Kenapa harus dijodohkan? Memangnya tidak ada pria yang ingin menjadi pasanganku?” gumam Adinda dalam hati.

Adinda terdiam sejenak, ia berusaha menggunakan otaknya untuk berpikir jalan keluar. Namun, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk mencari pacar sewaan. Tetapi ia berpikir kembali resiko yang akan ia terima jika ayahnya mengetahui.

“Pacar sewaan? Apa ada seperti itu di zaman sekarang?” Adinda bertanya-tanya.

Ia menepis jauh-jauh pikiran seperti itu. Dan lebih focus dengan pekerjaan yang menanti di kantor. Jika ingat akan pekerjaannya, ingin rasanya Adinda tenggelam dari dunia ini. Apalagi harus menghadapi bos yang kejam serta tidak memiliki hati nurani.

**

Tidak terasa hari sudah petang. Matahari sebentar lagi akan tenggelam di ufuk barat. Serta memancarkan warna jingga yang selalu dinantikan oleh banyak orang sebagai obyek foto selfie. Adinda mengendarai motornya menuju rumah Chika. Sampainya di rumah, ia segera turun dan berjalan masuk. Ternyata Chika sudah lebih dulu pulang, dan telah membersihkan tubuhnya.

“Kamu baru pulang?” tanya Chika sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.

“Ya, seperti biasa. Pekerjaan menumpuk, karena tidak mau lembur. Alhasil aku bawa ke rumah.

“Kasihan sekali. Coba saja kamu mau berkerja di perusahaan ayahmu, pasti dapat jabatan yang tertinggi.”

Adinda menghela nafas kasar, “Kamu sudah tau bukan, apa tujuanku mencari kerja di tempat lain?”

Chika mengangguk faham, ia sudah kenal dengan sifat Adinda yang keras kepala dan tidak bisa diubah pendirian jika sudah menetapkan suatu keputusan.

“Ya sudah, aku mau mandi dulu. Sudah terasa lengket sekali tubuhku ini.” Adinda melenggangkan langkah kakinya menuju kamar mandi.

Chika duduk sambil menonton televisi. Kebetulan ia telah membeli beberapa camilan dari supermarket. Tak berapa lama, Adinda keluar dengan pakaian yang sudah berganti. Ia menghempaskan tubuhnya tepat di samping Chika dan menyabet camilan yang ada di tangan sahabatnya itu.

“Kebiasaan,” oceh Chika.

“Tidak apa, sedikit saja. Lagian berbagi dengan sahabat itu ‘kan indah?”

Chika memutar bola matanya malas. Kalau bukan Adinda, pasti ia akan melahap habis.

Mereka berdua menikmati senja bersama-sama dengan menonton sinetron yang mereka sukai. Banyak sekali persamaan diantara mereka. Mulai dari : makanan, minuman, sinetron, pakaian, bahkan sampai make up. Maka tidak jarang jika mereka sering dijuluki kembar sejak masih duduk di bangku kuliah. Adinda dan Chika senang dengan sebutan yang disematkan kepada mereka. Karena hal itu membuat hubungan mereka semakin erat, dan sudah menganggap seperti keluarga sendiri.

Dengan santai Adinda maupun Chika menikmati camilan, sampai tidak sadar kalau sudah habis. Adinda merogoh bungkus camilan itu, dan tidak menemukan makanan di dalamnya.

“Sudah habis,” ujar Adinda memasang wajah kecewa.

“Nanti beli saja lagi. Tapi pakai uangmu, hehehe.”

Adinda mendengus kesal, “Aku belum gajian. Kamu saja yang sudah turun uang gajihannya.”

**

Bersambung.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95EWQ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95EWQ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balapan Terakhir Sebelum Dijodohkan
8.6
Raina, pembalap liar legendaris Jakarta berjaket kulit hitam, baru saja membuktikan ketangguhannya dengan mengalahkan Melia di lintasan balap. Namun, kejayaan di jalanan seketika sirna saat ayahnya memberi ultimatum keras melalui telepon. Ia dipaksa pulang untuk menjalani perjodohan dengan putra sahabat keluarganya. Di tengah kemelut batin dan air mata, Raina menolak menjadi boneka kendali orang tuanya demi mempertahankan kebebasan hidup yang ia cintai.
Sampul Novel DENDAM SANG CEO
9.6
Bram, CEO angkuh yang gagal move on dari Melisa, berencana menghancurkan Adam dengan memanfaatkan adiknya, Agni. Bram berpura-pura mencintai Agni hingga berhasil mendapatkan segalanya, namun niat busuk itu akhirnya terbongkar. Meski awalnya hanya ingin balas dendam, benih cinta tulus justru tumbuh di hati Bram. Sayangnya, Adam menentang keras hubungan ini karena sejarah persaingan bisnis mereka. Kini Agni terjepit antara perjodohan dengan Alan atau memilih Bram yang egois.
Sampul Novel Garis Cinta
8.2
Diza sontak melayangkan protes saat merasakan perlakuan kasar dari kekasihnya. Menanggapi keluhan tersebut, Rayden segera meminta maaf dengan nada lembut. Pria itu berjanji akan melanjutkan interaksi mereka secara lebih perlahan dan berhati-hati. Sembari menenangkan suasana, Rayden mulai melonggarkan dasi yang telah melilit lehernya selama berjam-jam demi memberikan kenyamanan lebih bagi mereka berdua dalam momen intim yang penuh dengan ketegangan romantis tersebut.
Sampul Novel Gue Bukan Perempuan Nakal!
8.3
Terjebak dalam obsesi masa lalu, seorang wanita rela melakukan apa pun demi mendapatkan kembali hati sang mantan kekasih. Keputusannya memicu kehancuran besar, merusak ikatan persahabatan, keharmonisan keluarga, hingga menyakiti pria tulus yang benar-benar mencintainya. Akankah pengorbanan buta ini berakhir dengan kebahagiaan, atau justru menjadi penyesalan abadi? Simak perjuangan emosionalnya dalam menghadapi konsekuensi dari pilihan hidup yang keliru.
Sampul Novel Janda Lugu
8.4
Terlilit hutang akibat ditipu, Arka melarikan diri ke kampung halaman untuk menghindari kejaran rentenir. Di sana, ibunya justru menjodohkannya dengan Nilam, janda kaya raya. Arka pun berniat menikahi Nilam demi menguras hartanya. Namun, ketulusan Nilam perlahan meluluhkan hati Arka hingga ia menyesali niat busuknya. Saat rahasia terbongkar, Nilam yang kecewa justru meminta pernikahan formalitas belaka. Mengapa sosok yang semula lugu itu berubah drastis?
Sampul Novel Menjalani Sisa Hidup Sendiri
8.6
Pernikahan Colby dan Ruben, pewaris Grup Gibson, terjalin tanpa restu keluarga besar. Brenda, nenek Ruben, mengajukan taruhan kejam: jika cinta mereka bertahan tiga tahun, keluarga akan menerima Colby. Namun jika gagal, Colby harus pergi agar Ruben bisa menikahi wanita sederajat. Colby yakin karena Ruben rela melepas segalanya demi dirinya. Naas, tepat di tahun ketiga yang menentukan, keyakinan Colby hancur saat Ruben justru melakukan pengkhianatan.