
SUAMI PILIHAN KAKAK UNTUKKU
Bab 2
Beberapa hari kemudian,
"Nona," panggil seorang pria menepuk pundak Viola dari belakang dan pria yang lainnya segera membekap mulutnya dengan saputangan mengandung obat bius.
Viola baru saja selesai dari pekerjaannya dan memilih jalan kaki untuk pulang ke rumahnya.
Kedua pria membawa tubuh Viola yang lemas tidak sadarkan diri tersebut diapit berjalan masuk ke dalam mobil mereka yang berjendela gelap pada pinggir jalan.
"Lumayan cantik juga, putri keluarga Wien ini! Pantas Bos meminta jaminan dirinya pada Henry," cetus salah satu pria penculik saat memperhatikan wajah Viola.
"Huss! Perhatikan matamu, jika bos tahu kamu memperhatikannya, biji bola matamu bisa dikeluarkan!" tegur rekan pria penculik tetapi dia juga memperhatikan wajah dan tubuh Viola, seolah menelanjanginya dengan matanya.
-
Viola baru saja siuman, kepalanya masih pening dan pandangan matanya berpendar-pendar seperti bintang berpelangi.
Viola mencoba mengumpulkan daya ingatnya dan memindai seisi ruangan yang cukup besar dan mewah dengan langit-langit tinggi serta ranjang besar tempat dia sekarang tiduri.
Hari sudah siang dan terang di luar jendela.
"Siapa yang melakukan ini padaku? Kakak?" Viola mencoba menerka jika kakaknya sedang bermain dengannya.
Henry Wien memang sering bercanda dengan Viola, menculik serta mengajak adik perempuannya itu menginap d hotel meskipun keuangan mereka terbatas.
Viola segera menolehkan wajahnya ke samping saat mendengar pintu ruangan terbuka.
"Aku akan segera menyiapkan makanan untuk Nona, silakan mandi dan berganti pakaian dulu!" ucap seorang wanita kepada Viola sambil menyerahkan satu set pakaian ke tangan.
"Dimana kakakku? Bawa aku bertemu dia dulu," cetus Viola yang masih berpikir Henry Wien, kakak lelakinya yang masih kurang kerjaan karena berani menculiknya.
"Kakak?" ulang sang wanita pelayan pada Viola seraya menggelengkan kepalanya.
Sang pelayan dilarang menyebutkan nama bos mereka pada Viola, tugasnya adalah memastikan gadis itu memakai pakaian yang dia berikan dan perutnya kenyang agar bisa dipergunakan oleh bos mereka nanti.
Viola mengerutkan keningnya melihat keterkejutan sang wanita di depannya tersebut lalu memilih mengabaikannya. Viola memperhatikan pakaian yang diberikan sang wanita pelayan padanya, sangat kekurangan bahan dan transparan.
Tidak ada penutup dada dan celana dalamnya hanya sekotak kecil yang mungkin tidak bisa digunakan untuk menutupi seluruh bagian intimnya.
Tanpa sadar Viola bergidik dan tubuhnya bergetar membayangkan dirinya memakai pakaian serba mini yang bisa membuat libido pria naik seketika tersebut.
Kini Viola menyadari, jika itu adalah kakaknya Henry Wien, tidak mungkin dia akan diberikan pakaian serba kekurangan bahan seperti ini. Bahkan di April mop sekalipun!
Wanita pelayan sudah pergi keluar, menyiapkan makanan untuk Viola dan gadis itu mulai sedikit merasa ketakutan akan pikiran juga apa yang pernah Daphne ceritakan padanya mengenai penculikan para gadis untuk dijadikan persembahan ilmu hitam.
Viola berjalan untuk mengintip melalui jendela yang menghadap ke halaman. Sepertinya dia berada di hotel tetapi dia tidak mengetahui hotel apa ataupun dimana lokasinya, dan pelayan wanita tadi tidak memakai seragam staff hotel ...
Belum sempat otak Viola berpikir banyak, suara kaca jendela samping ruangannya terpecah. Seketika matanya melotot tajam dan pikirannya padam seperti terhenti untuk berpikir.
"Jangan berteriak, ikut denganku sekarang. Aku akan menyelamatkanmu!" ucap sang pria dengan suara baritonnya yang menggunakan penutup wajah. Hanya matanya saja yang terlihat.
Viola merasa pernah melihat tatapan mata pria itu, entah dimana.
Sang pria mengikatkan tali ke tubuh Viola dan belum sempat gadis muda itu memberikan respon apapun, pinggangnya sudah direngkuh untuk dibawa turun melalui jendela yang tadi kacanya sudah terpecah saat pria itu masuk menerobos ke dalam ruangan.
"Si-siapa kamu?" cicit Viola menekan perasaan takut jauh di dalam lubuk hatinya.
Mata Viola melotot tajam ketika melihat ke bawah, mulutnya terbuka ingin berteriak tetapi tubuhnya sudah melemas lebih dulu seakan hanya tinggal seonggok daging tanpa tulang.
"Achhh ... hmmm!!" teriakan Viola teredam di dalam mulut pria yang langsung membuka penutup wajah bagian mulutnya dan mencium bibir Viola.
Tangan sang pria memeluk pinggang Viola dengan sebelah lengannya yang kekar dan tetap membungkam mulut adik dari musuh bebuyutannya itu dengan mulutnya.
Ketika kaki sang pria menjejak tanah, bibirnya tetap melumat bibir lembut dan manis Viola sampai napas mereka tersengal, baru dia lepaskan.
"Kau!?"
Viola mendorong tubuh sang pria tetapi kembali dia terjatuh ke pelukan sang pria karena ikatan tali pada tubuhnya masih menempel pada pria itu.
"Sekarang kita impas!" ujar sang pria pendek, lalu melepaskan tali yang mengikat tubuh Viola juga tubuhnya sendiri.
Andreas Kheng, pria yang pernah Viola selamatkan beberapa hari lalu dan langsung datang menyelamatkan adiknya Henri Wien untuk dia selamatkan dari anak buah pemimpin mafia mesum yang sedang bermusuhan dengan Henry.
Andreas membuka paksa telapak tangan Viola dan menggenggamnya erat untuk dia bawa berjalan santai menyeberangi halaman hotel menuju mobilnya di tempat parkir.
Setelah Andreas mengemudi sedikit jauh, dia menghentikan mobilnya untuk membeli makanan layanan drive thru pada salah satu restoran cepat saji.
"Makanlah, kamu belum makan kan?" ucap Andreas setelah makanan cepat saji yang dia pesan ada di hadapannya dan Viola.
Viola bergeming, matanya melihat ke arah jalanan yang sudah mulai dia kenali. Pria yang mengemudikan mobilnya sudah melepaskan topengnya tetapi dia belum bisa mengingatnya.
Semua kejadian terlalu mendadak dan otak Viola juga terbagi untuk pergi bekerja yang waktu masuknya tinggal beberapa jam lagi.
Andreas mengemudikan mobilnya menuju pinggiran kota Brazil dan menghentikan mobilnya pada satu-satunya rumah yang sangat terpencil dari yang lainnya.
"Dimana Kakakku?" tanya Viola, masih tetap tidak mau menyentuh makanan yang sudah dibelikan oleh Andreas.
Viola berpikir pria yang menyelamatkannya saat ini adalah orang suruhan kakaknya, Henry Wien.
Sudut bibir Andreas menyeringai sinis, telapak tangannya terulur untuk menyentuh wajah manis tetapi memiliki tatapan tegas dan kejam seperti Henry.
"Kakakmu sudah mati! Kamu bisa tinggal di sini untuk sementara waktu sampai anak buah orang yang inginkan tubuhmu tidak menemukanmu!" sahut Andreas asal menyebut Henry sudah meninggal pada Viola.
Bola mata Viola melotot tajam menatap Andreas. Dan akhirnya dia ingat pria tampan di depannya itu pernah dia tolong dari tempat sampah beberapa hari silam.
"Oh, kau adalah pria di tempat sampah!" celetuk Viola terkejut memperhatikan Andreas yang memang terlihat tampan tetapi lebih bengis dan kejam saat kedua matanya itu terbuka.
"Turun dan bawa makananmu! Sekarang aku sudah membalas budimu dan tidak memiliki hutang lagi denganmu!" wajah Andreas sangat masam saat gadis di depannya itu menyebutnya pria di tempat sampah.
Jika bukan karena Henry yang menembaknya malam itu, Andreas tidak akan mungkin kalah dalam perkelahian mereka. Tidak diduga oleh Andreas adalah justru adik perempuan Henry yang menyelamatkannya.
Namun sejak malam itu juga Henry tidak pernah pulang ke rumahnya dan Andreas mendengar jika musuh bebuyutannya dalam bisnis haram narkotika itu disekap oleh Luiz Rodriguez, pemimpin organisasi mafianya dan menculik adik perempuannya.
"Kakakku tidak mungkin meninggal! Katakan dimana dia sekarang?" cecar Viola enggan turun juga tidak melihat ke arah makanan yang diberikan oleh Andreas.
"Terserah, mau percaya atau tidak! Cepat turun dan bawa makanan itu jika kamu tidak ingin kelaparan dan jangan salahkan aku jika nanti kamu tertangkap oleh orang yang menculikmu seperti semalam? Mereka akan menjual tubuhmu dan menjadikanmu primadona yang melayani beberapa pria ...tetapi sebelum itu kamu akan dicicipi terlebih dahulu,"
Viola mendelik, dia membuka pintu mobil dan langsung meloncat turun tetapi tidak memasuki rumah di depannya. Dia harus pergi bekerja atau pulang ke rumahnya. Mungkin kakaknya sudah pulang ke rumah.
Andreas menggeram marah melihat gadis muda yang telah dia balas budinya karena pernah menyelamatkan nyawanya tersebut sangat keras kepala.
"Kenapa kamu begitu keras kepala?" dengkus Andreas seraya menarik pinggang ramping Viola untuk dia bawa masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Kakakmu dijebak dan kau tidak akan bisa selamat jika mereka mendapatkanmu kembali! Mereka akan bermain sampai puas dengan tubuhmu, baru akan membuangmu seperti sampah!"
Viola menatap lekat dan Andreas tetap fokus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan kencang menuju kediaman mewahnya tanpa melihat ataupun menanggapi tatapan gadis muda di sebelahnya.
"Kenapa kau menyelamatkanku?"
"Karena kau juga telah menyelamatkanku dan mengeluarkan peluru jahannam kakakmu dari tubuhku!"
"Kalian ..."
"Kakakmu adalah musuh besarku! Uhm, organisasi mafianya bertentangan dengan organisasiku!"
"Mafia?" cicit Viola mengulangi ucapan Andreas.
Viola tahu kakaknya jarang pulang dan jika dia pulang, beberapa kali membawa uang banyak yang dia serahkan pada Viola untuk biaya hidup mereka sehari-hari.
"Belum tahu?" cetus Andreas remeh seakan menghina tetapi matanya melirik sebentar untuk melihat bibir ranum Viola yang tadi dia cium saat menyelamatkan gadis itu.
Anda Mungkin Juga Suka





