Sampul Novel SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO

SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO

8.8 / 10.0
Dalam SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO, Sova terpaksa menikah demi uang. Namun, ia justru bertemu pria gagah yang mencari ahli waris tulus. Temukan kisah cinta penuh kejutan dalam billionaire romance novels ini. Baca web novel modern novel ini untuk melihat bagaimana Sova menghadapi takdirnya.
Ringkasan SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO
Sova terpuruk saat ibu tirinya menjualnya demi uang satu juta untuk menikahi pria yang ia kira sudah renta. Di tengah keputusasaan karena mimpinya kandas, Sova mencoba ikhlas menerima takdirnya. Namun, sosok suaminya ternyata jauh dari bayangan kakek-kakek lemah. Pria itu adalah CEO tampan nan perkasa yang mencari istri tulus sebagai ahli waris tunggal kekayaannya. Terpikat pesona matang sang suami, mampukah Sova menahan debaran di hatinya?
Baca Selengkapnya

SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO Bab 1

“Saya datang ke sini, bermaksud untuk melamar putri Bapak Harun, untuk ayah Saya, Pak Roy.”

Samar-samar, Sova mendengar suara obrolan yang sepertinya berasal dari ruang tamu. “Melamar?” lirihnya pelan. Sontak Ia pun menghentikan langkahnya untuk mencuri dengar. “Siapa yang dilamar?” tanyanya di dalam hati. Ia pun berjongkok di teras belakang rumahnya, sisi ruang tamu, seraya meletakkan ember berisi piring-piring yang baru saja Ia cuci di sumur umum. Rumah milik Sova merupakan rumah panggung yang berukuran empat kali enam meter, jadi antara ruang tamu dan tempat Ia berjongkok saat ini seolah tak ada sekat, terlebih dinding rumah pun terbuat dari bilik kayu.

“Untuk siapa tadi?” Terdengar suara bu Devi, ibu tiri Sova yang mempertanyakan ucapan awal tamu.

“Untuk Ayah Saya, Pak Roy,” jawabnya dengan suara yang tegas.

Hening sesaat, tak ada suara dari siapapun. Sova mengerutkan keningnya, berpikir tentang satu hal. Biasanya yang datang melamar itu adalah Ayah untuk anaknya, mengapa sekarang dibalik? Apakah anaknya sudah cukup dewasa, sehingga bisa melamarkan seseorang untuk ayahnya? Jika anaknya dewasa, bagaimana dengan ayahnya?

“Anda yakin? Berapa usia ayah Anda? Apa yang anda bawa untuk Saya?” tanya bu Devi terdengar ketus.

“Bisakah Saya berbicara langsung dengan pak Harun?” tanya orang itu lagi yang entah siapa, Sova tak berani mengintip. Jika Ia berani mengintip, pasti akan ketahuan karena kaca jendela yang merupakan kaca bening tanpa gordeng tipis.

“Tak perlu, suami saya masih sakit. Dia enggak bisa gerak. Semua keputusan ada di tangan saya. Saya cuma mau tanya dua hal. Satu, apa yang Anda janjikan untuk Saya sebagai orang tua? Dua, berapa usia ayah Anda?” tanya bu Devi to the point.

“Baik. Saya akan memberikan uang tunai sebesar satu juta untuk Anda sebagai ibunya. Usia Ayah saya 57 tahun, tepat di bulan depan.”

“Hah?” terdengar bu Devi kaget, sama halnya dengan Sova yang langsung menutup mulutnya saat Ia mendengar usia sang pelamar.

“Tapi kan... yang ngebet pengen nikah Yulia.” Sova tak berpikir apapun saat mendengar obrolan Ibu tiri dan tamunya. Toh, yang selama ini ingin segera menikah adalah Yulia, adik tirinya.

“Untuk usia segitu ya!” ucap bu Devi yang membuat Sova sedikit tersenyum lega. Nada bicara bu Devi seperti sedang mempertanyakan atau menunjukkan keraguan untuk menerima lamaran. Dia merasa kasihan kepada Yulia jika harus berakhir dengan menikahi seorang lansia. Bagaimana pun jahatnya Yulia kepadanya, Sova masih memiliki rasa sayang kepada anak ibu tirinya itu.

“Kalau kamu mau menaikkan harga menjadi lima juta, kita deal.” Sova lebih serius mendengarkan obrolan kedua orang tersebut. Ia pun melirik ke kiri dan ke kanan, mencari sosok Yulia yang setiap hari memang jarang berada di rumah. Ia ingin mewanti-wanti agar adiknya bisa tegas menolak lamaran ini. Tapi nihil, ia tak menemukan sosok Yulia di sekitaran rumah.

“Baik. Sebulan lagi akan kita adakan pernikahan ini. Dan saya, melamar untuk yang ini!” ucap tamu lelaki tersebut.

“Yang ini?” monolog Sova sambil mengerutkan keningnya. “Apa di dalam ada Yulia? Jadi, dia nunjuk Yulia.” Sova terus menerka-nerka pemikirannya sendiri. Ia tak berani mengintip untuk sekedar menuntaskan rasa penasarannya.

“Sebulan lagi, kami akan datang lagi untuk melaksanakan pernikahan.”

“Oke, deal. Sepakat!” sahut bu Devi terdengar sumringah. “Tapi, saya minta DP sebesar satu juta, sekarang!” lanjut bu Devi yang membuat Sova lebih mengeratkan pegangannya pada gagang ember. Ia memikirkan nasib Yulia yang akan menikahi lelaki tua. “Kasihan! Mendingan kayak aku, lebih memilih mengejar cita-cita daripada harus berakhir menikah di usia muda. Aku masih mau bahagiain Ayah, Mama dan Yulia juga. Ahhh, semoga aku bisa merubah pikiran Yulia,” gumamnya di dalam hati.

“Baik. Kita bertemu lagi bulan depan. Assalamu’alaikum,” ucap suara bariton yang berasal dari ruang tamu.

Sova segera berdiri dari jongkoknya, kemudian Ia segera masuk ke dapur dengan segera. Ia cukup kaget karena disaat pikirannya sedang mengembara, tamu tersebut malah pulang dan keluar dari rumah. Ia buru-buru masuk dan tak sempat melihat perawakan tamu tersebut. Bahkan, setelah Ia berada di luar rumah sekalipun.

“Sova!” panggil bu Devi setelah kepergian tamu tersebut. Wanita paruh baya itu menyadari kedatangan Sova saat Ia mendengar seseorang membuka pintu dapur.

“Iya, Ma!” sahut Sova sambil menyimpan pekerjaannya. Ia sedang merapikan piring-piring yang baru Ia cuci ke atas rak kayu yang dibuat jauh di atas tungku.

“Kamu...” Sejenak bu Devi berhenti berbicara, seolah Ia sedang memikirkan sesuatu.

“Ada apa, Bu?” tanya Sova penasaran.

“Kapan datang dari sumur?” tanya bu Devi pada akhirnya.

“Baru masuk dapur, Bu. Kenapa gitu?” tanya Sova seolah Ia tak tahu kemana bu Devi akan membawa pembicaraan mereka. Ia memang benar-benar baru memasuki dapur seperti apa yang diucapkannya.

“Oh, enggak apa-apa. Ya sudah, sana lanjutkan!” titah bu Devi seraya mengibaskan tangannya.

“Iya, Ma!” sahut Sova seraya berlalu, kembali ke dapur.

“Jangan lupa, sapuin rumah lagi. Tadi baru ada tamu, dirapiin gelas yang di meja!” titah bu Devi sambil melenggang menuju kamar.

“Iya, Ma!” Lagi-lagi hanya kalimat itu yang terucap dari mulut kecilnya. Ia tak pernah mempermasalahkan apapun yang Ia terima di keluarga ini. Baginya, hidup bahagia adalah bagaimana cara seseorang menyikapi keadaan saja. Ia ikhlas.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Sova teringat dengan Yulia yang sedari tadi tak Ia lihat batang hidungnya. Bukankah lelaki tadi menunjuk ke arah Sova?

Sova berjalan ke kamar bu Devi dan pak Harun. Ia pun berhenti tepat di depan pintu yang hanya tertutup oleh gorden, tanpa daun pintu. “Ma!” panggil Sova.

“Apa?” bu Devi tiba-tiba menyibak gorden dan berdiri tepat di depan wajah Sova.

“Astaghfirullah!” ucap Sova karena kaget dengan keberadaan bu Devi yang tak sempat Ia perkirakan. Gadis cantik itu pun mengelus dadanya demi menurunkan rasa kaget yang Ia rasakan. Bahkan, Ia melihat dandanan bu Devi yang begitu mencolok.

“Apa?” ulang bu Devi dengan pertanyaannya.

“Mama mau kemana?” tanya Sova saat Ia melihat tampilan bu Devi yang cetar.

Karena pertanyaannya sendiri, Sova merasa serba salah karena melihat delikan tak suka dari bu Devi. Bahkan, wanita yang sudah menjadi ibu tirinya sejak Ia masih belum sekolah SD itu, tak sedikitpun menjawab pertanyaannya. “Emmmhh, Yulia mana?” tanya Sova pada akhirnya.

“Enggak ada. Dari pagi juga enggak ada,” jawab bu Yulia seraya menggeser tubuh Sova yang menghalangi jalannya.

Sova mengernyitkan keningnya. “Bukankan Yulia ikut keluar sama tamu tadi?” tanya Sova yang hanya bercokol di dalam otaknya saja. Ia tak berani mengungkap pertanyaan itu karena Ibunya akan otomatis tahu kalau dia mengetahui tentang keberadaan tamu tadi. Ia pun memilih bungkam.

“Jangan lupa, bersihin Ayah kamu!” titah bu Devi seraya membuka pintu keluar.

“Mama mau kemana?” tanya Sova lagi sambil melihat Ibunya yang sedang mengenakan sendal, dengan membawa dompet kecil andalan bu Devi kalau mau pergi keluar.

Tak ada jawaban apapun dari bu Devi atas pertanyaan Sova. Bahkan, wanita paruh baya itu melenggang pergi tanpa mengucapkan salam kepada Sova yang masih setia berdiri di pintu keluar.

Sova segera masuk ke dalam rumah setelah menetralkan perasaannya dengan menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti barusan. Sekarang, Ia harus segera mengurus rumah dan Ayahnya.

Sova pun segera berbalik dan berniat membereskan gelas air putih yang berada di meja, serta piring yang berisi pisang goreng yang tadi pagi Ia siapkan di buffet. Saat Ia mengambil gelas tersebut, matanya menangkap sebuah foto yang tergeletak di sana. “Foto aku?” tanyanya dalam hati seraya memungut foto candid saat Ia mengenakan seragam sekolah.

Deggg... Tiba-tiba hatinya bergetar hebat karena teringat dengan obrolan antara bu Devi dan tamunya tadi. “Apakah tadi benar-benar tak ada Yulia?”

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Fitnah Pelakor Membuatku Babak Belur
8.7
Akibat unggahan media sosial suaminya, seorang wanita dituduh sebagai pelakor oleh selingkuhan sang suami. Tuduhan sepihak ini memicu aksi pengeroyokan brutal yang membuatnya babak belur, gegar otak, hingga patah tulang. Enggan tinggal diam, korban segera melaporkan para pelaku ke polisi dan menuntut mereka secara hukum. Di saat yang sama, ia menyiapkan surat cerai untuk suaminya yang tidak tahu diri, siap merebut kembali semua kekayaannya dan mendepak pria itu kembali menjadi pengemis.
Sampul Novel Hello, My Secret Boyfriend
9.2
Pasca pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Daniar berjuang melewati masa sulit di kampus. Di tengah keputusasaan, ia menemukan kebahagiaan baru melalui kencan anonim dengan akun @heroisme34. Namun, hidupnya kian rumit saat ia harus berurusan dengan Sabda, senior ambisius calon Presiden BEM. Interaksi dengan Sabda memicu keberaniannya melawan ketidakadilan. Kini Daniar terjebak di antara dua pria yang mengubah dunianya. Siapakah yang akan menjadi pelabuhan terakhirnya?
Sampul Novel Istri Tetanggaku Kuntilanak
8.1
Alif kembali ke Kampung Menyan dan langsung terjebak di antara Lisa dan Ning. Namun, desa itu dicekam teror hilangnya bayi serta janin secara misterius. Perhatian Alif teralihkan oleh Kumara, istri tetangga yang cantik namun dituduh sebagai kuntilanak karena tabiat anehnya. Kumara mengaku memiliki masa lalu dengan Alif yang telah ia lupakan. Di tengah misteri dan pesona mistis tersebut, Alif harus mengungkap kebenaran di balik sosok Kumara dan anomali di desanya.
Sampul Novel Lima Tahun, Cinta yang Memudar
8.3
Lima tahun Aruna mengabdi sebagai asisten Brama demi wasiat Yudha, pria yang ia cintai. Setelah kontrak usai, ia justru dituduh mencari perhatian meski telah mempertaruhkan nyawa dalam balapan maut demi Brama. Kekejaman Brama memuncak saat ia membiarkan Aruna disiksa Cheryl hingga menjualnya di lelang amal. Merasa pengabdiannya dibalas kehinaan, Aruna memilih mengakhiri hidup di jembatan kenangan Yudha, meninggalkan pesan terakhir yang menghancurkan.
Sampul Novel NURHAYATI
8.2
Warga Karang Pandan mendadak gempar akibat kemunculan sosok hantu perawat yang menghantui sebuah klinik setempat. Teror mistis ini menjadi buah bibir masyarakat karena kehadirannya yang sangat mencekam. Namun, di balik penampakan yang menakutkan tersebut, tersimpan sebuah rahasia kelam yang selama ini terkubur rapat. Kini, misteri besar yang menyelimuti identitas sang perawat perlahan mulai terkuak dan mengancam ketenangan semua orang di sana.
Sampul Novel Pengantin Kecil Tuan Xavier
8.8
Nandini merupakan seorang gadis penjual bunga sederhana yang selama ini hidup terasing dari keluarganya sendiri. Namun, takdirnya berubah drastis saat ia dipaksa menjadi mempelai pengganti di hari pernikahan kakaknya. Sang kakak memilih untuk melarikan diri secara tiba-tiba, meninggalkan Nandini untuk menempati posisi pengantin bagi Tuan Xavier. Kini, ia harus menghadapi kehidupan baru yang penuh tekanan dalam pernikahan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan