Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Kedua

Suami Kedua

Malam pertama yang penuh konflik menjerat Anin dalam kekangan suaminya. Di tengah keputusasaan, kehadiran sang adik ipar menjadi penolong tak terduga. Hubungan terlarang pun terjalin hingga benih cinta tumbuh di antara mereka, memicu penyesalan mendalam. Kini, Anin dihadapkan pada pilihan sulit saat sang adik ipar memintanya bercerai demi memulai hidup baru bersamanya. Ia harus segera menentukan arah hidup dan meninggalkan masa lalunya yang kelam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Semburat sang surya di luar sana, sudah mulai menembus melalui sela-sela jendela. Anin yang memang sudah bangun sejak subuh tadi, tentunya mulai disibukkan dengan rutinitasnya menyiapkan pakaian sang suami.

“Mana bajuku?” tanya Bagas ketika sudah keluar dari kamar mandi. “Jangan lupa sepatu dan tasku.”

“Ini baju kamu, Mas” Anin meletakkan setelan jas untuk Bagas di atas ranjang. “Aku ambilkan sepatu kamu dulu.”

“Cepat! Jangan lama-lama. Aku sudah kesiangan.”

Anin berbalik cepat dari ruangan yang dikhususkan untuk menaruh koleksi sepatu dan barang pribadi milik Bagas.

“Ini,” kata Anin kemudian.

Bagas duduk di tepi ranjang sambil mengancing kemejanya. “Pakaikan, cepat!” perintah Bagas.

Meskipun sentakan itu sudah menjadi makanan Anin setiap pagi, tapi tetap saja Anin masih sering terhenyak dan kaget. Bahkan kadang rasanya lebih sakit saat Anin terlalu memikirkannya.

Tanpa berpamitan layaknya suami istri pada umumnya, Bagas yang sudah siap justru langsung nyelonong begitu saja keluar dari dalam kamar.

“Di mana Anin?” tanya Hanggoro. “Nggak kamu ajak sarapan?”

Bagas meletakkan tas kerjanya di kursi kosong yang sebelahnya dia duduki. “Dia belum mandi. Katanya mau makan nanti.”

Jawaban Bagas mungkin dimaklumi oleh papa dan mama, tapi tidak dengan Jonan. Jonan tentu saja tahu kalau Bagas memang berniat tidak mengajak Anin untuk sarapan.

“Ya sudah, kita tinggal,” kata mama kemudian. “Nanti biar Anin menyusul.”

Keluarga ini memang sangat sibuk. Setiap hari tidak ada yang menganggur di rumah. Hanggoro yang sibuk dengan bisnis properti, Bagas yang ditunjuk sebagai menejer perusahaan, dan Sasmita yang harus sibuk di salon, tentunya membuat mereka lebih sering berada di luar. Mereka akan berada di rumah sekitar pukul lima sore sampai pagi.

Bagaimana dengan Jonan? Jonan lebih sering di rumah. Bukan karena dia tidak memiliki pekerjaan, tapi Jonan sudah mempercayakan pada para karyawannya. Dan yang paling utama, ada asisten pribadinya bernama Tirta.

“Kamu tidak pergi ke pabrik?” tanya Anin sambil membereskan sisa makanan di atas meja.

Anin muncul setelah semua orang sudah pergi dan hanya menyisakan Jonan yang justru masih asik menikmati sepiring nasi goreng.

“Tidak. Sudah ada Tirta di sana,” jawab Jonan. “Kau mau makan?” tawar Jonan kemudian.

Sambil tersenyum, Anggun menggeleng. “Aku belum lapar.”

“Sini biar Bibi saja yang bereskan,” kata Bibi Niah sambil merebut pelan setumpuk piring yang ada di tangan Anin.

“Nggak pa-pa, Bi. Aku biasa bantu kan?” Anin tersenyum.

Kalau sudah melihat senyum Anin yang manis, Bibi Niah pun akan melumer. Bukan hanya Bibi Niah, Jonan yang sempat melirik senyum itu pun sejujurnya merasa terpesona.

Bibi Niah sudah kembali ke dapur. Dan kini hanya ada Anin dan Jonan di ruang makan.

“Duduklah, temani aku makan,” pinta Jonan santai. “Kamu juga harus makan. Jangan sampai perutmu sakit.”

Bukankan itu terdengar seperti sebuah perhatian? Anin merasa nyaman dengan ucapan tersebut.

Masih dengan mode diam, Anin pada akhirnya ikut duduk dan mulai menikmati sarapan pagi yang sudah beranjak siang.

“Kenapa kamu tidak mencoba membuktikan kalau kamu tidak bersalah?”

Anin diam masih sambil mengunyah makanan. Anin sedang membiarkan Jonan terus bicara.

“Kalau kamu memang tidak bersalah, cari tahu lalu buktikan. Jangan biarkan Bagas terus mempermainkanmu.”

Anin meletakkan kedua sendoknya di atas piring. “Tidak semudah itu. Kamu pikir aku harus membuktikan dengan cara apa?” tanya Anin kemudian.

Satu yang sebenarnya sedikit Anin khawatirkan— Jonan yang notabenya sebagai adik Bagas— ternyata tahu tentang semua rahasia di balik pernikahannya dengan Bagas. Jonan tahu semuanya, termasuk dengan kebahagiaan palsu yang Anin buat.

“Cari tahu siapa pelakunya,” kata Jonan enteng. “Telusuri dan ingat-ingat kenapa kamu berada di kelab malam itu?”

“Apa kamu juga tahu tentang kelab?” tanya Anin curiga. Selera makan mendadak sudah lenyap. “Jawab!” tegas Anin.

Jonan terlihat santai dan seperti tak peduli dengan pelototan Anin. “Jangan kamu pikir aku dalang dari semuanya,” cibir Jonan.

“Lalu, kenapa kamu bahas tentang kelab itu?” salak Anin. "Padahal aku yakin kamu hanya tahu kenapa Bagas mendadak membenciku. Tidak yang lain.”

Jonan menghela napas. Memutar bola mata malas kemudian mendorong kursi dan berdiri. “Kamu itu terlalu bodoh. Makanya mudah dikibulin.”

“Apa kamu bilang?” Anin ikut berdiri dan memberi tatapan tajam. “Tarik ucapan kamu!”

Lagi-lagi Jonan menghela napas. Tidak pergi menjauh, melainkan maju tiga langkah hingga sampai tepat di hadapan Anin. Jonan tidak langsung berkata, melainkan memilih memandangi Anin mulai dari bawah hingga ke atas.

Anin yang tak suka dengan tatapan itu sontak mengatupkan kedua tangan—memeluk tubuhnya sendiri. “Apa yang kamu lihat!” salak Anin. “Jangan macam-macam!”

“Hei!” Jonan yang jauh lebih tinggi dari Anin lantas mensejajarkan wajah. “Kalau aku memang berniat macam-macam sama kamu, sudah aku lakukan sejak dulu. Dasar bodoh!”

Anin mencengkeram erat pada sandaran kursi. Tatapannya terpaku lurus ke arah Jonan yang wajahnya semakin dekat. Mendadak Anin merasakan degup jantungnya meloncat-loncat lebih cepat dari sebelumnya.

“Ada apa ini?” batin Anin yang tak kunjung bisa berkedip maupun bergerak.

“Jangan menatapku begitu, nanti kamu terpesona.” Seringaian mengembang sempurna di wajah Jonan.

Saat Jonan sudah menarik mundur punggungnya, saat itulah Anin segera tersadar dari lamunannya.

“Jangan terlalu dekat denganku. Ingat, aku ini istri kakak kamu,” kata Anin sambil membuang muka.

Jonan mendecih setengah meringis. “Istri yang bahkan sampai detik ini belum dijamah.”

“Kau!” Anin melotot sambil mengacungkan jari telunjuk.

“Apa?” dengan santainya Jonan membalas pelototan mata Anin. “Memang begitu kan?”

“Sangat tidak sopan!” gertak Anin sambil mengentakkan kaki.

Ketika Anin sudah mendorong mundur kursinya dan hendak angkat kaki, Jonan justru menarik lengan Anin. “Tunggu!”

Anin mengibas. “Apa, sih!”

“Jadilah istriku. Aku janji akan membahagiakan kamu.”

Degh! Anin kembali mematung. Kalimat yang baru saja Anin dengan terasa lebih kuat dari sambaran petir saat hujan. Anin termenung dengan bibir sedikit terbuka, sementara dua bola matanya buyar entah memandang apa.

“Jangan asal bicara!” hardik Anin saat tatapan sudah menunduk.

“Aku tidak main-main,” sahut Jonan. “Aku tahu kamu butuh kasih sayang, kamu butuh sentuhan. Kamu mendambakan hubungan suami istri.”

PLAK!

Satu tamparan melayang begitu saja mendarat tepat di pipi kiri Jonan. Mata Anin terlihat memerah dan mulai berkaca-kaca.

“Lancang sekali bicaramu. Aku ini istri kakak kamu!” Anin menyala-nyala.

“Aku tahu!” balas Jonan. “Aku memang tahu kau istri kakakku, tapi aku hanya ingin membahagiakan kamu. Jangan berkorban terus untuknya, Anin!”

Anin terdiam sesaat. Anin sedang mengatur napasnya yang mulai memburu.

“Dengar ….” Anin kembali menatap Jonan. “Ini urusanku. Aku tahu kamu hanya kasihan padaku. Jadi … berhentilah membahas hal seperti ini.”

Anin menunduk, kemudian berlalu meninggalkan Jonan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BAHAGIA SETELAH DUKA
8.3
Hubungan asmara Gabriel dan Nadya terhalang tembok besar restu keluarga akibat perbedaan keyakinan. Demi meminang Nadya yang merupakan penganut agama yang taat, Gabriel rela berpindah keyakinan dan berkomitmen menjadi imam yang baik. Namun, pengorbanan besar tersebut harus dibayar mahal. Keputusannya membuat Gabriel kehilangan haknya sebagai ahli waris Indofarma Grup dan namanya pun resmi dicoret dari daftar keluarga besarnya.
Sampul Novel Hanya Karena Sebuah Rumah
9.6
Lima tahun pernikahan hancur seketika setelah sang suami, Boni, diam-diam memindahkan kepemilikan rumah mereka kepada cinta pertamanya yang merupakan seorang ibu tunggal. Alih-alih merasa bersalah, Boni justru memarahi istrinya karena dianggap tidak memiliki simpati. Keadaan kian memanas saat sang cinta pertama memamerkan mobil mewah baru senilai dua miliar pemberian Boni di media sosial. Muak dengan pengkhianatan dan manipulasi ini, sang istri akhirnya mengambil keputusan bulat untuk bercerai.
Sampul Novel Kendra dan Lukanya
8.6
Kendra dikenal sebagai pemuda bengis yang tidak segan bertindak kasar pada siapa pun. Di sisi lain, ada Lea, gadis cantik dan lugu yang pantang menyerah mengejar cintanya meski terus ditolak mentah-mentah oleh Kendra. Walau Kendra menegaskan tak akan pernah membalas perasaannya, Lea tetap bertahan demi menumbuhkan benih cinta di hati cowok itu. Namun, saat Kendra akhirnya menyadari perasaannya pada Lea, ia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa waktunya hampir habis.
Sampul Novel Mengejar Cinta Ustaz Tampan
9.7
Dian, wanita tomboi dengan gaya bicara blak-blakan, merasa tertekan karena belum menikah di usia tiga puluh tahunan. Mengikuti saran unik, ia mulai mendatangi masjid saat Subuh demi menemukan jodoh idaman. Di sana, ia terpikat oleh sosok Fajar Faizan, seorang ustaz sekaligus dosen tampan. Dian pun nekat mengubah total penampilannya demi menarik perhatian sang pujaan hati. Akankah usahanya yang berawal dari motif duniawi ini berujung pada cinta sejati?
Sampul Novel My Hot Daddy
8.7
Terdesak masalah ekonomi, Joanna terpaksa mengambil keputusan drastis dengan menjadi sugar baby bagi Regan. Pria itu memberikan satu syarat mutlak: hubungan mereka tidak boleh melibatkan perasaan. Namun, di tengah kemewahan tersebut, Joanna mendengar rahasia gelap mengenai jati diri Regan yang sebenarnya. Kini, ia terjebak dalam dilema antara bertahan demi uang atau mengikuti kata hati. Akankah benih cinta tumbuh meski sejak awal telah dilarang?
Sampul Novel Namaku Kamilia, Tuan
9.2
Demi melunasi utang sang ayah, Kartika terpaksa mengganti identitasnya menjadi Kamilia dan pergi meninggalkan Saiful, kekasih hatinya. Ia dijual kepada pria kota bernama Heru seharga puluhan juta rupiah. Hidup sebagai wanita simpanan, Kamilia kerap menerima perlakuan kasar hingga akhirnya ia nekat melarikan diri. Perjalanan hidup yang kelam dan penuh liku harus ia lalui. Mampukah Kamilia lepas dari jeratan dunia hitam dan kembali ke pelukan Saiful?