Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Bastard Yang Manis

Suami Bastard Yang Manis

Serena Lucard terjebak pernikahan paksa dengan Rafael Abbas Azam, sahabat sekaligus bosnya yang manipulatif. Meski awalnya menolak perjodohan demi menghindari sifat bajingan Rafael, Serena tak berkutik setelah Rafael merenggut kesuciannya demi ambisi obsesif. Kini, ia terbelenggu dalam rumah tangga penuh kekangan demi melindungi kehormatan ayahnya dari hinaan keluarga Azam. Di bawah dominasi Rafael yang otoriter, Serena harus bertahan menghadapi gairah dan perilaku sesuka hati suaminya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setalah berlibur di villa, Rafael dan keluarganya kembali ke rumah masing-masing. Ada yang berbeda dan terasa baru tentunya, kini keluarga Azam bertambah satu. Serena akan tinggal dengan mereka -- akan satu rumah dan satu kamar tentunya dengan Rafael.

"Istirahatlah. Kalian pasti lelah." Satiya berucap lembut, menatap hangat pada menantunya yang wajahnya terlihat sembab.

Walau rumah orang tuanya cukup dekat dari sini, namun tetap saja Serena akan merasa sangat sedih karena dia tidak tinggal dengan orang tuanya lagi. Sekarang Serena tinggal dengan keluarga suaminya.

"Iya, Tan …- Mommy." Serena berucap kikuk.

Melihat Rafael menyalim orang tuanya, Serena juga melakukan hal yang sama. 'Nih anak ada sisi terangnya juga. Kirain gelap melulu.' batin Serena ketika memperhatikan Rafael bahkan mencium pipi Daddynya.

Ya … maklum! Anak Daddy!

Setelah pamit untuk tidur, Serena mengikuti Rafael -- berjalan menuju kamar mereka. Sebenarnya mansion ini bukan suatu hal yang asing bagi Serena, dia sering kemari. Tapi … dengan status yang dia sandang sekarang, entah kenapa tempat ini berubah menjadi asing dan -- sedikit tak menyenangkan. Ada perasaan segan, kaku dan juga gugup yang memenuhi hati Serena.

'Aku tidak menyangka jika aku bakalan jadi istri si Kang brengsek ini.  Ya Allah! Dari yang kecil main rumah-rumahan sama nih orang malah besarnya kenyataan bangun rumah tangga sama setan satu ini. Nyesel aku kenal dia pas kecil.' batin Serena, menundukkan kepala dan hanya berjalan dengan mengikuti tumit kaki suaminya -- Rafael berjalan di depannya.

Dug'

"Ahck." Serena meringis pelan, tak sengaja menabrak punggung Rafael yang tiba-tiba berhenti. Cik, Serena terlalu larut dalam pikirannya.

Sampai detik ini dia masih belum ikhlas jika dia telah menjadi istri Rafael. Bukan apa-apa, tapi Rafael sangat brengsek! Pria ini merenggut mahkotanya dan berlagak baik di depan kedua orang tua Serena. Satu mansion di rumah Serena sangat mengidolakan Rafael -- pria yang menikahinya ini sangat manipulatif.

Parahnya, di hari mereka akan menikah Rafael tidur dengan Jenner -- sahabat rasa kekasihnya itu. Cemburu?! Tidak! Tapi Serena merasa dikhianati dan direndahkan. Sebegitu remeh-nya Rafael pada pernikahan sampai dia tega mempermainkannya.

Serena sampai detik ini tidak terima dengan hal itu. Namun … kasihan Papanya jika Serena memberontak.

"Cik." Rafael berdecak pelan, menoleh ke arah Serena kemudian menarik kepala perempuan itu. Serena pikir Rafael akan memarahinya karena pria ini memang mudah marah dan kesal. Namun Serena salah, Rafael malah mengelus jidat Serena dengan sesekali meniupnya. Setelah itu, Rafael juga mencium kening Serena dengan lembut.

"Hati-hati kalau jalan," ucap Rafael kemudian, memperingati Serena Dengan menatapnya tajam. Rafael membuka pintu kamarnya lebar, mempersilahkan Serena lebih dulu untuk masuk ke dalam.

Serena dengan kikuk dan gugup melangkah ke kamar tersebut. Aroma maskulin khas langsung  menyeruak dan memenuhi indera penciumannya. Kamar bernuansa mono ini mempunyai suhu yang dingin, mirip dengan penghuninya sih.

Tiba-tiba pipi Serena bersemu merah, dia teringat masa high school dulu, id mana Serena pernah disuruh oleh Satiya untuk memanggil Rafael makan. Saat itu, Serena membuka pintu kamar ini -- memperlihatkan Rafael yang tidak memakai baju.

Posisinya saat itu dia dan Rafael sedang bertengkar karena sesuatu, dan karena insiden memalukan tersebut Rafael sering mengejeknya si pengintip.

Demi Tuhan! Dulu Rafael tidak seperti sekarang. Dia pria yang menjaga auratnya sendiri dan menjaga pandangannya. Dia sangat menghormati perempuan. Namun sekarang, setelah dia besar dan pulang dari LA, dia menjadi pria dewasa yang sangat bastard. Terlebih lada Serena.

"Rafael." Serena menoleh ke arah Rafael yang sudah masuk dan berniat ke kamar mandi.

"Humm." Pria itu berdehem singkat, menoleh dan menatap berat ke arah Serena.

"Aku … aku akan tidur di mana?" tanya Serena. Dia sudah mengantuk tetapi takut menyentuh ranjang serba hitam milik Rafael.

Mungkin karena statusnya berubah-- dari sahabat pria ini lalu menjadi istri Rafael-- Serena merasa sangat canggung dan kaku. Apalagi hubungannya dan Rafael tak baik. Bisa dikatakan pernikahan ini adalah konspirasi Rafael.

Wajah Rafael berubah menjadi dingin, tatapannya tajam dan rahangnya mengatup. "Di lantai! Dasar stupid!" ketusnya bercampur kesal sembari langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Sedangkan Serena ….

Deg

"Di--di lantai?" murungnya pelan, mengerjabkan mata karena ingin menangis. Selain bastard, Rafael juga sangat kejam.

'Harusnya aku tidak menikah dengannya!' gumam Serena sedih bercampur kesal. Dia mengambil bantal di ranjang lalu meletakkannya di lantai. "Dia tidak akan marah jika aku pakai bantalnya satu kan?! Cik, aku mau pulang saja. Rafael sangat kejam!!"

Ceklek'

Rafael keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan Serena yang berniat akan tidur di lantai.

"Kau bodoh, hah?!" ucap Rafael, berjalan panjang ke arah Serena dengan raut marah bercampur tak habis pikir.

"Kamu yang bilang …-" ucapan Serena berhenti. Dengan kasar Rafael mendorongnya ke atas ranjang, membuat Serena terhempas dan terbaring di atas ranjang.

Deg deg deg

Jantung Serena berpacu dengan kuat, takut pada Rafael dan sakit hati dengan perlakukan pria ini padanya. "Apa masalahmu?! Bukannya kamu yang bilang tadi jika aku tidur di lantai."

"Kau sangat berisik. Diam!" ketus Rafael, naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi lain ranjang dengan membelakangi Serena.

'Sejak di villa dia sepertinya kesal. Tapi … kenapa?' batin Serena, memperhatikan Rafael yang berbaring membelakanginya.

Ting'

Suara handphone Serena berbunyi terdengar. Serena mengerjab beberapa kali, menatap handphonenya yang ia letakkan di atas nakas sebelah Rafael berbaring.

Ting'

Lagi-lagi handphonenya tersebut berbunyi.

"Hah." Serena menghela nafas, memilih mengambilnya karena takut Rafael terganggu dan marah lalu membanting handphone kesayangannya tersebut.

Serena mendekati Rafael, merundukkan tubuhnya untuk mengambil handphone tersebut dan …-

Dug'

'Mampus!' batin Serena ketika tak sengaja lututnya kejedot ke kepala Rafael yang berbaring.

Serena buru-buru meraih handphonenya dan kembali ke tempatnya semula, bersamaan dengan Rafael yang sudah menatapnya dengan tajam dan marah.

"Apa matamu buta?" geram Rafael, marah dan mendidih pada Serena.

"Aku tidak sengaja, El." Serena menghela nafas dengan pelan. Dari Rafael yang gila ingin dekat terus dengannya menjadi Rafael yang anti padanya dan pemarah begini.

'Mungkin PMS kali.' batin Serena berusaha positif thinking.

Sehabis dari rooftop di villa, Rafael sangat sensi padanya. Pria ini marah dan bersikap dingin juga.

"Awal saja jika kau mendekati batas ini," ucap Rafael, menaruh guling di tengah ranjang untuk sebagai batas. "jangankan melewati batas ini, mendekatinya saja kau akan tahu akibatnya, Serena."

"Terserah dan bodo amat, El." kesal Serena, memutar bola mata dengan jengah dan memilih berbaring. Jujur saja, dia sudah sangat lelah -- lelah karena pernikahannya dengan pria bastard ini dan lelah karena sikap menjengkelkan Rafael.

Rafael menggeram pelan, namun juga kembali membelakangi Serena dan melanjutkan tidurnya.

Pengantin baru? Cih, bahkan mereka tidur dengan jarak dan dengan guling pembatas. Mereka lebih cocok disebut musuh bebuyutan yang terjebak di ranjang yang sama. 

"Cik." Tiba-tiba Rafael berdecak kesal, membalik tubunnya menghadap Serena yang sudah terlihat pulas. Rafael mengambil guling pembatas tadi lalu melemparnya sembarangan arah. Kemudian dia menarik Serena, memeluk perempuan itu dengan senyaman mungkin -- menjadikan Serena sebagai guling pribadinya.

Sial! Dia sangat kesal pada Serena karena perempuan ini berpandangan dengan Maxim ketika di villa. Keduanya seperti kekasih … Fuck! Rafael benci mengingat itu.

"Aku harus memperingati Maxim!"

***

"Ya Tuhan." Serena syok dan kaget saat sadar jika dia terbangun di pelukan Rafael. Beberapa menit tadi dia loading. Namun ketika mengingat ancaman Rafael tadi malam, Serena jadi takut dan panik sendiri.

Di-- dia menerobos ke wilayah Rafael dan bahkan tidur dengan memeluk Rafael.

'Perasaan aku tidur nggak liar amat. Ke--kenapa aku bisa di sini?' batin Serena, panik dan pucat pias.

Dengan hati-hati Serena berbuat pindah tempat dan kabur, namun tiba-tiba saja tangan Rafael mencekal pergelangannya. Ketika Serena menoleh ke arah pria itu, mata Rafael sudah terbuka-- menyorot tajam penuh aura intimidasi.

"Kau memasuki wilayahku, Serena," ucap Rafael dengan suara serak dan berat, khas bangun tidur. Terdengar seksi tetapi lebih dominan menyeramkan bagi pendengaran Serena.

"Kau akan aku hukum," tambah Rafael, membuat Serena melongos dan menganga lebar-lebar. Sangking lebarnya, Serena rasa rahangnya akan jatuh!

Rafael gila! Dia baru log in tetapi sudah membuat Serena mati kutu.

"A--apaan sih?!" ketus Serena, melepas cekalan Rafael di pergelangannya dan buru-buru turun dari ranjang. "Si--siapa tahu kamu yang pindahin aku tadi malam ke tempatmu. Dasar gila!" cerocos Serena dengan nada kesal bercampur cerewet, lalu buru-buru berlari ke arah kamar mandi.

Di-dia merinding! I--ini pertama kalinya Serena memperhatikan wajah Rafael ketika baru bangun tidur. Sialnya itu meresahkan karena …-

'Tampan dan seksi! Argkkkkkk … Mama, aku mau pulang! Rafael sudah besar dan dewasa!' batin Serena, berjalan cepat ke kamar mandi Rafael dengan mata melotot syok.

"Satu punishment lagi, Serena, karena kau telah memfitnah suamimu," seru Rafael dengan nada serak dan berat, menatap istrinya yang buru-buru ke kamar mandi dengan tatapan sayup dan geli.

Cih, manis dan menggemaskan. Ekspresi kesal Serena sangat menghibur pagi hari Rafael ini.

Dia suka sekali menjahili perempuan itu, sejak mereka kecil dulu.

"Serena." Rafael menyeru rendah, masih bermalas-malasan di atas ranjang. Satu hal yang paling dia sukai adalah menyebut nama Serena.

Rafael buru-buru bangkit dari ranjang, berlari ke arah kamar mandi dengan senyuman licik dan iblis yang sudah mengibar di bibirnya.

Dengan lancang dan santai dia membuka pintu kamar mandi laku masuk begitu saja -- bertepatan ketika Serena berniat membuka baju kaosnya.

"Ra--Rafael!" pekik Serena kaget bercampur gugup dan takut. Kenapa juga pria ini masuk ke kamar mandi? Kan Serena masih menggunakannya.

Dasar! Rafael sudah tidak ada kesopanan ternyata!

"Keluar nggak?! Aku mau mandi." Serena mengusir namun malah meringsut ke sudut kamar mandi ketika Rafael berjalan mendekatinya.

"Keluar? Ini kamar mandiku, Manusia Kera," ledek Rafael dengan senyuman jahil di bibirnya.

Serena melotot horor dan tak terima. "Ka--Kamu!"

"Apa?" Rafael menantang. "Paman … ah, maksudku, Papa Thomas sering memanggilmu manusia kera."

"Iiidih." Serena mendelik, memasang wajah julid dan tak suka pada Rafael. "Yaudah, aku yang pergi," kesal Serena, menghentak-hentakkan kaki sembari berjalan keluar dari kamar mandi.

Namun Rafael tiba-tiba menyentak tangannya, membuat Serena berakhir menabrak dada bidang Rafael.

"Rafael!" geram Serena dengan berusaha melepaskan tubuhnya dari jeratan Rafael.

"Kau ingin mandi?" Rafael berucap lembut, dengan tangan yang sudah melingkar di pinggang Serena. "Boleh, Baby Girl. Tapi kau harus bayar …," bisik Rafael dengan nada rendah dan serak, tangannya yang di pinggang sudah menyelip masuk ke dalam kaos Serena -- menggerayapi perut dan bagian tubuh Serena lainnya.

"Le-- Agkh! Lebih baik aku tidak mandi, Bangke! Leppass!" pekik Serena dengan susah payah, menatap antara memohon dan memperingati. Dia tidak ingin tunduk, tetapi apa yang Rafael lakukan padanya ini membuat Serena tak bisa berkutik. 

"Ini masih punishment-mu. Belum bayaran karena kau menggunakan kamar mandiku."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ALUR CINTA TIAN DAN ARLYN
8.8
Bagi mereka yang memiliki hati, cinta sejati adalah sebuah keyakinan. Arlyna Virgolin sangat mencintai Bastian Pisceso, hingga ia berharap bisa terus jatuh cinta pada pria itu di kehidupan mendatang. Namun, romansa yang indah dan membara ini tidaklah sesederhana bayangan mereka. Di balik kesempurnaan perasaan tersebut, Arlyn dan Tian harus bersiap menghadapi berbagai badai besar. Sanggupkah kekuatan cinta mereka bertahan melewati rintangan yang sulit?
Sampul Novel Boy and Secret
9.2
Kenzo dan Alesha terjebak dalam pernikahan paksa akibat tuntutan orang tua. Hubungan tanpa cinta ini menjadi semakin rumit karena mereka harus menyembunyikan status tersebut dari publik. Situasi kian pelik saat Alesha hamil, memicu ketakutan luar biasa dalam dirinya. Meski penuh tekanan dan lika-liku, keduanya berupaya membangun komitmen di tengah badai emosi. Inilah perjalanan sulit mereka dalam menghadapi rahasia besar serta tanggung jawab yang tak terduga.
Sampul Novel Dilema
8.5
Insiden kecelakaan yang menimpa Doni Damara mengungkap rahasia besar yang memicu konflik batin mendalam. Kini ia terjebak dalam pilihan sulit antara tetap bersama Rina, penolongnya, dan Romeo yang sudah menganggapnya ayah, atau kembali pada masa lalunya. Di sisi lain, ada Ibu Marmi, Aida sang istri setia, serta Ajeng yang merindukannya. Akankah Doni meninggalkan keluarga barunya demi mereka? Bagaimana reaksi Rina saat mengetahui kebenaran tentang identitas Doni?
Sampul Novel Love & Destiny
8.1
Mikaela Cassandra Djuanda harus menelan pil pahit saat suaminya pergi bersama wanita lain tepat di hari pernikahan mereka. Tiga tahun berlalu, takdir mempertemukannya kembali dengan Marcel Arya Buana yang kini telah hidup bersama wanita pilihannya. Marcel terkejut menyadari status pernikahan mereka masih sah dan ia memiliki seorang anak. Kini Marcel terjepit dalam dilema besar: akankah ia memilih cinta atau memenuhi tanggung jawabnya sebagai ayah?
Sampul Novel menikah lagi
9.1
Aku kini menetap di rumah besar miliki sendiri bersama lima penghuni lainnya. Meski sudah lama kubeli dan kurenovasi untuk kosan, aku selalu menghindari bangunan ini selama bertahun-tahun. Ada luka lama yang memicu kemarahan serta kesedihan mendalam setiap kali aku mengingat sejarah kelam di dalamnya. Kini, aku terpaksa menghuni kamar utama di lantai bawah dan menghadapi kembali memori buruk yang tersimpan rapat di balik dinding hunian ini.
Sampul Novel Nafsu Liar Putra Mafia
9.3
Melanjutkan kisah dari Wanita Pemuas di Ranjang, narasi ini menyoroti generasi penerus dari keluarga mafia besar, Hansen dan Maxwell. Fokus utama terletak pada upaya mereka dalam mengelola takhta bisnis ilegal peninggalan orang tua sambil menghadapi lika-liku romansa yang rumit. Pembaca akan diajak mengikuti perjalanan emosional putra-putra mafia ini dalam menentukan pilihan hati dan mencari pasangan hidup yang tepat di tengah dunia yang keras.