
Suami Bastard Yang Manis
Bab 3
"Selamat pagi, Mommy," sapa Serena kikuk dan gugup, memasuki ruang bersama seorang pria yang berjalan lambat di belakangnya.
"Pagi, Nak. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Sati balik, mendapat anggukan pelan dari Serena.
"Serena, kenapa kau tidak menyapaku juga? Apa aku transparan?" Gabriel yang juga di sana, menaikkan sebelah alis -- menatap anak sahabatnya yang kini menjadi menantunya dengan sebelah alis yang terangkat.
Aneh bocah satu ini! Bisa-bisanya dia terlihat kikuk seperti ujian skripsi saat berhadapan dengan Gabriel begini. Padahal biasanya Serena tak pernah canggung dan selalu enjoy.
"Selamat pagi, Paman," sapa Serena dengan malu-malu dan setengah gugup. Demi Tuhan! Dulu dia biasa saja bertemu dengan pamannya ini. Namun entah kenapa sekarang rasanya berbeda, rasanya seolah dia bertemu dengan petinggi negara. Gugup dan berdebar!
"Istriku kau panggil mommy dan aku kau panggil paman. Apa aku seperti suami keduanya, humm?" protes Gabriel tak terima.
"O--oh. Selamat pagi, Daddy." Serena meralat dengan panik luar biasa. Bahkan dia sampai berkeringat dingin hanya karena merinding dan takut dengan aura mengerikan Papa mertuanya.
"Humm." Gabriel berdehem pelan, sekilas menoleh ke arah Serena lalu kembali fokus pada sarapannya. "Enjoy seperti biasa, Serena. Daddy tidak makan daging manusia."
"Hehehe …." Serena hanya cengengesan tak enak dan semakin kikuk. Dia baru duduk ketika Aesya mendudukkannya. Dia benar-benar kikuk dan seperti beru mengenal keluarga ini. Malu-malu kucing!!
"Atau jangan-jangan Rafael melakukan hal jahat padamu?"
Rafael yang baru akan menggigit sarapannya sontak menoleh cepat ke arah Daddynya. "Jangan memfitnah, Daddy. Cik."
"Bisa saja," ucap Reigha menimpali yang mendapat anggukan dari Maxim dan juga Aesya.
"Kalian bosan hidup?" lempeng Rafael, menatap malas ke arah ketiga makhluk menyebalkan tersebut. Terutama Maxim yang …-
'Hell! Dia duduk berhadapan dengan Serena-ku.' batin Rafael tiba-tiba berdiri.
"Serena, pindah ke sini," ucapnya sembari menoel-noel pundak istrinya.
Serena jengkel karena pagi ini Rafael terus menguji kesabarannya. Namun tahan! Jangan sampai nama-nama hewan di kebun bintang ia rapalkan di depan mertuanya. Bisa-bisa kesan menantu idaman hilang dalam dirinya. Apalagi ini hari pertamanya sarapan bersama di mansion ini sebagai seorang menantu.
Dengan kesabaran yang tersisa, Serena pindah tempat duduk dengan Rafael.
"Abang El, kok gitu sih?! Serena kan sedang makan, Sayang," tegur Sati degan lembut, menatap tak habis pikir pada putranya tersebut.
"Tidak apa-apa kok, Tan--Mommy." Serena yang tak enak berucap mendahului suaminya, sembari tersenyum manis ke arah Sati. Dia sangat tak enak pada Sati karena kelakuan suaminya ini.
"Mommy tidak enak sama kamu." Sati menghela nafas, balik tersenyum pada Serena. Sejujurnya dia benar-benar tak enak pada Serena.
Persamaannya dengan Serena, mereka wanita yang sama-sama tak enakan! Susah memang jika punya perasaan begitu.
Ruang makan kembali hening. Semua sibuk dengan sarapan masing-masing, mengejar pekerjaan mungkin, karena tak ada satupun orang di meja makan ini yang tak punya kesibukan.
Reigha dan Aesya punya bisnis bersama, mereka punya perusahaan yang dikelola dengan masih bernaung pada perusahaan Rafael. Walau begitu kadang Reigha lebih memaksimalkan diri untuk mengurus perusahaan mereka yang ada di Paris, yang saat ini dipegang oleh Daddynya. Karena dia adalah ahli waris untuk perusahaan itu. Tapi … dia masih belajar dan masih Daddynya yang memegang. Daddynya tentunya punya kesibukan mengurus perusahaan di Paris, dan asisten kesayangannya sekaligus selingkuhan Daddynya di kantor Paris tentunya akan menemaninya. Yah, Daddy ada jadwal ke Paris hari ini dan biasanya Gabriel akan di sana selama empat hari bersama selingkuhannya.
Maxim, Rafael dan Serena tentunya ke kantor juga. Sisa Zayyan yang harus ke sekolah. Jadi … semua punya kesibukan masing-masing.
"Wow, kau istri yang baik ternyata," bisik Rafael tiba-tiba, sembari satu tangannya yang sudah berada di atas paha Serena-- mengelusnya dengan gerakan sensual sembari kadang meremasnya. "Kau pengertian," tambahnya lagi dengan berbisik.
Serena menelan susah payah sarapannya, apa yang Rafael lakukan padanya sekarang itu sangat membuat Serena sulit bernafas. Bahkan sulit untuk bergerak sedikit saja. Sialan dan bangke memang Rafael! Banyak orang di sini dan Rafael berani memesuminya.
Bastard!
"Jauhkan tanganmu, El." Serena menepis tangan Rafael dengan cepat, berucap sangat pelan sembari pura-pura fokus pada sarapannya.
Untungnya Mommy dan Daddy pertanyaan sedang sibuk dengan pembahasan mereka, dan yang lain juga tengah sibuk dengan sarapan masing-masing.
"Atau aku berteriak," tambah Serena dengan mencubit tangan Rafael yang kembali genit di atas pahanya.
Rafael menoleh ke arah Serena, menyeringai tipis dengan menatap dalam dan penuh makna pada Serena. "Jangan galak, Baby Girl. Nanti aku lapar lagi."
"Iss." Serena melirik ogah ke arah Rafael, memutar bola mata dan memilih mengabaikan Rafael.
See? Pria ini sangat menjengkelkan. Mesum dan bastard tingkat dewa!
**
"Pagi, Rafael."
Serena memutar bola mata dengan malas, menatap seorang perempuan berpenampilan casual yang berdiri di sebelah mobil suaminya. Dia dan Rafael baru tiba di sini dan perempuan ini sudah ada di mari.
Jenner sepertinya sangat menunggu kehadiran Rafael.
'Pasangan biadap memang!' batin Serena, buru-buru mengambil tas dalam mobil Rafael dan bergegas dari sana. 'Benar-benar tak ada muka! Mereka tidur bersama pas di hari pernikahanku. Dan sekarang terang-terangan bermesraan di depanku. El bajingan! Jika dia suka dengan Jenner kenapa dia ngotot menikahiku?' batin Serena yang sudah sangat dongkol, melangkah meninggalkan pasangan gila itu.
Andai tak memikirkan posisi Papanya, Serena rasanya ingin mengakhiri semua ini dan mengadukan kelakuan biadap Rafael padanya. Sayangnya yang benar-benar peduli pada Papanya hanya, Gabriel dan Sati. Selebihnya … keluarga Azam lebih munafik dibandingkan penjilat diluaran saja.
Sudah dia katakan, banyak keluarga Azam yang membenci keluarganya karena sejak dulu yang berkuasa di Azam lebih peduli pada keluarga Serena. Karena itu mereka membenci Thomas yang terlalu diistimewakan oleh Gabriel. Bahkan Gabriel keukeh menjodohkan Serena yang mereka anggap anak babu dengan Rafael yang merupakan tuan muda di keluarga Azam.
He's little monster! Anak pertama dari penerus kekayaan Azam.
Itu alasan kenapa Serena memilih bertahan dengan hubungan toxic ini.
"Serena, kau mau kemana?" seru Rafael ketika melihat Serena meninggalkannya begitu saja. "Serena," panggilnya dengan penuh peringatan.
Serena seketika menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Rafael dan Jenner -- di mana Jenner sudah memeluk lengan Rafael, sembari memasang air muka kemenangan dan senyuman culas ke arah Serena.
'Kau mungkin berhasil menikah dengan Rafael. Tetapi akulah yang berhasil mendapatkan Rafael sepenuhnya.' Serena seketika mengingat pesan yang Jenner kirim padanya.
Itu menyebalkan dan sesak sebenarnya. Tapi siapa yang peduli?! Serena memilih berusaha bodo amat.
'Jika aku menunjukkan kecemburuanku, yang ada kamu dan si bangke itu akan merasa menang. Jadi … aku lebih tidak peduli pada kalian, Sialan." Sayang, Serena hanya menyuarakan itu dalam hati. Dia jelas tak berani terang-terangan.
"Aku duluan, El. Jika aku tetap di sini, aku takut kalian canggung berciuman karena ada aku. Yah … tidak enak lah menggangu keromantisan kalian," ucap Serena dengan berusaha santai, lalu dia mengangkat satu tangan -- melambaikannya ke arah Rafael dan Jenner. "Daaaa …."
Rafael langsung mengatupkan rahang, menatap kepergian Serena dengan wajah marah dan dingin. Angkuh! Serena berani meninggalkannya di sini dan biasa saja?!
"El, dia itu gila yah? Kalian menikah tetapi dia tidak marah kita begini." Jenner bahkan bingung dengan sikap serena tadi. Dia tak mengerti kenapa Serena bisa santai dan tak marah.
Padahal Jenner ingin sekali membuat Serena cemburu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia ingin melihat Serena menderita! Wanita itu telah merebut posisinya sebagai istri Rafael.
"Mungkin karena dia tahu kau murahan," ucap Gabriel dengan santai. "Jadi dia tidak merasa tersaingi," lanjutnya sembari melangkah dari sana -- melangkah cepat dan panjang karena dia ingin mengejar Serena.
"El!" Jenner memekik dan setengah menjerit, memanggil Rafael yang meninggalkan dirinya sendiri di sana. Dia samas sekali tak marah dikatai murahan oleh Rafael karena dia memang murahan dengan menawarkan dirinya untuk dijama oleh Rafael, bahkan dia terkesan memaksa Rafael saat itu.
'Siapa tahu kau suka padaku setelah kita melakukannya, Rafael. Ayolah, aku tidak akan menuntut apapun. Aku hanya ingin menjadi yang pertama untukmu -- untuk melepas masa lajangmu.' Itu kalimat Jenner saat merayu Rafael saat itu. Dan yah, Rafael menyebutnya jalang rendahan.
It's ok! Yang terpenting dia bisa memiliki Rafael. Dia yang berhasil mendapatkan Rafael dibandingkan Serena. Dan sekarang Jenner tak akan menyerah!
"Aku tidak akan membiarkan Serena memilikimu, El. Kita yang sepantasnya bersama. Kita punya kesan yang indah saat itu, dan aku hanya butuh menciptakan kesan indah lainnya supaya kau berakhir menjadi milikku, El." Jenner tersenyum licik, berusaha menenangkan emosinya karena Rafael meninggalkannya dan memilih beranjak dari sana juga.
"Serena dinikahi oleh Rafael karena perjodohan. Lalu suatu saat Serena akan diceraikan oleh Rafael karena diriku. Rafael akan tunduk pada cintaku!"
Anda Mungkin Juga Suka





