
Stay With Me (Gaza dan Clara)
Bab 3
Bab 3
"Ngelamun, lo, Za!" Toni mengagetkan Gaza yang sedang memandang gudang penyimpanan buku.
"Ada kabar?"
"Belum, tapi lo tenang aja, ada anak IT yang mau gue introgasi."
"Office boy itu belum ketemu?"
"Susah, Bro! Nggak ada yang tahu dia siapa dan dari mana. Itu urusan Bu Maria."
Gaza menepuk punggung Toni untuk mengucapkan terima kasih. Dari dalam hatinya ada perasaan tidak terima atas tuduhan ini semua. Apalagi sekarang Clara di-DO. Perasaan bersalah itu semakin bersarang di benaknya.
"Aku bingung, Ton. Tiga hari lagi kawin, tapi belum ada kerja. Mana Clara kena DO?"
Toni mengulum senyum. Ada bagian lucunya dalam kasus ini. Akhirnya temannya itu tidak jomlo lagi.
"Jangan ngledek! Aku serius. Kalau ada kerja kasih tau aku!"
***
Sementara itu, gadis manis yang mengenakan baju kasual sedang menunggu hasil visum yang dia lakukan satu jam yang lalu. Clara hanya mondar-mandir di depan laboratorium rumah sakit. Mukanya terlihat menegang, padahal tidak ada yang perlu ditakutkan. Gadis itu selalu menjaga diri selama ini. Semua orang mengetahui hal itu. Clara hanya tidak ingin kasus yang mengerikan ini mencemarkan namanya. Apalagi sekarang ayahnya sangat percaya dia melakukan hal yang buruk.
Setelah dipanggil untuk mengambil hasilnya. Clara bersama dengan teman tim bantuan hukum fakultas menerima hasil tersebut untuk dijadikan bukti. Dia begitu senang karena dapat membuktikan kepada seluruh orang yang menuduhnya, jika dia tidak bersalah.
Tim bantuan hukum tersebut menyimpan barang bukti untuk diberikan kepada pihak kampus keesokan harinya.
***
Esok paginya, Clara meminta Gaza untuk bertemu di kampus. Saat bertemu, Gaza senang karena melihat senyum Clara yang hilang setelah beberapa hari kemarin. Berarti masalah ini akan segera berakhir. Dia juga akan bekerja kembali. Keduanya menunggu tim bantuan hukum dari fakultas di kantin.
Salah satu tim yang juga teman Clara terburu-buru untuk menemui gadis itu. Mukanya pucat dan tangannya gemetar. Setelah melihat Clara dan Gaza terburu dia menghambur ke tempat duduk keduanya.
"Ra, kami benar-benar minta maaf!" katanya dengan gemetar.
"Untuk?" tanya Clara.
"Ra, kita udah usaha, semua juga sangat kecewa dengan semua ini. Tapi, pimpinan bantuan hukum menolak berkas yang kamu ajukan!" Clara dan Gaza saling pandang. Keduanya tidak mempercayai kenyataan yang ada di depan mata. Semua usaha terakhir yang mereka lakukan gagal.
"Kenapa bisa ditolak?" tanya Gaza.
"Gue nggak tau, ke pimpinan langsung aja kalian, gue dan yang lain syok juga."
Tanpa aba-aba lagi Clara berlalu ke kantor Fakultas Hukum. Langkahnya setengah berlari, Gaza dan teman Clara yang berada di belakang tidak kalah panik. Mereka terburu-buru untuk pergi menemui pemimpin lembaga bantuan hukum fakultas tersebut.
Setelah sampai di kantor, ternyata pemimpin tersebut tidak berada di tempat. Hal itu membuat Clara dan yang lainnya kecewa. Gadis itu tertunduk di lantai depan kantor. Dia meratapi nasib buruk yang datang kepadanya.
"Ya ampun, ini usaha terakhir gue. Kalian tau sendiri, kan, gue nggak lakuin yang enggak-enggak sama Gaza. Kalian lihat hasil visumnya, kan? Lo juga jadi saksi, Za! Gue nggak macem-macem sama lo, kan?" Semua teman Clara mendekat padanya. Mereka menenangkan gadis itu.
Sementara Gaza hanya bisa melihat. Dia sadar diri semua ini terjadi karena kelalaian dirinya. Di dalam dadanya ada yang sangat sakit menyaksikan tangisan pilu gadis itu. Apakah permintaan maafnya diterima olehnya.
"Ra, aku ...."
"Pulang aja, lo, Za!" Bentakan Clara membuat Gaza menjauhi gadis itu. Mungkin ini waktu yang tidak tepat untuknya. Besok jika dia sudah tenang, Gaza akan berbicara dengannya.
***
Hari terburuk untuk Gaza dan Clara telah datang. Pernikahan terpaksa itu akan segera dilaksanakan. Tidak ada dekor pengantin mewah, tidak ada katering yang menawarkan banyak menu makanan, tidak ada juga hiasan pelaminan. Hanya ada meja untuk melaksanakan janji setia dengan hiasan sederhana. Semua berbanding terbalik dengan rumah mewah ini.
Clara datang dari kamar dengan penampilan sederhana. Riasan ala kadarnya jauh dari kata layak untuk seorang pengantin, baju kebaya berwarna putih sederhana, juga tanpa senyuman.
Pernikahan paksa ini sungguh sangat menyiksa sang gadis. Matanya sembab dan bengkak akibat menangis semalam. Gaza yang melihat calon istrinya sangat sedih. Dalam hatinya berjanji akan membahagiakan Clara apapun yang terjadi. Ini semua telah menjadi takdir Tuhan. Clara adalah teman hidup yang Tuhan kirim untuknya.
Acara ijab qabul berjalan dengan lancar. Ayah Clara menyerahkan putrinya kepada Gaza sepenuhnya. Dia telah berikrar jika putrinya telah menjadi milik Gaza. Itu berarti tanggung jawab pemuda itu bertambah.
Pandangan Gaza tidak beralih dari Clara. Sedari awal gadis itu hanya menunduk, sesekali dia mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Sungguh pemandangan yang membuatnya tersayat. Ingin dirinya memeluk gadis itu hanya sekadar mengurangi beban, tetapi yang dia tahu Clara sangat membencinya.
Setelah acara sakral itu selesai, Gaza membawa Clara ke rumahnya. Meskipun awalnya sang gadis menolak. Gaza membawa Clara ke rumah setelah gadis itu berberes. Mereka diantar oleh supir rumah Clara. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Clara melihat keluar jendela begitu juga Gaza, sesekali pemuda itu mencuri pandang melalui kaca spion. Namun, gadis itu sama sekali tidak memandangnya.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah kontrakan Gaza. Saat Clara menginjakkan kaki di rumah sederhana itu, dia merasa tidak terbiasa dengan suasananya. Gadis itu terbiasa dengan kehidupan mewah, sekarang dia bersuamikan orang yang sederhana.
"Kamar cuma satu?"
"Iya."
"Ya ampun, Za. Terus gue tidur di mana?"
Gaza menggaruk kepalanya. Dia tidak memikirkan hal ini. Kemarin, dia hidup sendiri. Sekarang, dia harus berdua dengan seorang wanita dalam satu atap.
"Entar aku tidur di luar." Gaza mengambil keputusan. Dia mengalah. Lelaki itu tidur di sofa ruang tamu sekaligus tempat makan dan tempat bersantai.
Baru beberapa menit Clara berada di rumah sederhana itu, Gaza dibuat pusing karena keluhan sang gadis. Seperti kamar mandi tidak bersih, dapur yang kecil, juga kamar Gaza yang berantakan dan bau. Pemuda itu hanya mengangguk saja jika Clara berkata untuk merubah semua rumahnya.
"Di kulkas cuma ada air?" Clara muncul dengan tiba-tiba. Suara besarnya mengagetkan Gaza yang sedang menonton acara televisi.
"Mau makan? Ada mie instan di rak dapur." Bukannya pergi untuk memasak, gadis itu semakin marah dan melempar gaza dengan piring plastik yang dia tenteng ke mana-mana.
"Gue laper, Gaza! Masakin!"
"Masak sendiri!"
"Gue nggak bisa masak!"
***
Gaza bergegas menuju dapur. Beberapa saat tadi, dia mendengar suara piring pecah dan teriakan.
"Kenapa, Ra?"
"Masih tanya lagi, lihat lantai!" Gaza melihat pecahan kaca berserakan di lantai. Segera dia mengambil sapu dan membersihkan serakan tersebut.
"Hati-hati, Ra. Kamu ngapain aja? Dari tadi masak nggak selesai."
"Udah gue bilang! Gue nggak bisa masak!" Gaza menahan tawa. Betapa anehnya perempuan di depannya. Seharusnya perempuan itu pandai memasak.
"Ini gimana? Kompor dari tadi nggak nyala." Gaza menepuk jidadnya. Menyalakan kompor saja gadis ini tidak bisa.
"Kamu duduk aja, biar aku yang masak. Dari pada dapurku meledak!"
Clara melotot karena mendengar ledekan Gaza, sedangkan Gaza tidak tahan lagi untuk tertawa.
Beberapa menit kemudian mie instan siap dihidangkan.
"Silakan makan, Nona."
"Ya ampun, Za. Cuma mie aja, nggak ada telor gitu."
"Sorry, aku dipecat kemarin. Nggak ada uang untuk beli telor."
***
Malam pun tiba, Clara bingung dengan tempat tidurnya sekarang. Gadis itu terbiasa dengan ranjang yang besar dan kamar tidur ber-AC. Di kamar Gaza, hanya ada tempat tidur sempit, AC juga tidak ada, hanya kipas angin yang mendinginkan ruangan.
Clara hanya membolak-balikkan badannya. Oleh karena tidak tahan, gadis itu keluar dan mengajukan protes pada Gaza.
Saat dia keluar Gaza sedang menonton televisi. "Kenapa Nona? Nggak bisa tidur? Mau ditemani?" Kemudian pemuda yang hanya memakai celana boxer dan kaos itu tertawa terbahak.
Clara yang tidak terima, menghampiri Gaza dan melemparnya dengan bantal yang ada di samping pemuda itu.
"Kamar lo bau, sempit, udah gitu panas!"
"Terus?"
"Gue tidur sini aja!"
"Berdua?"
"Gue nggak sedang becanda! Lo sekarang masuk kamar!" Gaza mengikuti perintah gadis itu. Namun, beberapa menit kemudian Clara berteriak memanggil Gaza. Pemuda itu pun bergegas keluar kamar.
"Ra, ini malam. Kamu pikir di hutan!"
"Gue takut, Za. Serem di sini."
"Astaga, Clara! Kalau kamu mau ditemani tidur, oke aku siap. Ayo ke kasur sekarang!"
"Otak lo emang mesum, ya!" Clara malu karena perkataan Gaza yang terlalu vulgar untuknya. Dia menutup mukanya dengan bantal supaya Gaza tidak melihat pipinya yang memerah.
"Terus mau kamu gimana?"
"Gue mau pulang!" Gaza terbelalak. Kalau gadis ini merengek untuk pulang, ayahnya pasti menganggap jika Gaza tidak bertanggung jawab.
"Jangan pulang sekarang, Nona. Ini sudah malam."
Clara melihat Gaza dengan tatapan membunuh. Kemudian dia bersandar di sofa dan melihat acara di televisi. Gaza semakin bingung apa yang harus dia lakukan. Pemuda itu hanya berdiri dan bersandar di pintu kamar. Menunggu perintah Clara.
Clara tidak tenang duduk di atas sofa, berkali-kali dia merubah posisi duduknya. Sekarang gadis itu tidur memiringkan badannya dengan menghadap televisi.
Ada sesuatu yang berdesir dalam diri Gaza saat melihat tubuh seksi di depannya. Piyama tidur berwarna gold dan berbahan satin yang dikenakan Clara semakin membuatnya menarik. Diam-diam pemuda itu menikmati keindahan yang ada di depannya sambil bersandar di pintu.
"Ngapain lo nyandar di situ?" Bentakan Clara membuat Gaza tersadar.
"Aku nggak tau mau ngapain. Belum ada perintah!"
Clara memandang Gaza sangat lama. Gaza yang dipandang gadis cantik di depannya, menjadikannya salah tingkah.
"Lo tungguin gue lihat tivi! Tapi nggak boleh duduk di sini. Lo berdiri aja di situ!"
Sebenarnya, berada di tempat Gaza sekarang merupakan siksaan baginya. Keindahan yang dia lihat tidak dapat dia sentuh saat ini. Berkali-kali pemuda itu berusaha untuk menutup mata, tetapi godaan untuk melihat tubuh indah itu semakin besar.
"Mau ke mana lo, Za?"
"Mau pipis!" jawab Gaza sambil berlalu ke kamar mandi.
***
Esok pagi Gaza bingung. Clara masih tidur dengan nyenyak di atas sofa. Semalam gadis itu baru terlelap setelah pukul dua malam. Perlahan Gaza mendekati gadis cantik di depannya, kemudian membangunkannya dengan menyentuh tangan Clara.
Clara yang baru saja terbangun, kaget melihat Gaza yang sudah berdiri dengan sedikit membungkuk di sampingnya. Gadis itu pun berteriak. Dia memarahi Gaza karena berani menyentuhnya.
"Ra, diam! Aku cuma mau bangunin kamu, ini sudah siang."
"Bohong! Kamu pasti cari kesempatan!" Clara bangun sambil menutupi dadanya dengan tangan. Gaza tersenyum melihat tingkah berlebihan Clara.
"Jangan senyum-senyum! Gue serius, Za! Kalau lo macem-macem, gue bakalan tuntut lo dengan pasal berlapis!"
Kemudian Clara masuk ke dalam kamar masih dengan melindungi dadanya dengan kedua tangan. Setelah gadis itu masuk ke dalam kamar, Gaza mengempaskan dirinya di sofa. Dia membayangkan betapa anehnya hidup yang dia jalani.
***
"Mau ke mana?" tanya Gaza.
Gaza melihat Clara sudah bersiap akan keluar rumah. Tanpa memedulikan Gaza, Clara berlalu ke dapur, lalu mengambil air putih dari kulkas.
"Ke kampus?" tanya Gaza sekali lagi, tetapi gadis itu masih diam saja.
"Bukan urusan lo, gue mau ke mana!" Clara berlalu ke sofa sambil membawa gelasnya. Kemudian dia mengambil ponsel dari tas kecilnya. Terlihat dia mengirimkan pesan.
"Nanti kalau di jalan kenapa-kenapa aku yang tanggung jawab." Gaza menghempaskan diri di sofa dan Clara bergeser tidak ingin terlalu dekat dengan Gaza.
Clara memainkan game yang ada diponselnya sambil menunggu ojek online yang dia pesan. Dia tidak memedulikan Gaza yang mengoceh tentang keadaannya saat di jalan nanti jika tidak memberitahukan tujuannya. Tidak lama kemudian, ojek yang dia pesan datang. Dia melambaikan tangannya pada Gaza. Bukan bermaksud berpamitan, tetapi mengejeknya.
Anda Mungkin Juga Suka





