
Song For Luna
Bab 3
Pikiranku tersita olehnya. Padahal jadwal manggungku minggu ini sangat padat. Tapi setiap aku sedang sendiri,yang kuingat hanyalah Vino.
3 hari ini rasanya tubuhku mulai tidak bersahabat.
"Sist, pucet pisan. Sakit?" tanya Maya melihat muka ku yang memang seperti
kurang darah.
"Gak enak badan.Kayaknya mah bakal drop ini badan. "
"Masih bisa nyanyi teu, sist? Klo gak kuat jangan dipaksain. Biar kang Doni cari pengganti." Maya khawatir melihat kondisiku. Tapi cari pengganti mendadak itu susah. Aku menguatkan diri agar tetap bisa bernyanyi.
"Bisa lah sist. Paling besok ijin sama kang Doni. " ujarku lemas.
Malam ini saja,Lun. Kamu harus bisa melewati malam ini saja.
-----
Hoeekkk.... Hoooeeekkkk....
Entah kali keberapa aku memuntahkan isi perutku.Setiap makanan atau seteguk minuman pun badanku menolaknya. Rasanya lemas sekali. Aku pun sepertinya demam.
Aku lelah, tapi bagaimana bisa tidur kalau dari tadi kerjaanku hanya bolak balik ke kamar mandi.
Aku beruntung bisa sampai ke kost-an ku dengan selamat. Rasanya sudah melayang saja tubuh ini.Bagaimana kalau aku sampai pingsan di jalan tadi?
Sepertinya aku sudah tak tahan lagi. Jika sampai aku pingsan tanpa ada siapapun yang tahu,bahaya banget kan. Sebaiknya aku menelepon Doni. Meminta agar menemaniku ke Rumah Sakit.
Ku tekan nomer Doni di layar HP-ku. Tuuuut.... Tuuut... "Kang.. Anter ke IGD yah. Ke RS Santo Yusuf aja yang deket. Aku lemes banget. Daritadi muntah terus."
"Iya atuh tunggu. Akang siap-siap dulu. " tellepon pun ditutup. Aku merebahkan diri di atas kasur. Berharap tidak harus kembali lagi ke kamar mandi. Sudah tidak ada lagi isi perut yang bisa ku keluarkan.
Sambil menunggu Doni datang menjemput,aku nyalakan difuser ku dan memutar lagu agar lebih rileks. Tak lama aroma teraphy memenuhi kamarku dengan wangi menenangkan. Ditemani lagu "Shallow" dari Lady Gaga feat Bradley Cooper, akhirnya aku bisa sedikit melepas lelah.
-----
"Lun... Buka pintu! " terdengar suara Doni dari balik pintu. Akupun terbangun, mungkin ada sekitar 20 menit aku sempat tertidur pulas.
"Ya, tunggu Kang! " dengan langkah lunglai aku membukakan pintu untuk Doni.
"Euh... Pucat pisan kamu teh. Ya udah hayu ke Rumah Sakit. Apa yang mau dibawa? Akang bawain. "
"Itu tas aku,punten tolong bawain. "
Dengan langkah yang lemah aku mengikuti langkah Doni yang ada didepanku menuju mobilnya.
"Kamu ngabarin Kaka kamu gak? "
"Gak Kang. Gak mau Kaka aku khawatir. Makanya minta tolong ke Akang buat anter ke Rumah Sakit. "
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke Rumah Sakit. Hanya 10 menit saja,kami pun turun dan masuk ke bagian IGD Rumah Sakit Santo Yusuf. Doni langsung menuju bagian administrasi sedangkan aku langsung dipandu Suster agar cepat ditangani oleh Dokter jaga.
Aku terbaring lemah dan pasrah saat Suster mulai memasang infus juga mengambil sampel darah. Rasa mual masih terasa,badanku pun masih demam.Lama -lama matakupun terasa berat dan akhirnya terpejam.
-----
'Get Well Soon,diriku!'
Kupasang status WA-ku dengan foto infusan ditangan. Tak lama banyak pesan masuk menanyakan kondisiku sekarang ini. Tapi dari sekian banyaknya pesan yang masuk, tidak ada nama Vino disitu. Ah, aku mungkin terlalu berharap.
Kata dokter, aku dehidrasi. Mungkin kelelahan dan kurang minum. Serta makan yang kurang baik. Satu minggu ini jadwal manggungku full. Bahkan ada event luar kota. Mungkin tubuhku minta istirahat.
Dokter bilang, coba lihat setelah satu labu infus ini habis. Apa bisa pulang atau rawat inap.Semoga saja aku bisa pulang.
Doni menemaniku. Bagiku, dia sudah seperti seorang kakak .Sebagai leader di band kami, sosok Doni memang kami tuakan,kebetulan umur kami semua juga dibawah Doni.
Basecamp kami pun dirumah Doni. Istri nya yang bernama Risna,sangat baik. Mereka belum memiliki anak. Jadi Risna selalu senang jika kami berkunjung. Rumah menjadi ramai katanya.
Notif WA-ku tak lama berbunyi kembali. Kali ini nama Vino tertulis di situ. Aku membelalakkan mata, memastikan bahwa aku tak salah lihat, karena nama inilah yang selalu ku tunggu -tunggu .
"Lo sakit apa? Dirawat dimana? Ada yang nemenin atau sendiri? Dari kapan sakit? " cecar Vino.
"Nanyanya kayak kereta api, Bang. Dari kemarin dah demam. Tapi tadi dah gak kuat banget. Jadi minta kang Doni anter ke IGD Rumah Sakit Santo Yusuf, deket sini. Kata dokter ,aku dehidrasi makanya diinfus. Klo baikan ya pulang. Tapi kayaknya pulang kerumah kang Doni. Soalnya klo di kost-an gak ada yang nemenin." Aku mengetik dengan cepat tuk membalas pesannya.
"Emang Doni siapanya,lo? Pacar? Gitaris lo itu,kan? " balas Vino.
Sedikit aneh pertanyaan Vino. Seperti ada kecemburuan. Tapi mungkin perasaan ku saja dan aku gak nyangka dia bakal WA. Karena gak seperti biasanya. Dia gak pernah komunikasi kalau sedang berada di Jakarta. Apa karena aku sakit?
"Laki orang,Bang.Ya kali aku jadi pelakor, hahaha...Dia kan leader band, dan udah dianggap kakak juga. Istrinya juga dah kayak kakak sendiri. Makanya dia nemenin aku juga istrinya gak cemburu.Abang kenapa? Cemburu? Cie... Cie...! " dengan senyum lemas aku membalas WA nya.
Doni yang daritadi melihatku tersenyum sambil melihat layar HP pun bertanya, "Saha? Kuat ka senyam senyum sorangan.Kabogoh atau cemceman? "
(Siapa? Sampai senyam senyum sendiri. Pacar atau gebetan?)
"Saha weh. Moal beja-beja! " (Siapa aja deh. Gak akan bilang-bilang) jawabku sambil terus tersenyum.
15 menit berlalu. Gak ada jawaban dari Vino. Sampai akhirnya HP-ku berbunyi.
"Iya gw cemburu. Boleh, kan? "
Seketika ingin pingsan rasanya. Bukan karena dehidrasi, tapi kegirangan membaca balasannya. Tapi kok bisa dia jawab begitu? Apa selama ini dia juga punya perasaan? Tapi kok sering ngilang. Duh, aku mesti jawab apa?
Bukannya selama ini aku berharap? Apa boleh? Apa ini jawaban nya? Dia suka? Atau..... Ah,Luna...Kamu jawab apa?
Kembali pikiranku bekecamuk. Tapi aku tidak bisa membalas pertanyaan Vino. Rasa mual kembali datang... Sebaiknya aku tidak banyak fikiran dulu, badanku harus sehat. Kasihan juga Doni kalau harus menjagaku di Rumah Sakit.
Tak lama rasa kantuk pun datang. Mungkin efek obat yang baru saja Suster berikan. Tak lama aku pun terlelap.
Dalam tidur ku, kembali aku memimpikan Vino. Kali ini kami berdua seperti sedang berjalan di taman yang penuh dengan bunga. Sambil menggandeng tanganku kami berbagi canda tawa. Mimpi yang indah.
-----
"Maaf ya Teh, mau cek dulu! " ucap Suster yang baru saja membuyarkan mimpi indahku.
"Iya,Sus." aku mempersilahkannya mengecek kondisiku. Tak lama masuk lah Dokter jaga.
"Kondisi nya udah bagus. Tadi saya liat hasil tes darah gak ada virus atau radang. Jadi nanti kalau infusannya dah habis,teteh udah boleh pulang ya. Nanti biar dibantu Suster! " jelas dokter.
Aku hanya mengangguk. Doni sedang pergi untuk merokok diluar. Aku bengong sendiri setelah Dokter dan Suster pergi mengecek pasien yang lain.
Aku mengambil earphone dan HP-ku.Memilih lagu dari ratusan judul di playlist ku. Kali ini, ku mulai dengan lagu "Andai Dia Tahu " dari Kahitna...
🎼🎵🎶
Bilakah dia tahu
Apa yang tlah terjadi
Semenjak hari itu
Hati ini miliknya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba
Bilakah dia mengerti
Apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba
Tuhan yakinkan dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah di jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba
Bilakah dia mengerti
Apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan
Tuk dapatkan dirinya
Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah di jatuh cinta
Seperti apa yang ku damba
Tuhan yakinkah dia
Tuk jatuh cinta
Hanya untukku
Andai dia tahu
Andai dia tahu"
-----
Anda Mungkin Juga Suka





