Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Slave Bird

Slave Bird

Nathalie terjebak dalam pengabdian yang menyakitkan sebagai budak bagi seorang pria yang kejam. Meski diberi kebebasan untuk mencintai, ia dilarang keras mengharapkan balasan perasaan yang sama. Sang pria bersedia memberikan segalanya kecuali cinta. Sayangnya, Nathalie gagal menjaga hatinya dan terus merindukan kasih sayang yang mustahil ia dapatkan. Kini, ia harus menelan kenyataan pahit bahwa mencintai tanpa balasan adalah penderitaan yang sangat menghancurkan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Happy Reading and Enjoy~

Saat harga berhenti pada 1jt usd seorang pria bertubuh gempal berseru.

"Buka bajunya, kami ingin melihat tubuhnya. Budak ini yang paling spesial dan sampai pada harga tinggi. Kami akan rugi jika dia benar-benar tidak perawan."

Beberapa pria lain yang mendengar itu mengangguk setuju. Nathalie langsung beringsut mundur, berniat turun dari bangku tinggi yang didudukinya. Sayangnya algojo yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk langsung sigap menghampirinya.

Menahan kedua bahu Nathalie dan langsung menarik bajunya lepas hingga tubuhnya terekspos.

"Jauhkan tanganmu darinya, 10jt usd aku akan membelinya."

Suara lantang itu menghentikan sorak sorai para pria yang ingin melihat inti tubuh Nathalie. Tatapan mereka beralih secara bersamaan ke arah lelaki yang memakai tuxedo navy dengan topeng rubah.

"Ada yang bisa menawar lebih tinggi lagi?"

Hanya orang tidak waras yang mengeluarkan uang 10jt usd untuk seorang budak. Tapi lelaki itu tampak santai, seolah-olah 10jt usd bukanlah jumlah yang besar.

Hening, semuanya memilih mundur. Lebih baik mereka menghabiskan uang untuk membeli budak sebanyak mungkin, daripada harus membeli satu budak dengan harga setinggi itu.

Palu diketuk, dan Nathalie resmi menjadi milik lelaki misterius itu. Lelaki itu berjalan ke atas panggung, memakaikan baju tipis Nathalie lalu menyelimutinya dengan tuxedo yang dikenakannya.

Tidak seperti majikan lain yang memilih membawa budaknya dengan cara menyeret atau menjambak, lelaki itu memilih menggendong Nathalie. Memperlakukan budak itu seperti wanita rapuh lainnya.

"Aku akan membawanya pulang, bawahanku yang akan mengurus pembayarannya."

Nathalie bergerak tidak nyaman, jantungnya berdegub ketika mereka menuju lift besi yang menuju lantai atas. Tangannya mencengkram erat kemeja lelaki tidak dikenal yang menggendongnya ini. Ia melupakan luka bakar yang berada di punggungnya, ia ingin segera bebas.

"Bisakah kau sembunyikan wajahmu?"

Lelaki itu berkata saat mereka sampai di lantai atas. Tanpa di perintah dua kali Nathalie sudah menelusupkan wajahnya di dada lelaki tak dikenalnya ini. Terlalu banyak orang asing, dan suara musik yang keras.

Ia sudah terbiasa dengan keheningan dan kegelapan, semua ini terasa asing baginya.

Langkah lelaki itu berhenti ketika mereka sampai di mobil yang sudah menyambut, ini saatnya untuk kabur.

Saat lelaki itu menurunkan tubuhnya.

Tanpa berkata apa-apa, Nathalie memilih membalikkan tubuhnya dan langsung berlari. Hanya beberapa langkah sebuah tangan memeluk pinggangnya, menarik tubuhnya dengan mudah hingga ia menabrak sesuatu yang terasa keras di belakangnya. Nathalie langsung memberontak dengan tubuh bergetar.

Tubuhnya melayang, ia kembali diangkat. Nathalie semakin memberontak ketika dirinya berhasil duduk di dalam mobil yang akan membawanya pergi entah kemana. Kenangan lalu kembali masuk berkelibat di dalam pikirannya.

Dulu ia juga dibawa pergi dan berakhir di tempat tekutuk itu. Apa sekarang dirinya akan berakhir di tempat yang lebih parah? Tanpa sadar air matanya mengalir, Nathalie terisak dengan tubuh bergetar. Kepalanya menggeleng panik ketika mobil yang dinaikinnya mulai berjalan.

"Hei kau kenapa?"

Lelaki yang menggendongnya itu mendekat, berniat ingin memeluknya agar dirinya sedikit tenang. Tapi bukan membuatnya tenang, ia malah semakin bergetar. Bersembunyi di balik tuxedo kebesaran yang menyelimuti tubuhnya.

Tangannya berusaha menutupi kepalanya, Nathalie sudah siap menerima pukulan yang akan mengenainya.

"Aku tidak akan memukulmu, jangan takut seperti itu. Namamu Nathalie, kan? Nathalie, coba lihat aku, aku di sini untuk menjagamu. Tenang, manis, mulai saat ini tidak akan ada yang menyakitimu. Aku janji."

Nathalie tetap tidak bergerak, kukuh menutup kepalanya dengan tangan. Menyembunyikan wajahnya di dalam kerah tuxedo kebesaran yang dipakainya. Ia tidak bisa mendengar apapun, yang ada dipikirannya hanya suara-suara cambuk yang menemaninya selama ini.

Bahunya disentuh dengan lembut sebelum tubuhnya ditarik masuk ke dalam pelukan seseorang. Nathalie memberontak, tapi kemudian ia sedikit meringis ketika lukanya terasa perih saat ia bergerak. Ada luka baru yang di dapatnya beberapa hari yang lalu.

"Mulai sekarang aku adalah tuanmu, tapi kau bisa memanggilku Arthur tanpa memakai kata 'tuan'. Aku yang akan mengurusmu mulai sekarang, jadi kau harus menuruti apa perkataanku."

Perlahan Nathalie mendongak, menatap wajah Arthur dengan pandangan bertanya. Apa ia akan di pukul jika tidak menuruti perkataan Arthur? Apa ia akan mendapat siksaan yang lebih parah lagi? Banyak pertanyaan lain yang melintas di pikirannya, tapi ia tetap memilih diam tanpa berbicara.

Karena semua itu terasa sia-sia, pertanyaannya tidak akan dijawab. Dan pendapatnya tentang apapun itu tidak akan di dengar. Meski sudah punya tuan baru, ia tetap tidak akan bisa hidup seperti dulu. Karena hingga mati dirinya akan berakhir sebagai budak.

Arthur mengulurkan tangannya menyentuh dahi Nathalie lembut.

"Jangan menatapku dengan raut wajah seperti itu, sudah kukatakan aku tidak akan menyakitimu."

Tangan Arthur berpindah pada ujung bibir Nathalie yang membiru, bekas tamparan algojo yang di dapatnya tadi. Selain bibirnya yang membiru, ada beberapa luka lain di wajahnya. Beberapa memar di tulang pipi dan dahinya. Bahkan sebelah kelopak matanya membengkak, membuat mata indah itu sedikit tertutup.

"Sekejam apa mereka memperlakukanmu hingga membuat wajahmu seperti ini?"

Arthur mengerutkan dahi seolah menyadari sesuatu, lalu dengan sigap ia membuka tuxedo yang menutup tubuh Nathalie. Menyingkap kain tipis yang dikenakannya dan melihat satu luka yang masih bernanah dan tampak mengerikan.

Itu seperti luka bakar yang berasal dari besi panas atau ... cerutu?

Arthur menyentuh pinggiran luka yang masih basah itu dan mendapati Nathalie meringis. Wanita itu menarik dirinya dan kembali melindungi kepalanya.

Ia merasa bersyukur ketika melihat lelaki itu tidak mendekat. Tubunya belum terbiasa disentuh dengan cara yang lembut seperti itu.

Ia sudah terbiasa mendengar bentakan, jeritan dan cambuk. Punya tuan baru merupakan anugrah, tapi Nathalie tetap ingin kabur. Ia hanya ingin sendiri, menjauh dari semua manusia yang berada di bumi.

Karena manusia tidak ada yang baik, mereka hanya baik ketika pertama kali bertemu denganmu. Jika mereka tahu kelemahanmu dan kekuranganmu, mereka akan memanfaatkan lalu menyiksamu, parahnya akan meninggalkanmu.

Nathalie sudah merasakan semua itu, ia hanya ingin hidup sendiri tanpa siapapun.

Tiba-tiba hatinya berdenyut, keinginannya terlalu jauh. Bisa keluar dari tempat mengerikan itu saja sudah merupakan keajaiban.

Arthur menahan kedua bahu Nathalie, mendongakkan wajahnya agar menghadap lelaki itu.

"Aku ingin mengobati lukamu, jangan takut," katanya lembut sembari tersenyum menenangkan.

Tidak mempedulikan sikap Nathalie yang jelas-jelas menolak, Arthur menyentuh lukanya dengan sesuatu yang terasa ... dingin?

"Aku tidak punya persedian lengkap di dalam mobil. Nanti setelah sampai kau akan diperiksa oleh dokter. Setelah itu aku akan mengajarimu banyak hal, mengerti?"

Nathalie hanya berkedip bingung, memilih tidak menjawab. Ia tidak terbiasa bersuara, itulah mengapa dirinya hampir saja lupa bagaimana caranya berbicara.

Arthur menghela napas perlahan.

"Kau mengerti apa yang kukatakan, Nathalie?"

Masih tidak mengangguk ataupun merespon, Nathalie hanya mengedipkan matanya. Entah itu sebagai jawaban atau memang sudah saatnya kelopak mata itu berkedip.

"Jika kau tidak keberatan dengan ucapanku, kau harus menganggukkan kepalamu sebagai jawaban 'ya' dan jika kau tidak setuju, kau bisa menjawabnya dengan menggelengkan kepalamu." Arthur menirukan ucapannya.

"Nah, setelah sampai nanti kau akan diberi obat oleh dokter. Apakah kau mau sembuh? Oh, atau apakah kau mau tubuhmu tidak sakit lagi? Jika kau setuju dan merasa itu adalah hal yang baik, maka kau harus ...?"

Nathalie menganggukkan kepalanya pelan, merasa ragu-ragu. Saat melihat senyum tersungging dari bibir Arthur, ia merasa ini adalah hal yang benar.

"Gadis pintar." Arthur mengacak rambutnya pelan.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 12 Wasiat Dari Ayah
8.6
Dira terjebak dalam hubungan toksik dengan ibunya, seorang wanita penghibur yang mengalami gangguan mental. Di tengah kebencian yang mendalam, Dira mendambakan sosok ayah yang telah lama menghilang. Namun, berita kematian sang ayah membawa kebenaran pahit: Dira bukanlah anak kandungnya. Melalui buku merah berisi dua belas wasiat peninggalan almarhum, Dira harus menuntaskan misi terakhir. Akankah wasiat ini memperbaiki ikatan dengan ibunya atau justru mengungkap rahasia lain?
Sampul Novel BELENGGU CINTA MANTAN
9.3
Andini hancur saat Ardian, cinta pertamanya, pergi setelah merenggut kehormatannya. Tiga tahun berlalu, Ardian kembali dengan pesona yang sulit ditolak meski kini Andini telah menjadi istri Hendra. Walau Hendra tulus mencintai, Andini justru terjerat kembali dalam rayuan mantan kekasihnya itu. Akankah pilihan Andini membawa kebahagiaan di pernikahan keduanya? Bagaimana nasib suami pertama dan putra kecil mereka yang ditinggalkan dalam luka mendalam?
Sampul Novel Cabe-cabean Kekasih Vice President
7.8
Pertemuan tak sengaja di kelab malam membawa Alexander Richard pada Soraya, gadis berusia 19 tahun yang imut dan jujur. Meski awalnya hanya menganggap hubungan ini main-main karena jarak usia delapan belas tahun, sang Vice President justru jatuh cinta terlalu dalam. Namun, rahasia masa lalu Soraya ternyata berkaitan dengan luka lama Alexander. Kini, ia harus berjuang menghadapi trauma besar demi mempertahankan cintanya pada gadis yang sangat memikat hatinya itu.
Sampul Novel Chef Galak Itu Mantan Pacarku
9.2
Mita adalah manajer selebriti handal yang harus menghadapi tantangan besar saat bertemu Gun Saliba. Chef ternama yang sangat rewel itu ternyata merupakan mantan kekasih yang ingin ia lupakan selamanya. Bukannya bersikap profesional, Gun justru menunjukkan permusuhan dan bertekad menyulitkan hidup Mita di tempat kerja. Di balik ketegangan tersebut, Gun rupanya belum mengetahui alasan sebenarnya mengapa Mita memutuskan hubungan mereka di masa lalu.
Sampul Novel Falling for him
9.1
Theo percaya bahwa hati manusia selalu berubah layaknya angin, sebuah keyakinan pahit dari masa lalunya yang kelam. Namun, pandangannya terusik saat bertemu Jaane Kim, gadis berpendirian teguh yang menutup rapat pintu hatinya untuk cinta. Bagi Theo, keteguhan Jaane adalah tantangan yang belum pernah ia temui sebelumnya. Mampukah sang 'Pied Piper' menaklukkan hati Jaane dengan pesonanya? Ikuti kisah romansa musim semi yang penuh debar dan keajaiban ini.
Sampul Novel Istri Pertama Dengan Jendela Kaca
9.5
Lima tahun dipoligami, Elsa berpura-pura tegar demi biaya sekolah adik-adiknya. Di mata Delon dan madunya, Ika, Elsa adalah sosok ikhlas yang sempurna. Namun, di balik senyum itu, ia memendam luka akibat kemandulan dan rasa sakit melihat kebahagiaan suaminya dengan wanita lain. Lebih tragis lagi, Elsa menyembunyikan kanker mematikan yang perlahan menghancurkan tubuhnya. Ia bagai jendela kaca yang tampak utuh namun rapuh, menunggu waktu hingga segalanya pecah berkeping-keping.