Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skandal Cinta Pilot Angkuh

Skandal Cinta Pilot Angkuh

Lara dikenal ceria, namun senyumnya justru memicu kebencian Ardan Pradipta. Pilot dingin ini merasa terganggu oleh kebahagiaan Lara yang mengingatkannya pada luka lama. Saat insiden memaksa mereka terdampar bersama di pulau terpencil, dinding keangkuhan Ardan mulai runtuh dan berganti menjadi daya tarik kuat. Namun, kepulangan Ardan telah dinanti oleh tunangannya yang setia. Mampukah cinta ini bertahan atau hanya berakhir sebagai skandal tersembunyi?
Bab
Bagikan

Bab 2

Langit pagi di pulau itu berwarna kelabu. Kabut tipis menyelimuti pepohonan, menyembunyikan pandangan mereka akan apa yang mungkin tersembunyi di balik hutan yang lebat. Suara deburan ombak bergema lembut di kejauhan, namun ketenangan itu hanya menambah perasaan terisolasi yang perlahan merayap di hati para penumpang dan kru yang selamat.

Lara duduk di atas pasir, mengamati para penumpang yang masih tampak bingung dan lelah setelah malam yang panjang. Beberapa dari mereka mencoba membantu kru mendirikan tempat perlindungan sementara, sementara lainnya hanya duduk diam, menatap ke lautan luas dengan ekspresi kosong.

Ardan berdiri tak jauh darinya, tubuh tegapnya tampak kokoh seperti batu karang di tepi pantai. Dia memberikan instruksi kepada Rizky dan beberapa kru lainnya untuk memeriksa pesawat, berharap menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk memperbaiki komunikasi. Meski tampak tenang, ketegangan terlihat jelas di wajahnya.

Lara memandang pria itu dengan perasaan campur aduk. Semalam, ia melihat sisi lain dari Ardan-sisi yang rapuh, yang penuh luka. Namun pagi ini, dia kembali menjadi sosok dingin yang seolah tak bisa dijangkau siapa pun.

"Kapten Ardan," panggil Lara, memberanikan diri mendekatinya.

Ardan menoleh, tatapannya tajam seperti biasa. "Apa?"

Lara berhenti sejenak, berusaha mengendalikan kegugupannya. "Apa menurutmu bantuan akan segera datang? Maksudku... kita cukup jauh dari jalur penerbangan utama."

Ardan menghela napas, lalu melipat tangan di dadanya. "Tidak ada gunanya berharap terlalu banyak. Kita harus bertahan dengan apa yang kita punya."

Nada bicaranya tegas, tapi Lara menangkap sesuatu yang berbeda di baliknya-ketakutan yang terselubung.

"Tapi..." Lara mencoba lagi, kali ini dengan nada lebih lembut. "Kalau kita tidak saling mendukung, bagaimana kita bisa bertahan?"

Ardan menatapnya lama, matanya seperti jurang yang tak berdasar. "Aku tidak butuh dukungan siapa pun. Aku sudah terbiasa menghadapi semuanya sendiri."

Jawaban itu menusuk Lara. "Kamu tidak bisa terus seperti ini, Ardan," katanya dengan suara yang mulai meninggi. "Kita semua ada di sini bersama-sama. Kita semua butuh satu sama lain, termasuk kamu."

Ardan mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Lara. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku, Lara. Jadi jangan mencoba mengerti apa yang aku rasakan."

Lara membalas tatapannya, meskipun hatinya berdebar kencang. "Aku mungkin tidak tahu semua yang terjadi padamu, tapi aku tahu satu hal. Kamu sedang melarikan diri, Ardan. Dari apa pun itu, dari siapa pun itu. Dan itu tidak akan menyelesaikan apa-apa."

Malam yang Membawa Badai

Malam itu, hujan turun dengan derasnya, memaksa mereka semua untuk berlindung di bawah kanopi darurat yang terbuat dari bahan-bahan seadanya. Suasana semakin muram, dengan hanya suara hujan yang memecah keheningan.

Lara duduk sendirian di pojok, memeluk lututnya untuk mengusir dingin. Ardan berdiri di luar, membiarkan hujan mengguyur tubuhnya. Pemandangan itu membuat Lara semakin gelisah.

"Apa yang dia lakukan di luar sana?" gumam Nadine, yang duduk di sebelah Lara. "Dia akan sakit kalau terus seperti itu."

Lara menghela napas. "Aku rasa dia sedang berjuang dengan dirinya sendiri."

Nadine menggelengkan kepala. "Pria itu keras kepala. Tidak peduli apa pun yang kamu lakukan, dia tidak akan berubah."

Namun, Lara tidak bisa hanya diam. Dia meraih sebuah selimut dari tumpukan barang, lalu berjalan keluar menuju Ardan.

"Ardan," panggilnya, namun pria itu tidak menoleh.

Lara mendekatinya, berdiri tepat di sampingnya. "Kamu mau sampai kapan berdiri di sini? Hujan ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat."

Ardan akhirnya menoleh, matanya yang gelap menatapnya dengan tajam. "Kenapa kamu peduli?"

"Karena aku tidak tahan melihat orang lain menyiksa dirinya sendiri," jawab Lara dengan jujur.

Ardan tertawa kecil, tapi tawanya pahit. "Kamu pikir aku sedang menyiksa diri sendiri? Tidak, Lara. Aku hanya sedang mencoba merasakan sesuatu. Apa saja. Karena, jujur saja, aku sudah terlalu lama mati rasa."

Kata-kata itu menusuk Lara. "Kamu tidak mati rasa, Ardan. Kamu hanya terluka. Dan kamu tidak harus menghadapinya sendirian."

Ardan menatapnya lama, lalu menggelengkan kepala. "Kamu terlalu naif."

"Tidak, aku hanya percaya bahwa semua orang pantas mendapatkan kesempatan untuk sembuh," kata Lara dengan suara gemetar, tapi tegas.

Tanpa peringatan, Ardan meraih pergelangan tangannya, menariknya mendekat. Hujan terus turun di atas mereka, membuat dunia seolah lenyap di balik tirai air.

"Kamu tidak mengerti, Lara," katanya dengan suara serak. "Kamu tidak tahu betapa aku ingin percaya pada apa yang kamu katakan. Tapi aku sudah kehilangan terlalu banyak. Dan aku tidak bisa... aku tidak berani berharap lagi."

Lara merasa dadanya sesak mendengar pengakuan itu. "Kalau begitu, biarkan aku yang berharap untukmu, Ardan. Biarkan aku ada di sini untukmu."

Hening menyelimuti mereka. Untuk pertama kalinya, Lara melihat sesuatu yang berbeda di mata Ardan-sebuah kerentanan yang selama ini tersembunyi di balik tembok tebal yang ia bangun.

Tanpa sadar, Ardan menundukkan kepala, dan bibir mereka hampir bersentuhan. Namun, sebelum itu terjadi, dia mundur dengan cepat, seolah tersadar dari mimpi buruk.

"Tidak," gumamnya. "Ini salah."

Lara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Apa yang salah, Ardan? Merasa? Hidup? Atau membiarkan dirimu sendiri untuk dicintai?"

Ardan tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana, membiarkan hujan menyembunyikan air mata yang perlahan mengalir di wajahnya.

Kehadiran yang Menghantui

Keesokan paginya, suasana menjadi lebih tegang. Ardan kembali pada sikap dinginnya, seolah-olah apa yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk yang harus segera dilupakan.

Namun, Lara tidak bisa melupakan tatapan itu-tatapan seorang pria yang tenggelam dalam lautannya sendiri.

Di tengah upaya mereka mencari makanan dan air bersih, Lara mendekati Nadine. "Aku rasa ada sesuatu yang membuat Ardan begitu... terputus dari dunia."

Nadine mengangguk. "Aku pernah dengar desas-desus tentang dia. Katanya, dia pernah hampir menikah. Tapi tunangannya meninggalkannya tepat sebelum pernikahan."

Lara merasa hatinya mencelos. Sekarang dia mengerti. Luka yang Ardan bawa bukan hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang pengkhianatan.

Malam Itu Milik Mereka

Saat malam tiba, Ardan kembali duduk di tepi pantai. Kali ini, Lara memutuskan untuk tidak membiarkannya sendirian.

Dia duduk di sampingnya, tanpa mengatakan apa-apa.

"Kenapa kamu selalu mendekatiku?" tanya Ardan tiba-tiba.

"Karena aku tahu rasanya terjebak di dalam dirimu sendiri," jawab Lara pelan.

Ardan menoleh, menatapnya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba menyembunyikan perasaannya.

Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, dua jiwa yang hancur menemukan satu sama lain. Lara tahu bahwa apa yang mereka miliki tidak akan bertahan lama, tetapi untuk saat itu, dia membiarkan dirinya jatuh-jatuh ke dalam dunia yang diciptakan oleh kebencian dan gairah yang membakar.

(Bersambung)

Bab 2 ini lebih emosional dengan fokus pada dinamika hubungan dan bagaimana perasaan kedua tokoh mulai terkuak. Apakah ini sesuai atau ada detail tertentu yang ingin ditambahkan?**Bab 2: Api yang Membakar di Tengah Dingin**

Langit pagi di pulau itu berwarna kelabu. Kabut tipis menyelimuti pepohonan, menyembunyikan pandangan mereka akan apa yang mungkin tersembunyi di balik hutan yang lebat. Suara deburan ombak bergema lembut di kejauhan, namun ketenangan itu hanya menambah perasaan terisolasi yang perlahan merayap di hati para penumpang dan kru yang selamat.

Lara duduk di atas pasir, mengamati para penumpang yang masih tampak bingung dan lelah setelah malam yang panjang. Beberapa dari mereka mencoba membantu kru mendirikan tempat perlindungan sementara, sementara lainnya hanya duduk diam, menatap ke lautan luas dengan ekspresi kosong.

Ardan berdiri tak jauh darinya, tubuh tegapnya tampak kokoh seperti batu karang di tepi pantai. Dia memberikan instruksi kepada Rizky dan beberapa kru lainnya untuk memeriksa pesawat, berharap menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk memperbaiki komunikasi. Meski tampak tenang, ketegangan terlihat jelas di wajahnya.

Lara memandang pria itu dengan perasaan campur aduk. Semalam, ia melihat sisi lain dari Ardan-sisi yang rapuh, yang penuh luka. Namun pagi ini, dia kembali menjadi sosok dingin yang seolah tak bisa dijangkau siapa pun.

"Kapten Ardan," panggil Lara, memberanikan diri mendekatinya.

Ardan menoleh, tatapannya tajam seperti biasa. "Apa?"

Lara berhenti sejenak, berusaha mengendalikan kegugupannya. "Apa menurutmu bantuan akan segera datang? Maksudku... kita cukup jauh dari jalur penerbangan utama."

Ardan menghela napas, lalu melipat tangan di dadanya. "Tidak ada gunanya berharap terlalu banyak. Kita harus bertahan dengan apa yang kita punya."

Nada bicaranya tegas, tapi Lara menangkap sesuatu yang berbeda di baliknya-ketakutan yang terselubung.

"Tapi..." Lara mencoba lagi, kali ini dengan nada lebih lembut. "Kalau kita tidak saling mendukung, bagaimana kita bisa bertahan?"

Ardan menatapnya lama, matanya seperti jurang yang tak berdasar. "Aku tidak butuh dukungan siapa pun. Aku sudah terbiasa menghadapi semuanya sendiri."

Jawaban itu menusuk Lara. "Kamu tidak bisa terus seperti ini, Ardan," katanya dengan suara yang mulai meninggi. "Kita semua ada di sini bersama-sama. Kita semua butuh satu sama lain, termasuk kamu."

Ardan mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Lara. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku, Lara. Jadi jangan mencoba mengerti apa yang aku rasakan."

Lara membalas tatapannya, meskipun hatinya berdebar kencang. "Aku mungkin tidak tahu semua yang terjadi padamu, tapi aku tahu satu hal. Kamu sedang melarikan diri, Ardan. Dari apa pun itu, dari siapa pun itu. Dan itu tidak akan menyelesaikan apa-apa."

---

**Malam yang Membawa Badai**

Malam itu, hujan turun dengan derasnya, memaksa mereka semua untuk berlindung di bawah kanopi darurat yang terbuat dari bahan-bahan seadanya. Suasana semakin muram, dengan hanya suara hujan yang memecah keheningan.

Lara duduk sendirian di pojok, memeluk lututnya untuk mengusir dingin. Ardan berdiri di luar, membiarkan hujan mengguyur tubuhnya. Pemandangan itu membuat Lara semakin gelisah.

"Apa yang dia lakukan di luar sana?" gumam Nadine, yang duduk di sebelah Lara. "Dia akan sakit kalau terus seperti itu."

Lara menghela napas. "Aku rasa dia sedang berjuang dengan dirinya sendiri."

Nadine menggelengkan kepala. "Pria itu keras kepala. Tidak peduli apa pun yang kamu lakukan, dia tidak akan berubah."

Namun, Lara tidak bisa hanya diam. Dia meraih sebuah selimut dari tumpukan barang, lalu berjalan keluar menuju Ardan.

"Ardan," panggilnya, namun pria itu tidak menoleh.

Lara mendekatinya, berdiri tepat di sampingnya. "Kamu mau sampai kapan berdiri di sini? Hujan ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat."

Ardan akhirnya menoleh, matanya yang gelap menatapnya dengan tajam. "Kenapa kamu peduli?"

"Karena aku tidak tahan melihat orang lain menyiksa dirinya sendiri," jawab Lara dengan jujur.

Ardan tertawa kecil, tapi tawanya pahit. "Kamu pikir aku sedang menyiksa diri sendiri? Tidak, Lara. Aku hanya sedang mencoba merasakan sesuatu. Apa saja. Karena, jujur saja, aku sudah terlalu lama mati rasa."

Kata-kata itu menusuk Lara. "Kamu tidak mati rasa, Ardan. Kamu hanya terluka. Dan kamu tidak harus menghadapinya sendirian."

Ardan menatapnya lama, lalu menggelengkan kepala. "Kamu terlalu naif."

"Tidak, aku hanya percaya bahwa semua orang pantas mendapatkan kesempatan untuk sembuh," kata Lara dengan suara gemetar, tapi tegas.

Tanpa peringatan, Ardan meraih pergelangan tangannya, menariknya mendekat. Hujan terus turun di atas mereka, membuat dunia seolah lenyap di balik tirai air.

"Kamu tidak mengerti, Lara," katanya dengan suara serak. "Kamu tidak tahu betapa aku ingin percaya pada apa yang kamu katakan. Tapi aku sudah kehilangan terlalu banyak. Dan aku tidak bisa... aku tidak berani berharap lagi."

Lara merasa dadanya sesak mendengar pengakuan itu. "Kalau begitu, biarkan aku yang berharap untukmu, Ardan. Biarkan aku ada di sini untukmu."

Hening menyelimuti mereka. Untuk pertama kalinya, Lara melihat sesuatu yang berbeda di mata Ardan-sebuah kerentanan yang selama ini tersembunyi di balik tembok tebal yang ia bangun.

Tanpa sadar, Ardan menundukkan kepala, dan bibir mereka hampir bersentuhan. Namun, sebelum itu terjadi, dia mundur dengan cepat, seolah tersadar dari mimpi buruk.

"Tidak," gumamnya. "Ini salah."

Lara menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Apa yang salah, Ardan? Merasa? Hidup? Atau membiarkan dirimu sendiri untuk dicintai?"

Ardan tidak menjawab. Dia hanya berdiri di sana, membiarkan hujan menyembunyikan air mata yang perlahan mengalir di wajahnya.

---

**Kehadiran yang Menghantui**

Keesokan paginya, suasana menjadi lebih tegang. Ardan kembali pada sikap dinginnya, seolah-olah apa yang terjadi semalam hanyalah mimpi buruk yang harus segera dilupakan.

Namun, Lara tidak bisa melupakan tatapan itu-tatapan seorang pria yang tenggelam dalam lautannya sendiri.

Di tengah upaya mereka mencari makanan dan air bersih, Lara mendekati Nadine. "Aku rasa ada sesuatu yang membuat Ardan begitu... terputus dari dunia."

Nadine mengangguk. "Aku pernah dengar desas-desus tentang dia. Katanya, dia pernah hampir menikah. Tapi tunangannya meninggalkannya tepat sebelum pernikahan."

Lara merasa hatinya mencelos. Sekarang dia mengerti. Luka yang Ardan bawa bukan hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang pengkhianatan.

---

**Malam Itu Milik Mereka**

Saat malam tiba, Ardan kembali duduk di tepi pantai. Kali ini, Lara memutuskan untuk tidak membiarkannya sendirian.

Dia duduk di sampingnya, tanpa mengatakan apa-apa.

"Kenapa kamu selalu mendekatiku?" tanya Ardan tiba-tiba.

"Karena aku tahu rasanya terjebak di dalam dirimu sendiri," jawab Lara pelan.

Ardan menoleh, menatapnya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba menyembunyikan perasaannya.

Malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, dua jiwa yang hancur menemukan satu sama lain. Lara tahu bahwa apa yang mereka miliki tidak akan bertahan lama, tetapi untuk saat itu, dia membiarkan dirinya jatuh-jatuh ke dalam dunia yang diciptakan oleh kebencian dan gairah yang membakar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Destination Reveange
8.3
Jiang Shiqi kembali ke Kekaisaran Ming demi menuntut balas pada keluarga yang pernah mengadopsinya. Di tengah intrik kekuasaan, ia berhadapan dengan Xuan Ming, pangeran paling bengis dan kejam yang tak mengenal rasa bersalah. Meski Xuan Ming mencoba menahannya dengan paksa, Shiqi tetap teguh menolak cinta sang pangeran. Di malam pernikahan yang dingin, Shiqi justru meminta surat cerai dan bersumpah akan menghilang selamanya dari hidup pria jahat tersebut.
Sampul Novel Gairah Elián
8.7
Elián adalah Alpha lycanthrope abadi yang hidup terasing di pulau Yunani akibat duka mendalam. Namun, pembunuhan berantai yang menimpa anggotanya memaksa sang pemimpin keluar dari pengasingan menuju Meksiko. Di sana, ia justru menemukan belahan jiwa barunya, seorang manusia biasa yang memiliki krisis kepercayaan diri. Kini, Elián harus berjuang menyelesaikan misteri pembunuhan, meredam insting buasnya, sekaligus memenangkan hati wanita yang menolaknya tersebut.
Sampul Novel Jiwa Pengganti
8.5
Hidup Amelia berakhir tragis di usia 27 tahun setelah kecelakaan fatal akibat patah hati. Namun, maut justru membawanya melintasi waktu dan bereinkarnasi ke dalam raga Castarica, seorang putri bangsawan yang dikenal kejam bak iblis. Amelia kini terjebak dalam kehidupan baru sebagai istri dari pria berhati dingin yang menyimpan ambisi rahasia. Mampukah ia bertahan hidup di tubuh antagonis ini sembari menghadapi suaminya yang penuh misteri dan rencana tersembunyi?
Sampul Novel Married The Wolf Queen
8.4
Ratu Jenny dijatuhi kutukan menjadi serigala putih setelah menolak perjodohan dari ayahnya. Tak hanya kehilangan wujud manusia, ia pun diusir dari kerajaan hingga terdampar di dunia manusia. Di sana, Jenny bertemu seorang pria asing yang menjadi satu-satunya harapan. Ia memohon bantuan pria tersebut demi mematahkan kutukan jahat agar bisa kembali ke bentuk aslinya. Akankah sang ratu berhasil merebut kembali takdirnya? Simak perjuangan Jenny di sini.
Sampul Novel Menuntut Balas
8.4
Xavier terpaksa menyaksikan momen mengerikan saat nyawa ayahnya direnggut secara keji oleh kelompok mafia. Tragedi berdarah tersebut menyisakan luka mendalam dan amarah yang membara di hatinya. Enggan membiarkan para pelaku bebas begitu saja, ia bertekad menuntut balas. Xavier pun mulai mengasah kemampuan bela diri dengan keras demi mempersiapkan diri menghadapi organisasi kriminal yang telah menghancurkan hidupnya serta menuntaskan dendamnya.
Sampul Novel Pedang Naga Siluman
9.5
Satya Wiguna tumbuh dalam kesederhanaan di bawah asuhan Mbah Wiguna hingga menjadi pemuda tangguh yang rendah hati. Bersama kawan-kawannya, ia berkelana ke masa silam demi membasmi kejahatan. Saat kekuatannya mencapai puncak, penghuni dunia sukma menobatkannya sebagai senopati perang. Berbekal Pedang Naga Siluman, Satya mengemban misi vital untuk melindungi alam moksa dan dunia nyata dari invasi besar Sang Raja Iblis yang ingin berkuasa.