
Skandal Cinta CEO Posesif
Bab 3
Bip-----Bip-----Bip
Ponsel Rose bergetar dan dengan susah payah, dia meraba raba. Kepalanya masih terasa berat, mencoba mengatasi nafas yang tersengal sengal, dia memencet tombol terima. Lehernya bergidik mendengar raungan di ujung telpon.
“Oh,Rose! Sial! Kamu harus segera datang kemari!”
“Kinkin? A-Ada apa?”
“Ini bencana Rose!”
“Hah!” Rose bangkit dari posisinya, “Sebentar!”
Dia memandangi tubuhnya dalam balutan gaun yang sejak semalam dia pakai, ada sedikit noda di dada. Rose menggerayangi tubuhnya semuanya utuh.
“Kinkin! Aku baik baik saja lho!”
“Oh, Rose bodoh! Kopermu dilempar keluar oleh ibu kos!”
Rose sekarang benar benar linglung, dia melompat dari tempat tidur dan melihat pada kamar mandi di dekat pintu, ada bunyi gemericik air. Seseorang mandi di sana. Uap panas menutup kaca transparan dan Rose bergidik melihat bayangan perkasa di balik pancuran. ‘Oh ini lebih bahaya dari koper yang dilempar ibu kos’
Segera Rose menyambar tasnya yang terletak di sofa dan dia berlari menuju pintu, tetapi sial, pintu terkunci. ‘Eh, sejak kapan pintu hotel di kunci seperti ini?’
“Kinkin tunggu ya, nanti aku hubungi lagi------Ini darurat!”
“Rose kamu dimana?” Kinkin berteriak semakin kencang.
‘Oh, Kinkin bisakah engkau tidak berteriak teriak seperti itu, kupingku benar benar tersentak mendengarkan amplitudomu’ Rose tidak lagi peduli dengan raungan Kinkin, dia dengan panik bolak balik mencari kalau kalau kunci pintu tergeletak di meja atau di laci.
Ada wardrobe di samping pintu dan Rose membukanya, ‘Uh, hanya ada jaket hitam dan seluruh wardrobe kosong, haruskah aku merogoh rogoh pada jaket ini? Tidak sopan bukan? Tetapi siapa lelaki itu? Hiyyyyy’
“Kuncinya tidak ada di jaketku!”
Rose kaget mendengar suara serak dibelakang kepalanya! Dia mendongak dan nyaris menjerit mendapati mata hitam seperti elang milik seorang pria yang sangat tampan sedang menatapnya dengan dingin. Rambut pria itu masih basah, air menetes ke bahu dan dada yang ‘Uh, dadanya sangat kekar dan kencang’. Rose memilih pingsan daripada harus bertukar kata dengan pria ini.
“Oh, ayolah gadis bodoh! Jangan pingsan lagi!”
Raymond menarik tangan Rose dari pengangan pintu wardrobe. Sekalipun Rose baru saja bangkit dari tidurnya, tangannya terasa dingin. Raymond menyadari gadis ini benar benar ketakutan melihat dirinya.
“Tenang saja, aku tidak memperkosamu!” bisik Raymond di telinga Rose dengan lembut.
Mata Rose berkedip, tubuhnya masih dalam pelukan Raymond dan dahinya berkenyit waktu tetesan air dari rambut Raymond jatuh di ujung hidungnya. Harum shampo dan aroma maskulin memenuhi otaknya. ‘Kenapa lelaki ini ganteng sekali’ pikiran Rose menjadi liar.
“Mandilah, dan kita akan sarapan!”
“Eh,Oh, K-Kenapa aku disini?”
“Umm, kamu mabuk tadi malam!”
“Owggjhm, bagaimana bisa?”
“Bukannya kamu mimum koktail? Dan itu Frech connection dengan kadar alkohol tinggi!” Raymond mendukung Rose ke sofa, “Aku sudah menyiapkan pakaian gantimu, gantilah!”
“Lho? Ehmm…..Aku!”
“Bajumu kena muntahanmu dan itu bau kan? Aku tidak menyentuhmu, jadi aku membiarkanmu tidur setelah kamu puas muntah!”
Rose berdiri dan melihat pada beberapa noda di dadanya, dan itu memang berbau asem. Wajahnya merona dengan mata lentik berpendar. “Terima kasih!” Rose menggumamkan kalimat itu dengan pelan.
Di kamar mandi Rose dengan gemetar melihat pada tubuh telanjangnya, semua sempurna tidak ada goresan dan tanda tanda sentuhan apa pun. Ada bau tidak sedap seperti bekas muntah. Rose merasa lega, ‘Apakah lelaki itu gay? Uh, untung aku bertemu dengannya, dia tidak memanfaatkan kebodohanku’
Bip-----Bip-----Bip
Bunyi ponsel Rose terus berdering, Raymond mengabaikannya tetapi ponsel itu tidak cuma berdering juga bergetar. Kupingnya menjadi gatal. Dia menerima panggilan. Terdiam sejenak mendengar raungan di ujung telpon.
“R-Roseeeeeeee!!!! Oh, bodoh! Ibu kos benar benar mengusirku keluar hari ini! Rose?”
Raymond tidak bersuara, tetapi dia memutuskan menjawabnya ketika mendengar suara yang berteriak menjadi seperti putus asa.
“Kita harus mencari jembatan yang indah, Rose! Di kolong jembatan yang indah pasti ada tempat yang nyaman untuk kita berlindung. Hiksss”
“Rose masih mandi!” suara Raymond terdengar serak dan tenang di ujung ponsel itu.
Kinkin yang biasanya meraung, menjadi gagap. “S-Siapa kamu? Kenapa kamu tahu Rose masih mandi? Thomas?”
Mata Raymond membelalak, ‘Thomas?’ “Umm”
“Eh, kamu bener bener Thomas?” cecar Kinkin dengan cepat.
“ummm”
“Oh, syukurlah! Kalian akhirnya bersama” Kinkin menghela nafasnya, “Koper Rose ada di kontrakanku, suruh dia mengambilnya dan biarkan Rose tinggal bersamamu, kamu adalah pacarnya. Harus lebih perhatian dengan Rose, sepertinya dia juga diusir oleh bibinya, karena itu bibinya mengantarkan kopernya ke tempatku dan sekarang aku diusir oleh ibu kos karena telat membayar uang sewa. Kamu mengerti kan? Tolong jaga Rose! Oke!”
“Ummm-----Aku bukan Thomas!” Raymond memonyongkan bibir.
Kinkin yang sudah tenang,menjadi panik. “Hey, bung! Kamu siapa------Jangan katakan Anda? Di mana Rose, Rose, Rose!!!!”
Raymond menyadari Rose sudah selesai mandi dan berdiri di depan pintu, memandangi dirinya, “Seseorang menelponmu dan berbicara tentang kopermu!”
Rose mengangguk, dia mengambil ponselnya dan melihat layar ID adalah Kinkin, “Dia sahabatku!”
“Kalau sudah siap, ayo sarapan dulu. Restoran hotel masih buka untuk waktu sarapan”
Rose melirik jam pada ponselnya, 9.30 ------ Dan perutnya keroncongan. Jika harus bertemu dengan Kinkin, dia perlu memenuhi perutnya dengan makanan terlebih dahulu.
Atau dia akan mati kelaparan mendengar ocehan sahabatnya yang seperti petasan itu------
Anda Mungkin Juga Suka





