Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Simfoni Temaram Takdir

Simfoni Temaram Takdir

Kendrik, sarjana biologi yang tengah meniti karier, jatuh hati pada calon mahasiswi bernama Gangga. Kedekatan mereka mulai terjalin, namun Gangga menyimpan duka mendalam atas kepergian sahabatnya. Misteri kematian sang sahabat menarik perhatian Kendrik karena memiliki pola kecelakaan yang serupa dengan tragedi masa lalunya sendiri. Di tengah romansa yang tumbuh, Kendrik berupaya mengungkap benang merah di balik peristiwa kelam yang menghubungkan nasib mereka berdua.
Bab
Bagikan

Bab 3

29 Mei 20xx (2 bulan kemudian)

SMA Pura Mahardika, Kota Praga

Gangga, Bisma dan seluruh siswa di SMA Pura Mahardika telah lulus. Dua sejoli itu juga sudah menjalani ujian masuk Universitas Vanguard. Mereka berdua pun telah diterima sebagai mahasiswa baru di universitas impian mereka.

Bisma juga telah menyanding motor baru yang dibelikan ayahnya ketika dia diumumkan lulus dari ujian.

Hari ini adalah jadwal cap 3 jari pada ijazah. Semua mantan siswa sudah berkumpul di sekolah.

Gin, salah seorang teman yang akrab dengan mereka, memberikan sebuah gantungan kunci kepada Gangga.

"Mbas, ini buat kamu," katanya.

"Wow, makasih banget ya, Gin."

Gin juga memberikan sebuah gantungan kunci kepada Bisma.

"Lhoh, Kubis juga dapet? Kirain aku doang yang dapet, udah GR," sungut Gangga.

"Semua dapet, aku bikin banyak," timpal Gin sembari memamerkan gantungan kunci di tasnya. Dia pun berlalu untuk membagikan gantungan kunci itu ke teman-teman yang lain.

Bisma tergelak. "Jangan baper, Mbas Mbas!"

Bisma dan Gangga yang sedang duduk di depan kelas itu memandangi gantungan yang diberikan oleh Gin.

Gangga pun menengadahkan tangannya.

"Apa?" tanya Bisma keheranan.

"Gin itu temen yang baik. Dia ngasih kenang-kenangan. Kamu? Bukannya kita sahabat? Kamu nggak ngasih apa-apa ke aku?"

"Heh Mbyak, kamu juga nggak ngasih apa-apa ke aku. Jadi jangan protes dong!"

Gangga mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sesuatu yang akan membuat skor mereka 1-0 karena ketidaksiapan Bisma memberikan kenang-kenangan.

"Nih buat kamu." Gangga mengulurkan sebuah kalung tali berwarna hitam berliontin seperti uang kuno dari negeri tirai bambu.

Bisma menerimanya. "Right, kamu ngasih kenang-kenangan kalung dogo buat aku."

"Dari pada kamu, nggak ngasih apa-apa. Sahabat apa itu namanya?"

"Kenapa sih kita musti kasih kenang-kenangan? Aku nggak mau dikenang. Lagian kita bakal 1 kampus. Meski beda jurusan, kita masih bebas ketemu. Ngasih kenang-kenangan kayak gini berasa kayak besok udah nggak ketemu lagi."

Gangga mengangkat wajahnya untuk menatap Bisma. "Bis, mulutmu masih suka ngomong sembarangan kayak gitu ya?! Ya pasti kita ketemu lagi. Tapi kasih apa gitu buat aku biar aku ngerasa agak istimewa dikit gitu lho."

"Haish..."

Bisma memandangi bunga melati tumpuk di taman kecil yang tepat berada di hadapan mereka. Dia memetik bunga itu.

"Nih, buat kamu. Habis ini jangan nagih-nagih lagi ya. Hutangku udah lunas sama kamu."

"Yah, bukan bouquet bunga yang bagus dan gedhe sih. Tapi bunga kenang-kenangan low budget ini aku terima deh."

~

Setelah menyelesaikan urusan cap tiga jari, mereka pun pulang. Mendadak Bisma meminggirkan motornya di minimarket Indomacet.

"Beli apa, Bis?"

"Ada deh, kamu duduk aja di situ," jawabnya sembari menunjuk teras toko.

Bisma keluar dari Indomacet membawa 2 mi instan gelas yang telah diseduh, kemudian kembali lagi ke dalam untuk mengambil 2 botol air mineral dan coklat batang merk Silverkingkong.

"Wowowow, big day baby. Ulang tahun kamu masih bulan agustus dan sekarang udah pesta duluan."

Makan, nggak usah banyak ngomong. Udah untung digratisin. (Gangga).

Itulah jawaban yang ditebak oleh Gangga di pikirannya. Biasanya, setiap sahabatnya itu melakukan kebaikan dan dia memprotes, jawabannya seperti itu. Dia sudah hafal segala model dialog Bisma hingga titik komanya.

Pemuda itu tersenyum. "For my best friend."

Berbeda...

Biasanya Bisma tidak seperti ini...

Semanis ini...

Apakah perasaan cinta kembali tumbuh antara mereka berdua? Apakah setelah lulus SMA, hubungan mereka tidak lagi menjadi sahabat tetapi menjadi sepasang kekasih?

Gangga tak berani bertanya apa pun. Dia hanya menikmati mi di hadapannya. Dia khawatir akan memberi kekecewaan kepada Bisma.

"Kok diem aja, Mbas?"

Gangga memberanikan diri bertanya, "Apa kamu naksir aku lagi? Bukannya kamu lagi ngincer Fita?"

"Enggak tuh, aku nggak naksir kamu. Dan udah nggak ngincer Fita juga."

"Fyuh," Gangga menghembuskan napasnya lega.

"Nanti agak siang, aku mau survey pantai di Gunung Timur yang mau kita jadiin arena camping minggu depan. Meski besok terus senin udah sibuk-sibuk di kampus, usahain bisa camping akhir minggu depan ya. Itu kumpul-kumpul terakhir kita sama anak-anak. Habis itu nggak tahu bakal ketemu lagi apa nggak."

"Kok gitu sih ngomongnya?"

"Ya kan kita kuliahnya nyebar. Kita aja besok udah mulai tinggal di kos."

"Ada reuni, Kubis! Kita tiap tahun bisa ngadain reuni."

Bukannya menjawab atau menyanggah, lelaki itu malah menatap Gangga sembari tersenyum. Bisma merogoh kalung yang diberikan oleh Gangga di sekolah pagi tadi. Dia memakainya.

"Not bad lah. Keren nggak gue?" tanya Bisma sembari menarik kerah bajunya. Sok keren.

"Gue? Mentang-mentang besok mau pindah ke kota yang lebih besar terus pake bahasa gahol anak metropolitan getoh? Koja itu belum sebesar Jacatra. Masih belum umum pake bahasa lu-gue."

"Itu kan di khalayak umum, kalo sama sahabat kan pengecualian."

"Oke kalo gitu. Gueh mau pulang, yuk ah. Takut nyokap nyariin."

"Buahahah, ternyata kalau kamu yang ngomong gaul jadi nggak enak di kuping."

Sekali lagi Gangga meminta mereka segera pulang. Dia harus mengepak barang-barangnya untuk esok pagi pindah ke kos di Koja. Meski jarak Praga-Koja hanya 1,5jam perjalanan, rasanya tidak bisa jika harus pulang-pergi setiap hari. Tenaga akan habis di perjalanan dan kesulitan untuk konsentrasi belajar.

Akan tetapi, sahabatnya masih enggan beranjak.

"Kenapa sih Bis, kok males-malesan? Ayo, aku belum packing. Terus kamu juga katanya mau ke Gunung Timur."

Akhirnya, dengan enggan, Bisma berdiri dan menuju motornya.

Sesampainya di depan rumah Gangga, dia mengulurkan coklat Silverkingkong yang dibelinya di Indomacet.

"Lhoh, buat aku?"

Bisma mengangguk. Gangga hendak mengambilnya, namun gerakan Bisma lebih cepat menangkupkan coklat itu di tangan Gangga.

Genggaman itu tak segera dilepas oleh empunya tangan.

"Bis? Jadi ini ikhlas buat aku nggak? Kok malah dipegang gini?" Gangga merasakan genggaman tangan Bisma malah semakin erat menangkup tangannya beserta coklat di tengahnya.

"Thanks for being such a good friend, Ganggadara Widi. I'll miss you."

"Heh dodol, kamu kayak mau kuliah di Amerika aja. Orang kita sekampus ini, kos juga deketan. Besok sore, aku tunggu di kos. Kamu harus ke kosku, bantuin beberes."

"Hahahah, oke oke." Bisma melepaskan genggaman itu dan pergi.

Gangga memasuki rumah. Bu Rasti, ibunya, sudah pulang dari bekerja dan telah sedikit membantu mengepak barangnya.

"Kamu pulang sama siapa Ngga?"

"Biasa, sama Bisma."

"Lhoh, Bisma?"

"Iya, Bu. Kenapa?"

"Kira-kira setengah jam yang lalu, Ibu lihat dia lewat di halaman rumah sini. Kirain kalian nggak barengan."

"Ya nggak mungkin lah, sedari pagi di sekolah kok."

"Oh, mungkin cuma mirip."

Mereka melanjutkan packing.

~

Pukul 15.00, barang-barang Gangga sudah rapi dan siap untuk dibawa ke kos keesokan harinya.

Sebuah motor masuk ke halaman rumahnya.

Siapa tuh? Bisma? Nggak capek bolak-balik Gunung Timur-Praga? (Gangga).

"Permisi, Gangganya ada, Bu?" kata pemuda itu yang ternyata bukan Bisma.

Bu Rasti mempersilahkan duduk dan memanggil Gangga.

"Lhoh, Gustyo, ada apa ada apa? What happen nyariin aku padahal tadi pagi kita udah selesai urusan sama sekolah. Aku nggak kelupaan SPJ (Surat Pertanggungjawaban) apa pun kan?"

Gustyo menggeleng lemah. "Begini Ngga, ehm, Bisma kecelakaan."

"Hah! Di mana Gus? Terus sekarang dirawat di rumah sakit mana?"

"Nggak dirawat di rumah sakit, di rumah," kata Gustyo dengan sangat pelan dan berhati-hati.

"Fyuh ya ampun leganya. Jadi dia nggak apa-apa kan?"

Gustyo memandangi Gangga dengan wajah yang sangat datar. "Sorry, Ngga."

"Lhoh kok 'sorry' sih? Kamu nggak salah apa-apa, dia tuh yang salah nggak langsung ngabarin aku lewat chat kek biar nggak ngrepotin kamu gini."

Gustyo diam membisu sejenak. Dia ragu bagaimana mengatakannya, tapi harus. Dia memulai lagi dengan sangat perlahan.

"Gini, Ngga. Bisma

.

.

udah nggak ada."

Gangga menatap Gustyo dengan tatapan menyelidik. Apakah ini candaan? Prank? Karena demi apa pun itu, sungguh tidak lucu.

"Ma-maksudnya?"

"Meninggal dunia."

Gangga tak merespon, hanya terpaku dengan mulut yang sedikit menganga.

"Gangga..." panggil Gustyo yang terdengar samar di telinganya.

Semakin lama, suara di sekitar ikut tersamar...

Mengecil dan mengecil...

Saturasi warna dalam penglihatannya berkurang drastis...

Memudar...

Bahkan warna di sekelilingnya tinggal kuning...

Seluruh ruangan terus menguning, temaram, kemudian gelap gulita...

Hening...

~

Bu Rasti sibuk mengoleskan minyak kayu putih di hidung Gangga, berharap putri keduanya itu segera bangun.

"Gangga, bangun, bangun..." panggil Bu Rasti sembari mengguncangkan badan Gangga.

Gangga membuka mata.

"Minum dulu, Ngga," Bu Rasti membantu Gangga meminum air hangat. Dia meminum sedikit.

Matanya pun panas. Kelenjar air matanya dengan segera mengalirkan buliran bening. Sejenak proses keluarnya air mata yang pertama membuat matanya sedikit perih.

Berikutnya hanya mengalir dan mengalir tanpa dia mampu menghentikannya. Bu Rasti mengelus bahu putrinya yang belum berhenti menangis itu. []

Bersambung ....

Jogja, 21 September 2021

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GAT" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GAT
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Abang Duda Kesayangan
9.5
Dilara Aysila Airene mengalami pertemuan tak terduga dengan seorang duda menawan usai menolong seorang nenek di jalanan. Terpikat oleh ketampanan pria tersebut, Dilara pun jatuh hati dan bertekad memenangkan hatinya. Berbagai upaya rayuan hingga aksi-aksi konyol mulai ia lancarkan demi menarik perhatian sang pria idaman. Akankah misi cinta Dilara ini membuahkan hasil manis, atau justru menemui hambatan? Simak perjuangan uniknya dalam mengejar sang duda.
Sampul Novel Aku Kehilangan Bayiku
8.5
Maya selalu setia mendampingi Reza meski terus diabaikan dan tak diakui. Namun, kesabarannya hancur saat ia terpaksa melahirkan sendirian hingga kehilangan bayinya. Tragedi maut itu memadamkan cinta Maya dan membuatnya ingin pergi. Di sisi lain, Reza baru menyadari besarnya rasa sayangnya setelah segalanya terlambat. Saat Reza berusaha mengejar kembali hati sang istri, ia menghadapi kenyataan bahwa Maya telah berubah menjadi sosok dingin yang tak lagi membutuhkannya.
Sampul Novel Cinta Palsu, Luka Nyata
9.7
Mengabaikan kedekatan Karen dengan teman masa kecilnya, aku tetap memilih untuk mengejar cintanya. Namun, keputusasaan itu dibayar mahal pada hari pertunangan kami. Saat mendengar kabar pria itu pingsan di rumah sakit, Karen tanpa ragu meninggalkanku di altar. Tragedi memuncak ketika Nenek yang berusaha mengejarnya justru tertabrak mobil hingga kehilangan nyawa. Kehilangan tragis ini menyadarkanku bahwa memaksakan hubungan yang sejak awal tidak ditakdirkan untukku hanya akan mendatangkan luka yang nyata.
Sampul Novel Es Batu
8.1
Relva Arilia adalah gadis konyol berhati tulus yang jatuh hati pada Steven Grellyn, pemuda sedingin es yang selalu mengabaikannya. Meski sering ditolak, kegigihan Relva perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Steven yang awalnya enggan menjalin hubungan. Kisah ini bukan sekadar romansa, melainkan perjuangan emosional penuh liku dan air mata demi masa depan. Keduanya harus mengorbankan ego demi cinta yang mampu mencairkan kebekuan hati dan mengubah hidup mereka.
Sampul Novel Finally, I Love You
9.3
Hidup Hellena berubah drastis layaknya roller coaster akibat penderitaan yang diberikan keluarganya sendiri. Di tengah tekanan orang tua yang memaksanya segera menikah, ia justru menemukan jalan keluar tak terduga. Pertemuan singkat dengan seorang pria asing menjadi awal kebahagiaan baru baginya. Sosok misterius itu hadir bak malaikat penyelamat yang mengubah nasibnya. Hellena pun nekat memutuskan untuk menikah dengan pria yang baru saja ia kenal tersebut.
Sampul Novel Janda Cantik Dan Psycopat Dingin
8.2
Pasca memergoki perselingkuhan sang suami, seorang wanita menolak untuk terpuruk dalam kesedihan. Alih-alih menyerah, ia menyusun rencana balas dendam yang kejam demi memberikan rasa sakit yang setimpal kepada para pengkhianat. Namun, langkahnya terhenti saat seorang pria misterius masuk ke hidupnya secara tiba-tiba. Siapa sangka, sosok tersebut adalah psikopat berdarah dingin yang terobsesi dan jatuh cinta padanya. Akankah ini membantu atau menghancurkan tujuannya?