
Si Pembantu Manis dan Sang Miliuner
Bab 2
Mihai berjalan menyusuri lorong-lorong rumah besar itu dengan langkah mantap, tetapi pikirannya melayang jauh. Kesibukan para pelayan yang bergerak cepat menyiapkan makan malam, aroma kayu yang dipoles, dan ornamen emas yang berkilauan di lampu gantung-semuanya terasa asing baginya saat itu. Seperti biasa, beban rumah besar di pundaknya terasa berat, tetapi bukan seperti yang diharapkan orang tuanya.
Ia, pewaris keluarga Ionescu, harus siap menghadapi segala hal yang menyertai menjadi kepala keluarga berikutnya. Itu berarti menghadiri pertemuan-pertemuan yang membosankan, mengelola urusan bisnis, memenuhi harapan sebuah nama yang telah menjadi bagian tetap dalam masyarakat kelas atas Rumania selama berabad-abad, dan, yang terpenting, menemukan istri yang cocok. Setidaknya, itulah satu-satunya kebenaran yang mereka ulangi kepadanya berulang kali, seolah-olah itu adalah doa yang harus ia hafal.
Rumah besar itu, dengan aula-aulanya yang luas yang dihiasi dengan potret leluhur dan koleksi furnitur antiknya, semakin lama semakin tampak seperti sangkar emas baginya. Saat ia menyeberangi lorong, langkah kakinya bergema, Mihai memikirkan sekitarnya dan kehidupan yang diharapkan darinya. Ruang tamu mewah, dengan tirai beludru dan perapian yang selalu menyala, telah menjadi tempat perlindungannya selama bertahun-tahun, tetapi itu tidak lagi cukup.
Jam di pintu masuk menunjukkan pukul enam sore, yang berarti sudah waktunya untuk menghadapi ayahnya, Tuan Ionescu, seorang pria yang selalu sulit ia tatap langsung tanpa merasakan tekanan yang tak tertahankan di dadanya. Ayahnya tidak akan menerima alasan atau kelemahan. Sejak Mihai cukup dewasa untuk memahami harapan, hidupnya selalu menjadi perjuangan untuk menjadi pria yang diinginkan ayahnya, meskipun, jauh di lubuk hatinya, ia tidak pernah memiliki visi itu.
"Mihai," panggil ibunya dari aula utama, suaranya lembut namun tegas, "ayahmu ingin berbicara denganmu."
Memasuki ruangan, Mihai mendapati ayahnya duduk di kursi kulit besarnya, tangannya terlipat, ekspresinya serius. Udara di ruangan itu terasa tegang. Cahaya sore menyaring melalui jendela besar, menerangi wajah serius ayahnya.
"Duduklah," kata Tuan Ionescu, suaranya dalam dan berwibawa.
Mihai duduk tanpa berkata apa-apa, pikirannya berkecamuk, mencari alasan, cara untuk menghindari percakapan yang dia tahu akan datang. Tapi tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Sudah waktunya kau mulai bertanggung jawab," kata ayahnya langsung, menatap putranya dengan keseriusan yang membuat Mihai merasa kecil meskipun tinggi badannya. "Kau berumur dua puluh tahun ini, dan kau tidak bisa terus bermain-main seperti anak kecil. Rumah besar, bisnis, semua yang kita miliki, adalah warisanmu. Dan sudah waktunya kau mulai bersiap untuk mengambil kendali."
Mihai merasakan gelombang ketidaknyamanan menyelimutinya. Nada suara ayahnya begitu serius sehingga tidak menyisakan ruang untuk keraguan: waktunya telah tiba. Tapi dia belum siap. Dia tidak ingin, dan tidak bisa, melihat hidupnya direduksi menjadi serangkaian pertemuan dan keputusan keuangan. Dia tidak bisa membayangkan dirinya mengambil kendali atas semua itu.
"Aku tahu," jawabnya, berusaha tetap tenang, tetapi kegelisahan terlihat jelas dalam suaranya.
Ayahnya tampaknya tidak memperhatikan keraguannya. Dalam benaknya, Mihai sudah siap untuk semua ini, atau setidaknya itulah yang dipikirkannya.
"Lagipula, kita sudah punya Elena muda yang menunggu. Keluarganya sangat cocok untuk pernikahan dengan keluarga Ionescu. Dia pilihan yang baik untuk masa depanmu, Mihai. Dia sopan, memiliki keluarga terhormat, dan nama keluarga yang akan melengkapi nama keluargamu." Kata-kata ayahnya seperti pisau yang menusuk dadanya. Elena adalah segala sesuatu yang tidak diinginkan Mihai: seorang wanita muda yang sempurna, cocok untuk dinikahi, tetapi sama sekali tidak peduli dengan keinginan dan perasaannya. Entah bagaimana, gagasan menghabiskan hidupnya dengan seseorang seperti dia membuatnya takut. Dia tidak menginginkan istri yang hanya sekadar aksesoris sosial.
Mihai memaksa dirinya untuk menggigit bibir untuk menyembunyikan rasa frustrasinya. Bagaimana dia bisa menjelaskan kepada ayahnya bahwa dia tidak bisa hidup sesuai rencananya? Bagaimana mungkin ia mengatakan kepadanya bahwa harapannya akan pernikahan yang diatur, penuh dengan janji uang dan kekuasaan, bukanlah yang ia inginkan untuk hidupnya?
"Dan bagaimana dengan keinginan saya sendiri?" akhirnya ia bertanya, suaranya bergetar karena amarah yang terpendam. "Bagaimana dengan apa yang saya inginkan?"
Tuan Ionescu menatapnya seolah-olah ia baru saja mengatakan sesuatu yang keterlaluan. Tatapannya dingin, tetapi mengandung sedikit ketidaksetujuan.
"Apa yang kau inginkan tidak penting, Mihai. Yang penting adalah apa yang dibutuhkan keluarga. Kau tidak di sini untuk bermain-main dengan perasaanmu. Kau perlu mempertimbangkan apa yang telah kami ajarkan kepadamu." Wajah sang ayah sedikit melunak, tetapi nadanya tetap tegas. "Kau tidak punya pilihan. Nasib keluarga ini ada di tanganmu."
Mihai tak kuasa menahan desahan frustrasi. Ia tahu pertarungan melawan ayahnya sia-sia. Tak ada yang bisa ia katakan untuk mengubah jalannya peristiwa. Harapan keluarganya akan selalu mendefinisikannya, terlepas dari keinginannya sendiri.
Dengan gerakan tiba-tiba, ia berdiri dari kursinya, merasakan tubuhnya menegang karena amarah yang terpendam. Apakah ini yang ia inginkan untuk hidupnya? Masa depan tanpa kemungkinan untuk melarikan diri?
Ia meninggalkan ruang tamu tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan membanting pintu di belakangnya. Saat itu juga, rumah besar yang pernah menjadi rumahnya, tak lagi terasa ramah. Kemewahan dan kekayaan yang selalu mengelilinginya kini tampak seperti rantai, sesuatu yang mengikatnya pada kehidupan yang tidak diinginkannya.
Dan saat ia berjalan melalui aula-aula elegan rumah besar itu, ia merasakan beban dari semua yang diharapkan darinya. Harapan ayahnya, masyarakat, nama Ionescu, menghancurkannya di setiap langkah yang diambilnya. Dan pada saat itu, sesuatu di dalam dirinya berubah. Sejak hari itu, sesuatu bergejolak di hatinya, sesuatu yang tak bisa ia kendalikan. Sesuatu yang mulai tumbuh dalam dirinya sejak hari ia bertemu Loana.
Namun hal itu masih jauh dari dipahami.
Anda Mungkin Juga Suka





