
SHEILA, GAIRAH LIAR BERSELIMUT DENDAM
Bab 2
"Nikahi saya selama satu bulan, tetapi bayar saya sepuluh kali lipat. Anggap saja Anda membeli keperawanan saya dengan harga yang pantas. Selama pernikahan itu Anda bisa menikmati tubuh saya sepuasnya. Setelah satu bulan, saya akan melupakan semuanya, lalu pergi dari kehidupan Anda untuk selamanya," ujar Sheila dengan dada bergemuruh.
Seumur hidup ini adalah pertama kalinya ia melakukan tawar menawar dengan keperawanannya sebagai taruhan. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Bagaimanapun juga Sheila tidak ingin di penjara atas kesalahan yang ia perbuat. Sebagai wanita yang cerdas ia memiliki impian besar di dalam hidupnya. Status sebagai mantan kriminal jelas akan menodai reputasinya di masa depan.
"Menikahimu lalu membayar sepuluh kali lipat dari uang yang kamu curi dariku? Huh ... jangan konyol. Jelas-jelas kamu yang telah merugikanku, Sheila. Kamu menggunakan uang perusahaanku tanpa izin. Lalu sekarang kamu ingin mengaturku hanya karena aku memintamu tidur denganku? Jangan buat aku tertawa. Di sini aku yang memegang kendali, bukan kamu!" jawab Revian dengan wajah tegang.
Rahangnya bergerak-gerak menahan emosi, jelas ia tidak senang mendengar permintaan Sheila yang merendahkannya. Uang senilai lima ratus juta apalah artinya bagi Revian. Namun, ia merasa wanita itu menjengkalinya, seolah-olah dirinya seorang pria pecandu perawan.
"Saya tahu, Bapak adalah orang yang memegang kendali penuh atas diri saya saat ini. Namun, tolong pahami dari sudut pandang saya, Pak. Saya mengaku salah dan memohon belas kasih Bapak untuk menyelamatkan hidup saya. Tetapi Bapak meminta saya memilih antara penjara dan keperawanan saya. Jika saya menyerahkan keperawanan saya sebagai imbalan atas kesalahan itu, rasanya sangat tidak adil, Pak. Saya sungguh tidak rela jika keperawanan saya hanya dihargai senilai lima puluh juta," jawab Sheila dengan sepasang mata yang telah berlinang.
"Sebagai pertahanan diri saya yang terakhir, maka saya beranikan diri mengajukan permintaan itu. Jika satu malam bisa Anda hargai senilai lima puluh juta, apa yang membuat Anda merasa rugi jika saya meminta lima ratus juta untuk tiga puluh malam?" lanjut Sheila sambil menghapus air mata yang merembes di sudut matanya.
Sheila benci dirinya yang lemah, yang meneteskan air mata tak berdaya di depan lelaki. Namun, ia sungguh terpojok saat itu. Apa yang bisa ia lakukan selain mengemis agar dibebaskan dari tuntutan hukum.
Revian mendengus kesal.
"Aku tidak perlu menikah jika hanya untuk meniduri perempuan. Banyak perempuan di luar sana yang rela aku tiduri dengan cuma-cuma, mengapa aku harus repot? Lagi pula apa istimewanya milikmu itu sampai aku harus menikahimu?" ucap Revian dengan nada mencemooh.
Bagi Revian yang terkenal playboy, wanita memang tidak berharga sama sekali. Baginya para wanita itu tidak lebih dari sekedar makhluk matre yang hanya menginginkan hartanya. Itu sebabnya, ia bersikap dingin mendengar permintaan Sheila yang di telinganya terdengar sebagai azaz manfaat semata.
Sheila mengaktifkan mode blind pada dinding kaca ruangan direktur itu, lalu melangkah anggun menuju meja kerja Revian. Dalam situasi itu, mereka benar-benar seolah berada dalam ruangan pribadi yang memancarkan aura intim. Tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam ruangan kaca tersebut.
"Bapak boleh lihat sendiri keistimewaan milik saya ini. Saya tidak akan menawarkan opsi itu jika tidak ada untungnya bagi Anda," ucap Sheila dengan kepercayaan diri yang kembali ia bangun dengan menguatkan hati.
Sheila duduk di atas meja, tepat di depan Revian yang masih duduk bersandar di kursi kebesarannya. Kedua tangan lelaki itu terlipat di depan dada, dengan satu tangan menahan dagu, sementara sorot matanya menatap datar ke arah Sheila.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Sheila menaikkan roknya, lalu menurunkan celana dalamnya yang berwarna putih. Ia tahu, tingkahnya saat ini mungkin terlihat seperti perempuan jalang di mata Revian. Akan tetapi, Sheila memilih untuk mengabaikan semua pikiran negatif itu. Ia fokus pada upaya meluluhkan Revian agar mau menghapus kesalahannya dan membebaskannya dari tuntutan hukum.
Masih dengan menahan rasa malu di dalam hati, Sheila membuka kakinya lebar-lebar di hadapan Revian, sehingga memampang area kewanitaannya yang tak lagi ditutupi apa pun itu.
Revian terpaku, tangan yang tadi berada di dagunya tanpa ia sadari terlepas begitu saja. Dengan antusias ia mendorong kursinya kembali ke depan, untuk melihat area pribadi Sheila lebih dekat. Namun wanita itu bergerak secepat kilat, menghalangi niat Revian dengan menyilangkan kakinya sehingga wajah lelaki itu nyaris membentur lututnya yang putih mulus.
"Ka-kamu yakin sudah berusia 25 tahun?" tanyanya dengan suara terbata.
Sheila tertawa penuh ironi.
"Bapak 'kan sudah melihat sendiri kartu identitas saya. Mengapa masih bertanya tentang hal itu?" tanya Sheila.
"Kalau kamu benar-benar wanita berusia 25 tahun, bagaimana bisa milikmu begitu mulus seperti ... maaf bukan aku bermaksud tidak sopan ... tetapi bagaimana milikmu itu bisa seperti bayi begitu?" tanya Revian heran.
Ia sudah melihat berbagai bentuk area kepribadian wanita, dari yang perawan hingga janda. Dari yang berkulit putih, hingga berkulit gelap. Namun, belum pernah sekali pun ia melihat milik wanita dewasa yang ranum, mulus, berwarna merah muda tanpa sehelai rambut pun menutupinya. Kalau pun ia pernah melihat milik wanita yang tanpa rambut, tetapi tetap saja terlihat rambut-rambut halus bekas dicukur tumbuh di sekitarnya. Sementara milik Sheila jelas sangat berbeda. Tidak salah jika wanita itu menyebut miliknya istimewa karena memang itulah adanya. Hal itu membuat Revian penasaran untuk menjajal miliknya sendiri di liang yang berwarna merah muda itu.
Sheila melompat turun dari meja, mengenakan celana dalamnya, lalu merapikan pakaiannya kembali. Setelah itu ia kembali berdiri dengan sopan di depan meja Revian.
"Dokter bilang saya memiliki kelainan hormon. Bapak lihat sendiri, 'kan? Selain rambut di atas kepala, seluruh tubuh saya nyaris tidak memiliki rambut lainnya. It's okay. Selagi tubuh saya mengalami pertumbuhan yang sama dengan wanita lain, dokter itu bilang semuanya normal saja," jelas Sheila tanpa beban.
"Jadi ... bagaimana dengan permintaan saya tadi, Pak Revian. Apakah Anda setuju?" desak Sheila.
Ia tidak mau membuang waktu lagi. Detik itu juga ia harus memastikan dirinya aman dari tuntutan hukum. Saat ini ia tidak lagi mau memusingkan segala persoalan harga diri. Selagi dirinya tidak berzina, Sheila merasa tidak ada yang salah dalam keputusan yang ia buat.
'Lagi pula hanya satu bulan. Setelah itu, aku bisa bebas dengan materi yang cukup untuk memulai usaha dan hidup tenang bersama mama. Soal status janda sudah pasti tidak masalah. Yang pasti sebisa mungkin aku harus menghindari kehamilan selama pernikahan itu,' ucap Sheila di dalam hati.
"Deal ... Minggu ini juga aku akan menikahimu."
Tanpa Sheila sangka, Revian menyetujui permintaannya dengan semangat.
"Tetapi sebelum itu, aku ingin menyentuh milikmu dulu. Anggap saja ini sebagai sebuah tester produk baru," ucap Revian dengan deru napas yang mulai memburu.
Bayang-bayang milik Sheila yang istimewa sungguh membuatnya sulit untuk menahan diri. Meskipun belum bisa memasukkan miliknya yang telah menegang ke liang sempit itu, bagi Revian dengan menyentuh saja sudah cukup untuk merasakan sensasinya.
Namun, reaksi Sheila sungguh di luar dugaannya. Wanita cantik bertubuh seksi itu menyalakan ponselnya, lalu mengirimkan nomor rekeningnya ke ponsel Revian.
"Anda ingin tester? Saya ingin pembayaran di muka," ucap Sheila dingin.
Revian berdecak sambil mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Ia mengetikkan sesuatu di benda pipih itu. Tak lama kemudian, terdengar notifikasi di ponsel Sheila.
"Dua ratus lima puluh juta, tunai. Sisanya ... setelah kesepakatan pernikahan kita berakhir," ujar Revian dengan seringai kemenangan.
"Sekarang mana tester untukku?"
Anda Mungkin Juga Suka





