
Shalawat Cinta
Bab 2
Rasanya tidak sabar solusi apa yang akan bang Adam berikan, aku tau bang Adam juga tidak menginginkan perjodohan ini, secara sejak keci kami selalu bersama bahkan bang Adam pernah bilang kalau aku akan selamanya menjadi saudara terbaik.
"Bang, kita mau kemana?"
"Sebentar lagi juga sampai, tidak sabaran banget sih." Jawabnya sambil fokus pada jalan raya.
"Bagaimana kalau solusi yang Abang tawarkan tidak berhasil? Pokoknya Alisa gak mau jadi istri Abang. Amit amit jabang bayi." Keluhku. Bisa aku lihat dengan jelas senyum bang Adam di balik sepionnya.
"Siapa juga yang mau punya istri kayak Alisa, wong Abang sudah lihat semua isinya, gak ada yang menarik." Jawabnya sambil tertawa kecil.
Aku yang mendengar Jawaban menggelikan itu langsung berteriak dan memintanya berhenti seketika itu juga, tapi pria kalem bin tampan yang pandai baca kitab kuning ini terus saja melaju.
"Kalau gak mau berhenti, Alisa melompat ni."
"Silahkan saja, kalau mau mati."
"Abaaaaang! Gak banget sih jawabnya. Emang Abang pernah liat Alisa mandi?"
Bang Adam menghentikan sepedanya di bawah pohon rindang pas di pinggir jalan. Dia tersenyum melihatku manyun hampir tiga sentimeter.
"Yang bener aja Bang, seorang keturunan Kiai yang di segani di kampung, yang pandai baca tafsir dan kitab kuning suka mengintip Alisa mandi. Jujur aja, Abang suka sama Alisa? Bilang aja."
Yang di tanya malah tertawa lebih keras seakan apa yang aku katakan sebuah lelucon. Perasaanku semakin tidak nyaman, kali ini aku mulai mencurigai pria yang tampak orang gila karena terus tertawa.
"Puas!"
"Alisa. Dengarkan Abang. Sejak orok, kita bersama, mandi bareng, semuanya di kerjakan bersama bahkan waktu Alisa masih SD yang mandiin juga Abang. Ingat gak? Ya kalik Abang nikahin adik sendiri. Sudah jangan marah gitu." Jawabnya masih tertawa melihatku.
"Abang sih."
"Sorry. Ya udah, kita lanjut lagi." Sambil menghidupkan mesin sepedanya dan menyuruhku naik.
Kendaraan roda dua ini terus melaju melewati dua lampu merah, entah berapa meter lagi kita akan sampai pada tujuan. Hening tidak ada percakapan lagi di antara kami karena modku sudah rusak sejak tadi.
Bairlah aku nikmati dulu gelombang angin yang arahnya tidak menentu, harapan terbesar semoga perjodohan berantai di keluarga yang masih memegang ajaran kuno terputus di bawa gelombang alam bernama angin.
Di sebuah toko emas yang diserbu oleh pembeli bang Adam menghentikan sepeda motornya. Mendadak tubuh jadi panas, darah seakan naik 180 derajat, wajah jadi merah mata penuh api. Ini bukan solusi tapi awal dari penderitaan.
“Sudah sampai. Turunlah.”
“gak mau, Bang. Alisa gak mau turun.”
Aku masih kukuh di atas boncengan. Jika turun bang Adam pasti mau mengajakku masuk ke dalam dan memilih cincin pertunangan seperti yang diminta oleh bang Adam. Tidak mau! Itu tidak boleh terjadi, bang Adam tidak boleh melingkarkan cincin di jari manis ini, jari manis ini hanya untuk dia tulang rusukku yang masih dalam pencarian.
“Alisa. Adeknya Abang, turunlah,” pinta bang Adam pelan. “Abang mau memperkenalkan seseorang.” sambil melepaskan helm yang masih menempel di kepala.
“Siapa?”
“Itu dia.” Bang Adam menunjuk pada seorang gadis bergamis merah dengan hijab pasmina warna hitam. Dia mendekati kami, senyumnya sangat manis.
Eit. Tunggu. Ada apa ini? Pemandangan apa ini? Tidak bisa dipercaya gadis itu mencium tangan bang Adam, yang membuatku semakin terkejut bang Adam mencium keningnya. Oh Tuhan, siapa dia. Cantik sih lebih tepatnya manis saat melempar senyum padaku.
“Ini, Bang yang namanya Alisa?”
“Iya. Sa. Kenalkan Ini Lastri, istri Abang.”
What. Istri? Sejak kapan? Kapan nikahnya?
Oh bang Adam, jangan bilang ini istri simpanan. Tapi apapun yang dilakukan bang Adam setidaknya hari ini bara api di mataku mulai mereda seperti dapat semprotan keras dari tim pemadam kebakaran. Mungkin ini solusi yang bang Adam mau jelaskan.
“Sa. Kok bengong. Kenalkan Ini istri Abang.”
“Lastri.” Wanita itu mengulurkan tangan yang aku terima dengan hati terbuka seperti hamparan bunga mawar di taman.
“Beneran, Bang. Alisa tidak berhayalkan, Abang sedang tidak ngibulin kan?”
Aku mencubit tangan sendiri memastikan apa yang aku lihat. Ternyata sakit. Ini nyata
“beneran, Sa. Abang jelaskan di toko ya.” Bang Adam menggandeng tangan wanita yang disebutnya istri menuju toko baju muslim yang terletak di samping toko emas.
Dengan hati berbunga bak bunga mawar yang baru menunjukkan pesonanya aku mengikuti bang Adam memasuki toko, entah ini toko siapa aku tidak peduli. Yang jadi pertanyaan ku saat ini kapan dan dimana bang Adam menikahi wanita yang bernama Lastri itu. Kenapa kami keluarga besar sampai tidak tahu hal sebesar ini?
Lastri. Cantik, bulu matanya lentik, wajahnya oval, halus, hidung sedang-sedang, dipermanis dengan dua lesung pipi yang tidak terlalu dalam. Setidaknya itu kesan pertama saat aku berjabat tangan dengannya.
“Ceritakan, Bang. Dosa apa yang Abang dan mbak Lastri lakukan sehingga keluarga besar tidak boleh sampai tau rahasia sebesar ini.” Desakku saat bang Adam mempersilahkan aku duduk di sebuah meja istirahat yang ada di dalam toko.
“Abang sengaja melakukan ini, kami menikah siri dua bulan yang lalu,” terang bang Adam sambil memegang tangan istrinya.
Mata dan mulutku terbuka lebar. Masih tidak percaya dengan kejujuran yang mereka perlihatkan.
“Abang keterlaluan! Ini dosa besar, Bang. Masalah besar jika keluarga kita tau.” Ucapku pelan
Bang Adam yang Sholeh, yang penuh wibawa. Bang Adam yang jadi kebanggan keluarga hari ini menunjukkan kesalehan bang Adam kalah akan nafsu birahinya.
“Abang tidak punya pilihan selain bertindak. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk menyadarkan Abah kalau jodoh tidak bisa dipaksakan.”
“Tapi, Bang. Ini salah! Abang sudah menodai keluarga kita. Abang pasti dihukum.”
“Saat abang tau, orang tua kita mulai membicarakan tanggal pernikahan kita. Abang tidak punya pilihan. Hati Abang sudah terikat dengan Lastri.”
Sebegitu besarnya cinta bang Adam sama mbak Lastri sehingga dia rela mengambil resiko sebesar ini. Aku sudah salah menilai bang Adam. Maaf kan Alisa bang.
“mungkin ini salah. Tapi ini bukan dosa karena pernikahan kami sudah di restui oleh keluarga Lastri. Mereka menerima keputusan Abang.”
Abang tidak melakukan dosa tapi kesalahan yang menguntungkan karena membuatku terbebas dari perjodohan ini.
Apapun keputusan Abang, Alisa bisa memahami. Mungkin jika Alisa ada di posisi bang Adam akan melakukan hal yang sama. Tapi bagaimana dengan citra Abang dan keluarga kita di masyarakat.
Mereka pasangan yang serasi. Sepertinya mbak Lastri jodoh terbaik buat bang Adam. Tapi dengan cara ini di mata keluarga dan masyarakat cintra mbak Lastri pasti jelek sekali.
“Ini solusi terbaik, Bang. Alisa juga tidak mau menikah sama Abang. Alisa mau cinta yang lain, tapi bukan Abang, tapi, Baang...”
“Apa?”
“Abang kan tau. Haram hukumnya menolak perjodohan ini.”
Bang Adam terdiam. Garis halus di wajahnya menunjukkan dia sedang mencari solusi.
Mbak Lastri mulai sibuk melayani pelanggan yang berdatangan. Apa dia kerja disini?
“Itu urusan nanti. Alisa pura-pura nerima aja. Jangan berontak biarkan Abang yang bicara dengan keluarga kita.” Jawabnya setelah cukup lama terdiam.
“Mbak Lastri kerja disini?” tanyaku yang terus memperhatikan kelihaian mbak Lastri dalam menangani pelanggan.
“Kita pemilik toko ini.”
“Kita?”
“Ya Alisa. Ini usaha yang kami rintis berdua. Gedung ini punya Ayah yang kami sewa.” Terang mbak Lastri yang sudah bergabung bersama kami.
Ini mah namanya sedia payung sebelum hujan. Keputusan yang tepat jika suatu hari nanti Akung mengusir bang Adam dari rumah, setidaknya mereka tidak akan jadi gelandangan.
Anda Mungkin Juga Suka





