
SETETES DARAH SUCI
Bab 3
IRISH AURORA
"Hentikan! kumohon hentikan!" seorang gadis culun yang memakai kacamata bulat dengan rambut dikepang dua sedang memohon ampun pada segerombolan gadis yang terus menjahilinya.
"Makan ini! hahaha." seorang gadis berambut pirang yang terlihat lebih modis dari yang lain, sepertinya dialah pemimpin gengs tersebut. Ia terus mencekoki makanan basi pada gadis malang tersebut.
"Kau pasti kesulitan untuk makan kan? kau kan miskin, kenapa kau tidak mau makan ha? ini lezat lho, cobalah!" gadis pemimpin gengs tersebut terus memaksa gadis culun untuk memakan makanan tersebut.
"Aku tidak mau Barbara, tolong lepaskan aku!" ucap Irish memelas.
Gadis culun itu bernama Irish, Ia berpenampilan sangat payah dan tidak menarik sama sekali, maka dari itu ia selalu menjadi bulan-bulanan gengs terpopuler disekolah.
Barbara Rodrigo, ia adalah anak salah satu pengacara kondang di negara ini, ayahnya sangat hebat dalam memenangkan masalah atau kasus kriminal, maka dari itu semua akan dibabat habis oleh ayah Barbara jika sudah berada di pengadilan, itu jugalah yang membuat Barbara berbangga diri, menjadikan ayahnya sebagai tameng agar dirinya menjadi mahasiswi terpopuler, dan jangan lupa, diinginkan oleh para lelaki di dalam kampus maupun di luar kampus.
Sedangkan Irish Aurora adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga menengah ke bawah, ibunya hanyalah seorang penjual bunga, dan ayahnya meninggal karena sakit. Irish hanya hidup bersama ibu dan neneknya, Neneknya yang sudah renta tapi masih terlihat sangat segar, nenek yang selalu bersikap sabar dan bijaksana, dan selalu memberikan nasehat jika Irish sedang terkena masalah, sedekat itu memang Ia dengan neneknya.
"Kumohon hentikan! Lepaskan aku!" Irish terus meronta bahkan memelas, memohon bahkan mengemis belas kasihan agar Barbara dan geng nya berhenti mengganggunya.
Sebenarnya Irish sangat cantik dan manis, memiliki tubuh yang sexy, dada yang besar dan bokong yang padat, karena kelebihannya itu Ia sembunyikan karena malu diperlihatkan pada banyak orang, bahkan dirinya masih perawan di usia sembilan belas tahun, menginjak usia dua puluh tahun saat ini.
"Hah tidak seru. Kenapa dia sangat membosankan sekali hari ini. Semuanya, ikut aku! Aku memiliki hukuman yang pantas untuknya!" Barbara berdiri dan mengomando anak buahnya untuk menyeret Irish ke tempat yang ia siapkan untuk eksekusi lebih lanjut.
"Tidak. Tolong! kumohon lepaskan aku Barbara!" Bahkan dosen pun tidak ada yang berani membantu Irish, karena sokongan dana terbesar di kampus ini adalah dari ayah Barbara, jika sampai ada yang mengusiknya, ayahnya tidak akan segan-segan mencabut segala sokongan dana dan membuat dosen atau karyawan yang bekerja di kampus itu keluar dari pekerjaannya.
"Hahahaha ... tempatmu adalah disini." Barbara and the geng mendorong Irish memasuki toilet.
Irish terjatuh dan tubuhnya limbung ke lantai, Ia cepat berdiri dan segera berlari kearah pintu.
"No, Barbara lepaskan aku!" Pekik Irish sambil terus menggedor-gedor pintu toilet.
"Bye kecoak" Barbara and the gengs mengunci Irish di toilet.
"Selamat bermalam minggu di toilet bitch hahahahaha." Barbara tidak memperdulikan Irish yang berteriak dan menangis. Mereka berlalu begitu saja meninggalkan Irish sendiri yang terkunci di toilet.
"Bagaimana aku bisa keluar dari sini, hiks ... ibu, enek, tolong aku!" Irish terus menangis dan terus berteriak meminta tolong agar ada orang yang mendengar dan menolongnya keluar dari toilet.
***
Seorang lelaki cleaning service datang untuk membersihkan toilet.
Ia bersiul khas seorang bapak-bapak dan menyiapkan segala sesuatunya untuk membersihkan toilet.
"Wah ... kenapa pintu ini terkunci, perasaan kemarin tidak" setelah membuka pintu toilet betapa terkejutnya dia melihat ada seorang siswi yang sedang tertidur di atas lantai.
Ronald mendekati Irish dan menggoyangkan tubuhnya.
"Hei nona bangun! kenapa tidur di sini?"
Ronald memandang iba pada penampilan siswi tersebut, bajunya yang kotor dan lusuh serta rambut yang acak-acakan. Ia tahu dan mengenal gadis ini, setiap hari ia selalu diganggu dan dijahili oleh anak pengacara kondang itu.
"Hei bangunlah!"
Iris mengerjap perlahan membuka matanya. Matanya memicing dan melihat siapa orang di depannya ini.
"Mr Ronald ...." Lirih Irish.
"Astaga, bangunlah!" Ronald membantu Irish untuk berdiri.
"Baiklah, pelan-pelan! Ini minumlah aku ada air mineral." kebetulan Ronald selalu membawa air mineral kemana-mana, karena pekerjaannya yang melelahkan harus siap air mineral dimanapun ia berada.
"Te-terima kasih Mr. Ronald." tanpa ragu Irish terus meminum air mineral itu. Ia benar-benar merasa kering di tenggorokannya.
"Nona ... Anda terkunci disini sejak kapan ?" Tanya Mr Ronald iba.
Irish kembali menangis, Ia hanya menggeleng lemah sambil mengusap air matanya.
"Astaga, pulanglah nona! hari ini hari libur, seharusnya anda dirumah, beristirahatlah! maafkan kami yang tidak bisa apa-apa saat nona dijahili nona Barbara dan teman-temannya, karena kalau kami menolong nona, kami akan kehilangan pekerjaan." lirih Mr Ronald.
"Saya mengerti, tidak apa-apa Mr. Ronald, terimakasih untuk semuanya, saya pulang dulu." dengan tertatih Irish pergi meninggalkan tempat yang menyekapnya sepanjang malam,
***
Disepanjang jalan ia menangis , meratapi nasibnya yang bukan siapa-siapa. Dia tidak bisa menjadi apa-apa, sehingga banyak orang yang menghina dan menginjak-injak harga dirinya.
Sejak siang Ia dikunci Barbara di toilet, entah akan sampai kapan dia disana jika Mr Ronald tidak menemukannya mengingat besok adalah hari libur, tidak ada mahasiswa satupun dikampus.
"Ayah ... aku ingin ikut ayah saja, disini terlalu berat, hiks." lirih Irish.
Tiba-tiba ada sekelompok pria yang menghadangnya.
"Hai cantik ... kenapa pakaianmu seperti itu? seperti habis kerampokan." ucap seorang pria dengan tato di wajah.
Irish sangat ketakutan, ditempat itu sangat sepi, jika mereka berbuat jahat tidak ada satupun orang yang bisa dimintai tolong.
"Kenapa diam saja nona manis, wajahmu sangat cantik, ayolah ikut kami, kami akan mendandanimu dan mengganti bajumu." ucap seorang pria yang paling kurus diantara mereka.
"Berarti kau akan menelanjanginya terlebih dulu, hahhhaha ... dia pasti sangat sexy sekali, vibe nya seperti anak-anak SMA." kemudian disambut tawa oleh semua pria yang ada disana.
"Kumohon tuan jangan ganggu aku, aku hanya ingin segera pulang, please." ucap Irish semakin terisak. Ia merasa kenapa hidupnya berat sekali, di kampus ia selalu mendapat bullian dari Barbara dan teman-temannya, sekarang ia mendapat ancaman terbesar di jalanan.
"Ya Tuhanku." Irish menautkan kedua tangan di depan dada berharap ada seseorang yang akan membantu dan menyelamatkannya.
"Ayolah baby jangan takut, kami tidak jahat. Kami akan berlaku sangat lembut kepadamu, hahaha. " sambut gelak tawa dari semua pria di sana.
" Tidak. Lepaskan! kumohon lepaskan aku tuan!"
Para pria itu tidak menghiraukan rintihan Irish.
Pria berbadan tinggi besar berusaha memeluk dan mencium Irish.
"Tidak. Tolong ... kumohon siapapun tolong aku!" Tiba-tiba ada lemparan sebuah batu yang mengenai wajah pria itu.
Irish tercengang, siapa gerangan yang membantunya, padahal ia tidak melihat ada orang disekitar itu.
"What the fuck, Hei ... pecundang, jangan bersembunyi, keluarlah! tunjukan dirimu!" Pria besar itu meringis kesakitan ketika melihat wajahnya sedikit memar dan berdarah.
"Bukankah kau yang pecundang, ada pria sekitar tujuh orang, tapi mengganggu satu gadis lemah." ucap pria tampan dengan badan gagah sambil berjalan mendekat ditengah kegelapan.
" Fuck, berani sekali kau mengatakan itu padaku."
" Tuan, kita habisi saja mereka , sepertinya mereka bukan ancaman yang berat." ucap Agathias.
Ternyata Alzack sudah sampai di dunia manusia, malah ia disambut dengan pemandangan ini, ia melihat Irish yang menangis dan terlihat syok di pojokan.
"Kau benar paman, kita habisi mereka semuanya."
"Baik." Agathias menyeringai tajam, Ia mengambil pedang dan siap membabat habis tujuh orang pria mesum tersebut.
"Serang mereka berdua!" Perintah seorang pria dengan perawakan paling besar diantara mereka.
Terjadi baku hantam dengan suara dentingan pedang dan pukulan.
Tentu saja manusia bukan tandingan bagi bangsa vampire. Dalam hitungan menit, ketujuh pria itu jatuh tersungkur.
"Kaaabbuuurrr." pria itu lari terbirit-birit meninggalkan lokasi.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Alzack mensejajarkan posisinya pada Irish yang masih terduduk lemah.
Pandangan mereka bersatu, ada getaran berbeda yang terjadi diantara mereka, seakan tarik menarik bagai magnet.
"Te-terima kasih anda berdua sudah menyelamatkan saya, saya permisi dulu." ucap Irish berdiri dan menunduk hormat kemudian segera pulang.
"Paman! Cari tahu siapa dan dimana gadis itu tinggal!" Perintah Alzack
"Hmm, apakah anda sudah mulai jatuh cinta dengan manusia tuan?" Kikik Agathias
"Apa maksudmu, aku merasakan hawa berbeda ketika pandangan kita bertemu, dia pasti bukan gadis biasa." terang Alzack .
" Begitu ya, baik tuan akan saya laksanakan"
"Perasaanku mengatakan, sebentar lagi kita akan menemukan gadis itu." senyum terlukis diwajah tampan sang pangeran.
" Ayo paman, kita pergi!"
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





