
Setelah Malam Pertama
Bab 2
Sekarang Maya berbalik menyakiti tubuhnya. Dia mencakar-cakar seluruh badannya hingga meninggalkan goresan luka, dan bekas merah oleh kuku panjang di jari lentiknya. Sebagian luka itu mengeluarkan darah tapi Maya tidak menghiraukannya. Maya terus mencakar, dan memukul tubuhnya yang sudah dia rasa sangat kotor.
"Maya! hentikan! ini semua salahku. Kumohon, berhentilah menyakiti dirimu sendiri!" Daffin memegang erat tangan Maya, membuat maya memberontak untuk melepaskan tangannya.
"Aku akan mempertanggung jawabkan semua ini. Aku, janji!" Daffin terus memegang tangan itu dengan erat supaya Maya berhenti menyakiti dirinya sendiri.
"Jika setelah kejadian ini, Arthur meninggalkan kamu. Maka, aku akan sangat siap menerima kamu di kehidupanku. Aku sangat mencintaimu, May!" ucap Daffin meyakinkan Maya. Namun, Maya hanya menggeleng tanda tidak setuju dengan perkataan Daffin.
"Kamu harus percaya! cintaku lebih besar kepadamu. Melebihi cinta Arthur yang telah kamu terima," imbuh Daffin lagi.
"Aku tidak mau siapapun! Termasuk kamu, Bajingan!pergi kamu dari sini" Teriak Maya.
"Aku bisa membahagiakan kamu jika kamu mau hidup bersamaku, May. Buktinya tadi malam, aku bisa membuatmu puas," ucap Daffin mengingatkan pertempuran mereka tadi malam supaya hati Maya luluh untuk mau hidup bersamanya.
Alih-alih bisa meluluhkan hati Maya dengan mengingatkan malam panjang yang mereka lalui dengan bercucuran keringat tadi malam, malah itu membuat hati Maya semakin tercabik-cabik.
"Kamu menyukainya, kan?" tanya Daffin percaya diri.
Perkataan Daffin membuat Maya murka. Sakit hatinya kepada Daffin yang telah menidurinya, dan kepada Arthur yang telah meninggalkannya di malam pertama pernikahannya, membuat Maya kembali menangis histeris.
Maya menggigit tangan Daffin yang mengungkung tangannya sampai tangan tidak berdaya itu lepas dari cekalan tangan kekar Daffin.
"Plak! Plak!" Dua tamparan keras mendarat di kiri, dan kanan oleh kedua telapak tangan Maya berhasil mendarat dengan sangat mulus di pipi Daffin secara bergantian.
"Aawh." Daffin mengerang, memegang kedua pipinya yang terasa panas oleh tamparan Maya.
"Kamu bajingan … binatang!" Sumpah serapah terlontar dari mulut Maya dengan nada emosional tinggi.
Saat ini, hidup Maya benar-benar terasa sangat hancur. Dia tidak menyangka semua ini akan terjadi pada dirinya. Baru saja dia menikmati kebahagiaan karena dinikahi oleh pria pujaan hati yang sangat dia cintai. Sekarang, kebahagiaan itu lenyap seketika. Senyuman yang mengambang begitu mekar di bibirnya pada hari kemarin, pagi ini telah berganti dengan tangisan pilu yang sangat mengoyak kehidupannya.
Sekelebat bayangan dia bercumbu dengan Daffin tadi malam, melintas, dan menari riang di dalam memorinya, "Kenapa semua ini kamu lakukan kepadaku?" Maya melemparkan bantal di dekatnya ke arah Daffin. Orang yang dilempar hanya pasrah menerima lemparan bantal dari tangan Maya tanpa mengelakkan diri sedikitpun.
Maya juga tidak habis pikir. Kenapa bisa Arthur tidak ada di kamarnya semalaman. Bahkan sampai pagi ini, Arthur belum juga menemuinya. Apakah Arthur, dan Daffin sudah bekerja sama untuk mengerjainya. Prasangka, demi prasangka bermunculan dalam hati Maya.
"Arthuuur!" Maya memanggil Arthur dengan suara nyaring, dan bergetar.
"Arthur! kamu dimana?!" teriaknya lagi yang di iringi tangis begitu menyayat hati.
"May, jangan teriak-teriak! Nanti orang-orang pada datang kesini," ucap Daffin cemas.
"Arthur! hiks hiks hiks ...." Maya terus memanggil-manggil nama Arthur dengan sangat keras.
"Arthur tidak ada disini, May. Tenangin diri kamu dulu. Setelah ini, kita pergi dari sini untuk menata masa depan kita yang bahagia," bujuk Daffin yang berasa tidak ada urat harga dirinya.
"Keluaar!" Maya mendorong tubuh Daffin dengan sekuat tenaganya.
Daffin memegang tangan Maya, dan menciumnya sekilas. "Aku tidak akan keluar, apalagi meninggalkan kamu. Aku akan keluar jika aku bisa membawamu pergi bersamaku," jawab Daffin.
Dengan sekuat tenaga, Maya menarik tangannya dari Daffin. "Plak!" Kelima jari tangan kanan Maya mendarat di pipi Daffin setelah tangannya berhasil terlepas dari cekalan pria di hadapannya.
"Aku tidak akan pergi bersamamu. Kamu adalah seorang bajingan yang telah menghancurkan kehidupanku," teriak Maya.
"Arthur! Hiks hiks, Arthur!" Maya kembali meneriakkan nama Arthur dengan sangat keras.
Maya sangat kecewa, dan tidak menyangka, Arthur tega meninggalkannya saat malam pertama mereka, dan membiarkan Daffin tidur bersamanya untuk melalui malam panas yang seharusnya dia lalui, dan dia persembahkan untuk Arthur.
"Aku benci! Aku benci kalian! Apakah kalian bersekongkol?!" Maya memukul kepala Daffin dengan tangis yang masih terisak.
"Toloong! siapapun yang ada disini, tolong, tolong bawakan suamiku kesini!" Suara Maya sudah terdengar parau karena dari tadi terus berteriak dan menangis.
"Itu, Maya ken-aah ah ... Maya kenapa?" tanya Sella yang terbata karena terus di genjot Arthur dengan tusukan cepat.
Arthur tidak menjawab pertanyaan Maya, dia terus memacu dan menusuk liang surga yang menjepit hangat belalainya.
"Maya ... Ah, hhh, itu Maya, Ah mmm ...." Mulut Sella yang dari tadi terus menanyakan Maya, dan sangat berisik di kulum oleh Arthur, di lumatnya sambil terus menggoyangkan pinggulnya.
"Itu, Maya ken-aah ah ... Maya kenapa?" tanya Sella yang terbata karena terus di genjot Arthur dengan tusukan cepat.
Arthur tidak menjawab pertanyaan Sella, dia terus memacu, dan menusuk liang surga yang menjepit hangat belalainya. Yang ada di pikiran Arthur saat ini hanyalah menuntaskan perperangannya. Setelah itu baru mengurus apapun yang sedang terjadi di luar sana. Arthur sedang berada di puncak birahi, sehingga dia tidak bisa menghentikan aksi penyaluran di tengah-tengah peperangan saat ini.
"Maya ... Ah, hhh, itu Maya, Ah mmm ...." Mulut Sella yang dari tadi terus menanyakan Maya, di kulum oleh Arthur, di lumatnya sambil terus menggoyangkan pinggulnya.
Arthur menggigit bibir Sella membuat Sella membuka sedikit bibirnya yang langsung di masuki oleh lidah Arthur. Lidah Arthur menari-nari di dalam sana, berdansa nikmat bersama lidah Sella.
Ditelungkupkan kedua telapak tangannya oleh Arthur keatas dua buah daging sintal di dada Sella, di remas-remas dan sesekali memainkan pucuk bulatan kecil di atasnya membuat Sella mabuk alang kepalang. Memori di dalam kepalanya mendadak tidak bisa memikirkan yang lain. Sekarang memori itu terasa penuh oleh gairah yang disalurkan oleh aksi yang dimainkan Arthur saat ini.
Arthur semakin mempercepat tusukan belalainya ke dalam goa penjepit di bawah sana, dan meremas erat daging sintal yang jadi pegangannya.
"Ah hmm aah ah" Arthur dan Sella terus mengerang tidak beraturan kala tususukan itu semakin lama semakin cepat.
"Aahk ...." Lenguh Arthur dan Sella bersamaan dengan semburan lava kental memenuhi dinding gua Sella.
Sella memejamkan matanya, terkapar tidak berdaya sedangkan Arthur, Ambruk di atas tubuh Sella untuk beberapa menit. Direbahkan tubuhnya ke samping Sella oleh Arthur, dan mencoba menetralkan pernafasannya beberapa saat. Setelah merasa tenaganya sedikit membaik karena terkuras oleh pertarungan dari tadi malam hingga pagi ini, Arthur bangun dan memungut pakaian mereka berdua yang berserakan di sembarang tempat.
Arthur memakai pakaiannya lengkap seperti semula, sedangkan pakaian Sella dilempar begitu saja ke atas tubuh Sella yang masih telentang polos memperlihatkan bagian inti tubuhnya.
"Cepat pakai, pakaianmu!" ucap Arthur dingin dan berlalu ke kamar mandi.
Sella bangun, dan mengambil pakaiannya yang dilemparkan Arthur tadi, di pakainya satu persatu pakaian itu, mulai dari lapisan dalam yang berenda hingga pakaian penutup luarnya.
"Bersihkan tubuhmu! jangan sampai Maya mengetahui semua ini!" Arthur menyisir rambutnya ke belakang dengan jari membuat dia semakin cool di mata Sella.
Sella hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dia menatap Arthur dengan perasaan campur aduk.
"Lupakan kejadian ini! jangan pernah menganggap kejadian ini pernah ada di antara kita!" ucap Arthur.
"Deg ...." Bak dihujani ribuan belati, jantung Sella seakan berhenti bekerja untuk sesaat.
Butiran air mata Sella jatuh melewati pipinya. Dia menatap Arthur penuh kebencian. Sella tidak menyangka Arthur yang biasanya dia kenal sangat baik, dan humoris bisa berbicara seperti itu. Padahal dia telah mengambil perawan Sella, dan menikmati tubuh Sella berulang kali semenjak tadi malam. Sekarang, dengan sangat mudah dia meminta Sella untuk melupakan kejadian yang mereka lakukan, yang lebih parahnya, dia meminta Sella untuk melupakan dan tidak mengingatnya lagi.
"Kamu mau aku melupakan semua ini? menyuruh ku untuk menganggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita?" tanya Sella dengan mulut bergetar, dan air mata yang terus keluar dari pelupuknya.
"Kurang jelas apa yang aku katakan tadi?" Arthur melipat kedua tangannya di dada dan mengangkat satu alisnya ke atas.
"Setelah kamu melakukan semua ini, kamu tega berkata seperti itu. Kamu telah mengambil perawanku, Arthur!" tangis Sella pecah tak terbendung menahan perasaannya.
"Mengambil, kamu bilang?" Arthur melangkah mendekati Sella yang masih duduk di atas ranjang, "Bukankah ... kamu sendiri yang datang kepadaku untuk memberikannya?" Arthur mencengkram dagu Sella dengan keras, dan mendorongnya kasar.
"Deg!" Sella terperangah mendengar penuturan Arthur.
'Apakah Arthur mengetahui semuanya?' batin Sella menatap mata di hadapannya.
"Apa kamu bilang? Aku yang datang kepadamu dan menyerahkan keperawananku kepadamu?" Sella menyipitkan matanya memandang Arthur.
"Jika, kamu tidak datang kepadaku. Ini semua tidak akan terjadi!" perdebatan sengit itu semakin lama semakin panas, Mereka berdua tidak menghiraukan Maya yang terus berteriak membuat gaduh seisi rumah.
"Memangnya kamu siapa? Hah?" Sella melototi Arthur membuat Arthur juga balik melototinya.
"Jika, aku mau menyerahkan perawanku ke sembarang orang. Maka itu akan ku serahkan bukan kepadamu! memangnya apa sih kelebihan kamu? laki-laki berparas jelek yang tidak mempunyai rasa tanggung jawab!" ucap Maya naif terbawa emosi.
"Kamu menghinaku. Tapi dengan sukarela datang untuk memberikan perawanmu pada orang yang kamu anggap tidak pantas mengambil itu dari kamu. Hahaha," Arthur menertawai Sella yang semakin terbakar amarah.
"Plak!" Sella mendaratkan telapak tangannya dengan keras ke pipi Arthur.
"Kamu periksa CCTV di luar rumahmu sampai yang ada di dalam rumah! kamu lihat di sana, apakah aku yang datang kepadamu memberikan tubuhku secara cuma-cuma kepadamu atau kamu yang mengambil nya dengan paksa dariku." Sella mendorong tubuh Arthur, dan berlalu kehadapannya begitu saja tanpa menunggu perkataan Arthur lagi.
Sella berjalan cepat menuju arah suara kegaduhan yang dibuat oleh Maya, dia penasaran sekaligus ingin melihat kehancuran sahabatnya itu saat ditinggal oleh suaminya saat malam pertama. Maya memang menganggap Sella sebagai sahabat baik. Namun, itu tidak berlaku bagi Sella, dia tidak pernah menganggap Maya sebagai sahabat. Melainkan baginya, Maya adalah seorang saingan yang selalu mendapatkan apa yang Sella inginkan.
Contohnya saja, Sella mencintai Arthur sudah sejak lama. Diam-diam dia berusaha mengambil hati Arthur dan menarik perhatian lelaki itu dengan berbagai cara. Tapi, usahanya tidak membuahkan hasil. Malahan sekarang Arthur telah menikah, dan menggelar resepsi yang sangat mewah bersama Maya. Yaitu, orang yang dianggap perebut segalanya dari dirinya oleh Sella.
Dengan senyum kemenangan karena telah berhasil mengambil malam pertama orang yang sangat dia benci selama ini, Sella terus melangkah menuju kamar paling ujung dari rumah itu. Dia tidak sabar melihat Maya hancur di hari bahagianya.
"What?" Mata Sella melotot melihat Maya yang sudah seperti orang gila di hadapannya.
"Apa yang terjadi dengan kamu, May?" Sella mendekati Maya yang telanjang tanpa memakai pakaian sehelai benang pun.
Maya tidak menghiraukan Sella, dia terus melemparkan segala sesuatu yang ada di dalam kamar itu. Kosmetik yang ada di meja rias kini telah berserakan di setiap sudut. Gucci kecil yang biasanya teronggok tenang di atas nakas kini telah bercerai berai menjadi puluhan keping. Sedangkan Daffin berdiri di samping Maya, dengan tubuh yang sama polos dengan orang yang ada di dekatnya. Daffin terus berusaha untuk menenangkan Maya, dia tidak mau jika Maya nekat untuk menyakiti dirinya sendiri.
"Maya, kamu kenapa? tenangkanlah dahulu! ceritakan kepadaku apa yang terjadi padamu!" Sella meraih lengan Maya, berpura-pura simpati pada keadaan Maya saat ini.
Maya tidak menjawab, dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Sella. Dia tidak tahu harus memulai ceritanya dari mana, dia sangat terpuruk dengan kejadian ini. Disisi lain, dia merasa bersalah kepada Sella karena telah tidur dengan Daffin.
'Maafin aku, Sel' batin Maya yang terus menangis semakin menjadi-jadi.
Maya menganggap Sella punya perasaan kepada Daffin karena selama ini mereka sering ketemuan dan jalan bareng. Apalagi akhir-akhir ini, Sella dan Daffin sepertinya sangat lengket. Dimana ada Sella pasti disitu ada Daffin.
"Kamu ngapain disini?" Sella melihat ke arah Daffin, orang yang ditatap hanya diam.
"Kenapa kalian tidak memakai baju? apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Sella bersandiwara, seperti tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Maafkan aku, Sel!" ucap Maya lirih dengan keadaan masih terisak. Sedangkan Daffin hanya diam sambil memunguti pakaiannya yang tercecer di pintu masuk kamar.
"Apa yang terjadi?" Suara briton terdengar dari arah belakang mereka.
"Maya ku temukan dengan Daffin dalam keadaan telanjang," jawab Sella melirik ke arah Arthur.
Arthur menerobos masuk ke dalam kamar yang seharusnya jadi saksi malam pengantin untuk pertama kalinya bagi dia dan Maya, untuk melakukan sesuatu hal yang indah. Tapi kini, Kamar itu telah menjadi tempat pertama kali untuk Maya merasakan kenikmatan dunia dengan laki-laki yang bukan suaminya. Sekaligus sebagai saksi untuk kehancuran Maya di pagi ini.
Kehidupan dengan jalan yang sangat rumit untuk Maya akan di mulai dari tempat ini. Tempat yang menyajikan surga sekaligus neraka untuk dirinya.
Anda Mungkin Juga Suka





