
SEPENGGAL KISAH TANPA JUDUL
Bab 3
Seperti biasanya setiap Minggu pagi Jeany selalu menghabiskan waktunya untuk lari pagi, hal ini sudah jadi kebiasaan rutinnya untuk membakar kalori sekaligus untuk kebugaran tubuhnya.
Dari dulu Jeany phobia gendut, baginya tubuh gendut adalah hal yang paling menakutkan dalam hidupnya. Hari ini tidak seperti biasanya selalu ada Lintang yang selalu setia menemani buat jogging bareng.
Sejak hadirnya Jordan ditengah-tengah mereka justru membuat Lintang semakin jauh darinya. Ia sadar sahabat segala-galanya, tapi cinta juga utama. Hal itu yang membuat pikirannya ambyar, saat ia sedang bersama Lintang.. becanda gurau, makan bareng di cafe kampus tiba-tiba Jordan datang menghampiri mereka, dan langsung mengajak Jeany pergi meninggalkan Lintang sendirian.
Ia tahu raut wajah Lintang kecewa, sedih yang bercampur amarah.. tapi Jeany tak bisa berbuat apa-apa selain mengukuti Jordan yang langsung menarik tangannya mangajak pergi.
"Maafkan aku Lintang, aku tak bermaksud membuatmu sedih," jerit Jeany dalam hati.
Siang itu Jeany sibuk beres-beres kamar dan merapikan posisi pajangan-pajangan yang ada di kamarnya. entah kenapa tiba-tiba ia merasa sedih, teringat lintang sahabatnya.
handphonenya pun berdering, Jeany bergegas mengambil handphonenya yang terletak diatas meja. Terdengar suara cowok yang tak lain adalah Jordan pacar yang sangat ia cintai .
"Halooo sayang..," sapa Jordan.
"Ya sayang," sahut jeany
"Kamu lagi ngapain disana?" maaf ya sayang aku gak bisa nemanin kamu jogging. kan kamu tau aku kurang enak badan,"
"Iya yang gak apa-apa kok,"
"Oh ya, aku boleh tanya sesuatu gak," tanya Jeany.
"Boleeh sayang, buat kamu apa sih yang enggak,"
"Sayang. Kamu gak suka ya dengan Lintang? selama ini aku perhatiin tiap kali aku dan Lintang bersama, kamu sepertinya sengaja mengajakku pergi menjauhi Lintang," Jordan diam sejenak, lalu menjawab.
"Aku suka kok dengan persahabatan kalian. Mungkin secara kebetulan aja pas aku datang menyamperi dan mengajak kamu ikut bersamaku, kamu nya lagi bersama Lintang. jadi terkesan seperti yang kamu pikirkan sayang,"
"Udah aaahhh, jangan negatif thinking napa, jangan bahas itulah. bagusan bahas tentang hubungan kita kan sayang," jawab Jordan seakan-akan mengalihkan pembicaraan.
Jeany semakin dibuat bingung dengan sikapnya Jordan terhadap sahabatnya. Kenapa seperti ada yang sengaja ditutup-tutupi Jordan darinya. Kenapa tidak jujur aja bisik Jeany dalam hati.
Jeany memegang handphonenya dan memencet nomor ponselnya Lintang. Sudah berkali-kali dihubungi, akan tetapi Lintang tidak kunjung mengangkat telpon darinya. Jeany semakin merasa bersalah karena ia merasa kalau Lintang marah padanya dan sengaja mengabaikan telp darinya seperti apa yang Jeany sering lakukan semenjak kehadiran Jordan.
Jeany terus mengulangi nya tapi hasilnya tetap nihil, Lintang tetap tak mengangkat telponnya. Hatinya semakin tak karuan apakah Lintang sengaja mengelak darinya? Ungkapnya menerka-nerka.
Sore itu habis jam kuliah, Jeany sengaja mencari keberadaan Lintang. Mereka memang satu fakultas tapi beda jurusan.
Jeany mencari Lintang melalui teman-teman sejurusan dengannya, tapi meraka bilang gak tau. Ada rasa bersalah dalam hati Jeany terhadap sahabatnya itu.
Saat Jeany membalikan badan. Jeany dikagetkan oleh tubuh kekar yang tidak sengaja ditubruknya.
"Aduuuuhhhh. Maaf," wajah Jeany memerah antara malu dan jengkel karena tubuhnya gak sengaja menabrak tubuh cowok itu.
cowok tinggi gagah itu cuma menatap datar, mengangguk dan ternyum dingin. Gerakan tubuhnya mengisyaratkan bahwa ia menerima kata maaf dari Jeany.
"Aneh deehh, gak punya mulut yaa," Jeany ngedumel sendiri dalam hati.
sembari berlalu meninggalkan kampusnya.
"Assalamualaikum...,"
"waalaikumsalam..," jawab mama dari dalam rumah. aroma wanginya masakan mama sudah merebak kemana-mana mengundang rasa lapar yang sudah meronta-ronta sedari tadi.
"Mama lapar...," pekikku. Dengan wajah memelas sembari mengambil piring. Mama cuma tersenyum dan menggeleng-geleng melihat tingkahku.
Mama Jeany paling jago masak, makanya ia paling senang kalo mamanya dirumah gak kerja, jadi mama punya banyak waktu mengurusi aku, papa dan adikku, terutama soal perut.
"Jean. Lintang kok jarang yaah main ke sini?" tanya Mama.
"Mungkin dia sibuk kali mah," jawab ku, sementara mama cuma manggut-manggut.
Drrrrrrrrt......!!
Drrrrrtttt...!
Drrrrrtttt..!!
Ponsel Jeany bergetar beberapa kali, dan ia langsung mengangkatnya. terdengar suara yang selama ini ia cari-cari. Lintang! akhirnya ia menghubungi Jeany.
"Assalamualaikum," sapa Lintang dari seberang.
"Waalaikumsalam..,"
"Lu kemana aja sih Lin? gue kangen tau," cerocos Jeany
"Emang lu punya kangen buat gue? kan lu udah ada Jordan tuh,"
"Kok lu ngomongnya kegitu deh Lin," jawab jeany dengan nada sedih.
"Bukanya Lu yang dulu ngejodohin gue ama dia?"
"Nek.. Gue ngerasa Jordan gak suka deh, kalo ada Gue deket Lu.. Gue ngerasa kalo dia pengennya cuma dia doang yang boleh Deket Lu!"
"Gak kok Lin! Lu jangan negatif thinking napa, Jordan bilang ke gue, kalo dia gak kegitu kok,"
"Terserah Lu deh Jean..! yang pasti gue bisa ngerasain dari sikapnya terhadap gue, yang pasti gue mungkin gak bisa sedekat dulu lagi ke elu nya karena gue tau, lu udah sangat bahagia atas kehadiran Jordan dan gue gak mau ngerusak itu semua cuma karena gue sahabat lu,"
percakapan pun ditutup. Jeany tertegun, bingung harus berbuat apa.
Jeany melamun, pandangannya terus tertuju pada taman yang ada di depan terasnya. Lamunannya buyar ketika tiba-tiba Jeje adiknya berteriak memanggilnya, karena suara berisik ponselnya membuat penat telinga adiknya.
Jeany terlalu larut dalam lamunannya sehingga deringan suara ponselnya pun tidak sedikit pun membuatnya sadar. Ia cuma melirik ponselnya yang jelas datang dari laki-laki yang sangat ia cintai, tapi entah kenapa hatinya begitu berat untuk mengangkat panggilan itu. Ponselnya terus berbunyi, lagi-lagi dia mengabaikan begitu saja.
Jeany membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang beralaskan seprai pink polos. Dia berusaha memejamkan matanya, pikirannya kembali melayang pada kejadian siang tadi dikampus. Lintang Sahabatnya seperti sengaja menghindarinya. Terlihat jelas Lintang dengan sengaja memutar balikan badannya ketika Jeany berjalan menghampirinya.
Jeany dibuat sedih bercampur jengkel, menurutnya alasan Lintang buat ngejauhinya gak logis sama sekali. Toh Jordan udah ngejelasin kalau dia tidak membenci kedekatan Jeany dan Lintang, pikirannya terus berkecamuk.
Jordan berlari kecil mengejar Jeany yang terus melangkah dan mempercepat langkahnya.
Suara panggilan Jordan pun seakan tak dia dengar. Jordan menyusul langkah Jeany dan menarik Tangan kekasihnya itu.
"Sayaang.., kamu apa-apaan sih, aku udah panggil sekenceng itu masak gak denger sih?" suara Jordan sedikit meninggi menahan
kesal.
"Sayaang maaaf, aku tadi buru-buru, maaf kalo aku gak denger kamu manggil,"
"Terburu-buru mau kemana sih?" tanya Jordan heran.
"Aku mau nyusulin Lintang sayaang,"
"Kamu kenapa sih? dikit-dikit Lintang.. Lintaaang terus. Kamu udah ada aku, aku yang akan jagain kamu 24 jam dan aku yang selalu ada buat kamu! bisa gak siih, sehari aja gak bahas Lintang mulu?? " timbal Jordan dengan emosi.
Jeany tercekat mendengar semua perkataan Jordan, ia hanya membeku menatap kekasihnya yang tidak sedikitpun melepaskan pandangan darinya.
Senyum yang hanya terulas sedikit di bibirnya seketika lenyap dan berganti raut wajah muram, mana kala pandangannya kembali dilemparkan nya ke arah Jordan.
Ada rasa kecewa yang terukir dalam hati Jeany akan sikap kekasihnya yang semakin lama semakin terlihat mengekangnya.
Jeany sangat mencintai Jordan tapi sikap Jordan yang kian waktu kian membuatnya kewalahan. Kekasihnya itu selalu terlihat tidak menyukai dirinya deket dengan teman-teman nya termasuk juga dengan sahabat nya sendiri.
Jordan selalu menghalanginya jika ia bersama teman-teman kampusnya dan ia juga tidak dibolehkan bepergian dengan sahabatnya.
Jordan akan marah membesar jika mengetahui kalau Jeany pergi tampa mengantongi izin darinya, pertengkaran pun tak bisa dihindari. Ketahuan bicara dengan teman cowok pun akan jadi masalah besar.
Semua berubah sejak kehadiran Jordan laki-laki tampan yang sudah berhasil memikat hatinya itu yang sekarang mengatur semua kehidupan Jeany. Jordan sekarang berubah menjadi jealous
Anda Mungkin Juga Suka





