Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sepasang Satria Piningit

Sepasang Satria Piningit

Akibat didikan otoriter sang ayah, Syams harus menerima hukuman berat dan pengasingan meski hanya melakukan kesalahan kecil. Kini ia terdampar di sebuah kampung kumuh, tinggal di rumah sempit bersama seorang guru miskin yang mengasuhnya. Di sana, Syams mulai ditempa untuk memahami jati diri serta kewajiban sebagai ksatria sejati. Dibantu pria tersebut, mampukah Syams memenuhi syarat sulit sang ayah agar bisa pulang kembali ke rumah megah keluarganya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Halim meletakkan gelas yang berada dalam genggamannya. Kemudian ia memandang wajah Maryam dalam-dalam. Begitu lembut wajah sang ibu yang selama beberapa bulan terakhir tak dijumpainya itu. Dari raut wajahnya, ia dapat membaca bahwa sang ibu sangat berharap padanya agar ia mau tinggal di rumahnya selama beberapa hari sebagai pengobat rindu.

Halim melepaskan pandangannya dari sang ibu. Kemudian ia menarik nafas panjang lalu menjawab, “Sepertinya tidak amak. Aku hanya akan tinggal disini selama satu atau dua hari saja. Aku masih ada banyak pekerjaan di PadangPanjang. Aku datang kemari hanya untuk melepas kerinduanku pada kalian. Terutama pada Syams.”

"Yaah! Amak pikir kamu akan tinggal disini selama beberapa hari. Padahal Amak sudah sangat rindu padamu. Kamu begitu sibuk sehingga tak mempunyai waktu keluargamu," keluh Maryam.

"Aku juga sangat menginginkan untuk tinggal disini lebih lama lagi. Tapi apa dayaku, Amak? Aku sangat sibuk dengan perusahaanku. Mungkin di lain kesempatan aku dapat mewujudkan impian Amak itu. Untuk tinggal disini selama beberapa hari lagi. “

"Ya, semoga saja begitu.”

Suara pintu yang tengah dibuka seseorang terdengar di telinga Maryam dan Halim. Seketika itu mereka langsung menolehkan pandangan mereka ke arah pintu. Seorang lelaki paruh baya telah memasuki rumah mereka. Lelaki tersebut terlihat begitu bahagia dengan kedatangan Halim. Ia pun segera duduk dan seketika lupa akan tujuan kedatangannya.

“Halim? Kapan kamu datang? Apak sudah sangat merindukanmu,” ucap lelaki yang diketahui bernama Malik itu.

“Aku juga sangat merindukan Apak. Juga semua orang yang tinggal di rumah ini,” jawab Halim.

"Bagaimana kabarmu sekarang?Bagaimana dengan perusahaan Apak di PadangPanjang yang kamu kelola itu?” lanjut Malik.

"Selama beberapa tahun terakhir ini aku disibukkan dengan tugas-tugasku di perusahaan itu. Terkadang aku merasa lelah. Tapi aku tetap harus bersemangat untuk memajukan perusahaan itu,” keluh Halim.

“Memang begitu. Mempunyai perusahaan sebesar itu memang cukup melelahkan. Tapi perusahaan itu sudah menjadi maju ketika baru saja kuberikan kepadamu. Jadi kamu tidak perlu memulainya dari enol. Itulah salah satu alasanku memberikan perusahaan itu padamu. Selain kamu lebih senang tinggal disana daripada di Jakarta ini.”

“Sudahlah, aku ingin mengambil berkasku yang tertinggal. Setelah itu aku harus kembali ke kantor lagi,” lanjut Malik.

Malik berdiri dari tempat duduknya lalu meninggalkan Halim dan Maryam yang masih duduk di tempat itu. Ia berjalan dengan sangat cepat agar ia dapat kembali ke kantornya dengan tepat waktu. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Syams yang sedang asyik membaca buku seorang diri di ruang keluarga. Ia pun tersenyum bangga pada putra bungsunya itu.

Malik mulai mendekati Syams dan duduk di sampingnya. Ia mencoba menyapa putra bungsunya itu. Namun Syams yang begitu fokus dengan bukunya itu tak mendengar ucapan sang ayah. Syams terus membaca bukunya tanpa menghiraukan orang yang berada di dekatnya. Malik terus memperhatikannya yang begitu semangat dalam membaca buku.

Syams telah selesai membaca buku-bukunya. Ia pun menutup buku-bukunya itu dan tak sengaja menoleh ke samping kirinya. Ia menjadi sangat terkejut dengan hadirnya Malik di dekatnya. Malik pun tersenyum padanya.

“Eh Apak! Apak sudah lama berada disini? Maaf Apak, aku sungguh tidak tahu jika apak berada disini. Aku terlalu fokus membaca buku-buku ini. Sekali lagi aku minta maaf, Apak,“ ucap Syams dengan sedikit gugup.

"Tidak apa-apa. Aku bangga melihatmu rajin belajar. Teruslah seperti ini! Agar kelak kamu menjadi orang yang pandai. Dan kamu akan menjadi seorang pengusaha yang sukses seperti Apak. Jika kamu sudah besar nanti kamu tinggal memilih perusahaan mana yang kamu sukai. Kau mau perusahaan di Bukittinggi, di Yogyakarta, atau kamu memilih perusahaan di Jakarta ini.Terserah kau saja,” jawab Malik sambil tersenyum.

“Iya Apak. Tapi aku tidak tertarik untuk menjadi seorang pengusaha. Aku lebih suka untuk menjadi seorang ahli bahasa dan sejarawan.”

“Kamu ini masih sangat kecil. Kamu masih belum mengerti apapun tentang perusahaan. Jika kamu sudah besar nanti, kamu juga akan menyukainya. Apak ingin mengambil sesuatu dulu. Kau lanjutkan saja membaca buku-bukumu,” jawab Malik sambil mengelus-elus kepala Syams.

“Baik Apak," jawab Syams dengan sedikit gugup.

Malik melangkahkan kakinya untuk mengambil beberapa dokumen yang tertinggal di ruang kerjanya. Di lain sisi, Syams mengepalkan tangannya. Raut wajahnya pun menjadi merah. Ia langsung menutup bukunya dan pergi dari tempat tersebut.

Syams terus berjalan. Menaiki seiap anak tangga dengan penuh kemarahan. Seketika itu, Aisyah keluar dari kamarnya dengan membawa beberapa buku di tangannya. Pandangan matanya terus tertuju pada Syams yang bersikap sangat aneh itu.

“Kamu ini kenapa? Bukankah kamu baru saja membaca buku yang dibawakan Uda Halim? Kenapa? Kamu mau meminta buku lagi?Apa buku yang diberikan Uda Halim kurang? Sehingga kamu terlihat begitu marah?” sapa Aisyah pada Syams.

“Bukan. Bukan masalah itu. Aku hanya marah saja pada Apak yang selalu menyuruhku untuk menjadi seorang pengusaha sepertinya. Padahal aku kan tidak suka menjadi pengusaha. Aku lebih suka menjadi seorang ahli bahasa atau sejarawan,” jawab Syams.

Aisyah menghela nafas pendek lalu berkata, ”Syams, Syams! Apa Kamu tidak tahu bagaimana sikap Apak selama ini? Dia memang begitu. Selalu memaksa anak-anaknya untuk menjadi apapun yang dia inginkan. Dia selalu menghukum anak-anaknya jika tidak menuruti perkataannya. Dia tidak pernah bertanya tentang keinginan anak-anaknya. Jadi, untuk apa kamu mengatakan keinginanmu pada Apak? Aku saja tidak berani melakukannya.”

“Sudahlah, aku ingin belajar di rumah temanku. Lebih baik kamu masuk saja ke kamarmu! Jangan menggangguku lagi!” lanjut Aisyah.

“Baiklah. Tapi setelah Uni pulang nanti, kita bermain bersama ya. Atau kita bisa membaca buku yang diberikan Syams Uda Halim bersama-sama. Walau aku sudah selesai membacanya, tapi jika aku membacanya sekali lagi, tidak apa-apa kan? Aku akan lebih memahami isinya.”

“Aku kan sudah bilang padamu untuk jangan menggangguku lagi. Jadi sebaiknya kau pergi saja dariku!”

Aisyah berbalik dan meninggalkan Syams seorang diri di kamarnya. Walau begitu, Syams tidak putus asa. Ia terus mengejar kakaknya itu. Ia terus membujuknya agar ia bisa bermain dengan Aisyah. Ia mengejar kakaknya itu hingga tak menyadari bahwa ia dan kakaknya itu sudah tiba di lantai bawah.

“Uni, ayolah bermain denganku! Ingat, Uni hanya mempunyai satu adik. Jika uni tidak mau menghabiskan waktu denganku, maka jika suatu saat aku tidak berada disini, uni akan merasa sangat menyesal karena kehilanganku,” ucap Syams mencoba untuk membujuk Aisyah.

“Biarkan saja! Biar aku tidak mempunyai adik. Daripada harus mempunyai adik yang menyebalkan sepertimu. Sudahlah, jangan menggangguku lagi! Aku harus belajar. Agar aku lulus dalam ujian nanti,” jawab Aisyah dengan kesal.

"Eh, kamu ini bicara apa, Aisyah?Kenapa kamu berbicara seperti itu pada adikmu? Jangan pernah berbicara hal yang buruk! Ingat, ucapan adalah do’a. Kalau nanti semua yang kalian ucapkan itu terjadi bagaimana? Ayo minta maaf pada Syams!” tutur Maryam yang tak sengaja lewat di depan Syams dan Aisyah.

“Tidak mau! Dia yang mulai. Jadi dia yang harus meminta maaf padaku," jawab Aisyah.

“Uni yang selalu menolak setiap permintaanku akhir-akhir ini. Apa karena Uni sudah sangat sibuk karena akan ujian? Jadi tidak sempat bermain denganku. Dulu kan Uni selalu bermain denganku,” bantah Syams.

“Itu karena kamu semakin nakal dari hari ke hari. Jadi semua orang semakin menjauh darimu. Termasuk aku.”

“Sudah, ayo mita maaf! Tidak baik bertengkar dengan saudara sendiri. Sesama saudara seharusnya hidup dengan rukun. Bukan seperti ini!” lerai Maryam.

Dengan sangat terpaksa, Aisyah mengulurkan tangannya pada Syams. Syams perlahan-lahan mengeluarkan tangannya dan mulai menjabat tangan Aisyah. Dengan segera, Aisyah melepas jabatan tangannya itu. Kemudian ia membalikan tubuhnya dan berjalan dengan sangat cepat setelah mencium tangan Maryam. Begitu pula dengan Syams yang langsung menaiki anak tangga dengan langkah kaki yang begitu cepat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Seorang Janda
9.6
Ardena Alverio, anggota pasukan khusus yang dikhianati hingga tewas, terbangun dalam tubuh Lyra Elvine, seorang janda bisu dengan tiga anak kembar. Dunia terkejut saat Lyra yang dianggap lemah tiba-tiba mampu bicara dan menunjukkan otoritasnya. Mantan tentara bayaran hingga peretas jenius kini tunduk di hadapannya. Meski tangguh dalam strategi dan tempur, Ardena kini menghadapi tantangan tersulit: belajar menjadi ibu bagi anak-anaknya di tengah intrik berbahaya.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Zane Alexander Thorn dikenal sebagai jenderal monster yang dingin dan kejam. Sebagai senjata mematikan di dunia yang nyaris hancur, ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya demi misi berdarah. Namun, segalanya berubah saat ia menolak perjodohan politik dan justru mengurung gadis misterius berkekuatan super. Alih-alih berperang, sang jenderal malah terobsesi mengungkap rahasia besar sambil terjerat pesona tawanan tersebut. Inilah kisah sang tiran yang mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel CODE: FAUST
7.9
Bumi menjadi neraka sejak 2028 akibat virus misterius yang mengubah makhluk hidup menjadi mutan mengerikan. Di tengah reruntuhan peradaban tahun 2036, faksi-faksi seperti The Government dan Black Beast saling berebut kuasa. Di dunia yang kejam ini, Dr. Plague, seorang profesor dengan masa lalu kelam, berjuang mengembalikan kedamaian demi menebus dosanya. Namun, ia harus menghadapi perang saudara dan radiasi sambil mengungkap misteri besar di balik wabah yang menghancurkan dunia.
Sampul Novel Gerhana
9.6
Gerhana Putri Alam tak menyangka perselisihannya dengan preman garang bernama Tangguh Langit Ramadhan justru menumbuhkan benih cinta. Meski Tangguh bersikap dingin dan merasa tidak pantas bersanding dengan putri seorang jenderal, Gerhana tetap yakin ada perasaan tulus di balik sikap acuh tersebut. Tangguh bersikeras menepis kenyataan itu, namun Gerhana balik menggoda rahasia sang pria yang diam-diam sering menatap fotonya. Akankah perbedaan status menyatukan mereka?
Sampul Novel Kaisar Muda, Jangan Menggodaku!
8.5
Yun Xiaowen, calon ratu iblis, terjebak dalam nestapa usai bertemu Liuu Qiang Wen. Kaisar manusia berjuluk The Cyanide King itu membantai orang tua Xiaowen demi ambisi menguasai tujuh dunia. Tanpa cinta, ia menikahi Xiaowen hanya untuk memanfaatkan kelemahannya sebagai pion politik. Di tengah mimpi buruk yang seakan tak berakhir, Xiaowen meratapi nasibnya yang hancur sambil mempertanyakan apakah masih ada sisa kasih sayang di hati sang kaisar yang kejam.
Sampul Novel Ketika Dokter Menentang Perwira
7.8
Nayra Adeline, dokter ortopedi yang gila kerja, tewas akibat kelelahan usai operasi 48 jam. Keajaiban membawanya terbangun di Bandung tahun 1975 sebagai Ratri Larasati, wanita pemalas bertubuh tambun yang dibenci lingkungan asrama militer. Nayra harus menghadapi kenyataan pahit bahwa suaminya, Kapten Ardan Wicaksana, sangat dingin dan enggan menyentuhnya karena reputasi buruk Ratri. Di tengah keterbatasan zaman, Nayra berjuang memperbaiki hidup barunya.