
Senyum Itu Luka
Bab 3
Hubungan Dirga dan Kamila berjalan seperti biasanya. Hubungan badan itu dilakukan hanya sekali saja. Tidak lebih.
Penyiksaan dari sang Ayah belum berakhir. Ada fase di mana Kamila merasa jenuh, tetapi kembali semangat karena ada seorang Ibu yang harus ia rawat.
Siang itu Kamila bekerja seperti biasa. Ia masuk pukul dua belas siang dan pulang pukul sepuluh malam. Sebagai pegawai sebuah minimarket. Tentu ramah dan cekatan harus dimiliki Kamila.
Suasana minimarket begitu ramai dari pertama Kamila masuk. Ia bekerja dengan sangat keras tanpa mengenal lelah.
"Terima kasih. Selamat datang kembali." Kamila mengatupkan kedua lengannya sambil tersenyum. Kalimat itulah yang keluar dari mulut Kamila setiap selesai melayani pelanggan.
Kamila menghela napas. Sudah dua hari badannya meriang. Mungkin karena efek lelah yang tiada kunjung ada ujungnya.
"La, kamu pucat banget. Sakit, ya?" tanya teman seprofesinya.
Kamila menoleh. Tersenyum tipis. "Aku agak meriang, Kei."
Kekei ini adalah teman satu pekerjaan. Seorang gadis biasa yang harus bekerja setelah putus sekolah.
"Kenapa nggak istirahat aja? Bibir kamu juga pucet." Kekei khawatir.
"Nggak lah, Kei. Kalau aku nggak kerja, Ayah pasti marah."
Kekei tahu segalanya. Mereka satu kampung, tentu semua warga tahu. "Yang sabar, ya, La."
Kamila mengangguk. Ia pamit ke kamar mandi. Rasanya ingin muntah. Mungkin masuk angin. Gadis itu berlari ke arah toilet. Memuntahkan cairan bening. Rasa pusing semakin menyerang.
"Aku pesen teh manis anget aja. Perut nggak enak juga," ujar Kamila.
Keluar dari kamar mandi. Suara banyak orang terdengar dari depan. Barangkali pelanggan kembali menyerbu. Tidak peduli selelah apa pun, ia harus tetap bekerja.
Kamila balik ke kasir. Memasang wajah ramah. Menyembunyikan rasa sakit di bagian kepala dan perut.
Ada sepuluh orang pelanggan mengantri di kasir. Kamila mulai kehilangan penglihatan. Kepalanya berkunang, lalu ketika meng-scan barcode salah satu barang pun tubuhnya tumbang ke bawah.
Kekei terkejut, begitu pun pelanggan. Mereka memberi pertolongan pada Kamila. Kekei mencoba mendekatkan minyak angin ke hidung Kamila. Tak ada respon.
"Kita bawa ke puskesmas aja," kata Kekei.
Langkah cepat diambil. Kamila dibawa Kekei dan seorang karyawan lelaki ke puskesmas terdekat. Barangkali perempuan yang sering dipukuli orang tuanya itu mulai merasakan dampaknya.
Singkat cerita mereka sampai di puskesmas. Kamila diperiksa langsung oleh Dokter. Beruntungnya, gadis itu sadar ketika sampai di puskesmas, sehingga Kekei dan satu karyawan lelaki bisa pulang. Tak mungkin merengek meminta ditemani. Sebab, orang lain pun memiliki kesibukan masing-masing.
Dokter wanita memeriksa keadaan Kamila. Melihat matanya yang pucat, lalu bertanya, "Mbak, sudah dapat haid bulan ini?"
Kening Kamila berkerut. Ia ingat. "Belum, Dok. Bulan kemarin pun, sepertinya belum."
Kejadian ini bukan hal luar biasa bagi Kamila, karena menstruasi sering datang terlambat. Terkadang dua bulan baru datang. Tentu banyak faktor yang mempengaruhi.
"Terakhir kali berhubungan badan kapan?"
Pertanyaan itu mengejutkan Kamila. Hatinya mulai resah. Tidak mungkin!
"Coba kita testpack dulu, ya. Saya nggak bisa kasih obat sembarangan kalau Mbak sedang isi," sambung si Dokter yang kian membuat Kamila takut.
Dokter menjelaskan cara pakai tespack. Kamila menurut, meskipun batinnya tetap menolak. Begitu alat itu dicelupkan dan beberapa saat hasilnya pun bisa dilihat.
Dua bola mata Kamila membulat sempurna. Dua garis itu nyata. Jelas tanpa sama-samar. Ini gila!
"Kapan terkahir Mbak haid?" Dokter berusaha menentukan usia kandungan Kamila.
"Dua bulan lalu, Dok," jawab Kamila bergetar tak percaya.
Setelah melalui perhitungan yang matang, didapatlah usia kandungan Kamila yang baru beranjak delapan minggu.
Dokter meresepkan vitamin dan obat yang harus dikonsumsi. Tak lupa menyarankan Kamila untuk banyak beristirahat. "Selamat atas kehamilannya, Mbak. Tolong, periksa kandungan secara rutin. Ajak juga suaminya agar tau kondisi Ibu dan bayinya."
Kamila keluar puskesmas dengan hati menjerit. Jiwanya sulit menerima kehadiran anak ini. Namun, ada hal penting yang perlu dilakukan. Menemui Dirga dan membicarakan ini.
Kamila bergegas menghubungi Dirga. Meminta lelaki itu menemuinya di sebuah taman dekat area kampus. Dirga menyetujuinya.
Kamila kembali ke toko untuk mengambil tas. Ia mengatakan jika Dokter menyuruhnya istirahat tanpa memberitahu apa yang terjadi.
Seperti rencana awal, Kamila segera meluncur ke tempat selanjutnya. Hatinya cemas selama berada di angkutan umum. Ingin menangis. Menolak. Namun, itu tak mungkin. Bayi ini tak bersalah. Semua karena dirinya yang terbuai bujuk rayu setan.
Lima menit selanjutnya Kamila sampai di tempat yang dituju. Dirga pun sudah di sana. Lelaki itu tersenyum menyambut kekasih hatinya. Membawa tubuh Kamila ke pelukan.
"Aku kangen tau," kata Dirga.
Kamila terdiam, lalu menangis.
Dirga kaget. Melepaskan pelukan, lalu berkata, "Ada apa?"
Kamila tertunduk. Mulutnya sulit mengeluarkan kalimat apa pun.
"Kenapa, Sayang?" Dirga cemas.
Dengan wajah menunduk, Kamila menjawab. "A-aku hamil."
Dirga tersentak. Ia melepaskan tangannya dari tubuh Kamila. Reaksi ini membuat Kamila mengangkat kepala. Menatap Dirga lekat. "Aku hamil anakmu. Kamu harus tanggung jawab."
Dirga memutar kedua bola matanya. Tak tahu harus apa.
"Tunggu, Sayang. Kamu hamil?" Dirga mengulang kembali.
Kamila mengangguk pelan sambil memegang perut. "Ya, Yang. Aku hamil anakmu."
Dirga terdiam, lalu meremas rambutnya kencang. "Nggak mungkin, Sayang! Kita itu tuh cuman lakuinnya sekali. Mana bisa!"
Kamila bergeming. Reaksi Dirga di luar ekspetasinya.
"Aku, aku belum siap nikah! Aku belum siap punya anak! Kamu tau itu, kan?" tanya Dirga.
Kamila menggelengkan kepala. "Tapi, ini anakmu, Sayang! Ini darah daging kamu!"
"Nggak! Aku nggak mungkin punya anak sekarang! Gugurin kandungan kamu sekarang juga!" Dirga menarik tangan kanan Kamila. "Kita cari orang yang bisa."
Kamila memberontak. Menghempaskan tangan Dirga darinya. "Aku nggak mau, Ga! Anak ini nggak bersalah!"
Dirga murka. Ia prustasi. "Gugurin kandungan ini sekarang juga!" Kalimatnya diberi penekanan sekeras mungkin.
"Nggak!" Kamila tetap pada pendiriannya.
Mereka terlibat pertemgkaran, hingga Dirga memilih pergi meninggalkan Kamila sendirian. Lelaki itu belum siap menikah apalagi harus punya anak.
Kamila menangis tersedu di dekat taman. Menyesali perbuatannya yang sudah tak bisa dirubah lagi.
***
Seminggu berlalu, Kamila terus menghubungi Dirga. Mengejar lelaki itu agar bertanggung jawab. Namun, Dirga hilang tanpa kabar. Kamila bimbang. Tak tahu harus bagaimana.
Mengingat ibunya yang masih perlu obat, ia tetap bekerja, walalupun sering mual dan muntah. Teman seprofesinya mulai curiga, tetapi tidak ada yang bertanya.
Pukul sepuluh malam toko tutup. Kamila berjalan lusuh ke arah trotoar. Pikirannya kacau. Mungkin saat ini kandungannya belum terlihat. Seiring berjalannya waktu semua akan tahu.
Kamila memukul perut kencang. "Kenapa kamu hadir? Kenapa?" Ia menangis sepanjang berjalan. Sudah jauh dari deretan toko dan berada di dekat jembatan.
Mata Kamila menoleh ke bawah. Ketenangan air itu menghipnotis. Menarik tubuhnya mendekat, lalu berdiri memegangi tiang jembatan.
"Air itu tenang. Sepertinya menyenangkan di bawah sana," kata Kamila.
Otaknya tak lagi berpikir jernih. Terlebih bisikan halus terus merayu di telinga. Menyemangati diri Kamila agar melanjutkan aksinya.
Perlahan Kamila melepas sandal. Berdiri di tiang jembatan sambil meregangkan kedua tangan ke samping. Matanya terpejam. Anak ini memang bukan beban, tetapi hidupnya akan menderita karena lahir dari rahim seorang Ibu tanpa suami. Menyedihkan.
Tekadnya bulat. Kamila mencondongkan badannya ke bawah dan siap terjun. Tiba-tiba seseorang menariknya kencang. Membawa ia ke bawah, lalu berkata, "Jangan lakukan!"
Suara orang tersebut tegas.
"Bunuh diri nggak bisa nyelesain masalah. Orang mati saja ingin hidup lagi. Tapi, kamu yang dikasih kesempatan hidup justru nggak bersyukur!" tegas orang itu.
Kamila terduduk di dekat trotoar jembatan. Menangis histeris meminta pertolongan. Batinnya menjerit tak karuan.
Kamila mengangkat kepala. Menatap sosok tinggi yang berdiri tegap di depannya. Bola mata lelaki itu begitu indah. "Aku nggak bisa hidup. Anak ini, anak ini kasian."
Lelaki tersebut berjongkok di depan Kamila. Menatap balik lekat. "Kamu hamil? Suamimu mana?"
Kamila bukan menjawab, ia justru menangis tak karuan.
"Kamu hamil di luar nikah?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut si lelaki. Ia paham.
"Pulanglah. Jaga diri dan kandunganmu. Anak ini nggak bersalah. Dia berhak hidup. Jangan karena kesalahanmu dulu sampai tega membunuh darah daging sendiri."
Malam itu sebuah nasihat masuk ke telinga Kamila. Mengantarkan gadis itu ke rumah dan disambut oleh sang Ayah yang murka.
Anda Mungkin Juga Suka





