Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi

Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi

Suci merupakan sosok istri yang penuh kasih dan setia dalam mendampingi suaminya selama satu dekade pernikahan. Meski telah dikaruniai tiga anak, kehidupan ekonomi keluarga ini tetap sulit walau sang suami sudah bekerja keras sebagai mekanik lepasan. Di tengah perjuangan mencari nafkah, keteguhan hati mereka diuji oleh hinaan orang lain dan ancaman pihak ketiga yang ingin merusak rumah tangga. Mampukah kesabaran dan rasa syukur menjaga keutuhan cinta mereka dari kehancuran?
Bab
Bagikan

Bab 2

Semangkuk Kelapa Parut Untuk Lauk Nasi

Adek Pengen Pelmen

Part 2

Penulis : Lusia Sudarti

***

"Ma, Adek lapar sudah belum masaknya ..."

Kembali Anakku memelas hingga hati ini terasa ditikam pisau yang sangat tajam.

"Iya, Sayang, sebentar lagi ya," bujukku sambil kuusap pucuk kepalanya. Kulihat wajahnya sedikit pucat, mungkin terlalu lapar.

"Kasihan sekali kamu, Nak," sekuat tenaga kutahan air mata yang hampir lolos.

"Adek duduk disini ya," pintaku kepadanya, aku melangkah menuju kesamping bermaksud untuk mengambil kelapa.

"Iya, Ma," jawabnya, lalu duduk dikursi teras samping.

"Mama mau kemana?" tanyanya saat melihat aku bangkit.

"Enggak kemana-mana Sayang, Mama mau ngupas kelapa," jawabku sambil mengambil sebuah kelapa yang berada dibawah pohonnya yang terletak di samping rumah.

"Adek mau airnya Ma, boleh?" tanyanya seraya tersenyum cerah.

'Ahh Sayang, senyummu itu semangat buat Mama," aku membatin.

"Iya, Sayang tapi apa masih manis, kan kelapanya hampir tua," jelasku.

"Enggak apa-apa, Ma! Adek suka, kalo ada kentosnya(isi dalam kelapa jika telah tumbuh) juga ya Ma?" katanya manja, dengan kedua bola mata berbinar.

"Ya sudah, Mama buka dulu ya, adek jangan deket-deket nanti kena," ujarku kepada Nayla, kemudian ia beranjak dan duduk dikursi.

Aku tersenyum menatapnya yang dengan sabar menantiku mengupas kelapa.

Tak lama kemudian aku selesai mengupas kulit luarnya dan kulit dalam.

Lalu setelah selesai semua aku pun memarutnya.

"Ehh mau bikin apa nih, kayaknya sibuk banget?" aku menoleh ke sumber suara, aku kaget melihat Dewi yang telah berdiri di depan rumahku, entah mau kemana dia, atau hanya sekedar kepo mencampuri urusanku.

"Bikin apa aja, yang penting bisa dimakan?" jawabku sekenanya, lalu fokus kembali mengupas kelapa, aku tak mau meladeninya, dari pada aku sakit hati.

"Kasiannya, kerja terus tetapi makan aja masih kesusahan," ia berdiri dengan angkuh dan tersenyum sinis kepadaku.

Aku berhenti mengupas kelapa dan menatapnya dengan hati geram.

"Apa mau kamu sebenarnya, dan apa pedulimu tentang kehidupan keluargaku? Bisa gak kamu berhenti ikut campur urusan keluargaku, urus aja keluargamu sendiri!" aku berdiri dan menatapnya, hatiku bergejolak dadaku bergemuruh.

"Santai, gak usah nyolot!" sambungnya, dengan kedua tangan terlipat didada.

"Pergi kamu dari rumahku, gak usah kau pancing emosiku Wi!" usirku.

"Tanpa kamu usir, aku pun akan pulang, takut ketularan miskin kayak kamu," dengan sikap congkaknya ia berlalu dari depan rumahku, berjalan dengan gemulai seolah mencari perhatian.

Hatiku benar-benar sakit mendengar hinaannya, dongkol, kecewa dan entahlah, tak dapat kulukiskan dengan kata-kata.

Sejenak aku hanya mampu mengusap dada.

'Astahfirrullahal azdim," lirihku dalam hati sembari menatap kepergiannya, tak terasa bulir bening menetes dari kelopak mataku.

Kuhapus jejak yang mengalir, agar Nayla tak mengetahuinya.

Kembali aku meneruskan mengupas kelapa yang kutaruh dibawah.

Dewi telah mengacaukan suasana hatiku.

Nayla memperhatikanku yang kembali mengupas kelapa.

"Mama mau bikin bubul ya."

"Enggak Sayang."

Kelapa parut kuberi sedikit garam dan kuberi sedikit gula yang tersisa.

Kemudian kuaduk bersama nasi yang kebetulan masih hangat.

Kutaruh diatas meja makan.

Nayla yang sedari tadi menunggu kelihatan tak sabar untuk memakannya.

"Hooleee! Adek boleh nyicip Ma?" ia tampak girang.

Aku mengangguk dan tersenyum melihatnya begitu ceria.

"Ini buat Adek!" ucapku sambil memberikan sepiring kecil nasi kelapa.

"Adek cuci tangan dulu, Ma!" katanya sambil berlari untuk mencuci tangan.

Aku begitu bangga, usianya empat tahun tapi ia begitu cerdas dan paling menonjol diantara teman-teman sebayanya.

"Eemm, enak sekali ya, Ma," ucapnya sambil mengunyah nasi kelapa dan ada yang loncat keluar dari mulutnya yang penuh.

Mendengar celotehnya aku tersenyum, tapi batinku menangis.

Begitu juga kedua Anakku yang lain, setelah pulang sekolah mereka langsung menyantap nasi kelapa tadi.

"Ma, kita makan nasi yang dicampur kelapa ya?" Rani membawa piring yang telah ia isi dengan nasi kelapa, begitu pula dengan Indra.

"Iya, hanya itulah yang kita punya," ujarku kepada mereka.

"Iya Ma."

Tanpa bertanya lebih detail lagi atau pun protes. Mereka menghabiskan nasi kelapa parut dipiring masing-masing.

Didalam kesedihanku, aku bersyukur karena Allah memberikan Anak-anak yang baik.

"Ma, nanti kita makan bareng lagi ya," kata si sulung.

Aku tersentak mendengar ucapan Rani.

"Iya, Ma, kan selu," sambung Nayla si bungsu.

"Tunggu Papa pulang ya, Ma," katanya lagi.

"Iya, Sayang, nanti kita makan bareng lagi," jawabku.

"Holee! Kita tunggu Papa pulang, telus makan baleng," celotehnya riang.

Aku hanya tersenyum mendengarnya.

"Nanti kalo dapat duit beli nasi Padang ya, Ma," rengek Rani si sulung.

"Indra juga mau, Ma," sambung Anakku yang kedua.

"Adek mau beli telpon-telponan lagi ya Ma, kalo dapat duit."

"Iya, Sayang. Kita berdoa ya, semoga kita dapat rejeki dari pekerjaan Papa," jawabku lembut sambil mengusap pucuk rambutnya.

"Aamiin,"  jawab mereka kompak.

Tok!

Tok!

Tok!

"Assalamu'alaikum."

Terdengar pintu samping diketuk dari luar.

"Waalaikumsalam, itu Papa pulang!" seruku.

Dan semua langsung heboh.

"Papa pulaang!" seru mereka lalu berhambur kearah dapur membuka pintu.

"Papa dapat duit?" tanya Nayla.

"Belum Sayang, Papa belum dapat uang," jawab Suamiku.

"Yaa ... kilain Papa dapat duit, Adek mau beli pelmen bola mata," jawabnya lesu.

"Sabar ya, Sayang, besok papa cari lagi!" hiburnya, lalu digendongnya si bungsu.

"Tapi nanti beli pelmen bola mata kalo dapat duit pokoknya," sungutnya sambil cemberut.

"Iya, Sayang, Papa janji. Sekarang Adek turun dulu ya, Papa mau mandi."

"Iya, Pa!" jawabnya sambil turun dari gendongan.

Aku hanya terdiam mendengar mereka ngobrol, sambil menyiapkan air hangat untuk mandi.

"Mam, makan pake apa Anak-anak?" tanyanya sambil duduk istirahat menunggu air hangat.

"Tadi Mama parutin kelapa Pap, Mama kasih garam dan ada sisa gula sedikit," jawabku pilu.

"Sabar ya Mam, maafin Papa. Tadi Papa kasbon juga belum dapat."

Aku hanya mengangguk lemah, sedih sekali rasanya mendengar ucapan dari Suamiku, hatiku betul-betul merasa iba melihatnya.

Jika diamati, ia terlihat begitu kurus.

'Sabar, sabar, mungkin ini jalan menuju Roma, istilah pepatah," gumamku.

Sesaat suasana menjadi hening, perasaan berkecamuk.

Entahlah ...

Harus bagaimana lagi?

Pasrah saja dengan kehidupan ini!

Yang penting sudah berusaha, hasilnya itu rizqi dari Yang Maha Kuasa, entah besar atau pun kecil, kita harus pandai bersyukur.

"Tadi juga coba cari pinjaman tapi belum ada. Mama juga coba tanya sisa kerjaan kita ke Mbak Siska.

Eeh malah marah-marah, ya sudah berarti belum rizqi kita Pa."

"Semua habis jadi Mama bikin nasi kelapa. Alhamdulillah mereka makan dengan lahap," lanjutku.

Suamiku terdiam, lalu menghela napas.

"Ya udah sabar aja. Papa yakin Allah itu tidak tidur, semoga hari esok lebih baik dari hari ini," tuturnya.

"Aamiiin," jawabku.

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bu Claire
9.2
Claire merasa jenuh dengan kehidupan pernikahannya bersama Budi yang terasa hambar di sebuah desa kecil. Kehadiran Ridho yang menggoda memicu perselingkuhan rumit yang penuh gairah sekaligus rasa bersalah. Saat kecurigaan Budi memuncak, rahasia besar ini akhirnya terbongkar dan mengancam keutuhan rumah tangga mereka. Namun, keduanya memilih untuk berjuang memperbaiki kepercayaan melalui kejujuran. Sebuah kisah mendalam tentang komitmen, rekonsiliasi, dan arti cinta sejati.
Sampul Novel BUKAN CINTA LOKASI
8.1
Naomi Clara, seorang aktris menawan, terjebak dalam perasaan mendalam saat terlibat proyek film bersama Azka Dananjaya. Meski sempat menepis perasaannya, kepedulian Azka yang tulus akhirnya meruntuhkan pertahanan Clara. Namun, ikatan mereka diuji oleh restu keluarga Azka yang menentang status Clara karena bukan berasal dari kalangan ningrat. Azka berjanji akan terus mencintai Clara apa adanya, meskipun rintangan perbedaan kasta mengancam hubungan mereka.
Sampul Novel Bukan inginku Selingkuh
9.1
Ruela sangat menjunjung tinggi kesetiaan, namun dikhianati oleh Frans, suaminya, yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Alih-alih terpuruk, Ruela bangkit untuk membalas dendam. Tak disangka, takdir membawanya pada Felix, pemuda yang menghabiskan malam penuh gairah bersamanya. Di tengah kemelut hati dan ambisi untuk menghancurkan para pengkhianat, mampukah Ruela menuntaskan dendamnya? Sebuah kisah tentang luka, pembalasan, dan pertemuan yang tak terduga.
Sampul Novel Crazy Maid ( Indonesia )
8.5
Felicity Jolicia Addison, gadis manja yang tak pernah menyentuh dapur, terpaksa menyamar menjadi Cia. Demi jet pribadi impian, ia menjalankan misi sang ayah menjadi pelayan Jerrald Nataniel Mendez, pengusaha jet asal Spanyol. Jerrald frustrasi menghadapi ketidakbecusan Cia yang bahkan hampir membakar dapur saat memasak air. Meski dicap gila karena kepolosan dan sifat borosnya, interaksi unik antara majikan arogan dan maid amatir ini justru memicu benih asmara.
Sampul Novel Kisah Cnta Pembantu Sexy
7.8
Alfarezi adalah seorang pria religius yang memiliki prinsip hidup yang sangat kuat. Namun, dunianya berubah drastis saat ia mempekerjakan Aruna, seorang model majalah dewasa yang berpenampilan berani, sebagai asisten rumah tangga. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, Alfarezi tak mampu menahan debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan Aruna. Apakah iman Alfarezi akan goyah karena pesona Aruna, atau justru sang model yang akan berubah?
Sampul Novel MENGGODA DOSEN GALAK
8.1
Bagi Darris, mencintai Netanya adalah dosa yang ingin ia ulangi terus-menerus. Enam tahun berpisah demi pendidikan tak mampu menghapus pesona wanita yang ia anggap sebagai hadiah Tuhan tersebut. Kini, takdir memberikan kejutan besar saat Neta kembali muncul sebagai dosen pembimbingnya di kampus. Meski panggilannya sering membuat Neta kesal, Darris tetap bertekad meluluhkan hati sang dosen galak agar hubungan mereka bisa berakhir di pelaminan.