
Selingkuh Dengan Klienku
Bab 2
Sebagai perencana pernikahan, Anna harus melihat pasangan yang saling mencintai akhirnya menikah dan merayakan pernikahan terindah dalam hidup mereka.
Ingatlah bahwa pernikahan adalah upacara suci yang menyatukan hati dan pikiran dua orang. Jadi, Anna berharap setiap pasangan akan memiliki kenangan terbaik yang akan bertahan seumur hidup mereka melalui banTuannya.
Meskipun ia berasal dari keluarga Walkins yang terkenal akan kekayaannya di kota Boston ini, namun ia mendirikan usaha Wedding Organizer ini dengan uangnya sendiri dan tanpa dukungan dari keluarganya.
Ia melakukan berbagai proyek semasa kuliahnya dan memasukkan berbagai desain gaun pengantin dan dekorasi pernikahan ke beberapa perusahaan untuk mengumpulkan uang sebagai modal usahanya.
Semua itu ia lakukan bersama Rosy Woods, sahabat semasa kuliah sekaligus rekan kerjanya. Mereka berdua mengumpulkan uang dan membuka perusahaan kecil sendiri yang bergerak di bidang jasa mengorganisir pernikahan mewah.
Dalam waktu tiga tahun usaha yang mereka bangun berkembang pesat berkat kerja keras mereka. Dan mereka memiliki 100 karyawan lebih yang kini bekerja di bawah mereka. Bahkan nama usaha mereka berada di peringkat pertama sebagai jasa perencanaan pernikahan yang paling mahal dan juga paling diminati oleh kalangan konglomerat di Boston.
Meskipun begitu, masih terdapat rasa tidak puas di hati Anna.
Manusia memang tidak akan pernah puas sepanjang hidup mereka bukan?
Salah satu alasan Anna tidak pernah puas adalah pengakuan dari ayah dan keluarganya. Hingga detik ini ia masih belum mendapatkan pengakuan atas kerjas kerasnya dari Ayah sekaligus pria yang menjadi cinta pertamanya itu.
Anna menyimpan ponselnya di atas nakas yang berada tepat di samping ranjangnya. Gadis itu melihat jam di dinding yang semakin menunjukkan bahwa malam semakin larut dan rasa kantuk ‘pun mulai menguasainya.
Waktu tengah malam memang waktu yang rentan untuk overthinking. Jadi, Anna memutuskan untuk tidur dan berhenti memikirkan hal-hal yang tidak berguna.
***
Esok paginya Anna berangkat lebih dulu menuju kantornya, meninggalkan Rosy yang masih terlelap di kamarnya dan tidak mau ambil pusing dengan kebiasaan gadis itu yang selalu terlambat bangun.
“Selamat pagi, Nona Walkins,” seorang wanita muda berambut pirang sebahu dan kacamata di atas hidungnya menyambut Anna begitu ia memasuki lobby sebuah gedung tiga lantai yang cukup luas.
Anna tersenyum melihat asistennya dan membalas sapaannya dengan santai, “Pagi, Sunny. Kau datang lebih pagi hari ini,” ujarnya sembari berjalan menuju lift khusus menuju ruangannya dan mengangguk sebagai balasan atas sapaan beberapa pegawainya yang lain ketika ia berjalan melewati mereka.
Sunny hanya tersenyum malu mendengar sindiran halus atasannya itu karena ia sering terlambat akibat menghabiskan sepanjang malam di bar bersama Rosy.
“Aku tidak ikut dengan Rosy semalam. Steve melarangku untuk pergi,” jawab Sunny dengan malu-malu sembari menekan tombol lift untuk Anna dan ikut masuk bersama atasannya itu lalu kembali menekan tombol penutup pintu lift.
Sebelah alis Anna terangkat mendengar sebuah nama asing dari bibir asistennya itu, ia menatap Sunny dengan bingung saat bertanya, “Steve? Siapa itu?” tanyanya.
Terdapat rona merah muda di pipi putih Sunny ketika mendengar pertanyaan Anna, ia pun menjawab dengan senyum malu-malunya yang membuat Anna semakin memandangnya aneh.
“Dia pria yang kutemui di minimarket dekat rumahku. Kami bertemu beberapa kali lalu tidur bersama dan menjadi dekat.”
Setelah mendengar jawaban Sunny entah mengapa tenaga Anna seolah berkurang drastis pagi itu. Ia merasa telah melakukan kesalahan karena menanyakan hal yang tidak seharusnya ia tanya.
Entah mengapa ia mulai merasa jengah dengan pembahasan pria dan juga ‘tidur bersama’ itu.
Menyadari Anna yang hanya diam dengan ekspresi suram membuat Sunny sedikit panik. Ia lupa bahwa atasannya itu perawan tua yang kolot. Setidaknya itulah yang sering Rosy katakan padanya.
“Ah, benar. Apa Nona sudah membaca email dariku? Tuan Bonds , salah seorang pengusaha muda yang terkaya di Boston mendaftarkan pernikahannya pada jasa kita. Menurutku ini salah satu kesempatan besar bagi kita untuk mendapatkan perhatian dan promosi yang lebih besar lagi melalui pernikahan mereka.” Sunny menjelaskan sembari berharap bahwa upayanya untuk mengalihkan pembicaraan berjalan lancar.
Mendengar sebuah nama yang tidak asing membuat Anna menoleh pada Sunny sejenak, lalu berjalan keluar dari lift begitu pintu terbuka. Sunny pun mengikutinya dari belakang dengan tergopoh-gopoh.
“Aku sudah melihatnya. Dia akan menikah dengan tunangannya yang seorang artis muda terkenal itu bukan?” tanya Anna kembali.
Sunny menghela napas lega menyadari Anna memakan umpannya dan tidak lagi memikirkan pembicaraan mereka mengenai pria. Setidaknya ia telah menyelamatkan seluruh karyawan dari mood Anna yang mengerikan jika sudah menyangkut pria.
“Ya, benar. Dia menikah dengan Lisa Romanov, artis muda yang tengah naik daun itu. Kabarnya mereka telah berpacaran selama lima tahun sejak di bangku kuliah.”
Anna melirik Sunny sejenak ketika mendengar penjelasan yang tak perlu. Ia tidak ingin tahu berapa lama pasangan itu telah menjalin hubungan, lagipula siapa yang peduli? Yang terpenting adalah bisnisnya akan meningkat jika menerima orang sehebat Marcus Bond dan juga Lisa Romanov sebagai klien mereka.
“Jadi, aku harus menemui mereka besok pagi di cafe yang ada di Downhill?”
“Ya, benar. Aku sudah memasukkannya dalam agendamu besok.”
Anna mengangguk puas mendengar penjelasan Sunny. Ia lalu meminta Sunny untuk kembali ke mejanya sementara ia mulai memeriksa beberapa berkas mengenai laporan bulanan bisnisnya dan juga informasi mengenai Marcus Bond serta Lisa Romanov. Ia harus mempelajari latar belakang mereka untuk mengetahui selera dan juga tema yang pas untuk pernikahan pasangan itu.
Sehingga ia hanya perlu membawa beberapa tabloid khusus yang berisikan dekorasi dan juga desain untuk beberapa tema pernikahan mewah yang mungkin akan disukai pasangan itu.
Satu jam kemudian anna dikejutkan oleh suara pintu ruangannya yang terbuka dengan keras disusul dengan suara berisik dari wakilnya sekaligus sahabat gilanya itu.
“ANNAAAA! Kenapa kau tidak membangunkanku?!”
Mendengar suara teriakan Rosy membuat Anna menghela napas lelah dan memijat pangkal hidungnya. Kepalanya sakit karena tingkah Rosy yang semakin menyebalkan setiap harinya. Ia masih tidak mengerti mengapa ia mau bersahabat dengan gadis seberisik Rosy.
“Nona Woods, tolong jaga sikapmu saat di kantor,” suara dingin dan tatapan tajam Anna tidak membuat Rosy gentar. Dengan seenaknya gadis itu duduk di kursi yang berada tepat di depan Anna dan memasang ekspresi cemberutnya yang kekanakan.
“Kenapa kau tega sekali tidak membangunkanku?! Bagaimana jika aku tidak bangun hingga siang? Pasti pekerjaanku akan semakin menumpuk!”
“Itu salahmu karena tidak bisa mengatur waktumu dengan baik,” jawab Anna dengan malas sembari melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Rosy semakin menggerutu mendengar jawaban Anna yang tidak berperasaan. Ia lalu memutar-mutar kursinya dan berkata, “kurasa kau benar-benar harus mulai berkencan dan merasakan seks!Apa kau tidak sadar jika sikapmu semakin kaku dan kolot setiap harinya? Kau setuju denganku kan Sunny?”
Rosy memutar kursinya menatap Sunny yang masih berdiri di depan pintu dengan ekspresi pucatnya karena gagal menghentikan tindakan anarkis Rosy tadi. Ia hanya menatap Rosy dengan linglung dan melirik kepada Anna sejenak, khawatir ia akan disalahkan karena tidak bisa menghentikan Rosy.
Anda Mungkin Juga Suka





