Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sekretaris kesayangan CEO

Sekretaris kesayangan CEO

Menjalin asmara dengan bos kaya bukan hal mudah bagi Yasmin Andara. Sebagai sekretaris cantik, ia harus menghadapi cobaan berat saat dipaksa menjauh dari CEO yang merupakan kekasihnya sendiri. Realitas pahit kini menguji keteguhan hati mereka di tengah tuntutan profesionalisme. Apakah cinta mereka mampu bertahan melewati rintangan ini, atau justru hubungan tersebut harus berakhir tragis? Ikuti perjuangan Yasmin mempertahankan cintanya yang penuh dilema.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Yasmin? Apa yang kamu lakukan disi-" Kata-kata Haris terhenti tiba-tiba ketika pria itu melihat genangan air mata yang terus mengalir di pipi wanitanya, "Kamu menangis!? Apa yang terjadi?"

Haris langsung terkejut! Tangannya secara refleks meraih wajah gadis itu dan menatapnya dalam-dalam. Namun, dengan gerakan cepat, Yasmin menepis tangan kekar yang selalu menenangkannya itu dan menyeka air mata di pipinya dengan cepat, berusaha menyembunyikan ekspresi sedihnya.

Yasmin menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Ah! T-tidak apa-apa. Aku hanya ... ada debu masuk ke mataku, itu saja."

Haris memperhatikan wajah Yasmin yang tampak sendu, merasa ada sesuatu yang lebih dalam di balik alasan sederhana itu.

"Benar begitu?" Haris mengerutkan kening merasa ada sesuatu yang aneh yang disembunyikan darinya.

Yasmin hanya menarik napas dalam-dalam, dia tahu bahwa dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa pun dari kekasihnya, entah itu kebahagiaan atau kesedihan. Wanita cantik itu kemudian perlahan mengangkat kepalanya dan menatap pria jangkung berwajah tampan bak aktor papan atas, namun tiba-tiba ...

"Ah! Akhirnya kamu sampai, Haris," kata Handoko yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangannya yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat mereka berdiri.

Handoko secara refleks tersenyum menanggapi sapaan ayahnya, "Ya, Ayah. Ada apa?"

"Masuklah, ada yang ingin kubicarakan denganmu," pinta Handoko.

"Oh! Baiklah. Aku akan datang beberapa menit setelah aku selesai berbicara dengan sekertaris-"

"Ah! Tidak masalah, Pak. Sepertinya saya harus pergi sekarang. Anda bisa langsung ke ruangan pimpinan," sela Yasmin dengan suara tertahan.

"Tapi-"

"S-saya permisi dulu ... " tukas Yasmin cepat-cepat tersenyum dan membungkuk kepada CEO itu lalu dengan cepat melanjutkan langkahnya meninggalkan Haris di tempatnya berdiri.

Haris hanya melihat punggung wanita itu seraya menautkan alis. Kemudian CEO muda itu menoleh ke belakang untuk melihat ketegasan di wajah Handokk dan mengerti bahwa ada hal-hal yang lebih penting yang perlu diselesaikan.

Dia menghela nafas panjang dan mengikutinya ke kamarnya. Tapi selama itu, pikiran Haris tidak bisa berhenti memikirkan kondisi Yasmin yang terlihat tidak begitu baik.

***

Hari semakin siang, begitu pula kantor yang semakin sibuk. Saat pintu kaca kantor terbuka, seorang wanita cantik berpakaian modis muncul. Dia dengan percaya diri melangkah ke area resepsionis dan bertanya kepada resepsionis yang ada di sana.

"Permisi! Saya sedang mencari mas Haris. Apa dia ada di kantor saat ini?" tanya wanita itu tidak lupa menebarkan senyum.

Resepsionis itu sedikit terkejut dengan kedatangan wanita cantik itu dan menanyai sang CEO tanpa menyebut namanya. Tapi resepsionisnya dengan senang hati tetap ramah dan bertanya, "Apakah anda sudah membuak janji dengan CEO kami?"

"Oh! Maaf, saya Rahma. Calon tunangan mas Haris, saya ada pertemuan penting dengan beliau. Bisakah anda memeriksa apakah dia ada?" Dengan penuh anggun wanita itu kembali mengutrakan maksud dan tujuannya datang ke tempat itu.

"Baik, Nona. Izinkan saya untuk memeriksa jadwalnya. Tolong tunggu sebentar," balas resepsionis tersebut tak lupa dengan menyunggingkan senyumannya.

Resepsionis itu mulai mengotak-atik komputer untuk mengecek jadwal CEO hari ini, sesekali memperhatikan tingkah wanita cantik di depannya yang terus tersenyum dan memainkan rambutnya yang panjang dan sedikit pirang.

"Kebetulan CEO kami sedang berada di kantor sekarang. Saya akan menghubungi sekretarisnya untuk memastikan ketersediaannya. Mohon tunggu sebentar," lanjut resepsionis itu setelah selesai mengecek layar komputernya. Dia kemudian meraih gagang telepon untuk memanggil sekretaris CEO, Yasmin.

"Halo, Bu Yasmin. Saya ingin memberi tahu anda bahwa seorang tamu bernama Nona Rahma, calon tunangan CEO dan ingin bertemu dengan beliau. Apakah Pak Haris ada di kantornya?"

Dari ruang sekretaris, Yasmin tampak terkejut mendengarnya. Matanya terbuka lebar dan mulutnya tertutup rapat seolah dia tidak bisa mengatakan apa-apa.

"Jadi, rumor itu benar?" pikirnya.

Yasmin terdiam sesaat dengan genggaman yang semakin kuat pada gagang telepon tersebut, pikirannya seketika berputar-putar dan terasa begitu kalut.

Sementara itu ...

"Jadi, ada apa, Ayah?" tanya Haris kepada ayahnya saat pria itu tiba di ruangan dan melihat Handoko yang baru saja menduduki kursinya.

“Duduk dulu, baru kita ngobrol santai,” kata Handoko sambil membetulkan posisi duduknya.

Akan tetapi, Haris yang merasa tidak enak sejak melihat raut wajah Yasmin bahkan tidak mendengarkan perkataan ayahnya dan tetap dalam posisi berdiri. Hati dan pikirannya bertanya-tanya apa yang terjadi pada pacarnya.

"Kamu tidak mau duduk? Hanya ingin berdiri seperti itu?" Handoko menaikan satu alisnya seolah menegaskan perintahnya secara tidak langsung. Akhirnya, Haris melunak dan menuruti pria paruh baya di depannya meski perasaannya semakin bingung.

"Apakah ayah akan menjawab pertanyaanku?" tanya Haris datar, "Dan ada urusan apa dengan sekertarisku?"

Handoko menyeringai mendengar rentetan pertanyaan anaknya yang seolah menekannya, terutama tentang seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangannya.

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Handoko malah tertawa kecil sambil menggelengkan kepala seolah tidak bisa berhenti memikirkan kelakuan anaknya. Tak ayal, tindakannya membuat Haris merasa heran.

"Kenapa ayah ketawa padahal aku bicara serius?" cicit Haris lalu mengangkat pergelangan tangannya untuk mengecek waktu, "Aku juga sepertinya tidak bisa berlama-lama di sini karena ada hal yang lebih penting untuk kulakukan."

Kata-kata itu tiba-tiba menghentikan tawa Handoko dan menggantinya dengan wajah datar, seringai di bibirnya perlahan turun, meninggalkan senyum sinis.

"Ah! Maaf ... Ayah terlalu bersemangat," kata Handoko sambil berdehem, "Tapi ini lebih penting dari apapun, termasuk sekertarismu yang kau cintai itu."

Haris mengangkat alisnya lalu mendengkus, "Jadi ayah sudah tahu hubungan kami."

Handoko hanya berdecih sembari memalingkan wajahnya, terlihat sangat kesal dengan tingkah putranya, "Jangan meragukan ayah ... "

"Kita akan kedatangan tamu penting hari ini, jadi persiapkan dirimu dan tolong perlakukan tamu kita dengan perhatian khusus," ungkap Handoko tiba-tiba.

"Siapa?" tanya Haris dengan wajah tidak tertarik.

Handoko tersenyum lebar dan menjawab, "Calon istrimu."

"Apa!?" Haris langsung menyipitkan matanya, "Siapa??"

"Kamu akan tahu nanti."

Haris yang terkejut, dia kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata lagi, "T-tunggu, tunggu ... apa maksudmu, Ayah?"

Handoko yang terlihat santaipun menghela napas panjangnya, "Apa lagi? Aku akan menjodohkanmu dengan wanita pilihanku ... putri salah satu teman ayang yang memiliki perusahaan."

Hal itu lantas membuat Haris naik pitam, "Apa-apaan ini!? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Aku bahkan tidak tahu apa-apa ... kenapa ayah-"

"Ck! Sudahlah, salahmu tidak menikah padahal aku sudah tua," sela Handoko sengaja.

Haris semakin kesal dengan kelakuan ayahnya, namun ia tetap berusaha menguasai diri dan menahan amarahnya yang seketika meledak. Saat itu juga, Haris langsung terpikirkan dengan kekasihnya yang baru saja keluar dari ruangan ayahnya beberapa saat lalu.

Dengan menajamkan sorot matanya, Haris kembali bertanya, "Tunggu! Apa ayah membahas hal ini juga dengan Yasmin?"

Handoko kemudian terkekeh, mendengar tebakkan Haris yang dirasa tepat. Bahkan Handoko sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya.

"Ternyata otakmu cerdas juga, kamu pandai menebak bahkan ayah belum selesai bicara," ucap Handoko dengan terus terkekeh.

Ini jelas saja membuat Haris geram, tangannya terkepal sempurna seolah menahan amarah yang tengah menggebu-gebu meskipun tak bisa ia salurkan saat itu juga.

"Siapa pun itu, aku tidak setuju," kata Haris, "Aku tidak pernah meminta ayah untuk mencarikanku pacar atau calon istri karena aku tidak ingin diatur."

Ucapan Haris tentu saja membuat situasi semakin memburuk, Handoko mendelik dengan sorot mata yang begitu tajam menatap Haris, sosok yang akan mewarisi seluruh kekayaannya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95ELQ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95ELQ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Mau Penebusan yang Terlambat
9.7
Kembali ke keluarga konglomerat sebagai putri kandung mempertemukan aku dengan Julian Jetarsa. Pembelaannya sekali saja membuatku mengejarnya selama lima tahun hingga kami bertunangan. Namun, Julian selalu merendahkan sikapku yang dianggap tidak anggun. Saat kakek yang membesarkanku sekarat dan aku butuh bantuannya, Julian sengaja mengabaikanku demi memberi pelajaran. Kematian kakek membuatku tersadar. Kini, aku telah belajar menjadi sosok yang dia inginkan, sekaligus berhenti mencintainya.
Sampul Novel Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu
8.4
Anisa Amanda, seorang istri berparas jelita, harus menelan pil pahit saat dikhianati oleh suaminya, Hendra, dan adik sepupunya sendiri, Tia. Tak tinggal diam, Anisa bertekad membalas dendam atas sakit hatinya. Di tengah rencananya, ia tak sengaja bertemu Fras Ramadhan, seorang tukang parkir tampan. Siapa sangka, Fras sebenarnya adalah CEO sukses Bintang Group yang menyamar. Pertemuan itu memicu konflik baru sekaligus menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Gairah panas my Daddy
8.6
Aldo Bimantara merupakan pria matang dari keluarga terpandang yang tetap terlihat awet muda meski sudah memasuki usia pernikahan. Sebagai sosok sukses, ia mengelola dua cabang restoran besar yang berlokasi di Medan dan Semarang. Di balik statusnya sebagai putra konglomerat, Aldo berjuang menyeimbangkan tuntutan hidup dengan kariernya yang gemilang. Kisah ini mengikuti perjalanan hidup sang pengusaha kaya dalam menghadapi dinamika romansa modern.
Sampul Novel His Darling Debtor
9.2
Dunia Clara runtuh saat ayahnya kabur membawa uang milik Tuan Blackwell. Tanpa pilihan lain untuk menebus utang tersebut, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya dan menjadi wanita simpanan sang miliarder. Di balik perjanjian dingin ini, Clara terjebak dalam pusaran emosi terlarang dan rahasia masa lalu yang perlahan terkuak. Hubungan penuh konflik ini pun menjadi ujian berat yang akan mengungkap seberapa kuat ikatan sejati di antara mereka berdua.
Sampul Novel ISTRI YANG DIRINDUKAN
8.3
Setelah malam pertama yang menyakitkan, Nevan Wiliam Adiguna mencampakkan Anin karena sebuah kesalahpahaman yang belum terbukti. Dua setengah tahun berlalu, takdir mempertemukan Evan dengan Albanna, bocah laki-laki di sebuah desa yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri. Meski kini ia menyadari kesalahannya dan berusaha menjadi sosok ayah, mampukah Evan menebus luka masa lalu dan memenangkan kembali hati Anin yang pernah ia hancurkan begitu saja?
Sampul Novel Nyawa Dibalas Nyawa
8.1
Dua tahun silam, Indah dipaksa sang ibu meninggalkan kekasihnya demi menikahi Rendra, pria buta yang merupakan tunangan adiknya, Mella. Namun, setelah Rendra mendadak bisa melihat kembali, keluarganya justru menuntut Indah mengembalikan posisi tersebut kepada Mella. Sang ayah bahkan murka dan menganggap Indah tidak layak menjadi Nyonya Saputra. Di tengah tekanan itu, Indah yang mengidap penyakit mematikan memilih menyerah tanpa beban, bersiap menyaksikan kehancuran mereka dari balik kematiannya.