Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sekretaris Cupu Vs Boss Arrogant

Sekretaris Cupu Vs Boss Arrogant

Carla Azannadia, putri seorang asisten rumah tangga, terjebak dalam nasib kelam setelah kecelakaan pesawat merenggut ibunya dan keluarga Barrack. Kini, ia bekerja di Royal Group bukan sekadar menjadi sekretaris, melainkan mata-mata bagi Gerald Barrack Amyts. Di balik kemewahan dunia kelas atas, Gerald justru menjadikan Carla sebagai pion dalam permainan hatinya yang kejam. Mampukah Carla lepas dari jerat sang bos arogan dan menemukan cinta sejatinya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Gerald menarik paksa tangan Carla ketika ia mengatakan rela mengorbankan dirinya demi misi ini. Langkahnya yang lebar membuat Carla harus mengimbanginya dengan lari-lari kecil. 

Bentley Continental GT keluaran terbaru melesat di jalanan ibu kota yang lebih lenggang dari biasanya. Carla menangkap sesuatu yang berbeda dari Gerald. Gerald tak pernah semarah ini sebelumnya. Maka dari itu ia tidak banyak bicara dan ikut kemanapun Gerald pergi.

Gerald mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal, bagi pria berperawakan gagah itu, tak ada alasan ugal-ugalan di jalan meskipun amarah menguasainya. 

Tak ada sedikitpun kata yang terucap dari mulut keduanya sampai Gerald menghentikan mobilnya di sebuah pantai. Ia keluar lebih dulu sambil membanting pintu mobil, membuat Carla yang masih berada didalamnya tersentak kaget.

Carla bergegas keluar meskipun sebenarnya ia ingin melarikan diri, ia menatap punggung Gerald yang nampak naik turun karena emosi yang kini menggerayanginya. Carla tak berani mendekat, ia berbicara dengan jarak yang cukup jauh,

"Ada apa ini?" tanya Carla kepada Gerald yang memunggunginya.

Gerald berbalik, "Kau masih bisa bertanya begitu setelah kau tahu apa yang membuatku kesal?! Ayolah Carla! Kau main-main dengan ucapanmu," maki Gerald tepat di depan wajah Carla.

"Aku tidak main-main, Gerald. Bukankah kau yang mendesakku?"

"Tapi aku tidak menyuruhmu mengorbankan nyawamu, Carla!"

"Anggap saja ini sebagai balas jasa, Gerald. Aku terlanjur malu pada keluargamu yang terlalu baik."

"Tapi tidak dengan mengorbankan dirimu, Carla! Ayah pasti menganggap ucapanmu serius!" Gerald menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kesal pada sikap keras kepala yang tidak kunjung menghilang dari diri Carla.

"Aku juga menganggapnya serius," ketus Carla.

"Terserah Carla aku tak peduli," dengus Gerald.

"Mengapa kau gusar begitu, Gerald? Aku pasti bisa membunuhnya. Lagi pula, itu permintaanmu kan."

"Aku tidak memintamu mengorbankan nyawamu, Carla!"

"Aku sukarela saja, Gerald."

"Astaga Carla! Kau kira nyawamu semurah itu?"

"Ini nyawaku, bukan urusanmu."

Carla duduk diatas pasir putih, ia menjadikan sandalnya sebagai alas untuk duduk. Meskipun ia harus menghadapi amarah Gerald, Carla tak mau melewatkan momen langka yang jarang ia lakukan. Bermain pasir pantai.

Gerald tak bisa lama-lama marah kepada Carla, ia langsung mengikuti cara Carla duduk. Bedanya, Gerald lebih merelakan bokongnya yang dilapisi celana bahan mahal menjadi alas duduk daripada sepatu pantofel mengkilat keluaran terbaru miliknya itu.

Mereka larut dalam pikiran masing-masing, mencoba  untuk mendinginkan suasana dengan cara diam sambil menatap hamparan air pantai yang tenang. Dihadapan keduanya, mentari mulai meninggi.

"Kau selalu keras kepala sedari kecil, Carla." Ucap Gerald sambil menerawang ke masa lalu mereka berdua.

"Aku tidak sekeras kepala itu, tuan Gerald Barrack Amyts."

"Sangkal saja terus. Kau memang begitu sedari dulu. Keras kepala, tak mau mengalah, tak mau disalahkan, itu sudah sikapmu, Carla Azannadia." Gerald melempar kerikil kecil ke arah air pantai.

"Kau lebih keras kepala dariku, Gerald. Kau merelakan dirimu dipukul oleh ayahmu demi melindungiku yang memecahkan vas bunga."

"Aku tak melindungimu. Aku hanya tak mau kau dipukul."

"Itu berarti kau melindungiku."

"Aku tak melindungimu."

"Terserah kau, tuan penyangkal!"

"Kau tidak malu bersahabat dengan seorang anak pembantu?" keluh Carla tiba-tiba sambil menatap wajah Gerald yang tertimpa mentari pagi.

Ia menatap wajah sahabat tampannya yang kini sudah dewasa, lima tahun lebih tua dari usianya. Carla menerawang ke masa lalu, ia mengingat kembali momen bahagia yang ia lalui bersama Gerald. Ketika di pasar malam, foto keluarga, bermain bersama, semua kenangan indah seketika berputar di otaknya.

"Aku lebih malu bersahabat dengan mereka yang penuh pencitraan, Carla."

"Mereka ingin berteman denganmu, Gerald. Kau harusnya welcome terhadap mereka," usul Carla kepada Gerald yang kini menatapnya.

"Aku tak pernah mendapati sahabat yang lebih baik selain darimu, Carla. Kau sahabat terbaikku!" tutur Gerald yang kini masih betah menatap mata Carla.

"Sejak kapan kau pandai menggombal, Gerald?" selidik Carla.

"Enak saja! Aku tak menggombal, ini kenyataan, Carla. Kau yang terbaik dalam circle pertemananku,"

"Akupun tak menyangka bisa bersahabat denganmu, Gerald. Rasanya mustahil asisten sepertiku menjadi sahabatmu," puji Carla secara tidak langsung pada Gerald.

"Tetapi satu hal yang pasti..., kau cantik,"

"Aku memang cantik Gerald."

"Berhenti merayuku Carla!"

"Kau? Berani-beraninya menuduh aku merayumu, padahal kau yang pertama merayuku!"

Carla memercikkan air pantai ke arah Gerald. Kemudian ia berdiri dan berlari menjauhi 

Gerald yang kini bersiap mengejarnya. Terjadi aksi kejar-kejaran antara Gerald dan Carla. 

Mereka tak menggubris orang-orang yang mulai berdatangan dan menatap mereka yang bertingkah seperti dua orang anak kecil yang bahagia dibawa ke pantai untuk pertama kalinya oleh orang tua mereka. Keduanya sibuk berkejaran, sesekali memercikkan air ke tubuh lawan.

Sampai pada akhirnya, Carla berhenti berlari karena staminanya terkuras habis. Gerald mendatangi sebuah stand yang menjajakan minuman, ia membeli dua botol air mineral dan memberikannya satu kepada Carla. Keduanya meneguk air hingga tandas.

"Kita bersahabat sudah lama ya, Gerald."

"Sejak kau lahir dan aku sekolah SD."

Umur Gerald memang lebih tua dari Carla. Ia berumur 25 tahun, berbeda lima tahun dengan Carla. Namun, sikap kekanak-kanakannya tak pernah hilang. Gerald selalu mengeluh mengapa ia dijadikan CEO di usianya yang masih muda. Padahal, orang lain di luaran sana ingin bernasib seperti Gerald.

"Ge, kamu pernah mencintai seseorang?" Tanya Carla. Membuat Gerald kembali menatap iris cokelat yang nampak bersinar terkena cahaya mentari.

"Pernah. Bahkan sampai sekarang, aku masih mencintainya." Ucap Gerald puitis.

"Kok kamu gak bilang langsung ke orangnya?"

"Aku gak mau orang itu menjauh. Lebih baik sakit karena menahan perasaan lama, daripada kesakitan karena harus mengungkapkannya kemudian ia pergi."

"Ge."

"Ya, Carl?"

"Kau mirip seperti Mario Teguh...." Carla menjeda sebentar ucapannya. Ia menangkap raut bahagia di wajah Gerald.

"Tapi versi Gilang Dirga."

Tawa Carla meledak sepenuhnya ketika Gerald mendengus kasar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun, tawa Carla membuat Gerald kembali menatap gadis berusia 20 tahun itu. Tanpa sadar, Gerald membentuk lengkungan di bibirnya, tersenyum menatap tawa Carla yang tak pernah sebahagia itu.

Setelah puas menertawakan Gerald. Carla berdiri, menepuk-nepuk pakaian pembantunya, memakai sandal jepit hitam kesayangannya, dan membenahi sebentar rambutnya yang tersibak angin. Carla akhirnya mengajak Gerald pulang ketika jam tepat menunjukkan pukul 10.00.

"Ayo pulang, Gerald. Aku harus bersiap melamar pekerjaan!"

"Memangnya semudah itu kau melamar pekerjaan? Sulit, Carla," ujar Gerald.

"Pasti akan mudah, Gerald. Apalagi dibantu dengan perusahaan raksasa seperti perusahaanmu."

"Aku rasa kita harus membatalkan rencana bodoh itu, Carla." pinta Gerald kepada Carla yang kini sudah berdiri.

"Apa yang kau katakan?" Carla mencoba memastikan.

"Kita tak perlu mengirimmu kesana untuk menjadi mata-mata, terlalu berbahaya."

"Keputusanku sudah bulat Gerald. Aku akan membantumu agar kau tidak menjadi bulan-bulanan ayahmu lagi."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dan Benci
8.1
Viona Anatasya tewas tragis setelah dikhianati keluarga dan tunangannya demi mendonorkan hati secara paksa. Kini, ia terlahir kembali dengan ambisi membalas dendam dan merebut haknya yang dirampas. Namun, rencananya terusik oleh kehadiran Randy Logan, CEO angkuh nan dingin yang mendadak terobsesi padanya. Di tengah misi pembalasan, pria kaya raya itu justru mengepung Viona dengan kelembutan posesif yang membuat sang wanita merasa sangat terdesak.
Sampul Novel Dikhianati Sahabat Kecil, Aku Menikahi CEO Mandul
9.2
Setelah dikhianati hingga tewas oleh kakak kandung dan pria yang dicintainya, sang protagonis mendapat kesempatan kedua untuk hidup kembali ke masa lalu. Menolak mengulangi takdir tragis dari pernikahan kontrak dengan Keluarga Zony, ia memutuskan berpaling tanpa ragu. Ia memilih menerima lamaran Gunawan, seorang CEO kaya raya yang dikenal mandul. Keputusan ini memicu penyesalan mendalam dari mantan kekasihnya yang kini memohon agar ia kembali, membalikkan keadaan di kota Dumai.
Sampul Novel Dilepas Manajer, Didekap CEO Kaya
9.6
Lima tahun membina rumah tangga dengan Reynald tak membuat Riana bahagia. Alih-alih cinta, ia justru terjebak dalam lingkaran KDRT dan tekanan dari Mayang, ibu mertuanya yang membenci Riana karena belum juga memiliki keturunan. Penderitaannya mencapai puncak saat kehadiran wanita lain merusak pernikahan mereka. Merasa lelah dengan segala pengkhianatan dan kekerasan yang dialaminya, Riana akhirnya mengambil langkah tegas untuk mundur dan pergi.
Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku
8.5
Maia Vandini, seorang lulusan SMA, terjebak dalam situasi berbahaya saat kencan butanya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah diberi obat perangsang oleh teman kencannya, Maia berusaha melarikan diri demi menyelamatkan diri. Dalam kondisi yang tidak terkendali, ia bertemu dengan seorang CEO asing. Maia yang kehilangan kesadaran memohon bantuan padanya, memicu pertemuan panas yang tak terduga. Sang pria memperingatkan bahwa Maia-lah yang memulai segalanya.
Sampul Novel Kau Ceraikan Aku, Tetapi Anakku Akan Menjadi Pewaris
9.3
Lara terpaksa menceraikan Elara akibat tekanan sang ibu mertua yang memandang rendah statusnya sebagai putri sopir. Elara yang dulu hangat berubah menjadi dingin dan membiarkan pernikahan rahasia mereka hancur. Setelah malam tak terduga yang dianggap Elara sebagai momen bersama Elena, ia resmi bertunangan dengan wanita itu. Lara yang patah hati memilih mengasingkan diri ke desa untuk membuat sabun organik, tanpa menyadari bahwa dirinya tengah mengandung pewaris suaminya.
Sampul Novel Kekasih Bersama: Penghinaan Seorang Istri
9.5
Kehidupan rumah tanggaku hancur saat suamiku membawa selingkuhannya ke rumah. Namun, kejutan sebenarnya muncul ketika ayah mertuaku, Julio James, justru membela wanita itu dengan amarah besar. Pertikaian hebat antara ayah dan anak demi satu wanita yang sama terjadi di hadapanku. Skandal memuakkan ini pun meledak hingga menjadi berita utama nasional. Kini, aku terjebak sebagai istri sah yang dikasihani sekaligus menjadi bahan tertawaan publik akibat drama gila keluarga kaya ini.