
Sekretaris Cupu Vs Boss Arrogant
Bab 2
Gerald menarik paksa tangan Carla ketika ia mengatakan rela mengorbankan dirinya demi misi ini. Langkahnya yang lebar membuat Carla harus mengimbanginya dengan lari-lari kecil.
Bentley Continental GT keluaran terbaru melesat di jalanan ibu kota yang lebih lenggang dari biasanya. Carla menangkap sesuatu yang berbeda dari Gerald. Gerald tak pernah semarah ini sebelumnya. Maka dari itu ia tidak banyak bicara dan ikut kemanapun Gerald pergi.
Gerald mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal, bagi pria berperawakan gagah itu, tak ada alasan ugal-ugalan di jalan meskipun amarah menguasainya.
Tak ada sedikitpun kata yang terucap dari mulut keduanya sampai Gerald menghentikan mobilnya di sebuah pantai. Ia keluar lebih dulu sambil membanting pintu mobil, membuat Carla yang masih berada didalamnya tersentak kaget.
Carla bergegas keluar meskipun sebenarnya ia ingin melarikan diri, ia menatap punggung Gerald yang nampak naik turun karena emosi yang kini menggerayanginya. Carla tak berani mendekat, ia berbicara dengan jarak yang cukup jauh,
"Ada apa ini?" tanya Carla kepada Gerald yang memunggunginya.
Gerald berbalik, "Kau masih bisa bertanya begitu setelah kau tahu apa yang membuatku kesal?! Ayolah Carla! Kau main-main dengan ucapanmu," maki Gerald tepat di depan wajah Carla.
"Aku tidak main-main, Gerald. Bukankah kau yang mendesakku?"
"Tapi aku tidak menyuruhmu mengorbankan nyawamu, Carla!"
"Anggap saja ini sebagai balas jasa, Gerald. Aku terlanjur malu pada keluargamu yang terlalu baik."
"Tapi tidak dengan mengorbankan dirimu, Carla! Ayah pasti menganggap ucapanmu serius!" Gerald menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kesal pada sikap keras kepala yang tidak kunjung menghilang dari diri Carla.
"Aku juga menganggapnya serius," ketus Carla.
"Terserah Carla aku tak peduli," dengus Gerald.
"Mengapa kau gusar begitu, Gerald? Aku pasti bisa membunuhnya. Lagi pula, itu permintaanmu kan."
"Aku tidak memintamu mengorbankan nyawamu, Carla!"
"Aku sukarela saja, Gerald."
"Astaga Carla! Kau kira nyawamu semurah itu?"
"Ini nyawaku, bukan urusanmu."
Carla duduk diatas pasir putih, ia menjadikan sandalnya sebagai alas untuk duduk. Meskipun ia harus menghadapi amarah Gerald, Carla tak mau melewatkan momen langka yang jarang ia lakukan. Bermain pasir pantai.
Gerald tak bisa lama-lama marah kepada Carla, ia langsung mengikuti cara Carla duduk. Bedanya, Gerald lebih merelakan bokongnya yang dilapisi celana bahan mahal menjadi alas duduk daripada sepatu pantofel mengkilat keluaran terbaru miliknya itu.
Mereka larut dalam pikiran masing-masing, mencoba untuk mendinginkan suasana dengan cara diam sambil menatap hamparan air pantai yang tenang. Dihadapan keduanya, mentari mulai meninggi.
"Kau selalu keras kepala sedari kecil, Carla." Ucap Gerald sambil menerawang ke masa lalu mereka berdua.
"Aku tidak sekeras kepala itu, tuan Gerald Barrack Amyts."
"Sangkal saja terus. Kau memang begitu sedari dulu. Keras kepala, tak mau mengalah, tak mau disalahkan, itu sudah sikapmu, Carla Azannadia." Gerald melempar kerikil kecil ke arah air pantai.
"Kau lebih keras kepala dariku, Gerald. Kau merelakan dirimu dipukul oleh ayahmu demi melindungiku yang memecahkan vas bunga."
"Aku tak melindungimu. Aku hanya tak mau kau dipukul."
"Itu berarti kau melindungiku."
"Aku tak melindungimu."
"Terserah kau, tuan penyangkal!"
"Kau tidak malu bersahabat dengan seorang anak pembantu?" keluh Carla tiba-tiba sambil menatap wajah Gerald yang tertimpa mentari pagi.
Ia menatap wajah sahabat tampannya yang kini sudah dewasa, lima tahun lebih tua dari usianya. Carla menerawang ke masa lalu, ia mengingat kembali momen bahagia yang ia lalui bersama Gerald. Ketika di pasar malam, foto keluarga, bermain bersama, semua kenangan indah seketika berputar di otaknya.
"Aku lebih malu bersahabat dengan mereka yang penuh pencitraan, Carla."
"Mereka ingin berteman denganmu, Gerald. Kau harusnya welcome terhadap mereka," usul Carla kepada Gerald yang kini menatapnya.
"Aku tak pernah mendapati sahabat yang lebih baik selain darimu, Carla. Kau sahabat terbaikku!" tutur Gerald yang kini masih betah menatap mata Carla.
"Sejak kapan kau pandai menggombal, Gerald?" selidik Carla.
"Enak saja! Aku tak menggombal, ini kenyataan, Carla. Kau yang terbaik dalam circle pertemananku,"
"Akupun tak menyangka bisa bersahabat denganmu, Gerald. Rasanya mustahil asisten sepertiku menjadi sahabatmu," puji Carla secara tidak langsung pada Gerald.
"Tetapi satu hal yang pasti..., kau cantik,"
"Aku memang cantik Gerald."
"Berhenti merayuku Carla!"
"Kau? Berani-beraninya menuduh aku merayumu, padahal kau yang pertama merayuku!"
Carla memercikkan air pantai ke arah Gerald. Kemudian ia berdiri dan berlari menjauhi
Gerald yang kini bersiap mengejarnya. Terjadi aksi kejar-kejaran antara Gerald dan Carla.
Mereka tak menggubris orang-orang yang mulai berdatangan dan menatap mereka yang bertingkah seperti dua orang anak kecil yang bahagia dibawa ke pantai untuk pertama kalinya oleh orang tua mereka. Keduanya sibuk berkejaran, sesekali memercikkan air ke tubuh lawan.
Sampai pada akhirnya, Carla berhenti berlari karena staminanya terkuras habis. Gerald mendatangi sebuah stand yang menjajakan minuman, ia membeli dua botol air mineral dan memberikannya satu kepada Carla. Keduanya meneguk air hingga tandas.
"Kita bersahabat sudah lama ya, Gerald."
"Sejak kau lahir dan aku sekolah SD."
Umur Gerald memang lebih tua dari Carla. Ia berumur 25 tahun, berbeda lima tahun dengan Carla. Namun, sikap kekanak-kanakannya tak pernah hilang. Gerald selalu mengeluh mengapa ia dijadikan CEO di usianya yang masih muda. Padahal, orang lain di luaran sana ingin bernasib seperti Gerald.
"Ge, kamu pernah mencintai seseorang?" Tanya Carla. Membuat Gerald kembali menatap iris cokelat yang nampak bersinar terkena cahaya mentari.
"Pernah. Bahkan sampai sekarang, aku masih mencintainya." Ucap Gerald puitis.
"Kok kamu gak bilang langsung ke orangnya?"
"Aku gak mau orang itu menjauh. Lebih baik sakit karena menahan perasaan lama, daripada kesakitan karena harus mengungkapkannya kemudian ia pergi."
"Ge."
"Ya, Carl?"
"Kau mirip seperti Mario Teguh...." Carla menjeda sebentar ucapannya. Ia menangkap raut bahagia di wajah Gerald.
"Tapi versi Gilang Dirga."
Tawa Carla meledak sepenuhnya ketika Gerald mendengus kasar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namun, tawa Carla membuat Gerald kembali menatap gadis berusia 20 tahun itu. Tanpa sadar, Gerald membentuk lengkungan di bibirnya, tersenyum menatap tawa Carla yang tak pernah sebahagia itu.
Setelah puas menertawakan Gerald. Carla berdiri, menepuk-nepuk pakaian pembantunya, memakai sandal jepit hitam kesayangannya, dan membenahi sebentar rambutnya yang tersibak angin. Carla akhirnya mengajak Gerald pulang ketika jam tepat menunjukkan pukul 10.00.
"Ayo pulang, Gerald. Aku harus bersiap melamar pekerjaan!"
"Memangnya semudah itu kau melamar pekerjaan? Sulit, Carla," ujar Gerald.
"Pasti akan mudah, Gerald. Apalagi dibantu dengan perusahaan raksasa seperti perusahaanmu."
"Aku rasa kita harus membatalkan rencana bodoh itu, Carla." pinta Gerald kepada Carla yang kini sudah berdiri.
"Apa yang kau katakan?" Carla mencoba memastikan.
"Kita tak perlu mengirimmu kesana untuk menjadi mata-mata, terlalu berbahaya."
"Keputusanku sudah bulat Gerald. Aku akan membantumu agar kau tidak menjadi bulan-bulanan ayahmu lagi."
Anda Mungkin Juga Suka





