Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sekretaris Cupu Vs Boss Arrogant

Sekretaris Cupu Vs Boss Arrogant

Carla Azannadia, putri seorang asisten rumah tangga, terjebak dalam nasib kelam setelah kecelakaan pesawat merenggut ibunya dan keluarga Barrack. Kini, ia bekerja di Royal Group bukan sekadar menjadi sekretaris, melainkan mata-mata bagi Gerald Barrack Amyts. Di balik kemewahan dunia kelas atas, Gerald justru menjadikan Carla sebagai pion dalam permainan hatinya yang kejam. Mampukah Carla lepas dari jerat sang bos arogan dan menemukan cinta sejatinya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Carla, hantarkan makanan ini kepada tuan Gerald," perintah seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Nita Andriani, ibunya Carla.

"Ibu tahu sendiri kan, bagaimana sikap Gerald kepadaku ketika menghantarkan sarapan ke kamarnya kemarin," sahut Carla dengan tangan yang sibuk mencuci piring.

"Memangnya Gerald bersikap seperti apa? Kok, ibu tidak ingat," ujar Nita yang kini sibuk membereskan piring ke tempatnya sambil mengingat-ingat ucapan Carla.

"Ibu ini, selalu cepat lupa," keluh Carla yang kini selesai mencuci piringnya.

"Kemarin Gerald terus mencegahku kebawah sehingga aku tidak bisa membantu ibu membersihkan rumah besar ini," keluh Carla.

"Tetapi kali ini Gerald yang memintanya, Carl,"

Nita menyodorkan nampan berisi menu sarapan Gerald kehadapan Carla yang langsung disambar oleh Carla.

Carla Azannadia, anak seorang Nita yang merupakan asisten di rumah keluarga Barrack. Ia tumbuh dan berkembang konglomerat ini bersama ibunya lantaran ayahnya meninggal dunia sejak ia masih bayi.  Beruntungnya Barrack dan istrinya dengan baik hati mengizinkan mereka tinggal bersama.

Pakaian khas asisten rumah tangga melekat ditubuh Carla yang masih berusia 20 tahun. Meski begitu, kecantikan paras serta kepintarannya tak bisa disembunyikan, wajah berbentuk oval dihiasi dengan rambut kecoklatan sepunggung, alis yang melengkung dengan sempurna, bibir ranum yang hanya dipoles sedikit lipgloss, dan pipi putih yang senantiasa memerah ketika terlalu lelah bekerja.

Carla menjadi lulusan terbaik pertama di SMA Nusa Bangsa dengan nilai ujian nasional terbesar kedua nasional. Ia teramat membanggakan sekolah. Meski begitu, ia tak berniat mencari pekerjaan lain.

Baginya, bekerja di rumah keluarga yang sudah mau menyekolahkannya sampai SMA ditambah mengizinkannya dan ibunya tinggal di rumah besar itu sudah cukup. Beruntungnya lagi, ia bisa bersahabat baik dengan Gerald, anak dari Barrack Adibaskara, pemilik perusahaan Barrack Holdings yang bergerak di bidang properti.

Carla membawa nampan berisi segelas susu, segelas air putih, dan roti panggang selai alpukat di tangannya. Ia bergegas ke kamar Gerald yang berada di lantai tiga. Carla melangkahkan kakinya menuju lift yang berada di dekat ruang makan. Namun, baru saja ia menekan tombol lift, suara bariton milik Barrack memenuhi indera pendengarannya,

"Carla, simpan saja menu makanan Gerald disini dan suruh dia turun sekarang juga," tegasnya.

Carla menundukkan kepalanya dan berjalan menuju meja makan. Ia menyimpan menu sarapan Gerald diatas meja kemudian berpamitan, "Baik, Tuan. Saya permisi dulu."

"Katakan juga padanya bahwa ada hal penting yang harus kita bicarakan," perintah Irina, ibu Gerald.

"Baik, Tuan, Nyonya. Saya permisi dulu."

Lift membawa Carla ke lantai tiga tempat Gerald berada. Penthouse mewah ini terdiri dari lima lantai dan satu ruangan bawah tanah yang menjadi tempat Gerald selaku CEO Barrack Holdings dan ayahnya membicarakan perihal bisnis dan perusahaan. Penthouse besar ini hanya ditempati oleh Barrack, Gerald, Irina dan beberapa asisten rumah tangga yang diizinkan tinggal disini.

Sementara itu adik Gerald, Jossi Barrack Liandry bersekolah di Prancis dan pulang sebulan sekali. Kakaknya, Gustaf Leonard Barrack sudah menikah dengan seorang model cantik asal Singapura, Rania Bernabeu dan menetap di sana.

Pintu lift terbuka, menampilkan ruangan yang serba berwarna abu tua. Carla melangkahkan kakinya menuju kamar Gerald yang berseberangan dengan lift. Ia memasukkan sandi kamar Gerald kemudian masuk kedalamnya. Suasana kamar yang selalu berantakan membuat Carla menggelengkan kepalanya.

"Tuan besar menyuruh anda untuk sarapan di bawah, Tuan. Ada sesuatu yang ingin beliau bicarakan," ucap Carla formal kepada Gerald yang sekarang tengah memunggunginya.

Punggung yang senantiasa selalu tegap dan bahu yang lebar membuat Gerald nampak gagah dari belakang. Meskipun setiap hari Carla melihatnya, tak mengurangi rasa kagum Carla terhadap pria di hadapannya itu.

"Kau selalu saja berkata formal padaku, Carl. Aku tak suka itu," sanggah Gerald sambil berbalik menghadap Carla.

Seketika terpampang dengan nyata wajah tegas khas blasteran Indonesia-Eropa dengan iris mata hitam setajam elang, rambut yang tersisir rapi menampilkan jidatnya yang sempurna, hidung mancung, dan bibirnya, merah merekah, menampilkan senyum yang bisa membuat siapa saja terpesona.

"Maafkan saya, Tuan. Anda ditunggu oleh tuan besar dibawah."

"Carl, sekali lagi kau berkata formal, aku tidak akan turun kebawah," ancam Gerald yang kini mendekatkan dirinya ke arah Carla.

"Baiklah, Gerald. Cepatlah turun atau aku tidak akan membuatkan roti panggang rendah kalori dan alpukat kesukaanmu itu!" Ancam balik Carla.

"Roti itu dibuat oleh ibumu, Carl. Bukan olehmu."

"Kalau begitu, aku akan tetap berbicara formal kepadamu meski kita sedang berdua saja."

Kali ini Gerald luluh. Ia tak bisa berkutik lagi ketika Carla mengatakan hal tersebut, "Baiklah, Carla. Kau menang."

"Aku memang selalu menang melawanmu, Gerald."

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, Carl. Tolong bantu aku, Carla."

"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Ayah menyuruhku sarapan di bawah karena ia akan memarahiku. Aku kalah tender dengan Royal Group. Tolong bantu aku kali ini, Carl. Jadilah sekretaris di perusahaan itu dan bunuhlah Andra Azbaniar."

Gerald menatap serius iris Carla yang terlihat membesar, menandakan ia tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Gerald. Ia menarik nafas, "Kau memintaku untuk menjadi seorang pembunuh?"

"Tidak, Carla. Kau salah paham."

"Kau menyuruhku menjadi seorang pembunuh, Tuan Gerald Barrack Amyts," tegas Carla.

Carla meninggalkan Gerald yang masih merasa bersalah kepada sahabatnya itu.

Sesaat sebelum pintu kamar Gerald tertutup, ia sempat mengucapkan sesuatu meskipun ia tak yakin Carla mendengarnya, ucapan yang benar-benar tulus dalam hatinya meminta kesediaan Carla dalam siasat yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan.

Lelaki itu menatap pintu yang kini tertutup, menyaksikan Carla yang melenggang dari hadapannya seraya berkata, "Aku mohon, Carla."

Gerald berjalan keluar dari lift dengan punggung yang sudah merosot, mata yang sibuk menatap sepatu pantofel mengkilatnya, dan langkah yang sengaja ia buat selambat mungkin untuk sampai di meja makan. Namun, jarak meja makan dengan lift hanyalah lima meter, tidak ada alasan lain baginya untuk menolak sarapan bersama orang tuanya.

Baru saja Gerald menarik kursi, Barrack sudah menginterupsinya,

"Ayah tidak mau tahu kamu harus mengalahkan Andra dari Royal Group itu, Gerald!" hardik Barrack dengan tatapan tajam yang dilayangkan kepada Gerald.

"Bukankah ayah sudah melihat bagaimana usaha Gerald untuk memenangkan tender itu?" keluh Gerald yang kini menatap ayahnya.

"Ayah yang salah disini...."

"Ayah salah karena memilih kamu sebagai CEO Barrack Holdings. Jika perusahaan ini dikelola oleh Gustaff, mungkin kita bisa memenangkan tender itu," Ketus Barrack yang berbalik menatap tajam Gerald.

"Lantas mengapa ayah memilih saya jika saya tidak kompeten di bidang ini. Sudah saya katakan sedari awal bahwa saya tidak bisa menjadi apa yang ayah inginkan!"

Emosi Gerald sudah sampai puncaknya. Ia meremas kursi yang sedari tadi dipegang hingga buku-buku jarinya memutih.

"Maafkan saya telah lancang, Tuan."

Carla berdiri di belakang Gerald yang masih emosi. Gerald seketika membalikkan badannya dan menatap Carla dengan tatapan tak percaya, bagaimana bisa ia menyela perbincangan penting antara dirinya dan Barrack.

"Saya bersedia untuk menjadi mata-mata di perusahaan Royal Group, Tuan," tutur Carla sambil memberanikan diri menatap mata Barrack.

"Lantas, setelah kau menjadi mata-mata, keadaan perusahaan akan membaik pikirmu?" sembur Barrack yang kini menyilangkan tangannya didepan dada.

"Saya rasa demikian, Tuan. Saya harus menjadi sekretaris pribadinya, dengan begitu saya bisa mencuri berkas-berkas penting milik Andra."

Carla mencoba untuk meyakinkan Barrack yang terlihat tengah mempertimbangkan ide menarik tersebut.

"Jika kau ku perintah untuk membunuhnya saja, apa kau siap?" desak  Gerald yang mencoba memastikan keseriusan Carla.

"Saya siap, Tuan."

"Jaminannya?"

"Nyawa saya, Tuan."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dan Benci
8.1
Viona Anatasya tewas tragis setelah dikhianati keluarga dan tunangannya demi mendonorkan hati secara paksa. Kini, ia terlahir kembali dengan ambisi membalas dendam dan merebut haknya yang dirampas. Namun, rencananya terusik oleh kehadiran Randy Logan, CEO angkuh nan dingin yang mendadak terobsesi padanya. Di tengah misi pembalasan, pria kaya raya itu justru mengepung Viona dengan kelembutan posesif yang membuat sang wanita merasa sangat terdesak.
Sampul Novel Dikhianati Sahabat Kecil, Aku Menikahi CEO Mandul
9.2
Setelah dikhianati hingga tewas oleh kakak kandung dan pria yang dicintainya, sang protagonis mendapat kesempatan kedua untuk hidup kembali ke masa lalu. Menolak mengulangi takdir tragis dari pernikahan kontrak dengan Keluarga Zony, ia memutuskan berpaling tanpa ragu. Ia memilih menerima lamaran Gunawan, seorang CEO kaya raya yang dikenal mandul. Keputusan ini memicu penyesalan mendalam dari mantan kekasihnya yang kini memohon agar ia kembali, membalikkan keadaan di kota Dumai.
Sampul Novel Dilepas Manajer, Didekap CEO Kaya
9.6
Lima tahun membina rumah tangga dengan Reynald tak membuat Riana bahagia. Alih-alih cinta, ia justru terjebak dalam lingkaran KDRT dan tekanan dari Mayang, ibu mertuanya yang membenci Riana karena belum juga memiliki keturunan. Penderitaannya mencapai puncak saat kehadiran wanita lain merusak pernikahan mereka. Merasa lelah dengan segala pengkhianatan dan kekerasan yang dialaminya, Riana akhirnya mengambil langkah tegas untuk mundur dan pergi.
Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku
8.5
Maia Vandini, seorang lulusan SMA, terjebak dalam situasi berbahaya saat kencan butanya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah diberi obat perangsang oleh teman kencannya, Maia berusaha melarikan diri demi menyelamatkan diri. Dalam kondisi yang tidak terkendali, ia bertemu dengan seorang CEO asing. Maia yang kehilangan kesadaran memohon bantuan padanya, memicu pertemuan panas yang tak terduga. Sang pria memperingatkan bahwa Maia-lah yang memulai segalanya.
Sampul Novel Kau Ceraikan Aku, Tetapi Anakku Akan Menjadi Pewaris
9.3
Lara terpaksa menceraikan Elara akibat tekanan sang ibu mertua yang memandang rendah statusnya sebagai putri sopir. Elara yang dulu hangat berubah menjadi dingin dan membiarkan pernikahan rahasia mereka hancur. Setelah malam tak terduga yang dianggap Elara sebagai momen bersama Elena, ia resmi bertunangan dengan wanita itu. Lara yang patah hati memilih mengasingkan diri ke desa untuk membuat sabun organik, tanpa menyadari bahwa dirinya tengah mengandung pewaris suaminya.
Sampul Novel Kekasih Bersama: Penghinaan Seorang Istri
9.5
Kehidupan rumah tanggaku hancur saat suamiku membawa selingkuhannya ke rumah. Namun, kejutan sebenarnya muncul ketika ayah mertuaku, Julio James, justru membela wanita itu dengan amarah besar. Pertikaian hebat antara ayah dan anak demi satu wanita yang sama terjadi di hadapanku. Skandal memuakkan ini pun meledak hingga menjadi berita utama nasional. Kini, aku terjebak sebagai istri sah yang dikasihani sekaligus menjadi bahan tertawaan publik akibat drama gila keluarga kaya ini.