
SEKEPING SURAT UNTUKMU
Bab 2
Keesokan harinya, Aira duduk di bangku belakang kelas, memandangi jendela yang mengarah ke lapangan sekolah. Pikirannya masih terjebak pada surat misterius yang ditemukannya kemarin. Sekali lagi, ia membayangkan berbagai kemungkinan-siapa yang bisa menjadi pengirimnya? Tidak ada nama yang benar-benar masuk akal di kepalanya, namun perasaan penasaran itu terus merayap.
"Aira, kamu kenapa sih? Dari tadi murung terus!" tegur Rina, sahabatnya, yang tiba-tiba duduk di sebelahnya dengan wajah penuh semangat. "Masih mikirin surat itu?"
Aira menoleh dan tersenyum tipis. "Ya, gimana ya? Aku penasaran banget, Rin. Siapa sih yang berani-beraninya kirim surat cinta anonim begitu? Tapi, yang bikin penasaran, kok dia kayak tahu banyak tentang aku?"
Rina tertawa kecil, jelas menikmati drama kecil yang sedang dialami sahabatnya. "Ya ampun, Air. Ini seru banget, kayak di film-film! Kita harus cari tahu siapa dia!" Rina kemudian mencondongkan tubuhnya, matanya berbinar penuh rencana. "Aku yakin pengirimnya nggak jauh dari sini, pasti dia ada di kelas kita, atau paling enggak, satu sekolah."
Aira menghela napas. "Tapi, aku nggak tahu mulai dari mana, Rin. Bisa jadi siapa aja."
"Ya makanya, kita selidiki!" jawab Rina dengan antusias. "Kita mulai dari yang paling logis. Siapa aja yang akhir-akhir ini sering deket sama kamu?"
Aira berpikir sejenak. "Hmm... Kalau soal yang sering deket, nggak ada yang spesial sih. Cuma Reno, kayak biasa. Dia kan emang sahabat kita."
Rina menggeleng. "Nggak, Reno sih nggak mungkin. Dia orangnya nggak bakal sembunyi-sembunyi gitu. Kalau dia suka sama kamu, dia pasti bilang langsung. Kita cari yang lain."
Aira tertawa kecil. "Iya sih, Reno emang bukan tipe yang kayak gitu. Tapi terus siapa?"
Rina mengetuk-ngetukkan jari di dagunya, berpikir keras. "Gimana dengan Arman? Dia kan populer, sering dapat perhatian dari cewek-cewek. Tapi aku pernah lihat dia ngelirik kamu waktu kita di kantin minggu lalu. Mungkin aja dia tertarik, cuma nggak mau bilang langsung karena takut ditolak."
Aira mengerutkan kening. "Arman? Kayaknya nggak mungkin deh. Dia lebih suka cewek-cewek yang cantik dan flashy. Aku kan biasa aja."
"Tapi, itu bisa jadi alasan kenapa dia nulis surat. Mungkin dia ngerasa kamu spesial tapi nggak mau kasih tahu langsung," Rina menyeringai licik. "Coba aja pikirin, siapa lagi yang mungkin kayak dia?"
Aira menggeleng. Meski Arman menarik perhatian banyak orang, dia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda khusus tertarik padanya. Dan dia juga bukan tipe orang yang akan sembunyi di balik surat anonim.
"Kalo bukan Arman, mungkin orang yang lebih pemalu?" Aira mulai membayangkan beberapa siswa lain yang lebih jarang berbicara dengannya, mungkin ada di antara mereka yang menyimpan perasaan diam-diam.
Rina tiba-tiba menepuk tangan, seolah-olah mendapat pencerahan. "Gimana dengan Stevan? Dia anak IPA yang sering duduk di pojokan itu. Aku pernah lihat dia beberapa kali lewat depan kelas kita, terus kayaknya sering liat-liat ke arah kamu. Bisa jadi dia, kan?"
Aira terkejut. "Stevan? Aku hampir nggak pernah ngobrol sama dia."
"Justru itu! Mungkin dia suka sama kamu tapi terlalu takut buat ngedeketin langsung," kata Rina penuh keyakinan. "Anak-anak pemalu kayak gitu biasanya lebih milih cara nggak langsung kayak surat cinta."
Meski ide itu terdengar aneh, Aira tak bisa mengabaikan kemungkinan tersebut. Bisa jadi seseorang yang tidak pernah ia duga sebelumnya adalah pengirim surat itu. Pikiran ini malah membuat rasa penasarannya semakin besar. Apakah benar Stevan, atau mungkin orang lain yang lebih diam-diam?
Rina menepuk pundak Aira lagi. "Oke, gini aja. Minggu depan, kita lihat siapa yang sering berkeliaran di sekitar loker kamu, oke? Aku yakin, kita bakal dapet petunjuk!"
Aira mengangguk setuju, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. Ia tidak yakin apakah pengirim surat itu akan semudah itu ditemukan, tapi setidaknya Rina membuat situasi ini terasa lebih ringan. Mereka punya rencana, meski kecil, dan itu cukup untuk memulai pencarian.
Saat bel sekolah berbunyi menandakan jam istirahat selesai, Aira kembali ke bangkunya dengan perasaan yang bercampur antara gelisah dan bersemangat. Siapa pun yang menulis surat itu, entah bagaimana caranya, telah membuat hari-harinya dipenuhi dengan teka-teki baru yang menarik. Dan sekarang, dengan bantuan Rina, Aira siap memulai pencarian untuk menemukan siapa sebenarnya "S" itu.
Mungkin ini hanya permulaan.
Aira dan Rina mulai memfokuskan perhatian mereka pada rencana yang baru saja mereka buat. Meski terlihat seperti permainan detektif, bagi Aira, ada rasa tegang yang menyelinap di antara antusiasme mereka. Surat itu bukan hanya tentang cinta anonim; rasanya ada sesuatu yang lebih mendalam, sesuatu yang membuat Aira tidak bisa mengabaikannya.
Keesokan harinya, saat istirahat siang, Rina langsung mengajak Aira untuk memulai pencarian. Mereka memutuskan untuk mengamati beberapa siswa yang mereka curigai, terutama Stevan dan Arman. Aira, yang merasa agak canggung, hanya bisa mengikuti alur yang digagas Rina. Bagaimanapun juga, sahabatnya itu tampak sangat menikmati peran sebagai detektif amatir.
"Kita mulai dari kantin dulu," ujar Rina penuh semangat sambil menarik Aira menuju pintu kelas. "Aku yakin kita bisa lihat siapa yang lebih sering perhatiin kamu di sana."
Aira hanya mengangguk sambil tertawa kecil. "Rin, kita nggak kayak orang aneh, kan? Serius, aku agak malu kalau kita ketahuan begini."
"Tenang aja, kita pelan-pelan. Nggak akan ada yang nyadar," Rina menjawab dengan percaya diri.
Saat mereka tiba di kantin, suasana ramai seperti biasa. Para siswa sibuk berbicara, tertawa, dan makan bersama. Rina segera memilih meja yang sedikit di pinggir, tapi tetap bisa mengamati sekeliling. Aira duduk sambil berpura-pura sibuk dengan makanannya, meskipun sebenarnya dia hanya mencuri pandang pada beberapa orang di sekitar mereka.
Stevan, yang duduk di pojokan bersama teman-teman sekelasnya, tampak sibuk dengan laptopnya, mungkin mengerjakan tugas atau menonton sesuatu. Arman, di sisi lain, duduk dengan kelompok teman-teman populernya, bercanda dan tertawa dengan keras. Aira memperhatikan keduanya secara bergantian, mencoba mencari tanda-tanda apa pun.
"Aku nggak yakin sama Stevan," bisik Aira pelan. "Dia kelihatan terlalu sibuk untuk mikirin hal kayak gini."
Rina menatap Stevan sebentar, lalu mengangguk setuju. "Iya, sih. Rasanya dia terlalu fokus sama dunianya sendiri."
"Kalau Arman?" tanya Aira, matanya kembali melirik ke arah meja Arman. Meski dia cukup populer dan sering dikelilingi oleh banyak orang, entah mengapa Aira ragu dia adalah sosok di balik inisial "S."
"Hmm, nggak juga sih," jawab Rina dengan ekspresi berpikir. "Dia kelihatan terlalu... ya, kamu tahu, terlalu Arman."
Mereka tertawa kecil bersama, mencoba melonggarkan suasana. Namun, tidak ada satu pun dari kedua sosok itu yang terlihat seperti seseorang yang akan menulis surat cinta anonim. Arman terlalu terbuka, terlalu flamboyan. Sedangkan Stevan, meski cenderung pemalu, tidak pernah tampak menunjukkan ketertarikan pada Aira secara langsung.
Saat istirahat hampir selesai, Rina memandang Aira dengan mata penuh rencana. "Oke, mungkin mereka berdua nggak mencurigakan, tapi kita belum selesai. Ada satu lagi yang harus kita cek."
"Siapa?" tanya Aira penasaran.
"Reno," jawab Rina sambil tersenyum. "Kita belum benar-benar pertimbangkan dia, kan?"
Aira terdiam. "Reno? Tapi dia sahabat kita. Aku yakin kalau dia suka sama aku, dia pasti bilang."
Rina mengangkat bahu. "Mungkin, tapi siapa tahu? Kadang-kadang orang yang paling dekat sama kita justru yang paling sulit diungkapkan perasaannya."
Aira terdiam sejenak. Memikirkan Reno sebagai sosok di balik surat itu membuatnya sedikit tidak nyaman. Reno adalah sahabatnya sejak mereka kecil, dan selama ini hubungan mereka selalu murni persahabatan. Tapi apa mungkin di balik semua itu, Reno menyimpan perasaan lebih? Dan kalau memang dia pengirim surat itu, kenapa memilih cara yang begitu tersembunyi?
Saat mereka kembali ke kelas, Aira tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan tersebut. Reno memang selalu ada di sisinya, selalu mendukung, tapi tidak pernah sekalipun dia merasa ada yang berubah dalam cara Reno memandangnya. Namun, surat itu-kalimat-kalimatnya-terdengar begitu tulus. Mungkinkah Reno menyembunyikan perasaannya selama ini?
Bel istirahat kedua berbunyi, dan Reno, seperti biasa, menghampiri mereka di depan kelas. "Ayo ke perpustakaan? Kita kan harus kerjain tugas sejarah," katanya dengan senyum lebar.
Aira memandangi Reno, mencoba membaca sesuatu di wajahnya, tapi tidak ada yang aneh. Reno adalah Reno, seperti biasa-sahabat yang ceria dan penuh energi. Dia selalu ada untuk Aira, tanpa pernah menuntut apa pun. Tapi Aira mulai merasa bimbang. Bagaimana kalau Reno memang menyimpan sesuatu yang tak pernah dia sadari?
Sepanjang perjalanan ke perpustakaan, pikiran Aira terus dipenuhi oleh spekulasi tentang Reno. Meski tak ingin berpikir terlalu jauh, rasa penasaran yang dibantu oleh Rina terus menggerogoti hatinya. Reno terlihat begitu normal, begitu terbuka, tapi Aira tahu, ada orang yang pandai menyembunyikan perasaannya di balik sikap ramah.
Di dalam perpustakaan, mereka duduk di meja biasa, di dekat jendela besar yang menghadap halaman sekolah. Saat Reno sibuk membaca buku sejarah, Aira mencuri pandang padanya. Dalam hati, ia bertanya-tanya apakah sosok yang selama ini ia anggap sahabat, bisa jadi menyimpan rahasia lebih besar dari yang ia duga.
Pencarian baru saja dimulai, tapi sudah membawa Aira ke arah yang tak pernah ia bayangkan. Mungkinkah jawaban dari surat cinta anonim itu ada tepat di depannya selama ini?
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





