Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SEKEPING PERNIKAHAN

SEKEPING PERNIKAHAN

Kehidupan pernikahan Tiara terasa hampa tanpa kasih sayang sang suami. Saat ia akhirnya menyerah dan memilih pergi, penyesalan mendalam justru menghampiri pria yang kini menjadi mantannya itu. Namun, di balik keretakan hubungan mereka, tersimpan misteri besar yang menyelimuti orang-orang di sekitarnya. Siapa sebenarnya sosok ibu mertua yang begitu rakus? Tiara pun mulai meragukan identitas asli mantan suaminya dalam pusaran rahasia ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Ini uang 500 ribu harus cukup satu bulan!" Itulah kata Ibu Mertuaku. Aku hanya bisa terdiam, bukannya aku tak bisa bertindak, tapi aku sudah lelah dan membiarkan Ibu Mertuaku yang mengatur segalanya.

Namaku Tiara usiaku 30 tahun. Aku menikah dengan Mas Bayu sudah 9 tahun lamanya dan sudah dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Yang sulung berusia 6 tahun dan yang bungsu baru 3 tahun. Dari dulu keadaan rumah tanggaku sudah di rundung derita, tapi entahlah aku masih bertahan di sampingnya dengan alasan anak-anakku. Aku tak mau anakku dibesarkan dengan keadaan orang tua yang terpecah. Aku pikir Mas Bayu akan berubah, tapi sampai saat ini sifatnya masih belum berubah. Mas Bayu anak paling besar dengan dengan satu adik laki lakinya. Mas Bayu menjadi tulang punggung keluarganya. Ayah mertuaku sudah meninggal, dan tinggallah Ibu mertuaku sendirian di rumahnya. Adiknya yang bungsu pun sudah menikah dan mempunyai anak juga.

Saat ini suamiku bekerja di luar negeri dengan penghasilan lumayan cukup besar karena dia bekerja di kapal barang Spanyol. Tapi entahlah walaupun gajinya cukup besar, tapi aku dan anak-anak tidak menikmati kehidupan yang layak. Entah apa yang ada di pikiran Mas Bayu semua gajinya di transfer ke rekening Ibunya dengan dalih ingin menabung di Ibunya agar kami bisa membeli rumah. Mungkin dengan alasan itu aku bisa menerima semua perkataan Mas Bayu. Aku di jatah Mas Bayu hanya 1 juta dengan gajinya yang 10 juta. Berarti sisanya 9 juta di pegang atau di tabung Ibunya, entahlah.. aku tidak tahu?

Bulan ini aku menanti kedatangan Ibu mertuaku, karena aku sama sekali sudah tidak mempunyai uang lagi, mana mungkin cukup satu juta untuk sebulan.

Pagi ini derung motor terdengar di halaman rumahku tepatnya bukan rumahku, tapi rumah milik Ibuku. Ternyata benar dugaanku, Ibu mertuaku dan Adik iparku yang datang. Tanpa basa basi Ibu mertuaku menyerahkan uang 500 ribu ke tanganku. Aku hanya bengong dan diam menerima uang jatahku berkurang.

Ibu mertuaku bilang" bulan ini, Ibu kasih untuk kamu dan anak-anak hanya 500 ribu saja, karena kasihan Adik kamu perlu bayar cicilan motor, dagangannya tidak laku, Ibu mau membantunya 1 juta." Nafasku tak beraturan mendengar penjelasan Ibu mertuaku, mana mungkin dia lebih mementingkan cicilan motor Adik Mas Bayu dari pada aku dan anak-anak yang lebih memprihatinkan hanya di beri uang 500 ribu untuk sebulan. Secara aku dan anak- anak lebih berhak atas gajinya Mas Bayu. Sudahlah aku tak mau berdebat lagi, aku capek seperti ini dari dulu. Berbicara pun hanya akan ada adu mulut yang berkepanjangan. Ya, aku seperti wanita bodoh yang hanya bisa diam di perlakukan seperti ini.

Ku lirik Adik iparku yang celingak-celinguk tanpa tahu malu sedikit pun.

"Tiara, Ibu juga banyak pengeluaran harus memberi makan anak Istri Adik Mas Bayumu itu, tolong kamu mengerti, ya, Tiara!" Penuh harap Ibu Mertuaku memohon agar aku bisa mengerti.

Dengan rasa jengkel di hati, aku hanya bisa cukup menjawab "iya Bu, semoga cukup untuk satu bulan, biarlah anak-anak tak bisa jajan, mungkin makan juga cukup dengan ikan asin saja," sindirku kepada Ibu Mertuaku dan Adik Iparku. Tanpa ada rasa malu dan bersalah mereka hanya ketawa- ketiwi, mungkin bagi mereka lucu, aku berbicara seperti itu.

"Ya, kamu pandai-pandai mengatur uanglah dan dihemat juga agar cukup satu bulan." Waras atau tidak ini orang? batinku berbicara.

Mereka berdua pun pergi berlalu .

***

Setelah kepergian Ibu Mertuaku dan Adik Iparku, pikiranku terus berputar bagaimana caranya aku bisa membagi uang 500 ribu untuk memenuhi kebutuhan hidupan sehari-hari? Apalagi si sulung sekarang sudah memasuki sekolah dasar dan banyak keperluan yang akan dibeli untuk keperluan masuk sekolah. Tega sekali Mas Bayu mempercayakan gajinya kepada Ibunya dan menjatah kami sedikit. Tak terasa sesak di dada, sungguh ini sakit sekali kasihan anak- anakku. Tak kuasa butiran air mataku membasahi pipiku. Aku genggam uang 500 ribu di tanganku, kan ku jadikan ingatan yang paling tajam saat nanti kelak waktunya tiba. Mataku sembab, tubuhku terguncang pelan karena isak tangisanku yang tak bisa ditahan.

"Bu, Ibu kenapa?" Guncangan tangan anak sulungku membuat aku terbangun dari tangisanku.

"Ibu tidak apa2 nak." Aku mencoba menutupi kesedihanku.

"Ibu jangan bohong, kakak tahu kok, tadi Nenek sama Om datang ke sini, mereka ngapain ibu aja? ibu sampai nangis kayak gini." Rupanya si sulung tahu bahwa Ibunya lagi menangis. Walaupun usianya baru 6 tahun, tapi pemikiran anakku sudah seperti orang dewasa. Mungkin asam manis kehidupan dan pemandangan pilu sudah dia saksikan semenjak dari dulu. Anak sulungku memang penurut, mandiri dan tidak menuntut meminta apapun dari ku, layaknya anak-anak seusianya.

"Sini nak, Ibu mau bicara." Aku mendekap anakku erat-erat.

"Iya, ada apa, Bu?"

"Kakak sayang kan sama Ibu?" tanyaku lirih.

"Iya, Kakak sayang Ibu. Ibu jangan nangis, ada apa, Bu?" tanyanya lirih pula.

"Kakak, tolong sabar ya! Mungkin Ibu, tak bisa memberikan apa yang kakak mau untuk saat ini, bahkan kita makan pun jauh dari kata enak."

"Kok, Ayah gitu ya Bu sama kita. Ayah kan kerja di luar Negeri pasti gajinya besar?" Dengan polosnya si sulung menanyakan Ayahnya.

"nggak tahu, Kak, Ibu juga nggak ngerti, mungkin ada kendala." Aku mencoba menutupi kejelekan Ayahnya.

"Nggak apa apa, Bu, yang penting kakak sama adek selalu dekat sama Ibu." Anakku memeluk tubuhku dengan erat. Dan aku pun tahu dia pun menangis.

****

Menjelang sore anak bungsuku merengek ingin di belikan mainan yang cukup mahal, si bungsu melihat anak tetangga yang memamerkan mainannya.

"Ibu, ade ingin beli mainan seperti mainan punya Ardi," rengeknya kepadaku.

Aku hanya berdiri terpaku mendengar rengekan anak bungsuku. Mana mungkin dengan uang yang hanya 500 ribu, aku bisa membelikan mainan untuk anakku yang cukup mahal. Bagaimana nanti kalau di belikan mainan? Uang untuk makan tidak akan cukup. Ah, pusing sekali aku memikirkannya.

"Ade sayang maaf ya, mainan itu cukup mahal, nanti saja ya belinya." Aku mencoba memberikan pengertian sama si bungsu.

Ya, memang dasarnya anak usia 3 tahun susah untuk di berikan pengertian, yang tidak seperti kakaknya yang sudah mengerti kesulitan Ibunya. Si bungsu bukannya mengerti malah dia menangis sejadi-jadinya. Hingga aku pun bingung untuk menenangkannya.

Terdengar teriakan Ibunya Ardi, anak tetanggaku. Dengan gayanya yang khas orang kaya, berjalan sambil membusungkan dadanya,mendekat menghampiriku.

"Eh, Bu Tiara kenapa tuh si Bilar nangis-nangis begitu?" Itulah si bungsu namanya Bilar.

"nggak ada apa-apa, Bu, cuman ini Bilar mau mainan seperti punya Ardi," jawabku sendu.

"Eh, Bu Tiara beliin dong, cuman mainan doang, anak harus sampe nangis segala, ayahnya kan kerja ke luar negeri pasti banyak duitnya?" sahutnya sekenanya saja.

"Ah, Bilar kan sudah banyak mainannya, Bu." Aku mencoba mencari-cari alasan untuk menyembunyikan kesulitan hidupku.

"Alah, paling juga nggak punya duit kan? itu kan duit nya di pegang mertua, ya? kasihan banget Bu Tiara nasibnya," ejek Bu Ardi, membuat hatiku meringis sedih.

"Oh, iya maaf ya, Bu, saya mau menidurkan Bilar dulu." Aku berpura-pura pergi untuk menghindar dari ejekan Bu Ardi.

"Hah, paling juga malu ya punya nasib kok buruk banget?" gumamnya sambil menyunggingkan bibirnya ke kanan-ke kiri. Dan aku pun mendengarnya, meskipun nada suaranya pelan sekali. Aku mengelus dadaku berkali-kali, mengucap istighfar.

Aku segera beranjak meninggalkan Bu Ardi sendirian. Tanpa memperdulikan tatapan sinisnya padaku.

Aku langsung menina bobokan si bungsu agar tertidur dan lupa akan keinginannya itu.

Tring..

ponselku bergetar dan menyala, ternyata ada status terbaru dari Istri adik iparku.

["Asyik ... sebentar lagi aku punya rumah, uh.. senangnya."] Itulah status terbarunya.

Aku berpikir dari mana si Reno, Adik Mas Bayu itu punya uang untuk membeli rumah. Karena setahuku, tadi ibu mertuaku bilang usaha dagangnya lagi tidak laku dan anak Istrinya juga diberi makan sama ibu mertuaku. Atau kah? jangan-jangan?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Hingga Menjadi Kita
9.7
Nissa, seorang siswi SMA, menaruh hati pada guru Bahasa Indonesianya yang masih muda dan rupawan, Ilyas. Berbagai upaya ia kerahkan demi memikat perhatian sang guru di sekolah. Namun, akankah Ilyas membalas perasaan muridnya tersebut? Ataukah perbedaan usia dan status menjadi penghalang besar? Di tengah kebimbangan, muncul pilihan bagi Ilyas untuk menikahi wanita dewasa. Akankah cinta remaja Nissa berakhir manis atau justru bertepuk sebelah tangan?
Sampul Novel IBU YANG KAU BUANG
8.0
Memasuki usia senja, tubuh ini tak lagi berdaya untuk terus membanting tulang. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, aku justru ditelantarkan oleh anak-anak kandungku sendiri tepat setelah aku berhenti bekerja. Di tengah perlakuan buruk dari darah dagingku, mampukah aku menemukan secercah kebahagiaan untuk menghabiskan sisa umurku? Sebuah kisah pilu tentang perjuangan seorang ibu yang dikhianati oleh anak-anak yang telah ia besarkan dengan penuh pengorbanan.
Sampul Novel KETIKA DENTING CINTA MENYAPA
8.3
Zefki dan Raceh tidak pernah menyangka bahwa perjodohan dari orang tua mereka akan menumbuhkan benih asmara. Kehidupan keduanya berubah drastis saat kepribadian mereka yang kontras saling berbenturan. Zefki dikenal sebagai sosok pria yang dingin, angkuh, serta mudah marah, sementara Raceh adalah gadis pendiam yang sangat pemalu. Di tengah perbedaan sifat yang mencolok ini, mampukah kekuatan cinta menyatukan mereka dalam sebuah komitmen yang tulus?
Sampul Novel Miss Black Puteri CEO Yang Terbuang
9.4
Rose tumbuh menderita sebagai yatim piatu hingga Denzel mengungkap identitasnya sebagai putri CEO Louis Brown. Demi keamanan, ia menyamar menjadi Rose Carter, mahasiswi berprestasi sekaligus violinis rahasia bernama Miss Black. Konflik memuncak saat Luke, putra angkat ayahnya, memaksa Rose menikah demi harta. Di tengah teror Peter dan Hendrick yang mengincar nyawanya, benci berubah menjadi cinta. Rose harus berjuang melawan pengkhianatan demi kebahagiaan bersama Luke.
Sampul Novel Pengorbanan Dibalas Pengkhianatan
8.9
Sepuluh tahun setelah mengorbankan penglihatannya demi menyelamatkan Marcus, wanita ini harus menghadapi kenyataan pahit. Marcus membawa wanita simpanannya tinggal di vila yang sama. Setiap malam, sang suami bersandiwara menemaninya tidur sebelum beralih ke pelukan selingkuhannya. Bahkan, anak kandungnya sendiri diam-diam memanggil wanita lain itu dengan sebutan "Mama". Namun, mereka tidak menyadari bahwa kebutaannya telah sembuh, dan kini ia tengah menyusun rencana matang untuk pergi selamanya.
Sampul Novel Penipuan Bayi Miliaran Suamiku
9.2
Demi cinta, aku mengubur impianku menjadi ibu selama lima belas tahun karena kutukan maut keluarga suamiku. Namun, saat kakeknya menuntut pewaris takhta bisnis, suamiku menyewa ibu pengganti yang mirip denganku. Janjinya tentang prosedur medis murni berubah menjadi pengkhianatan menyakitkan. Dia mulai menghabiskan malam bersamanya dan mengabaikanku sepenuhnya. Pernikahan kami hancur saat dia melupakan momen penting kita demi wanita asing itu.